Beranda

Jama’ah Sholawat Nurul Hikmah

Bismillahir Rohmanir Rohiim

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Jama’ah Sholawat Nurul Hikmah, adalah kumpulan Jama’ah Dzikir dengan Beraqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah.

Jama`ah Dzikir Sholawat Nurul Hikmah terbentuk dan berdiri pada hari Kamis Tanggal 11 Jumadil Awwal 1435 Hijriyyah / 24 Maret 2014 Masehi.

Bertempat di Kampung Cimangir Jalan Desa Dukuh Kec Cibungbulang Bogor Jawa Barat Indonesia.. dan Jama’ah ini pada setiap malam Jum’at-nya mendawwam-kan Dzikir Rotib “Nurul Hikmah”.


Pada dasarnya Pembentukan Jama’ah Dzikir tersebut adalah sebuah Upaya(ikhtiar) secara Ruhani untuk merepleksikan Pembelajaran diri, pembenahan diri serta memperbaiki kesalahan di masa lalu, dan menanamkan kebaikan dalam diri. dan diharapkan mampu memetik buah tersebut, dan buah tersebut kemudian dijadikan sebagai sarana dalam mengenal Alloh Swt. Karena selama ini kita semua belum mengenal dengan Alloh Swt dengan baik?!.
Setelah dapat mengenal Alloh Swt dengan baik, Kemudian selanjutnya merebahkan diri dalam hamparan Taqdir Alloh Swt serta “Tafwidh” dalam kerangka Paradigma-Nya. Dengan berusaha menerapkan Sunah Rasululllah Saw Jam’ah tersebut mencoba untuk Memahami perjalanan hidup yang baik dan benar, sehingga bisa Bijaksana dalam menentukan sikap. Dan dengan mendawwamkan dzikir Rotib Nurul Hikmah tersebut Jama’ah berusaha mengenali Jalan jalannya (Jalan kehidupan dunia- akhirat), kemudian setelah mengenalinya Jama’ah berusaha men-tawakkal-kan diri pada Alloh Swt.
Pijakannya adalah berbuat Sunah disemua aspek kehidupan dan berprinsip pada Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai prinsip dasar dan pijakan-nya sehingga menjadi umat Rasululloh Saw yang pantas, hal tersebut ditandai dengan mendawamkan Sholawat Basyairul Khoirot.


Taqwa adalah tujuannya sehingga dengan ketaqwa-an ini lah kita bisa dan pantas disebut sebagai hamba-Nya karena hanya dengan ketaqwaan itulah sebuah Penghambaan-diri bisa menjadi sempurna.


Waro’I adalah pengaman-nya, dengan sikap kehati-hatian inilah sehingga dapat dikatakan bertaqwa dengan baik. Karena ketaqwaan tanpa Waro’I adalah sebuah kemustahilan. Meng-orietasikan seluruh kehidupan-nya(waktu,Ilmu, Keterampilan, harta benda,keluarga,dll) untuk Alloh Swt, sehingga penghambaannya menjadi “Kaafah”(total). Karena kehidupan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah pada-Nya ‘Azza Wa Jalla?!.
Hidup adalah amanah yang harus dijaga, sehingga mengerti dan sadar konsekwensi dan apreseasi apa yang akan diterimanya besok (diAkhirat). Dengan demikian sikap takut berbuat munkarot serta menyongsong kebaikan adalah menjadi kendarannya dalam melintasi perjalanan kehidupan ini.
Semoga kita semua dianugerahi seperti yang di katakana tadi diatas danSsemoga kita layak menjadi hamba hamba-Nya ‘Azza wa Jalla. Amiiiiin.. Ya Alloh Ya Robbal ‘Alamiin.


Sekilas tentang “Rotib Nurul Hikmah”
Adapun tentang Rotib Nurul Hikmah ini sendiri disusun sebelum terbentuk-nya Jama’ah. Karena awal-nya hanya berupa Tartiban Dzikir saja, lalu ketika terbentuk Jama’ah Dzikir. Maka Tartiban Dzikir tersebut diberikan nama dengan menyandarkan nama-nya pada Jama’ah dzikir yang telah terbentuk tersebut. Nama Tartiban Dzikir tersebut kemudian menjadi nama Rotib Nurul Hikmah.

Adapun Penyusunan Rotib tersebut terjadi pada ; Hari Senin Tanggal 1 Jumadil Awwal 1435 Hijriyyah / 3 Maret 2004 Masehi, oleh seseorang yang bernama : Muhammad Fariduddin bin Syarifuddin bin Jajuli bin Juhad Ibrahim.

Nama Fariduddin diberikan oleh kakek-nya dari pihak ibu(Ibu Fatmawiyyah binti Nawawi bin H. Tambi bin Sapiun) sejak kecil, kemudian nama Muhammad diberikan oleh salah seorang keturunan dari Mama Gentur(Mama Syathibi Al-Qonturi) dan merupakan putera dari Aang Muhammad Nuh Abdul Haqq bin Syeikh Asyathibi Al-Qonturi(Aang Nuh-Gentur).

Rotib tersebut lahir dari Ilham yang diberikan Alloh Ta’ala kepada penyusun-nya. Ketika itu penyusun-nya sedang dalam keadaan goncang dalam mengarahkan kehidupan-nya,kedepan, sehingga orientasi dunia dan akhirat-nya sama sekali tidak ter-arah?!
Setelah beberapa hari menyendiri dan ber-taqorrub kepada Alloh Swt, kemudian muncullah ilham kepada-nya untuk menyusun tartiban dzikir yang dikemudian hari diberi nama “Rotib Nurul Hikmah”. Sedangkan konten (isi) Rotib tersebut antara lain ;

  • Salam
  • Hadiah
  • Membaca beberapa Surat dan Ayat yang ma’tsuroh
  • Dzikir
  • Sholawat Basya’irul Khoirot
  • Do’a

Adapun Pembacaan “Salam” di-ambil dari kebiasaan para Auliya Alloh Swt dalam mendawwam-kan dzikir dzikir tertentu atau pada waktu waktu tertentu.
Dan “Salam” ini sering dilakukan atau di-baca oleh Sulthon Auliya Syeikh Muhiddin Abdul QodirJailani qds, yang sering beliau sampaikan kepada para Rijalul Ghaib pada setiap hari. Kemudian Juga Syeikh Muhiddin Ibnu ‘Arobi pun senantiasa membaca-nya setiap waktu tertentu. Juga para Auliya lain-nya pun melakukan pembaca-an salam tersebut.

Tentu salam yang terkandung dalam isi Rotib yang dimaksud(Rotib Nurul Hikmah) dan Salam yang biasa para Auliya lakukan tentu sangat berbeda. Karena Salam yang para Auliya sering baca(lakukan) adalah sebatas kepada “Rijalul Ghoib”.

Sementara Salam yang ada dalam isi Rotib Nurul Hikmah ada penambahan yang dilakukan oleh penyusun. Penambahan Salam tersebut menambahkan Salam antara lain : Salam kepada Raosululloh Saw, Salam kepada Malaikat Alawiyyin dan Safaliyyin. juga ditambahkna Salam kepada kepada Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani qds. Tentu penambahan salam ini penulis lakukan karena penghormatan dan pengagungan “bainal makhluqiin”, yang dianggap begitu agung dalam derajat makhluq Alloh Swt. Sedangkan pemilik Keagungan adalah Alloh Ta’ala sendiri, tentu Pengagungan ini sangat berbeda makna-nya. Sebab pengagungan kepada Alloh Ta’ala adalah bersifat muthlaq. Sehingga harus dibeda-kan penekanan-nya. Dalam membedakan “Pengagungan”tersebut.


Kemudian Hadiah Surat Fatihah secara tersusun dilihat dari para Pemimpin pemimpin dizaman yang berbeda, contoh seperti, *Rasulullah Saw, memimpin di kalangan Alam semesta, berikut keluarga serta keturunan-nya, serta shohabat-nya. Penyusun tidak menyebut-kan satu persatu shohabat bahkan sekalipun dikalangan para kholifah, karna penyusun menganggap kemulian mereka para shohabat adalah sama dan mempunyai keutamaan keutamaan tersendiri antara kalangan mereka.

Adapun ke-khalifahan adalah bentuk dari urusan dunia, penyusun masih menganggap bahwa urusan tersebut tidak-lah penting,?! Keyakinan penyusun bahwa para shohabat semua memiliki keistimewaan yang unik satu sama lain-nya.* kemudian dilanjutkan kepada zaman berikut yang dipimpin oleh para Auliya. Kemudian seterusnya dan seterusnya…
Dilanjutkan dengan membaca Surotul Mudawwamat (Surat yang sering dibaca), kemudian dilanjutkan dengan Dzikir . selanjut-nya ditutup dengan Sholawat Basyairul Khoirot. Lalu berdo’a memohon apa yang menjadi kebutuhan-nya.


Demikianlah isi dari Rotib tersebut. Dan disamping digunakan untuk Dzikir dawwam, rotib tersebut pun kadang dipakai untuk membantu orang yang sedang mempunyai masalah masalah tertentu. Dan selama ini penyusun sering menggunakan rotib tersebut ketika membantu sesama-nya.
Demikianlah sekilas ringkas tentang Jam’ah Sholawat Nurul Hikmah beserta Rotib-nya.


Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Alloh Swt dalam menghimpun perbuatan terpuji serta mampu melakukan ubudiyyah sebagaimana mestinya. Amiin

Catatan :
*Pengagungan sesama makhluq : terletak pada pengagungan terhadap sesama makhluq tidak-lah dikatakan “Syirik”(mendua-kan Alloh Ta’ala), karena pengagungan ini bersifat “Penghormatan” kepada yang dianggap agung dalam sisi akhlaq serta Kehambaan-nya?! Tentu dalam kondisi sesama penghamba Alloh Swt, kita sangat mengerti dan merasakan bahwa ubudiyyah dan k e-Akhlaq-an kita dibawah derajat mereka([para Malaikat, para Anbiya dan Auliya), maka dengan rasa “mengerti dan merasa”ini-lah yang mendorong(memotivasi) lahirnya penghormatan karna akhlaq dan ubudiyyah yang luar biasa itu. Dan kita semua sesama makhluq Alloh Ta’ala tentu harus saling m,enghormati dan menghargai sebagai bentuk “Penghormatan” kepada Alloh Ta’ala karena telah menciptakan makhluk sebaik mereka?! Dan sudah tentu tanpa washilah mereka beserta ilmunya, kita sampai hari ini tidak akan pernah mengerti bagaimana cara meng-Hamba-kan diri yang baik dan benar kepada Alloh Swt?! Bahkan mungkin kita tidak akan pernah tahu aka nada-nya Alloh Swt?! Nah?! penghormatan dan penghargaan yang kita berikan kepada mereka(para Malikat, para Anbiya dan Auliya) bersifat Pengormatan semata adanya?!. Disebabkan penghormatan ini kepada yang memiliki keagungan akhlak di alam makhluq, tentu dengan tawadhu dan rendah hati penghormatan kita ini dengan sangat kagum dan hormat-nya, digunakanlah kata “Pengagungan”. Yang berarti menghormati dan mengagumi serta meghargai yang teramat sangat?! Maka tindakan “Pengagungan” ini hanya terjadi dilingkungan hablum Minal Kholqi(hubungan antar makhluq).
Dalam kehidupan sehari hari, penghargaan dan penghormatan serta kekaguman terhadap yang lain dikarenakan prestasi yang berhasil dicapainya dalam bidang akhirat(agama) dalam lingkungan interaksi hubungan social kita sesama manusia, tentu ini adalah perbuatan yang baik. dan ketika kita menyampaikan rasa tersebut( menghormati, menghargai, mengagumi) adalah bentuk akhlaq baik kita kepada sesama manusia?!! bahkan mungkin bisa saja terjadi jika seseorang enggan atau malah melarang hal tersebut (penghormatan, menghargai, mengagumi) ini lahir dari rasa hasud-nya orang tersebut!?. Karena pada dasarnya hasud”iri” adalah tidak nyaman atau tidak bahagia dengan kenikmatan atau anugerah yang Allooh Swt berikan kepada selain dirinya??!!
Jadi tidak ada alas an-nya bahwa “pengagungan” kepada selain Alloh Swt adalah sebagai bagian dari Syirik?! Hal ini sangat keliru dan salah besar?! Perlu diketahui Alloh Swt adalah tidak boleh dibandingkan dan disandingkan dengan makhluk?! Tentu Alloh Swt mempunyai hal tersendiri dalam hal “Ke-Agungan-nya”?!
Pengagungan terhadap Allah Swt adalah bersifat Muthlaq. Dan pengagungan tersebut berupa Ta’abbud yang benar(beribadah-menghambakan diri). Kemudian bagia dari meng-Agung-kan-nya adalah dengan menghargai dan menghormati serta mengagumi segala apa yang diperbuat-Nya(segala sesuatu yang diciptakan-nya) karena hal tersebut adalah Af’al-Nya.(Perbuatan-Nya). Dan diantara salah satu ciptaan-Nya yang agung dan mulia adalah para Malaikat-Nya, para Anbiya, serta para Auliya-Nya.?! Lalu bagaimana mungkin kita akan dianggap meng-Agung-kan Alloh Swt, jika ciptaan-Nya saja kita tidak mau mengagungkannya??!!..
Perlu diketahui. Bahwa cara Meng-Agung-kan Alloh Swt yang baik adalah, mengagungkan terlebih dahulu pada ciptaan-Nya yang paling baik. Lalu makhluq yang terbaik diantara sesama-nya, kemudian seterusnya dan seterusnya?!
Demikiian hal tersebut, semoga hal tersebut tidak lagi menjadikan polemic ‘aqoid bagi kita semua. Dan pahamilah …. Semua bentuk amalan Ibadan, hanya Alloh Ta’ala yang menilai, selainnya sama sekali tidak berhaq?! Dan kebenaran hanya milik Alloh Swt semata??!!

Pos Terbaru Saya


  • Mengenal Para Huffadz dan Perawi Al-Qur’an
    Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Khudzul Qur’an min arba’atin, min Abdillah bin Mas’ud, wa Saalim, wa Mu’adz, wa Ubay bin Ka’ab” (Ambillah Al-Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Saalim, Mu’adz, dan Ubay bin Ka’ab).
  • Tentang Jumlah Surat, Ayat, Kata-Kata, dan Huruf di Dalam Al-Qur’an
    Jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 114 berdasarkan Ijmak (konsensus) para ulama. Ada yang mengatakan bahwa jumlah surat-suratnya adalah 113 surat, yaitu dengan menjadikan surat al-Anfal dan surat Bara’ah menjadi satu surat.
  • Tentang KodifikasiAl-Qur’an dan Urutannya
    Ad-Dair’aquli di dalam kitab Fawaid-nya mengatakan: telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Bisyar, (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu ‘Uyainah, dari Az-Zuhri, dari ‘Ubaid, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Qubidha annabiyyu saw. wa lam yakun Al-Qur’an jumi’a fi syai’” (Nabi saw. telah diambil [Allah], sedangkan Al-Qur’an belum dikumpulkan pada sesuatu).
  • Mengenal Nama-Nama Al-Qur’an dan Nama-Nama Surat di Dalamnya
    Al-Jahiz berkata, “Allah telah memberi nama kitab-Nya dengan nama yang berbeda dengan orang-orang Arab memberi nama untuk kalam mereka, baik secara global maupun terperinci. Secara global Allah memberi nama kitab-Nya dengan ‘Qur’anan’, sebagaimana mereka menamakan kalam mereka ‘Diwan’.
  • Tentang Bagaimana Al-Qur’an Diturunkan
    Dalam pembahasan ini terdapat beberapa masalah sebagai berikut ini. Masalah Pertama Allah SWT berfirman: “Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil-Qur’an” (QS. al-Baqarah: 185). Dia juga berfirman: “Innaa anzalnaahu fii lailatil qadri” (QS. al-Qadr). Para ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Mahfudz atas tiga pendapat.
  • Apa yang Diturunkan Kepada Sebagian Para Nabi dan Apa yang Diturunkan kepada Siapapun Sebelum Nabi saw.
    Di antara yang kedua adalah surat al-Fatihah, ayat al-Kursi, dan akhir surat al-Baqarah, sebagaimana yang baru saja dijelaskan di dalam hadits-hadits. Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas :
  • Apa yang Diturunkan dengan Diiringi Malaikat dan Apa yang Diturunkan Tanpa Diiringi Malaikat
    Ibnu Hubaib berkata dan diikuti oleh Ibnun Naqib, “Dari Al-Qur’an ada surat-surat yang diturunkan dengan diiringi oleh para malaikat, yaitu surat al-An’am, ia diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat;
  • Apa yang Diturunkan Secara Bertahap dan Apa yang Diturunkan Secara Langsung
    Untuk yang pertama (yaitu yang diturunkan secara berangsur) itulah yang terbanyak di dalam Al-Qur’an. Di antara contoh-contohnya dalam surat surat pendek adalah surat Iqra’, yaitu dari awal hingga “maa lam ya’lam”, dan surat adh-Dhuha dari awal hingga “fa tardha”, sebagaimana tersebut di dalam hadits ath-Thabari.
  • Sesuatu yang Turunnya Ayat Lebih Dahulu Daripada Hukumnya dan Sesuatu yang Hukumnya Lebih Dahulu Daripada Turunnya Ayat
    Imam Zarkasyi berkata di dalam kitabnya, al-Burhan, “Bisa jadi turunnya ayat itu lebih dahulu daripada ketetapan hukumnya, seperti firman Allah SWT: ‘Qad aflaha man tazakkaa, wa dzakarasma rabbihii fa shallaa’ (QS. al-A’la: 14-15).”
  • Apa-Apa yang Turunnya Berulang Kali
    Sejumlah ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin secara terang-terangan menyatakan bahwa sesungguhnya ada sebagian dari Al-Qur’an yang turunnya berulang kali.

Wa’alaikum salam warohmatullahibwa barokatuh

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai