Sary As-Saqathy
Abul Hasan – Sary ibnul Mughallas as-Saqathy (wafat 253 H./867 M.), adalah Paman sekaligus guru al-Junayd, dan murid dari Ma’ruf al-Karkhy. Dia adalah tokoh besar Sufi di zamannya, terutama dalam kewara’an dan bidang Sunnah serta Ilmu Tauhid.
Al-Abbas bin Masruq berkata : “Ada kisah yang sampai kepadaku, bahwa Sary sedang berdagang di pasar. Ia adalah salah satu murid Ma’ruf al-karkhy. Suatu hari Ma’ruf mendatanginya bersama seorang bocah yang baru dapat berdiri. “Berilah pakaian anak yatim ini!.” Kata Ma’ruf. Lalu as-Sary menjawab : “Inilah pakaiannya.” Seketika Ma’ruf girang, dan berujar : “Semoga Allah menjadikanmu benci pada dunia, dan memberikan keringanan bebanmu di dunia.”
As.Sary berkisah : “Aku pun pergi meninggalkan kedai, dan tidak satu pun yang kubenci melebihi kebencianku terhadap dunia. Dan apa yang ada pada diriku saat di dunia ini, tidak lebih dari sekedar berkat dari Ma’ruf.”
Al-Junayd berkata : “Aku tidak pernah melihat orang paling bakti ibadatnya dibanding as.Sary. Sampai menginjak usia 98 tahun, ia tidak pernah tidur telentang, kecuali menjelang wafatnya.”
Riwayat dari as-Sary yang mengatakan : “Orang Sufi mempunyai tiga makna : Adalah, bila cahaya ma’rifatnya tidak meniup cahaya wara’nya. Tidak berbicara dengan batin pada ilmu yang merusak lahriah Kitab dan Sunnah. Dan kramah yang dimilikinya tidak untuk merobek tutup perkara yang dihormati Allah swt.”
Al-Junayd berkata : “Sary pernah ebrtanya tentang cinta kepadaku. Lalu kujawab : “Kamu Sufi mengatakan bahwa cinta adalah keserasian dengan Allah swt. Yang lain berkata, cinta adalah memprioritaskan sang kekasih, dan kaum sufi lainnya mengatakan begini dan begitu.” Lalu as-Sary mengupas kulit sikunya dan membeberkannya namun tidak dapat, lantas bicara : “Demi keagungan Allah swt. seandainya engkau bicara bahwa kulit ini akan kering di atas tulang karena cinta yang membara, engkau benar pula.” Setelah berkata demikian, as-Sary jatuh pingsan, tiba-tiba wajahnya berputar, seakan-akan rembulan yang bercahaya.
As-Sary berkata : “Sejak tigapuluh tahun aku selalu minta ampun kepada Allah swt. karena hanya sekali aku pernah berrucap : “Alhamduillah.” Lantas ditanya, mengapa demikian? Sary berkata : “Suatu hari terjadi kebakaran di Baghdad, lalu ada seorang lai-laki menghadapku dan berkata, “Kedaimu selamat!.” Spontan ku ucapkan, Alhamdulillah. Maka sejak saat itu hingga tiga puluh tahun aku merasa menyesal atas apa yang kuucapkan itu, sebab aku lebih memetingkan diri sendiri ketimbang keselamatan kedai kaum Muslimin.”
Riwayat dari as-Sary, bahwa ia berkata : “Aku selalu melihat hidungku begini dan begitu sekali sehari. Khawatir karena hidungku menghitam. Dan juga takut bila saja Allah swt. membuat wajahku hitam karena perbuatanku.”
Al-Junayd mengatakan : “Kudengar as-Sary berkata : “Kenalilah jalan pintas menuju surga. “Aku bertanya : “Jalan apa itu?” as-Sary menjawab : “Jangan bertanya kepada siapa pun, dan jangan emngambil dari seorang mana pun. Dan jangan pula Anda memberikan sesuatu yang ada pada diri Anda kepada siapa pun!.”
Al-Junayd berkisah : “Aku memasuki rumah as-Sary as-Saqathy, dalam keadaan dirinya menangis tersedu. Aku bertanya, mengapa ia menangis? As-Sary menjawab : “Semalam ada sorang bocah wanita, yang berkata : “Duhai ayahku, malam ini begitu gerah, dan guci itu ku gantung di sana.” Tiba-tiba mataku dilanda kantuk hingga tertidur. Aku bermimpi melihat seorang gadis yang begitu cantik turun dari langit, lalu kutanya : “Untuk siapakah Anda ini? Gadis itu menjawab : “Bagi orang yang tidak minum air yang didinginkan di sebuah guci.” Seketika aku mengambil guci, lalu kuremukan dan kubuang ke tanah.”
Al-Junayd meneruskan ceritanya : “Aku melihat pecahan-pecahan guci itu tidak hilang, sampai terpendam oleh hamburan tanah dengan sendirinya.”
As-Sary berkata : “Aku ingin mati di negeri selian Baghdad.” Ditanyakan kepadanya, mengapa demikian? “Aku takut kuburku tidak mau menerima diriku, sehingga aku terhina.”