Ahmad Bin Atha’ar-Rudzbary
Abu Abdullah — Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary (wafat 369H./979M.), Syeikh Sufi di Syam saat itu. Meninggal di Shawar. Ia adalah anak dari saudara wanita Syeikh Abu Ali Muhammad ar-Rudzbary.
Ali Abu Sa’id Mashishy menceritakan: “Aku mendengar Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata : “Aku sedang naik unta. Tiba-tiba kedua kakinya terpeerosok dalam pasir. Kontan aku berkata, “Jallallah” (Maha Agung Allah). Dan unta itu pun menirukan “Jallallah!.”.
Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary pernah berjalan emngikuti jejak para fakir. Dan memang demikian, kebiasaan sehari-harinya sering mengikuti jejak perjalanan mereka. Dan mereka enggan untuk meminta. Ada orang yang tiba-tiba berkata: “Mereka itu semua orang-orang bebas.” Dan orang itu berkata kepada mereka, dan di sela-sela ucapannya itu ia mengatakan pula: “Salah seorang di antara mereka ada yang berhutang seratus dirrham kepadaku, dan tidak mengembalikannya. Aku tidak tau harus ke mana mencarinya.”
Ketika mereka memasuki rumah yang biasa untuk dimintai, Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata kepada si pemilik rumah. Dan pemilik rumah itu termasuk orang yang sangat mencintai para fakir Sufi. “Berilah aku seratus dirham bila engkau ingin hatiku tenang!.” Kata Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary.
Seketika itu pula seratus dirham diberikan. Abu Abdullah Ahmad bin Atha’ ar-Rudzbary berkata kepada para sahabatnya: “Bawalah seratus dirham ini kepada si Fulan tukang sayur, dan katakan kepadanya: “Ini uang seratus dirham yang dipinjam oleh salah satu teman kami dari Anda. Teman yang meminjam punya kerepotan sehingga baru dapat membayarnya saat ini.
Orang itu menerima permintaan maffnya. Lantas pergi berlalu. Ketika mereka sama-sama pulang, para fakir itu melewati kedai tukang sayur. Lalu tukang sayur itu memuji-muji para fakir itu, “Mereka itu adalah orang-orang yang teguh pendiriannya, orang-orang yang memiliki amanat dan kesalehan.” Kata si tukang sayur.”