BAB 5. BAKAT KHUSUS

Firasat dan Naluri Syafi’i

Firasat adalah kemampuan mengenali sosok dan kepribadian seseorang hanya dengan melihat wajah atau tanda-tanda yang tampak pada dirinya. Syafi’i tertarik mempelajari ilmu firasat ini, beruji coba dengannya, bahkan ia sampai pandai mempraktikkannya. Syafi’i mendapatkan ilmu ini sejak kecil, saat ia masih tinggal di dusun. Sementara buku-buku tentang ilmu firasat ia peroleh dari Yaman.

Kisah Menarik tentang Firasat Syafi’i

Syafi’i memiliki banyak kisah dan pengalaman yang menarik tentang firasatnya. Yang paling unik adalah kisah yang diriwayatkan oleh al-Humaidi bahwa Muhammad ibn Idris menuturkan, “Aku bepergian ke daerah Yaman mencari buku-buku tentang ilmu firasat agar aku dapat menulis dan menyusunnya. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah duduk di depan rumahnya. Matanya biru, dahinya lebar, dan ia tak berjenggot.

Apa di sini tempat persinggahan?” tanyaku padanya.

‘Ya, jawabnya.”

Syafi’i melanjutkan, “Kulihat di wajahnya tanda tanda kehinaan (ini adalah tanda terburuk dalam ilmu firasat). Ia lalu mempersilakan ku menginap di rumahnya. Sungguh, ia terlihat begitu baik padaku. Ia menghidangkan makan malam, memberiku wewangian, dan menyediakan rumput untuk kuda tunggangan ku. Selain itu, ia juga menyiapkan kasur lengkap dengan selimutnya untukku. Malam itu, aku tidur sangat lelap.

“Apa gunanya buku-buku firasat ini?’ pikirku dalam hati, demi melihat sosok laki-laki yang begitu baik padaku kendati tampangnya hina dan bengis.

‘Firasatku salah tentang laki-laki ini, gumamku. Keesokan harinya, aku meminta budakku untuk melepaskan tali kekang kudaku. Aku pun menaikinya

Imam Syafi’i sedang melewati sebuah kampung di tengah perjalanannya menuju Yaman

dan bersiap untuk berangkat. Saat aku melewati lakilaki itu, aku berpesan padanya, “Jika kau bepergian ke Makkah dan melewati daerah Dzi Thawa, tanyakan pada orang-orang, di mana rumah Muhammad ibn Idris al-Syafi’i. Mampirlah ke rumahku itu!

Orang itu malah menjawab, ‘Memangnya, aku ini budak bapakmu?!

‘Apa maksudmu?’ tanyaku kepadanya.

Ia menjawab, ‘Perlu kauketahui, aku membelikan untukmu makanan dengan 2 dirham, wewangian 3 dirham, rumput 2 dirham, harga sewa kasur dan selimutnya 2 dirham

Mendengar hal ini, aku kaget. Kuperintahkan

uang sejumlah yang ia sebutkan.

Ada lagi yang lain?” tanyaku pada laki-laki itu.

Ia menjawab, ‘Harga sewa rumah karena aku telah membuatmu tidur nyaman, sementara aku rela bersempit-sempit untukmu!

Firasat Syafi’i tentang kehinaan seorang penduduk kampung yang membantunya terbukti benar

Aku pun merasa bahagia karena buku-buku firasat yang semula kuduga sia-sia, ternyata bermanfaat juga. Buku-buku firasat itu ternyata tidak salah.

Setelah itu aku bertanya lagi, ‘Ada lagi biaya lain?’ Ia menjawab dengan ketus, ‘Pergilah, semoga Allah menghinakanmu. Aku tidak pernah melihat orang seburuk dirimu.”

Syafi’i mempelajari ilmu firasat dan mempraktikkannya. la bahkan termasuk orang yang paling tajam firasatnya.

Peristiwa yang Menakjubkan

Syafi’i pernah mengalami satu peristiwa yang menakjubkan tentang kemampuannya dalam berfirasat ini. Seperti kisah yang diriwayatkan oleh al-Muzanni berikut: “Aku tengah bersama Syafi’i di Masjidil Haram. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berjalan berkeliling di antara orang-orang yang tidur di sana. Syafi’i lantas berkata kepada al-Rabi, ‘Katakan pada orang itu, apa ia telah kehilangan seorang budaknya yang berkulit hitam dan salah satu matanya cacat?’

Al-Rabi’ pun bangkit dan menyampaikan pesan Syafi’i kepada orang itu. Kemudian orang itu menjawab, ‘Ya, seperti itulah budakku!’

Al-Rabi’ lalu berkata kepada orang itu, ‘Mari temui Syaffi!”

Ia pun mendatangi Syafi’i.

‘Ya, seperti itulah budakku!’ katanya kepada Syafi’i.

Syafi’i lantas berkata kepadanya, ‘Carilah ia di tengah kerumunan orang itu.

Ia pun menuruti petunjuk Syafi’i. Ia mulai mencari-cari budaknya di tengah kerumunan orang. Akhirnya budak itu ia temukan di sana.”

Al-Rabi’ melanjutkan penuturannya, “Melihat hal ini, aku tercengang, dan kutanyakan pada Syafi’i, ‘Katakan pada kami, bagaimana kau bisa menebaknya? Kau telah membuat kami heran.

Baiklah, jawab Syafi’i.

“Tadi aku melihat seseorang masuk melalui pintu masjid, lalu ia berkeliling di antara orang-orang yang tidur. Di sini, aku menduganya tengah mencari seseorang yang kabur darinya. Kulihat orang itu mencaricari di antara orang-orang hitam yang tengah tidur. Aku berkesimpulan bahwa ia mencari seorang budak

hitam. Ia lalu memeriksa mata kanan orang-orang itu. Menurut dugaanku, berarti ia tengah mencari budak yang salah satu matanya cacat, lanjut Syafi’i.

Kami lalu bertanya padanya, ‘Lantas mengapa kausuruh ia pergi ke tempat kerumunan?”

Syafi’i menjawab, ‘Dalam hal ini, aku menakwilkan hadis Rasulullah, ‘Tak ada kebaikan sama sekali dalam kerumunan orang. Jika mereka lapar, mereka akan mencuri, dan jika mereka kenyang, mereka akan meminum minuman keras dan berzina. Dari sini aku berpikir bahwa budak orang itu telah melakukan salah satu dari kedua hal di atas. Rupanya firasat Syafi’i benar.”

Firasat Syafi’i tentang Muridnya

Firasat Syafi’i yang lain diriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Sulaiman. Ia berkata, “Kami menemui Syafi’i sebelum ia meninggal dunia. Ketika itu kami berempat: aku, al-Buwaithi, al-Muzanni, dan Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Hakam. Syafi’i menatap kami sesaat. Ia terus menatap kami satu per satu. Ia lalu berkata, ‘Engkau, wahai Abu Ya’qub, akan mati di balik jeruji besimu. Engkau, wahai Muzanni, kelak di Mesir kau akan sejahtera dan damai. Kau akan menemukan satu masa di mana engkau menjadi orang yang paling ahli di bidang qiyas. Sedangkan engkau, wahai Rabi, akan menjadi orang yang paling berguna bagiku dalam menyebarkan buku-buku dan ajaranku.’ Syafi’i berpaling ke arah Abu Ya’qub, ia berkata kepadanya, ‘Bangkitlah kau, wahai Abu Ya’qub, isilah halaqah majelisku!”

Al-Rabi’ menuturkan, “Ternyata apa yang diprediksikan Syafi’i benar-benar terjadi.”

Saat seseorang mengikhlaskan jiwanya kepada Allah maka Allah akan menerangi pandangan dan hatinya, membukakan pintu makrifat yang dapat mencengangkan akal. Keikhlasan Syafi’i dalam ilmu dan amal membuatnya dapat meraih segala macam ilmu pada zamannya. Ia menjadi orang yang paling berilmu kala itu. Selain itu, Syafi’i juga memiliki firasat yang kuat, jarang sekali firasatnya salah.

Waspadailah firasat seorang mukmin karena ia melihat dengan cahaya Allah.

Mata Hati yang Terbuka

Selain hal-hal di atas, Syafi’i juga memiliki mata hati yang terbuka dan firasat yang kuat seperti gurunya, Malik. Sifat seperti ini harus ada pada diri seorang ahli debat dan dialog agar ia dapat menaklukkan lawan-lawannya. Sifat ini juga harus ada pada diri seorang guru agar ia bisa mengetahui kondisi murid-muridnya, sehingga ia mendapatkan kemudahan dalam mengajarkan ilmunya kepada mereka berdasarkan kemampuan masing-masing. Guru semacam ini dapat menyeimbangkan antara kemampuan murid dalam memahami ilmu dan kemampuan mereka dalam menjelaskannya. Sifat-sifat yang tersimpan dalam diri Syafi’i, ditambah daya nalarnya, membuatnya banyak dikelilingi murid-murid dan sahabat.

Seorang guru yang cerdas adalah guru yang memiliki kekuatan firasat dan mata hati yang terbuka. Ia mengetahui kondisi dan kemampuan murid-muridnya sehingga mampu mengajar mereka sesuai daya nalar masing-masing. Inilah yang membuat Syafi’i memiliki murid dan sahabat yang banyak.

Peka dan Tanggap

Dengan daya hafal yang kuat, kepekaan, dan sikap tanggap maka segala makna dapat dieksplorasi dengan mudah saat dibutuhkan. Orang yang memiliki kelebihan seperti ini, pikirannya tidak akan terkungkung dan cakrawalanya tidak tertutup terhadap segala hal. Seperti itulah Syafi’i. Dengan pikiran yang terbuka ini, Syafi’i selalu memberikan pencerahan kepada muridmuridnya melalui ide-ide dan pemikirannya sendiri. Di tangannya, segala hakikat dapat terkuak dan logika pun menjadi lurus dan tetap pada jalurnya.

Sikap peka dan cepat tanggap membuat Syafii mudah menyerap semua makna, seakan ia mengalir begitu saja kepadanya. Tak satu pun makna tertutup baginya atau tak diketahuinya. Dengan demikian, semua hakikat menjadi terpampang jelas di matanya.

Ilmu Falak

Diriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Sulaiman, ia berkata, “Syafi’i berkata, “Allah berfirman :

“Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagi kalian agar kalian menjadikannya sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui

(al-An’âm [6]: 97).

Allah juga berfirman :

” Dia ciptakan tanda-tanda mereka mendapat petunjuk “

(al-Nahl (16): 16)?

Kata Syafi’i, ‘Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah gunung-gunung, malam, siang, hembusan angin yang berbeda-beda, matahari, bulan, dan bintang yang orbitnya telah diketahui melalui ilmu falak. Manusia dituntut berijtihad mencari arah Masjidil Haram melalui petunjuk dan tanda-tanda tersebut.”

Pandangan Tajam

Ahmad ibn Muhammad, cucu Syafi’i berkata, “Aku mendengar bapakku berkata, “Saat Syafi’i kecil, ia selalu memerhatikan bintang-bintang (mempelajari ilmu falak). Setiap kali memerhatikan sesuatu, pasti ia langsung ingat dan memahaminya. Syafi’i memiliki seorang teman yang istrinya tengah hamil. Syafi’i meramalkan istri temannya itu dengan berkata, ‘Dua puluh tujuh hari lagi ia akan melahirkan seorang anak yang di paha kirinya ada tanda hitam. Anak itu akan hidup selama dua puluh empat hari, kemudian meninggal dunia. Ternyata, apa yang diprediksikan Syafi’i benar-benar terjadi. Setelah dua puluh empat hari, anak itu meninggal. Akibatnya, Syafi’i membakar buku-buku ilmu falak dan perbintangan tersebut. la tidak mau lagi mempelajarinya.

Syafi’i mempelajari ilmu nujum. Ia selalu memerhatikan bintang-bintang. Setiap apa yang dilihatnya, ia langsung menghafal dan memahaminya. Setelah itu, Syafi’i berhenti menekuninya dan membakar semua buku-bukunya.

Syafi’i melantunkan syair yang mengecam para ahli nujum:

Sampaikan pesanku kepada para ahli nujum

Bahwa aku menyangsikan apa yang diputuskan bintang-bintang

Mereka menyangka tahu apa yang telah dan akan terjadi

Padahal putusan Tuhan Yang Maha Menguasai itulah yang pasti terjadi

Dokter yang Cerdas

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa firasat adalah kemampuan untuk mengenali sosok dan kepribadian seseorang hanya dengan melihat wajahnya atau

tanda-tanda yang tampak pada dirinya. Syafi’i pernah tertarik untuk mempelajari ilmu firasat ini, beruji coba dengannya, bahkan ia mahir dalam mempraktikkannya. Syafi’i mendapatkan ilmu ini sejak kecil saat ia masih tinggal di dusun. Buku-buku tentang ilmu firasat ia peroleh dari Yaman.

Ilmu Kedokteran

Harmalah berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, Ada dua hal yang banyak diabaikan manusia: kedokteran dan bahasa Arab. Syafi’i sangat menyesalkan dan menyayangkan sikap kaum muslim yang menyepelekan masalah kedokteran.

Diriwayatkan dari Harmalah ibn Yahya, “Syafi’i sangat kecewa atas sikap kaum muslim yang mengabaikan dunia kedokteran. Menurutnya, dengan begitu mereka telah meninggalkan sepertiga ilmu dan menyerahkannya kepada orang-orang lain.”

Debat Kedokteran

Selain ilmu-ilmu yang dimiliki Syafi’i di atas, ia juga memiliki wawasan cukup luas di bidang kedokteran. Diriwayatkan dari Abi al-Hushain al-Mashri, ia menuturkan, “Aku mendengar ada seorang dokter di Mesir.” la menambahkan, “Syafi’i datang ke Mesir, lalu mampir di tempatku. Di sana ia berdiskusi denganku tentang kedokteran hingga aku mengira seorang dokter Irak telah datang ke negeri kami.

Kataku kepada Syafi’i, Apa engkau mau aku bacakan buku Hipokrates—seorang tokoh dan bapak kedokteran Eropa-kepadamu?’

Syafi’i lantas menunjuk buku itu dan berkata dengan lirih, “Mereka tidak merelakan aku untuk mempelajarinya!”

Maksudnya, murid-murid Syafiʻi di masjid tidak memberinya kesempatan untuk dapat memperdalam ilmu kedokteran.

Sekiranya Syafiʻi tidak sibuk memperdalam ilmu agama, niscaya ia menjadi dokter yang andal.

Anjuran Memperdalam Ilmu Kedokteran Syafi’i sangat menganjurkan kaum muslim mempelajari dan mendalami bidang kedokteran. Al-Rabi’ ibn Sulaiman bertutur, “Aku mendengar Syafi’i berkata,

Ilmu itu ada dua: ilmu fikih atau ilmu agama dan ilmu medis-fisiologis.”

Syafi’i juga berkata, “Ilmu agama yang paling utama adalah ilmu fikih dan ilmu dunia yang paling utama adalah ilmu kedokteran.”

Dalam riwayat Muhammad ibn Abdullah ibn Abd al-Hakam disebutkan bahwa Syafi’i berkata, “Ilmu fikih untuk agama, ilmu kedokteran untuk tubuh, selain keduanya hanyalah khazanah pemikiran.”

Al-Rabi ibn Sulaiman menuturkan, “Syafi’i berkata, “Jika kau masuk ke satu wilayah dan di sana tak kaudapati seorang penguasa yang adil, air yang mengalir, seorang dokter yang bersahabat maka jangan tinggal di wilayah itu!”

Syafi’i juga berkata, “Jangan tinggal di wilayah yang tidak ada seorang ulama yang membimbing agamamu dan tidak ada seorang dokter yang akan merawat tubuhmu.”

ilmu fikih dan ilmu kedokteran harus ada di setiap wilayah. Jika tidak maka tak ada kebaikan di wilayah itu.

Obat untuk yang Tidak Punya Obat

Ibnu Abdul Hakam berkata, “Aku mendengar Syafi’i menuturkan, Ada tiga hal yang tidak bisa diobati oleh seorang dokter: kebodohan, wabah, dan pikun. Diriwayatkan dari Yunus ibn Abdul A’la, ia berkata, “Syafi’i berkata kepadaku, “Aku tidak pernah mandi junub, pada musim dingin atau musim panas, kecuali dengan air panas.”

Pakar Ilmu Gizi

Ada beberapa riwayat tentang kepiawaian Syafi’i di bidang kedokteran, di antaranya: Riwayat Yunus ibn Abdul A’la, ia berkata, “Syafi’i berkata, ‘Aku tidak

melihat hal yang lebih bermanfaat untuk mengobati wabah dari minyak bunga violet. Seorang yang terserang wabah bisa meminum minyak violet atau melumuri tubuhnya.”

Riwayat al-Rabi ibn Sulaiman, ia berkata, “Abu Utsman Muhammad ibn Muhammad ibn Idris alSyafi’i berkata, “Jika terserang demam, ayahku meminta tumbuhan serai (citron) untuk diperas dan diminum airnya karena ia takut lisannya cacat.”

Harmalah berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Jangan kaumakan telur rebus pada malam hari karena orang yang memakannya sering terserang penyakit.”

Harmalah juga berkata, “Aku mendengar Syafi’i melarang memakan terung pada waktu malam.”

Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Hakam berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkomentar, ‘Aneh sekali orang yang keluar dari pemandian lalu tidak makan. Bagaimana ia menjalani hidup yang sehat? Aneh juga orang yang berbekam lalu makan. Bagaimana ia menjalani hidup yang sehat?”

Al-Rabi ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Ada tiga hal yang menjadi obat bagi penyakit yang tidak ada obatnya serta dokter tak sanggup mengobatinya: anggur, susu unta, dan tebu.”

Syafi’i tidak mempelajari ilmu tertentu kecuali ia sangat mahir di dalamnya. Banyak sekali pendapat dan hikmah yang diriwayatkan darinya.

Sarapan Pagi

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Harun al-Rasyid berkata kepadaku, ‘Wahai

Muhammad, aku mendengar bahwa kau selalu sarapan pagi?!

“Ya, wahai Amirul Mukminin, jawabku.

Mengapa kaulakukan itu?” tanyanya.

Aku menjawab, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku melakukannya karena empat hal.

“Apa itu?” tanya al-Rasyid penasaran.

*Karena air masih dingin, udara masih segar, lalat masih sedikit, dan sarapan pagi dapat menekan hasratku terhadap makanan orang lain.

Imam Syafi’i menyampaikan nasihat kedokteran kepada al-Rasyid, Amirul Mukminin

Al-Rasyid berkomentar, ‘Sungguh, ini adalah syair yang indah

Akal Sehat Terdapat pada Tubuh Sehat Syafi’i berkata, “Akal tidak tersimpan dengan baik dalam tubuh yang gemuk.” Tentang hal ini, ada satu kisah yang menarik. Syafi’i berkata, “Dahulu kala ada seorang raja yang bertubuh sangat gemuk

Syafi’i memiliki banyak nasihat dan saran dalam masalah gizi dan nutrisi, serta nasihat medis yang bernilai.

Tentang hal ini, ada satu kisah yang menarik. Syafi’i berkata, “Dahulu kala ada seorang raja yang bertubuh sangat gemuk hingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia pun mengumpulkan seluruh dokter. Perintahnya kepada para dokter, ‘Berikan aku obat yang dapat mengurangi tumpukan dagingku ini! Namun para dokter tak ada yang sanggup mengobatinya.”

Syafi’i melanjutkan, “Kemudian seseorang memberi tahu sang Raja bahwa ada seorang laki-laki pintar dan sastrawan yang mahir di bidang kedokteran. Raja pun memanggil orang tersebut. ‘Obati aku. Jika kau berhasil menyembuhkanku, akan kuberikan apa saja untukmu! ujar sang Raja kepadanya.

Orang pintar dan bijak itu berkata, “Semoga Allah menyembuhkan Baginda. Aku adalah seorang dokter dan ahli nujum. Malam ini, biar kuperiksa penyakit kegemukan Baginda dan kucarikan obatnya!

Keesokan harinya, orang bijak itu berkata kepada sang Raja, ‘Wahai Baginda, aku meminta jaminan keamanan darimu!

Raja menjawab, ‘Baiklah, kau aman!

Orang itu lantas berkata, ‘Dengan melihat keadaanmu seperti ini, kukira umurmu tinggal sebulan lagi. Jika kau mau, aku akan mengobatimu. Jika kau ingin meminta pembuktian lebih lanjut, tahanlah aku di tempatmu hingga masa sebulan itu. Apabila ucapanku benar, bebaskan aku. Jika tidak, hukumlah aku!

Akhirnya orang bijak itu ditahan Raja. Mendengar prediksi orang bijak itu, Raja mulai meninggalkan kebiasannya berhura-hura. Ia memilih menyendiri dan menjauhi manusia. Dalam keadaan sedih, ia merenung dan tak pernah sekali pun mengangkat kepala sambil terus menghitung hari. Setiap

hari bertambah, kesedihannya semakin memuncak hingga tak disadari ia menjadi kurus karena memikirkan hal tersebut. Hari pun telah berlalu selama dua puluh delapan hari. Akhirnya, Raja mengeluarkan orang bijak itu dari penjaranya. Raja ingin mempertanyakan ramalannya dahulu. Ia berkata, “Bagaimana menurutmu?’

Orang bijak itu menjawab, ‘Semoga Allah memperkuat Baginda. Aku ini sangat kecil di mata Allah untuk mengetahui hal-hal gaib. Aku tidak tahu batas usiaku. Bagaimana mungkin aku bisa tahu batas usiamu? Menurutku, tak ada obat untuk penyakit kegemukan yang kau derita, kecuali kesedihan. Dengan begitu kau tidak akan makan. Aku tak bisa membuatmu bersedih kecuali dengan cara ini. Oleh karena itu, kuberitahukan padamu bahwa kau akan mati setelah satu bulan. Dampaknya, semua lemak dan daging di tubuhmu menjadi berkurang. Akhirnya Raja itu membebaskannya, bahkan sangat menghargai usahanya.”

Akal dan pemahaman seperti apa yang dimiliki Syafi’i ini? Selain ilmu-ilmu yang telah dikuasai, ia juga sangat ahli di bidang kedokteran. Bahkan, ia sering berdebat dengan para dokter sehingga mereka mengira bahwa Syafi’i tidak mendalami ilmu selain kedokteran.

Syafi’i tidak mempelajari ilmu tertentu kecuali ia sangat mahir di dalamnya. Banyak sekali pendapat dan hikmah yang diriwayatkan darinya.

