Abu Yazid Al-Bisthamy

Abu Yazid Al-Bisthamy

Abu Yazid – Thayfur bin Isa al-Bisthamy (188-261 H./804-875 M.). Kakeknya seorang Majusi namun telah masuk Islam. Ia merupakan salah satu dari tiga bersaudara:
Adam, Thayfur dan Ali. Mereka semua ahli zuhud dan ibadat. Sedangkan yang paling agung budinya di antara meeka adalah Abu Yazid.

Abu Yazid pernah ditanya:
“Bagimana Anda dapat sampai pada tahap ini?” Ia menjawab : “Dengan perut yang lapar dan tubuh yang telanjang.”

Di antara ucapannya:

“Aku bermujahadah selama tiga puluh tahun. Tidak ada yang lebih memberatkan diriku, kecuali ilmu dan melaksanakannya. Kalau bukan karena adanya perbedaan pandangan antar Ulama, tentu aku masih muncul. Sedangkan perbedaan di antara para ulama merupakan rahmat, kecuali dalam masalah konsentrasi (tajrid) tauhid.”

Dikatakan:
“Abu Yazid al-Bisthamy tidak akan wafat, kecuali seluruh kandungan Al-Qur’anul Karim tampak jelas.”

Abu Yazid berkata : “Kami pergi untuk menemui seseorang yang populer kewaliannya. Orang tersebut juga terkenal zuhudnya. Lalu kami menuju kepada orang itu. Ketika ia keluar dari rumah dan masuk masjid, ia meludah yang bersesuaian dengan arah kiblat. Kami langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam kepadanya. Kukatakan, bahwa orang itu tidak mampu bersikap amanat dalam menjaga adab Rasulullah saw. Lalu bagaimana ia dipercaya atas apa yang dikaitkan dalam simbol dirinya?”

Ia berkata:
“Aku berhasrat untuk memohon kepada Allah swt. agar diberi kecukupan biaya makan dan isteri. Lantas aku berkata pada diri sendiri, ‘Bagaimana aku memohon kepada Allah swt. dengan permohonan semacam ini, padahal Rasulullah saw. tidak pernah memohonnya?’ Lalu aku tidak memohon. Namun, Allah swt. justru mencukupi diriku dan biaya hidup isteri. Bahkan aku tidak peduli apakah yang berada di hadapanku itu wanita ataukah tembok.”

Ketika ditanya awal mula zuhudnya, ia berkata:
“Bagi orang yang zuhud tidak mempunyai tempat.” Lalu ditanya: “Mengapa?” Ia menjawab : “Sebab, sejak tiga hari aku berada dalam zuhud, ketika hari ke empat aku keluar dari zuhud. Pada hari pertama, kau zuhud dari dunia dan seisinya. Pada hari kedua, aku zuhud dari akhirat dan seisinya. Sedang hari ke tiga, aku zuhud dari segala hal selain Allah swt. Kemudian hari keempat, tidak tersisa sama sekali pada diriku kecuali Allah swt. Aku benar-benar memahaminya. Lantas hatiku berbisik : “Wahai Abu Yazid, janganlah takut bersama Kami!” Aku pun berkata : “Inilah yang kuharapkan.” Lalu ada suara berbisik : “Engkau telah menemukan, engkau telah menemukan.”

Abu Yazid ditanya:
“Apa yang paling berat dalam penempuhan Anda di jalan Allah?” Ia menjawab: “Tidak dapat disebutkan.” Ditanya lagi: “Apa yang teringan yang Anda pernah temui dalam diri Anda, dari diri Anda sendiri?” Ia menjawab: “Kalau yang ringan itu, memang benar terjadi. Aku pernah berdoa agar diberi kemudahan dalam taat. Namun tidak dikabulkan, malah aku terhalang dari air selama setahun.”

Dikatakannya pula:
“Sejak tigapuluh tahun aku shalat, sementara keyakinanku dalam hati di seetiap shalat, terasa seakan-akan aku ini orang Majusi. Aku ingin sekali memotong tali pengikatku.”

Di antara ucapannya:
“Bila anda sekalian melihat seseorang diberi karamah-karamah, bahkan dapat terbang di udara, maka Anda sekalian jangan tertipu, sampai Anda benar-benar menyaksikan bagaimana orang tersebut menjalankan perintah dan menjauhi larangan, menjaga hukum-hukum serta menunaikan syariat.”

Pamanku meriwayatkan tentang al-Bisthamy dari ayahnya, yang berkata:
“Abu Yazid pernah pergi suatu malam menuju surau untuk dzikir kepada Allah SWT. sembari bersandar di dinding surau. Hingga dini hari, ternyata tidak berdzikir. Aku bertanya kepadanya perihal keadaan seperti itu. Ia berkata: “Aku teringat akan kata-kataku sendiri semasa kecil dulu. Itulah yang membuatku malu untuk berdzikir kepada Allah swt.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai