Fisik Syafi’i
Ibn Shalah berkata, “Postur tubuh Syafi’i tinggi dan pipinya agak cekung. Lehernya panjang, demikian pula tulang paha, betis, dan lengannya. Kulitnya cokelat dan rahangnya tidak terlalu lebar. Syafi’i selalu mengecat janggutnya dengan hena (daun pacar) berwarna merah tua. Suaranya merdu dan enak didengar. Keningnya lebar, wajahnya tampan dan berwibawa, serta ucapannya fasih. Ia adalah orang yang paling sopan dalam bertutur kata.”
Ibn Shalah melanjutkan, “Syafi’i adalah orang yang sering sakit. Diceritakan bahwa ia memiliki hidung yang lancip. Di hidungnya terdapat bekas cacar, di antara bibir bawahnya dan dagu ada sejumput bulubulu halus. Wajahnya berseri, giginya sangat rapi dan putih berseri.”
Baihaqi meriwayatkan dari Yunus ibn Abd alA’la, ia berkata, “Syafi’i memiliki postur tubuh yang
sedang, kening lebar, dan kulit lembut berwarna kecokelatan. Rahangnya tidak terlalu lebar.”
Dalam kitab al-Wafi, al-Shafadi berkata, “Syafi’i bertubuh langsing, berahang tipis dengan janggut yang selalu diwarnai hena.”
Al-Muzanni berkata, “Aku tidak pernah melihat wajah sebaik wajah Syafi’i. Jika ia menggenggam semua jenggotnya maka jenggot itu tidak melebihi genggaman tangannya.
Syafi’i tampan. Keningnya lebar, suaranya merdu, dan postur tubuhnya baik. Penampilannya sangat berwibawa dan tutur katanya fasih.
Suara yang Merdu dan Berkesan
Dalam berbicara, suara Syafi’i terkenal enak didengar. Saat membaca, suaranya merdu. Jika ia membaca AlQuran, orang-orang akan berkerumun di sampingnya hanya untuk mendengar indahnya lantunan suara dan bacaannya. Saat membaca Al-Quran pun ia sangat menghayati bacaannya sehingga orang-orang turut tenggelam dalam kelembutan suaranya yang merdu. Melalui bacaan Syafi’i, mereka bisa mengambil ibrah sambil menangis tersedu-sedu.
Bahar ibn Shakhr berkata, “Jika kami ingin menangis, kami saling menyarankan untuk pergi ke tempat pemuda Muththalib (Syafi’i) dan mendengarkannya melantunkan Al-Quran. Jika kami datang ke tempat Syafi’i, ia pun mulai membaca Al-Quran. Tak pelak, orang-orang terhanyut dan tangis mereka tak
terbendung karena mendengar merdunya suara Syafi’i. Jika sudah melihat apa yang mereka alami, Syafi’i segera menghentikan bacaannya.”
Selain akhlak dan fisiknya yang baik, Syafi’i juga dianugerahi suara yang merdu dan mengesankan. Karena terpengaruh oleh merdunya bacaan Al-Quran Syafi’i, banyak orang yang hanyut dan menangis.
Pakaian Syafi’i
Rabi’ ibn Sulaiman ditanya, “Bagaimana dengan pakaian Syafi’i?” Ia menjawab, “Pakaiannya sangat sederhana. Ia tidak pernah memakai pakaian mewah
dad. Kadang kala ia mengenakan penutup kepala yang tidak terlalu mahal harganya. Ia banyak mengenakan sorban dan sepatu bot.”
Dalam kitab al-Intiqa disebutkan, “Syafi’i selalu mengenakan ‘imamah (penutup kepala) seperti seorang Arab Badui.”
Adapun cincinnya, Rabi’ menuturkan, “Syafi’i mengenakan cincin di jari kirinya. Di cincin itu terukir kalimat Kafå billâhi tsiqatan li Muhammad ibn Idris (Cukuplah Allah sebagai Tuhan yang dipercaya oleh Muhammad ibn Idris).”
Dalam riwayat Ibn Abi Hatim alRazi disebutkan, “Tulisan yang terukir
Kepribadian Syafi’i 45
di cincinnya adalah Allâh tsiqatu Muhammad ibn Idris (Allah adalah Tuhan yang dipercaya Muhammad ibn Idris).”
Dalam berpakaian, penampilan Syafi’i sangat sederhana. la hanya mengenakan kain katun Baghdad, dan memakai ‘imâmah besar. Di jari kirinya, ia mengenakan cincin yang di atasnya terukir kalimat Kafâ billâh tsiqatan Ii Muhammad ibn Idris (Cukuplah Allah Tuhan yang dipercaya Muhammad ibn Idris).
Keluarga Syafi’i
Istri Syafi’i
Ahmad ibn Muhammad, cicit Syafi’i, menuturkan, “Istri Syafi’i yang menjadi ibu bagi anak-anaknya adalah Hamdah bint Nafi’ ibn Anbasah ibn Amr ibn Utsman.
Putra Pertama Syafi’i
Putra pertama Syafi’i adalah Abu Utsman Muhammad ibn Muhammad ibn Idris. Ia orang yang rajin menuntut ilmu, banyak mendengarkan dari ayahnya, Sufyan ibn ‘Uyainah, Abdurraziq, dan Ahmad ibn Hanbal. Abu Utsman menjabat hakim di Jazirah dan menjadi penyampai hadis di sana. Ia juga pernah menjabat hakim di kota Halab, Syam, dan menetap di sana selama beberapa tahun.
Ahmad ibn Hanbal berkata kepada Abu Utsman, “Aku mencintaimu karena tiga hal: karena kau adalah putra dari Abu Abdullah, seorang dari kaum Quraisy, dan kau termasuk ahli sunnah.”
Ketika ayahnya, Syafi’i, meninggal dunia, Abu Utsman telah dewasa dan ia tengah bermukim di Makkah. Dari Abu Utsman, Syafi’i dikaruniai tiga orang cucu: al-Abbas ibn Muhammad ibn Muhammad ibn Idris, Abu Hasan (meninggal saat masih bayi), dan Fatimah.
Putra Kedua Syafi’i
Syafi’i juga memiliki anak laki-laki lain yang bernama Muhammad. Julukannya adalah Abu al-Hasan. Anak ini dilahirkan oleh salah satu istri Syafi’i, Dananir. Sayangnya, Abu Hasan meninggal saat masih kecil.
Muhammad ibn Abdullah ibn al-Hakam berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Orang-orang banyak yang mengunggulkan air Irak, padahal di dunia ini tak ada air untuk laki-laki seperti air Mesir. Aku sendiri pernah pergi ke Mesir, dan aku contohnya.”
Putri Syafi’i
Dari istrinya yang berasal dari keluarga Utsmaniah, Syafi’i dikaruniai dua orang putri: Fatimah dan Zainab. Zainab inilah yang melahirkan Ahmad ibn Muhammad ibn Abdullah yang terkenal dengan Ibn Binti al-Syafi’i. Al Nawawi menuturkan, “Ia adalah seorang dari putrinya imam terkenal, tak ada seorang pun dari keturunan Syafi’i sehebat dirinya. Pada dirinya mengalir berkah kakeknya.”
Istri Syafi’i bernama Hamdah binti Nafi’. Darinya, Syafi’i dikaruniai putra-putri: Abu Utsman Muhammad, Fatimah, dan Zainab. Syafi’i juga memiliki seorang putra dari istrinya yang lain, Dananir, yaitu Muhammad Abu al-Hasan yang meninggal saat masih kecil.