Ilmu Nasab

Di antara ilmu yang dipelajari Syafi’i sejak kecil adalah ilmu nasab. Ia banyak mengambil ilmu ini saat masih tinggal di dusun. Ia sering mencatat segala

nasab, bertanya-tanya kepada orang-orang Arab, dan mendengarkan penuturan-penuturan mereka. Walhasil, ia menjadi mahir dalam sejarah Arab dan keturunan-keturunannya. Selain itu ia juga hafal syair dan sastranya.

Al-Muzanni berkata, “Syafi’i datang kepada kami. Ketika itu di Mesir ada Ibn Hisyam, pengarang kitab al-Magházi. Ibn Hisyam adalah ulama Mesir di bidang syair dan bahasa. Seseorang berkata kepadanya, “Temuilah Syafi’i!’ la menolak untuk datang. Setelah diyakinkan oleh banyak orang bahwa Syafi’i memiliki keistimewaan dan bakat khusus, Ibn Hisyam pun mau datang kepadanya. Di sana, Ibn Hisyam mulai berdiskusi dan saling bertukar pikiran tentang nasab tokoh-tokoh Arab dari kaum laki-laki dengan Syafi’i. Setelah keduanya saling menunjukkan kebolehan, Syafi’i berkata, “Tinggalkan nasab kaum laki-laki karena kau dan aku pasti sama dalam hal itu. Sekarang mari kita membahas tentang nasab tokoh-tokoh perempuan. Setelah semua yang hadir sepakat, Syafi’i pun dengan lancar memaparkan nasab-nasab itu. Ibn Hisyam hanya diam. Ia tidak banyak mengetahui nasab tokoh-tokoh perempuan. Setelah itu ia bergumam, ‘Aku tidak mengira bahwa Allah menciptakan makhluk seperti dia. Ia sangat terkagum-kagum dengan tingkat ilmu yang dicapai Syafi’i.”

Syafi’i adalah lautan dari samudra ilmu. Ia tidak membiarkan satu ilmu yang bermanfaat di dusun kecuali ia mempelajarinya. Selain ilmu fikih dan tafsir, syair dan sastra, Syafi’i juga mempelajari ilmu nasab. la banyak menghafal nasab-nasab laki-laki dan perempuan sekaligus. Satu hal yang tidak dikuasai oleh pakar ilmu nasab lainnya.

Memori dan Pemikiran

Allah menganugerahi Syafi’i bakat dan sifat-sifat khusus yang telah mengangkat derajatnya di bidang ilmu, akhlak, dan agama. Allah menjadikannya sebagai pionir pemikiran dan pemimpin para ahli rakyu (kaum intelektual). Syafi’i memiliki daya nalar yang sangat tajam dan memori yang kuat. Ia membaca al Muwaththa’ dan langsung menghafalnya. Ia mampu memaparkannya di luar kepala.

Cahaya ilmu akan diberikan Allah kepada orang yang berhak mendapatkannya. Allah telah memberikan Syafi’i cahaya ini sehingga ia menjadi tokoh pemikir dan pemimpin ahli ra’yu dengan kemampuan menghafal dan daya nalarnya yang sangat kuat

Pemikiran yang Mendalam

Syafi’i memiliki pemikiran yang mendalam. Dalam segala hal, ia tidak cukup mempelajari luarnya saja, tapi ia menyelami sampai ke akarnya. Pemahamannya berdimensi jauh dan tidak terbatas pada satu titik. Ia selalu ingin mencapai hakikat secara sempurna. Dalam mengamati segala peristiwa, ia tidak

menyimpulkannya secara parsial, tapi melihatnya secara global. Buahnya, Syafi’i memelopori peletakkan fondasi awal ilmu Ushul Fikih.

Dengan daya pikir mendalam yang melihat segala sesuatu hingga ke akarnya dan berpikiran secara menyeluruh, Syafi’i dapat meletakkan fondasi awal ilmu Ushul Fikih.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai