Ahmad Ibnul Jalla’

Ahmad Ibnul Jalla’

Abu Abdullah — Ahmad bin Yahya al-Jalla’, asli Bagdad, dan pernah di Ramalah (Sebuah wilayah di Palestina, arahnya timur laut dari Masjidil Aqsha. Dibangun oleh Sulaiman bin Abdul Malik (716M.) kemudian direbut oleh tentara Salib tahun 1099 M.), dan Damaskus (Ibukota Syiria, Kota ini berusia 5000 tahaun, Penduduknya dalah bangsa Aramia, Kemudian dikuasai oleh Asywaria, Babilonia, Persia, Yunani, berikut Romawi, Dibuka kembali oleh bangsa Arab Islam tahun 639 M. Dan menjadi ibu kota Kerajaan Umayah.

Ketika Perang Salib kota ii dipertahankan oleh Nururddin. Namun dibakar oleh Timur Leng tahun 1400 M. Dan dimenangkan kembali oleh Sultan Salim I tahun 1516 M. Di antara warisan peradaban yang masih ada adalah Masjid Umayah. Makam Salahuddin, dan Istana Agung serta peninggalan lainnya), Ia termasuk tokoh terbesar dari kalangan Syeikh Sufi di Syam. Berguru apda Abu Turab, Dzun Nuun al-Mishry dan Abu Ubaid al-Bisry serta kepada ayahnya sendiri Yahya al-Jalla’.

Ia berkisah: “Kukatakan pada ayah dan Ibu: “Aku senang sekali bila ayah dan ibu menghibahkan diriku kepada Allah swt.” Ayah dan ibu menjawab: “Kami benar-benar menghibahkanmu kepada Allah Azza wa Jalla.” Lalu aku pergi beberapa tahun. Ketika aku kembali, bertepatan hujan lebat di malam hari, aku mengetuk pintu rumah. Ayahku berkata: “Siapa itu?” Kujawab : “Anakmu, Ahmad.” Ayah balik berkata: “Kami memang mempunyai anak, tetapi sudah kami hibahkan kepada Allah swt, dan bagi kami orang Arab, tidak akan mengambil kembali apa yang sudah kami berikan.” Ayahku akhirnya tidak membukakan pintu untukku.”

Di antara ucapannya: “Siapa yang mengganggap sama antara pujian dan celaan, maka ia adalah seorang zuhud. Dan barangsiapa menjaga ibadat-ibadat fardhu pada setiap awal waktu, ia adalah seorang penghamba setia. Siapa yang melihat semua aktivitas ini dari Allah swt, berarti ia telah manunggal, tidak ada yang dilihat kecuali Yang Tunggal.”

Ketika Ibnul Jalla’ wafat, dokter memandangnya, dan ia pun tersenyum. “Ia hidup,” kata dokter itu. Ketika memeriksa detak jantungnya, dokter itu berkata : “Ia wafat.” Namun ketika tutup mukanya dibuka, dokter itu malah berkata : “Aku tidak tahu, apakah ia wafat atau hidup?”

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai