Syafi’i di Dusun
Saat semangat dan kegigihannya masih kuat pada waktu kecil, Syafi’i mulai mendalami bahasa Arab untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam melafalkannya. Kala itu kesalahan dalam pelafalan banyak dialami orang Arab akibat percampuran mereka dengan bangsa-bangsa non-Arab, khususnya terjadi di kota-kota besar. Selain itu, Syafi’i terdorong
mendalami bahasa Arab karena begitu yakin bahwa bahasa adalah kunci ilmu pengetahuan.
Cara terbaik mempelajari bahasa Arab, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw., adalah dengan mempelajari kesusastraan terlebih dahulu. Rasulullah pernah diasuh di perkampungan Bani Sa’ad, suku Arab terfasih pada zamannya. Demikian pula halnya Syafi’i: ia memilih tinggal di dusun kaum Hudzail, kaum yang terkenal memiliki jati diri kearaban yang kuat dan mahir di bidang ilmu bayan dan syair.
Kaum Hudzail adalah suku Arab yang paling fasih dan andal di bidang syair. Mereka banyak memiliki karya syair yang berkualitas tinggi. Semuanya bernuansa romantis dan menyentuh. Syafi’i menetap di tengah kaum Hudzail untuk belajar bahasa dan sejarah Arab. Di sana ia juga mempelajari ilmu nasab dan syair selama 17 tahun (ada yang berpendapat 10 tahun).
Menghafal Syair dan Sejarah
Tentang hal ini, Syafi’i bertutur, “Aku mengembara ke Makkah. Di sana aku menetap di dusun Bani Hudzail untuk mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka. Bani Hudzail adalah suku Arab yang bahasanya paling fasih. Aku selalu turut serta dalam setiap pengembaraan mereka, ke mana saja. Ketika kembali ke Makkah, aku pun mulai mahir melantukan syairsyair, mengurut nasab-nasab, dan menyampaikan sejarah atau berita-berita bangsa terdahulu.”
Seperti itulah Syafi’i mempelajari berita-berita tentang ihwal orang-orang dusun dan menghafal syair-syairnya. Namun, Syafi’i lebih memfokuskan perhatiannya pada syair-syair Hudzail hingga ia sangat mahir dalam hal itu. Bahkan al-Ashmu’i, perawi beragam peninggalan sastra Jahiliah dan Islam, mengakui kepiawaian Syafi’i dalam hal itu. Ia menuturkan, “Aku men-tashhîh syair-syair Hudzail di tangan seorang pemuda Quraisy, Muhammad ibn Idris.”
Bahasa Arab adalah kunci segala ilmu. Menguasai Bahasa Arab dapat membantu menguasai ilmu lain. Oleh karena itu, Syafi’i memilih tinggal di dusun Bani Hudzail, suku Arab paling fasih bahasanya. Di sana ia menghafal syair-syairnya, mempelajari sejarah, dan kesusasteraannya.
Latihan Militer

Di dusun, Syafi’i tidak hanya belajar sejarah, sastra, dan menghafal syair-syair. Ia juga mempelajari tradisi dan adat istiadat mereka yang dianggapnya baik, khususnya di bidang ketangkasan perang. Di dusun Hudzail, Syafi’i belajar teknik memanah dan ia sangat menyukainya hingga sangat piawai dalam melakukannya. Bahkan, jika Syafi’i melesatkan sepuluh anak panah, tak satu pun dari anak panah tersebut yang meleset dari sasaran.
Syafi’i pernah berkata kepada murid-muridnya, “Hobiku ada dua: memanah dan menuntut ilmu. Di bidang teknik memanah, aku sangat mahir. Setiap sepuluh anak panah yang kuluncurkan, semuanya tepat mengenai sasaran.” Namun di bidang ilmu, Syafi’i terdiam. Lantas para hadirin berseru, “Demi Allah, di bidang ilmu, kemampuanmu lebih hebat dibandingkan kemampuanmu dalam memanah.”
Air Zamzam
Syafi’i menuturkan, “Aku meminum air zamzam untuk tiga hal: pertama, untuk memanah. Tingkat ketepatanku dalam memanah mencapai sembilan puluh hingga seratus persen. Kedua, aku meminum zamzam untuk ilmu. Di bidang ini, aku seperti yang kalian saksikan. Ketiga, aku meminum zamzam untuk meraih surga.”
Syafi’i juga pernah berkata, “Aku selalu berlatih
padaku, Aku khawatir kau terkena penyakit kulit karena kau terlalu sering berpanas-panasan di bawah terik matahari.”
Penunggang Kuda yang Tidak Tertandingi
Di antara keterampilan yang dipelajari dan diperdalam oleh Syafi’i di dusun adalah teknik menunggang kuda. Tak heran jika Syafi’i menjadi seorang penunggang kuda yang tak tertandingi. Al-Rabi’ menuturkan, “Syafi’i adalah orang yang paling berani dan paling mahir dalam menunggang kuda. Saat menunggang kuda, ia biasa memegang telinganya sendiri
dengan satu tangan, sementara tangan yang satu lagi memegang telinga kudanya. Dan kuda itu terus berlari kencang.” Ini menunjukkan kemahiran Syafi’i dalam menunggang kuda.
Itulah pendidikan awal yang didapat Syafi’i. Tipe pendidikan Arab ideal yang mesti didapat setiap pemuda pada waktu itu: menghafal Al-Quran, mencari hadis, memperdalam bahasa, berlatih menunggang kuda, mendalami sejarah, dan mengikuti perkembangan orang-orang kota dan desa.
Jiwa yang menghendaki kemuliaan tidak akan pernah rela dengan kehinaan dan tidak puas dengan yang sedikit. Syafi’i tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia pelajari, ia ingin menguasai teknik memanah dan menunggang kuda hingga ia menjadi piawai dan tak terdandingi dalam dua hal itu.
Kembali sebagai Seorang Penyair
Setelah menguasai ilmu bahasa, Syafi’i pulang ke Makkah. Hafalan Al-Quran dan kitab al-Muwaththa – nya tetap ia jaga, tapi ia belum tergolong orang yang alim. Ia lebih dikenal sebagai penyair dan sastrawan. Ketika itu, para penyair dan sastrawan memiliki kedudukan yang cukup tinggi di kalangan orang Arab. Syafi’i memiliki majelis-majelis khusus untuk melantunkan syair-syairnya, menuturkan kisah-kisah, dan berita-berita Arab, serta ragam sastranya. Banyak orang menyukai majelis-majelis seni sastra seperti ini. Sejak itulah mereka mulai sering berkumpul di sekeliling Syafi’i.
Syafi’i kembali ke Makkah sebagai sastrawan dan penyair. Tak pelak, banyak orang menghadiri majelis-majelis syairnya. Kala itu. keilmuan Syafi’i di bidang agama belum menonjol.
Syafi’i Berangkat ke Madinah
Dalam perjalanannya ke Madinah, ada satu kisah menarik yang cukup terkenal. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Syafi’i seperti berikut:
“Setelah itu, aku pergi dari kota Makkah dan memilih tinggal di dusun Bani Hudzail. Di sana aku mempelajari bahasa dan adat istiadat mereka. Suku Hudzail adalah suku Arab yang bahasanya paling fasih dan paling murni. Aku tinggal bersama mereka selama tujuh belas tahun. Aku biasa turut bepergian dengan mereka ke mana saja. Setelah kembali ke Makkah, aku sering melantunkan syair-syair, sastra, dan berita-berita Arab terdahulu. Tiba-tiba seorang laki-laki dari Bani Zubair, keluarga pamanku, berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Abdullah, aku sangat menyayangkan jika kefasihan bahasa dan kecerdasanmu ini tidak disertai dengan ilmu fikih. Dengan fikih, kau akan memimpin semua generasi zamanmu.
Aku lalu bertanya, ‘Kalau begitu, siapa yang harus kutuju untuk belajar?’
‘Malik ibn Anas, pemuka kaum muslim jawabnya.”
Syafi’i kembali menuturkan,
“Muncul keinginan untuk belajar fikih dalam hatiku. Aku pun segera mencari kitab al-Muwaththa’. Kitab itu akhirnya kupinjam dari seseorang di Makkah. Aku langsung menghafalnya dalam sembilan malam. Setelah itu, aku berangkat menemui Gubernur Makkah. Darinya aku mengambil dua pucuk surat
rekomendasi: satu ditujukan kepada Gubernur Madinah, yang satu ditujukan kepada Malik ibn Anas.
Aku langsung berangkat menuju Madinah. Sampai di sana, kuantarkan surat itu kepada Gubernur. Setelah membaca isi surat tersebut, ia bergumam, *Perjalananku dari Madinah ke Makkah tanpa sandal kurasa lebih ringan daripada aku harus mendatangi Malik ibn Anas. Aku tidak berani, bahkan untuk berdiri di depan pintu rumahnya? Gubernur Madinah merasa rendah di hadapan imam kaum muslim, Malik ibn Anas.
Aku lalu berkata kepadanya, ‘Semoga Allah memperbaiki kondisi Baginda! Sudilah kiranya Baginda mengirim surat untuk memanggil Imam Malik?’
Gubernur menjawab, ‘Mustahil! Sepertinya, untuk mendapatkan apa yang kami inginkan, aku dan orang-orangku harus diterpa debu terlebih dahulu agar bisa diterima di tempat Imam Malik. Menurut Gubernur, Imam Malik mungkin akan terketuk hatinya saat melihat gubernur dan para pengawalnya berjalan kaki ke tempatnya.
Syafi’i melanjutkan, “Akhirnya kami berjanji untuk berkumpul selepas shalat asar. Kami berangkat berasama-sama menuju kediaman Imam Malik. Apa yang dikatakan gubernur benar. Di tengah jalan diterpa debu. Setibanya di sana, salah seorang dari kami maju ke depan pintu dan mengetuknya. Seorang budak perempuan hitam keluar dari dalam.
Gubernur berkata kepadanya, “Katakan kepada tuanmu, aku ada di depan pintunya!’ Budak itu pun masuk, agak lama, kemudian ia keluar lagi.
Ia berkata, ‘Tuanku menyampaikan salam kepadamu. Ia berpesan, jika engkau ada satu pertanyaan, tulislah pertanyaanmu, dan ia akan memberikan jawabannya. Jika engkau datang untuk meminta hadis Rasulullah maka engkau pun sudah tahu jadwal majelisnya. Datanglah ke majelis itu pada waktunya!
Gubernur itu berkata kepada si budak, ‘Katakan padanya, aku membawa surat dari Gubernur Makkah untuknya. Isinya sangat penting!
Budak itu lalu masuk dan membawakan satu kursi. Ia mempersilakan Gubernur untuk duduk. Setelah itu Malik keluar. Penampilannya sangat gagah dan berwibawa. Ia adalah orang tua yang berpostur tinggi dan berjenggot lebat. Ia lantas duduk,
Setelah itu Gubernur menyampaikan surat kepadanya. Malik pun membacanya. Ketika ia sampai pada paragraf Ini adalah seorang laki-laki yang sangat berbakat Ajari ia hadis dan lakukan apa saja terhadapnya … (Dalam surat itu tercatat pesan Gubernur Makkah agar Imam Malik sudi mengajari Syafi’i). Imam Malik pun melemparkan surat tersebut. Ia marah dan berkata, “Subhanallah, apakah ilmu Rasulullah dipelajari dengan perantaraan seperti ini?” ..
Syafi’i kembali menuturkan, “Aku melihat Gubernur ketakutan dan tak kuasa berbicara dengannya.
Aku pun maju dan memberanikan diri untuk berbicara. Kukatakan kepadanya. Semoga Allah memperbaiki
keadaanmu. Aku ini seorang dari Bani Muththalib …. Aku pun lantas menjelaskan latar belakangku dan tujuanku dalam menuntut ilmu.
Setelah mendengar penuturanku, Imam Malik memandangi aku. Ia memendam firasat khusus tentang aku.
“Siapa namamu?” tanyanya kepadaku.
‘Muhammad”?! jawabku.
Ia lalu berkata, ‘Muhammad, bertakwalah kepada Allah dan jauhi maksiat. Karena, kelak kau menjadi orang besar. Allah telah menurunkan cahaya di hatimu maka jangan kau padamkan cahaya itu dengan maksiat. Esok, datanglah kemari!”
Syafi’i melanjutkan, “Pada pagi hari, aku datang ke tempatnya. Aku mulai membaca kitab al Muwaththa’ di hadapannya, sementara kitab tersebut kupegang. Sesekali ku perhatikan Malik, dan aku menghentikan bacaanku. Ia kagum akan bacaan dan
kemampuanku meng-i’rab (mengeja kata-kata secara gramatikal) kata-perkata.
Kemudian Imam Malik berkata kepadaku, ‘Tambah lagi, wahai anak muda!
Aku pun melanjutkan bacaanku hingga aku berhasil merampungkan kitab al-Muwaththa’ dalam beberapa hari saja. Sejak itu, aku tinggal di Madinah sampai Malik ibn Anas wafat.”
Syafi’i bertekad menuntut ilmu fikih ke tempat Malik ibn Anas dengan petunjuk seorang keluarga pamannya. Ia pergi ke Madinah al-Munawwarah dan tinggal di kediaman Imam Malik sampai Malik wafat. Ia menuntut ilmu langsung dari Malik dan membaca kitab al-Muwaththa’ di hadapannya.
Murid Imam Malik
Syafi’i berguru langsung kepada syekh para ahli fikih, bahkan ulama kaum muslim terbesar pada zamannya, yaitu Imam Malik. Ia tumbuh di bawah bimbingannya, memperdalam ilmu fikih, dan mempelajari masalah-masalah yang telah difatwakan olehnya. Ketika itu, usia Syafi’i telah matang.
Selama tinggal bersama Malik, sesekali Syafi’i melakukan perjalanan ke negeri-negeri Islam untuk mencari ilmu, mempelajari adat istiadat penduduknya, serta mendalami sejarah dan kondisi sosial mereka. Ia juga sering pergi ke Makkah untuk menjenguk ibunya dan meminta nasihat darinya. Ibunda Syafi’i merupakan sosok muslimah yang mulia dan berakhlak tinggi. Ia sangat memahami kondisi Syafi’i yang
sibuk menuntut ilmu. Masa belajar Syafi’i di tempat Imam Malik tidak menghambatnya untuk mengembara dan mencari pengalaman pribadi dari berbagai pelosok negeri.
yang cerdas, tanggap, dan mudah menghafal. Ia banyak menimba ilmu dari Imam Malik, selain dari ulama-ulama yang lain. Yang membuat Syafi’i cepat menguasai ilmu fikih dan mengalahkan orang-orang pada zamannya adalah dua hal: kecerdasan dan kemampuan hafalannya yang luar biasa, serta tingkat kefasihan dan kemahirannya dalam bahasa.
Kecerdasan dan kemampuan menghafal Syafi’i disertai kefasihan bahasanya membuat Syafi’i mengungguli temantemannya di bidang ilmu dan fikih. Ia banyak mendapatkan ilmu dan sastra dari Imam Malik, selain dari ulama-ulama lainnya.
Manfaat Pengembaraan
Syafi’i sangat menganjurkan mengembara dan menuntut ilmu. Tentang hal ini ia menulis syair:
Orang yang berakal dan berbudaya takkan tenang berdiam di satu tempat
Karena itu, tinggalkanlah kampung halaman dan mengembaralah!
Pergilah, niscaya kau akan menemukan ganti dari orang yang kau tinggalkan Dan berusahalah karena kenikmatan hidup ada dalam usaha
Aku melihat genangan air dapat merusak air tersebut Sekiranya air itu mengalir , niscaya ia menjadi baik, jika ia diam maka ia menjadi rusak
Seekor singa, jika tidak meninggalkan hutan, ia tidak akan menjadi buas
Anak panah, jika tidak meninggalkan busur, ia tidak akan mengenai sasaran
Jika matahari selamanya tetap pada orbitnya niscaya orang Arab dan non-Arab akan bosan melihatnya
Emas itu seperti tanah jika dibiarkan di tempat aslinya
Dahan yang jatuh ke tanah hanya akan menjadi kayu bakar
Jika seseorang mengembara maka pencariannya akan mulia
Jika ia mengembara maka ia akan mulia seperti emas





