Muhammad Ibnul Fadhl Al-Balky

Muhammad Ibnul Fadhl Al-Balky

Abu Abdullah — Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy (wafat 319 H./931 M.), asli penduduk Balkh, kemudian bertempat tinggal dan hingga wafat di Samarkand. (Samarkand, merupakan kota Islam, yang dulu berada di bawah kekuasaan Uni Sovyet (sebelum komunis runtuh). Kota ini juga pernah direbut oleh Jangis Khan (1229M.), kemudian dikuasai oleh Timur Leng.)

Ia berguru kepada Ahmad bin Khadharwaih dan yang lainnya. Abu Utsman al-Hiry menaruh perhatian yang sangat besar kepada Muhammad ibnul fadhl.

Suatu saat Ab Utsman al-Hiry menulis surat kepada Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy, bertnya kepadanya : “Apakah tanda-tanda celaka?” Al-Balkhy menjawab: “Ada tiga hal:

Seseorang diberi rezeki ilmu tapi terhalang untuk beramal, seseorang diberi amal tetapi terhalang keikhlasannya, dan seseorang diberi rezeki dapat bersahabt dengan orang-orang shaleh tetapi tidak menghormati mereka.”

Abu Utsman al-Hiry berkata: “Muhammad ibnul Fadhl al-Balkhy adalah agen para sufi.

Di antara ucapan Al-Balkhy adalah: “Musnahnya Islam karena empat hal:

“Mereka tidak mengamalkan apa yang diketahui, mengamalkan apa yang tidak diketahui tidak mau belajar apa yang tidak diketahui, dan menghalangi orang lain untuk belajar.”

Dikatakannya pula:
“Sungguh menakjubkan bagi orang yag melintasi padang tandus menuju rumahnya. Lantas orang itu melihat pengaruh-pengaruh kenabian. Bagaimana ia tidak melwetai nafsu dan hawanya, agar sampai ke hatinya, sehingga melihat pengaruh-pengaruh Tuhannya Azza wa Jalla?.”

Dan berkata:
“Bila Anda melihat seorang penempuh yang selalu menambah harta dunia, itu pertanda bahwa ia akan berpaling.”

Ketika ditanaya perihal zuhud, ia menjawab: “Memandang pada dunia dengan sebelah mata, dan kontra dunia dengan penuh harga diri, bangga dan prestisiuas.”

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai