Awal Menuntut Ilmu
Syafi’i mulai membuka mata dan hatinya di negeri kelahiran moyangnya. Negeri yang merupakan tumpuan hati dan harapan seluruh kaum muslim di dunia dan tempat turunnya wahyu Islam, Makkah. Syafi’i mulai beradaptasi dengan lingkungan ini untuk mengukuhkan posisinya di tengah para ulama dan orang-orang terhormat. Adakah jalan untuk ini selain dengan menuntut ilmu?
Di usia belia, Syafi’i sudah mulai menimba ilmu dari ulama
Ibunda yang cerdik ingin membawa Syafi’i kecil ke tempat seorang guru untuk memintanya mengajari Syafi’i membaca Al-Quran dan menulis layaknya anak-anak saat mulai belajar. Sayangnya, sang ibu tidak memiliki apa-apa untuk diberikan sebagai upah kepada guru. Tentang hal ini, Syafi’i menuturkan, “Aku seorang yatim yang diasuh ibuku. Ia tidak memiliki apa-apa untuk biaya pendidikanku.”
Kendati hidup miskin, sang ibu ingin Syafi’i mengenyam pendidikan dan menuntut ilmu. Seperti itulah hendaknya seluruh ibu.
Anak yang Matang dan Cerdas
Suatu hari guru Syafi’i terlambat datang ke majelisnya. Dengan nekad Syafi’i berdiri menggantikan gurunya mengajar anak-anak yang lain. Sejak itu, sang guru tahu bahwa Syafi’i bukan anak biasa. Ia pun mulai memerhatikan Syafi’i dan memutuskan untuk membebaskannya dari biaya pendidikan asal Syafi’i mau mengajari anak-anak lain jika ia terlambat atau berhalangan hadir.
Dengarkan penuturan Syafi’i, “Saat membaca buku, aku mendengar guruku tengah mengajari seorang anak tentang ayat-ayat Al-Quran. Aku pun mulai menghafalnya. Ketika guru selesai mendiktekan semua ayat untuk murid-muridnya, biasanya aku sudah menghafalnya terlebih dahulu. Suatu hari guruku pernah berkata, “Tak layak bagiku untuk memungut bayaran sepeser pun darimu.”
Hal ini terus berlangsung sampai Syafi’i menghafal seluruh Al-Quran, padahal ketika itu ia baru menginjak usia tujuh tahun.
Di Makkah al-Mukarramah, tempat wahyu diturunkan, Syafi’i mulai menuntut ilmu, padahal kala itu ia masih kecil. Pada usia tujuh tahun ia telah berhasil menghafal Al-Quran.
Masa Muda Tanpa Gejolak Pubertas
Syafi’i mulai masuk ke masjid dan berkumpul dengan para ulama. Ia banyak mendengarkan pelajaran dari mereka dengan mengerahkan segenap kemampuan otak dan semangatnya. Setelah rampung menghafal Al-Quran, Syafi’i mulai tertarik menghafal hadis. Antusiasnya terhadap hadis sangat tinggi. Saking banyaknya ia mendengarkan para muhaddits menyampaikan hadis, ia berhasil menghafal banyak hadis dengan hanya mendengar. Kadang ia menuliskannya di atas tembikar atau di atas kulit.
Ia biasa pergi ke perpustakaan tempat catatan catatan dan manuskrip-manuskrip disimpan. Di sana ia meminta beberapa lembar manuskrip dan menulis catatan di bagian yang belum ada catatannya. Pada fase ini ia berhasil menghafal al-Muwaththa’ karya besar Imam Malik, bahkan sebelum ia bertemu dengan sang imam.
Al-Muzanni meriwayatkan dari Syafi’i, katanya, “Aku telah menghafal Al-Quran saat aku berumur tujuh
tahun, dan berhasil menghafal al-Muwaththa’ saat aku berumur sepuluh tahun.”
Pada masa mudanya Syafi’i belum pernah menikmati indahnya masa muda atau mengalami gejolak pubertas seperti kebanyakan anak seusianya. Syafi’i lebih menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dan menjadikannya sebagai tujuan.
Setelah menghafal Al-Quran, Syafi’i mulai menggeluti hadis.. la rajin mendengar dan menghafal hadis. Jika memungkinkan, ia mencatatnya di atas kulit, tembikar, atau tempat lainnya. Di usianya yang kesepuluh tahun, Syafi’i telah berhasil menghafal al-Muwaththa’.
Tentang kebiasaannya menulis ini, Syafi’i mencatat pesannya dalam satu bait syair:
Ilmu bak buruan dan catatan adalah pengikatnya Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Sungguh bodoh jika kau berhasil memburu rusa Namun kaubiarkan ia terlepas di tengah makhluk lain
Imam Syafi’i menjelaskan bahwa nilai manusia terletak pada ilmunya, bukan pada pakaian atau penampilannya. Ia berkata,
Aku mengenakan pakaian yang jika semuanya kujual niscaya menghasilkan uang yang banyak
Dalam pakaian itu ada satu napas jika dibandingkan
dengan napas-napas orang yang berpenyakit paru-paru maka ia lebih besar
Merusak sarung pedang takkan merusak ketajaman pedangnya
Meski pedang itu patah sepanjang sarungnya
Tentang keutamaan ilmu, Syafi’i berkata,
Belajarlah! Seseorang tidak dilahirkan sebagai seorang alim Pemilik ilmu tidak seperti seorang bodoh Pemimpin satu kaum yang tak memiliki ilmu terlihat kecil jika dikelilingi oleh pasukannya Orang yang kecil di tengah satu kaum jika berilmu, ia terlihat besar di tengah masyarakatnya



