BAB 6. KETELADANAN IMAM SYAFI’I

Ibadah dan Keimanan

Selain sebagai imam di bidang ijtihad dan fikih, Syafi’i juga seorang imam di bidang keimanan dan ketakwaan, warak dan ibadah. Al-Buwaithi menuturkan, “Aku banyak melihat bermacam manusia. Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun seperti Syafi’i dan tak ada yang menandinginya di bidang ilmu. Demi Allah, bagiku, Syafi’i lebih warak daripada orang yang terkenal kewarakannya.”

Syafi’i Membagi Malamnya

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Syafi’i membagi malamnya ke dalam tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat, dan sepertiganya lagi untuk tidur.”

Ia juga berkata, “Aku menginap di rumah Syafi’i untuk beberapa malam. Kulihat Syafi’i tidak tidur pada malam hari kecuali hanya sedikit.”

Bahar ibn Nashar berkata, “Pada zaman Syafi’i, aku tidak pernah melihat dan mendengar ada orang yang lebih bertakwa dan warak dari Syafi’i, tidak pula yang lebih baik suaranya dalam melantunkan AlQuran daripada Syafi’i.”

Antara Rasa Takut dan Harap

Al-Karabis menuturkan, “Aku menginap di tempat Syafi’i selama delapan puluh malam. Ia selalu shalat sepertiga malam, dan aku tidak melihatnya membaca Al-Quran lebih dari lima puluh ayat. Jika ia menambahnya, ia hanya membaca sampai seratus ayat. Setiap ia membaca ayat rahmat, ia langsung memohon kepada Allah untuk dirinya dan kaum mukmin. Ia tidak membaca ayat azab kecuali ia bergegas meminta perlindungan kepada Allah darinya, memohon kese: lamatan untuk dirinya dan kaum mukmin. Seakan ia

menghimpun rasa takut dan harap pada dirinya secara seimbang dan beriringan.”

Imam Syafi’i seorang fakih, ahli bahasa dan ahli ushul fikih. Dia juga seorang hamba yang warak dan taat ibadah. la membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat, dan sepertiga sisanya untuk tidur.

Kejernihan dan Keikhlasan

Bersamaan dengan itu, Syafi’i memiliki jiwa yang bersih dari kotoran dunia, ikhlas

dalam mencari kebenaran dan tidak menghendaki selainnya. Dalam hikmah negeri Timur disebutkan, “Ketulusan dalam mencari hakikat dapat menyalakan cahaya makrifat dalam hati. Dalam jiwa terdapat kejernihan yang dapat mengungkap semua hakikat,

sehingga akal dapat mengetahuinya, daya pikir menjadi lurus, dan semua ungkapan menjadi tulus dalam menggambarkan makna yang benar. Dengan begitu, pendapat pun akan lurus dan ungkapan akan benar.”

Keikhlasan Syafi’i dalam mencari hakikat selalu dijaganya dalam setiap fase hidupnya. Ia selalu mencari kebenaran di mana pun. Jika keikhlasannya terpaksa berseberangan dengan pendapat-pendapat orang lain, maka dengan berani ia akan mengemukakan pendapatnya. Ia juga adalah seorang yang tulus dan berbakti kepada guru-gurunya. Akan tetapi, ketulusannya tidak menghambatnya untuk menyampaikan kebenaran jika terpaksa harus berseberangan dengan

mereka. Ia pernah berseberangan dengan Imam Malik dalam beberapa pendapat yang ia anggap benar, khususnya setelah ia melihat orang-orang di Andalusia yang meminum air dengan menggunakan kopiah Imam Malik. Melihat kenyataan ini, Syafi’i menegaskan kepada mereka, bahwa bagaimanapun Imam Malik adalah seorang manusia biasa yang bisa salah dan bisa juga benar.

Ketulusan dan keikhlasan dalam mencari kebenaran dapat menyalakan cahaya makrifat dalam hati. Kejernihan dalam jiwa dapat membuatnya mencapai kebenaran dan berani mengungkapkannya. Syafi’i sendiri pernah dengan berani mengungkapkan pendapat yang menurutnya benar, kendati harus berseberangan dengan Imam Malik.

Syafi’i Seorang Zahid

Syafi’i berkata, “Mencari dunia adalah sebentuk hukuman yang Allah timpakan kepada ahli tauhid.”

Syafi’i berkata, “Sekiranya dunia adalah sebentuk barang yang dijual di pasar, niscaya aku tidak akan

membeli atau menukarnya dengan sepotong roti karena bahaya yang terkandung di dalamnya.”

Al-Muzanni berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Siapa yang dikalahkan oleh nafsunya karena mencintai dunia maka ia telah tunduk kepada penghuni dunia. Siapa yang bersikap qanaah maka ketundukan itu sirna.”

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Kebaikan dunia dan akhirat tersimpan

dalam lima perkara: jiwa yang kaya, diri yang terjaga dari berbuat zalim, mencari yang halal, ketakwaan, dan percaya sepenuhnya kepada Allah dalam segala keadaan.”

Al-Rabi’ juga berkata, “Syafi’i berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi, zuhudlah karena kezuhudan lebih baik dari perhiasan yang dikenakan seorang perempuan yang berpayudara besar.”

Syafi’i berkata, “Siapa yang ingin hatinya dibukakan Allah dan diberikan hikmah maka ia harus berkhalwat, mengurangi makan, dan tidak bergaul dengan orang-orang bodoh, serta membenci orang alim yang tidak adil dan tidak berakhlak.”

Kaya Jiwa

Syafi’i melantukan syair tentang sifat kaya jiwa,

Jika kau mau hidup kaya maka jangan puas dengan satu keadaan Kecuali jika kau puas dengan yang lebih rendah darinya

Syafi’i berpesan kepada orang-orang yang tamak dan diperbudak dunia,

Wahai orang yang memeluk dunia yang tak abadi Di dunianya, ia selalu berpetualang pagi dan petang Tinggalkanlah orang-orang yang memeluk dunia Agar di surga Firdaus kau bisa memeluk para bidadari

Jika kau mencari surga keabadian untuk kauhuni Maka seharusnya kau tidak merasa aman dari api neraka

Berpisah dengan Dunia

Syafi’i juga mengingatkan kita bahwa orang bijak adalah orang yang rela berpisah dengan dunia dan menyucikan dirinya untuk akhirat. Syafi’i melantunkan syair :

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas dan sadar

Mereka rela berpisah dengan dunia dan takut akan fitnah

Mereka melihat ke dalamnya dan saat mereka tahu Bahwa dunia bukanlah negeri untuk kehidupan

Mereka pun menjadikannya hanya sebagai perairan luas

Mereka mulai melakukan amal saleh dan menjadikannya sebagai bahtera di atasnya

Dunia bukan tempat dan negeri yang nyaman bagi siapa pun. Orang yang berakal adalah orang yang berbekal diri untuk akhiratnya, ia tak pernah bergantung pada kehidupan dunia.

Membangkitkan Sifat Qanaah

Syafi’i memiliki syair-syair indah yang disebut dengan syair zuhud: :

Aku mematikan hasratku hingga aku membuat nyaman jiwaku

Karena, selagi jiwa tetap tamak, ia akan menjadi hina Aku menghidupkan sikap qanaah yang tadinya telah mati

Karena, dengan menghidupkannya, kehormatanku tetap terjaga

Jika ketamakan merasuki hati seorang hamba

Maka kehinaan akan menimpanya dan kenistaan berada di atasnya

Kaya Tanpa Harta

Syafi’i berbicara tentang makna zuhud di dunia, sikap rela dengan ketetapan Allah, sabar menanti kemenangan dari Allah, prinsip tidak berharap kepada manusia, dan tidak bergantung kepada orang-orang yang memiliki harta, serta tidak iri padanya. Syafi’i berkata,

Aku menguji anak-anak dunia, dan aku tidak melihat di tengah mereka

Kecuali seisi tubuhnya diliputi kebakhilan Aku terhempas dari selubung qanaah dengan keras Kuputus harapanku dari mereka dengan segala petakanya

Tidak ada orang yang melihatku tengah menghalangi jalannya

Tidak pula yang melihatku duduk di pintunya

Kaya itu tanpa harta, kaya itu berarti tidak membutuhkan manusia

Kekayaan itu bukan dengan sesuatu, tapi kekayaan itu tidak membutuhkan sesuatu

Jika seorang zalim menganggap baik kezalimannya Dan bersikeras serta bersikap sombong dengan perbuatan buruknya

Serahkan dirinya kepada pergantian malam karena ia dapat menimpanya dengan hal yang tidak ia duga

Berapa banyak orang yang zalim menjadi keras kepala

Yang dengan sombong menganggap bintang seakan di bawah pijakan kakinya

Dalam kelalaiannya ia sering tak sadar Mengundang bermacam peristiwa di pintu rumahnya Sehingga ia menjadi tidak berharta dan

berkehormatan yang bisa diharapkan Tidak pula kebaikan yang dipetik dari sejarah hidupnya

Ia dibalas dengan hal yang pernah ia lakukan Dan Allah akan menimpanya dengan cemeti azab-Nya

Kekayaan sejati adalah kaya jiwa, tidak bergantung pada uluran tangan manusia, dan yakin bahwa segala keadaan pasti akan berubah.

Misteri Kegaiban

Syafi’i berkata,

Orang yang lelah hidup akan pergi ke suatu negeri Sementara kematian terus mengintainya dari negeri itu

Orang yang tertawa padahal kematian melihatnya dari atas kepala

Sekiranya ia tahu hal gaib, ia akan mati karena kesedihannya

Siapa yang tidak diberi pengetahuan tentang hari esok Apa yang ia pikirkan tentang rezeki esok yang masih jauh?

Zuhud sejati termasuk akhlak para pemuka dan sifat orang mulia. Seorang yang agung seperti Syafi’i tidak layak kecuali menjadi seorang yang zuhud di dunia, tidak rakus dan tamak dalam mencarinya. Begitulah Syafi’i, bahkan lebih dari itu. Ia selalu menganjurkan berzuhud.

Mulia dan Murah Hati

Dalam hal kemurahan hati, Imam Syafi’i tiada tandingannya walau hidupnya diliputi kemisikinan, bahkan ia sering tidak memiliki bekal makanan untuk satu hari. Jika mendapatkan sedikit rezeki, ia langsung menyedekahkannya.

Syafi’i Menyedekahkan Semuanya Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar al-Humaidi menuturkan, “Syafi’i datang dari Shan’a ke Makkah membawa sepuluh ribu dinar dalam sapu tangannya. Ia lalu membuka saputangan tersebut di satu tempat di luar kota Makkah.

tempat di luar kota Makkah. Orang-orang banyak berdatangan ke tempatnya, hingga uang itu langsung habis ia bagikan.”

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Seorang laki-laki menyongsong dan mendekati pijakan kaki Syafi’i di atas kudanya. Kemudian Syafi’i berkata, “Wahai Rabi’, berikan empat dinar kepadanya dan sampaikan permohonan maafku kepadanya.””

Bayarkan kepadanya!

Diriwayatkan juga dari al-Rabi, ia berkata, “Syafi’i tengah menunggang seekor keledai. Ia berjalan melewati pasar tempat para pembuat sepatu. Cambuknya terjatuh dari tangannya. Tiba-tiba seorang pemuda melompat dan langsung meraih cambuk itu. Ia mengusapnya dengan kain dan memberikannya kembali kepada Syafi’i. Kemudian Syafi’i berkata kepada budaknya, ‘Berikanlah dinar-dinar itu kepada pemuda ini!”

Al-Rabi’ menuturkan, “Aku tidak tahu pasti. Mungkin jumlah uang itu ada tujuh atau sembilan dinar.”

Pada lain kesempatan, al-Rabi’ berkata, “Kami tengah bersama Syafi’i. Ketika itu, ia baru keluar dari masjid di Mesir. Tiba-tiba tali sandalnya putus. Kemudian seorang laki-laki membetulkan tali sandalnya dan menyerahkannya kembali kepada Syafi’i. Syafi’i lantas berkata kepada al-Rabi, ‘Wahai Rabi, apa masih ada sisa biaya perjalanan kita di tanganmu?’

Aku menjawab, ‘Ya?

‘Ada berapa?’ tanya Syafi’i.

“Tujuh dinar, jawabku. Syafi’i lalu berkata, ‘Berikan semuanya kepadanya!

Inilah puncak dari kemuliaan dan kemurahan hati. Syafi’i medermakan semua yang ia miliki, bahkan ia meminta maaf kepada orang yang diberinya dengan berkata bahwa ia tidak memiliki yang lain lagi. Akhlak seperti apakah ini?

Berapa Kau bayar Maharnya?

Ketika al-Rabi’ ibn Sulaiman menikah, Syafiʻi bertanya kepadanya, “Berapa mahar yang kauberikan kepada calon istrimu?” Al-Rabi’ menjawab, “Tiga puluh dinar.”

Syafi’i lantas bertanya lagi, “Berapa uang mukanya?”

Al-Rabi’ menjawab, “Enam dinar.”

Syafi’i lalu naik ke atas rumahnya. Dari sana ia mengambil bungkusan berisi dua puluh empat dinar dan memberikannya kepada al-Rabi.

Al-Rabi juga menuturkan, “Jika seseorang meminta-minta kepada Syafi’i maka wajah Syafi’i berubah menjadi merah karena malu kepadanya. Ia akan bergegas memberinya. Suatu hari seseorang datang mengemis, sementara Syafi’i tengah menunggang kudanya. Sontak wajah Syafi’i memerah karena ia tidak membawa uang sepeser pun. Akhirnya ia bertanya kepada pengemis itu, ‘Engkau tinggal di mana, biar kukirimkan kebutuhanmu ke sana?’ Setibanya Syafi’i di

rumahnya, ia langsung mengirimkan apa yang diminta pengemis itu kepadanya.

Syafi’i malu dan rona wajahnya berubah manakala ia tidak memiliki apa-apa untuk ia berikan kepada para pengemis. Lantas, bagaimana dengan kita? Sungguh ini adalah akhlak para nabi.

Al-Rabi’ juga berkata, “Kami sering mendengar orang-orang yang murah hati. Di Mesir juga banyak orang yang dermawan. Akan tetapi kami tidak pernah melihat seorang dermawan seperti Syafi’i, tidak pula mendengar orang seperti dia pada zamannya.”

Di lain kesempatan al-Rabi berkata, “Syafi’i menuturkan bahwa di Yaman banyak orang yang dermawan. Lantas al-Humaidi berkata, “Apa arti kedermawanan orang-orang Yaman dibandingkan dengan kedermawanan Syafi’i? Mereka hanya memberi sisa hartanya, sementara Syafi’i menyerahkan seluruh hartanya untuk disedekahkan.”

Syafi’i Memberikan Semua yang la Miliki

Begitulah kedermawanan Syafi’i. Meski kurang mampu, ia suka menyedekahkan apa saja yang dimilikinya, walau harus kelaparan karena sikapnya itu. Syafi’i melantunkan syairnya tentang hal itu:

hati dengan segala yang ada padaku Walau aku harus tidur dalam keadaan lapar, pinggang dan perutku sakit

Aku mengadukan kemiskinanku kepada Allah Karena sesungguhnya Allah lebih tahu keadaanku

Orang sezamannya tak pernah melihat seseorang yang berkepribadian seperti Syafi’i , yang rela mendermakan semua yang dimilikinya. Syafi’i selalu mewujudkan semua faktor kekayaan dan tidak pernah mengeluhkan kemiskinannya kecuali kepada Allah

Musibah yang Berat

Karena kemurahan hati dan kedermawanannya, Syafi’i tidak pernah merasa menderita lebih berat dari deritanya saat ia melihat seseorang meminta bantuannya, tapi ia tak dapat mewujudkannya. Di sini, dengan sangat terpaksa, ia akan meminta maaf kepadanya.

Tentang hal ini ia menulis satu bait syair yang indah:

Wahai ketamakan jiwaku akan harta yang akan kuberikan

Kepada kaum miskin yang masih memiliki harga diri Maafku kepada orang yang datang meminta kepadaku Saat aku tidak memiliki apa-apa untuk kuberikan kepada orang yang tertimpa musibah

Nafkah Orang-Orang Mulia

Al-Rabi’ ditanya, “Bagaimana halnya dengan pakaian Syafi’i?” la menjawab, “Pakaiannya sangat sederhana …” Ia memaparkannya, hingga katanya, “Tak ada satu

hari pun berlalu kecuali Syafi’i bersedekah. Pada malam hari ia bersedekah, terlebih di bulan Ramadhan. la selalu mengamati keadaan orang-orang miskin dan kaum papa. Nafkah kepada keluarganya sendiri seperti biaya para pedagang besar. Syafi’i adalah orang yang pergaulannya paling mulia.

Al-Buwaithi menuturkan, “Syafi’i mengembara ke Mesir. Zubaidah mengirimkan paket berisi pakaian untuknya. Tapi Syafi’i malah membagikannya kepada orang-orang.”

Abu Tsaur menuturkan tentang kedermawanan Imam Syafi’i, “Jarang sekali Syafi’i memegang harta di tangannya.”

Kedermawanan paling utama bila dilakukan saat seseorang sedang mengalami kemiskinan dan sangat membutuhkan. Meskipun miskin, Syafi’i adalah orang yang paling dermawan. Tak ada satu hari pun berlalu kecuali ia bersedekah. la juga bersedekah pada malam hari, khususnya di bulan Ramadhan. Ia akan merasa pedih jika diminta sesuatu oleh seseorang, tetapi ia tidak memilikinya untuk diberikan kepadanya, sehingga ia terpaksa harus meminta maaf untuk itu.

Akhlak yang Tinggi

Tidak Berdebat dengan Orang Bodoh

Imam Syafi’i memiliki beberapa bait syair tentang toleransi dan akhlak yang baik, serta etika bergaul dengan manusia, di antaranya:

Seorang bodoh berbicara padaku tentang segala keburukan

Aku tidak suka meladeninya

Dengan begitu, ia hanya akan bertambah bodoh dan aku semakin menjadi penyabar

Seperti sebatang kayu, jika dibakar maka wanginya akan bertambah harum

Syafi’i juga berkata,

Jika seorang bodoh berbicara, jangan kau jawab Jawaban yang paling baik baginya adalah diam Jika kau ajak ia bicara, berarti kau telah melapangkannya

Tapi jika kaubiarkan ia binasa maka ia akan mati

Diam pada Tempatnya

Syafi’i melantunkan :

Jika seorang hina menghinaku maka aku semakin tinggi

Tak ada cela bagiku kecuali jika aku kembali menghinanya

Jika jiwaku tidak terhormat bagiku

Niscaya akan kubiarkan ia membalas perlakuan orang hina itu

Meskipun aku mencari manfaat untukku, kau tetap temukan diriku

Banyak bersabar dan perlahan dalam mencari apa yang kucari

Akan tetapi aku mencari manfaat untuk temanku Sungguh cela bagi seorang yang kenyang

sementara temannya kelaparan

Syafi’i memiliki akhlak yang tinggi, tabiat yang mulia, jiwa yang baik, dan penuh toleransi. Jika seseorang menghinanya, ia tidak pernah membalas. la malah memaafkan dan bersabar atas tindakan orang tersebut.

Etika Berdebat

Imam Syafi’i selalu menjaga agar tetap bersikap santun saat berdebat. Ia adalah orang yang cerdas dan pandai berargumen, hingga usai berdebat dengannya, tak ada orang yang keluar, kecuali dengan rasa puas dengan perdebatannya bersama Syafi’i. Di sisi lain, Syafi’i adalah orang yang selalu menjaga etika dalam berdialog, Tentang hal ini, putranya, Muhammad Abu Utsman, menuturkan, “Aku tidak pernah mendengar ayahku berdebat dengan seseorang sambil mengeraskan suaranya.”

Tujuan yang Mulia

Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah berbicara dengan seseorang, kecuali aku ingin agar orang itu mendapat bimbingan dan bantuan.” Berbeda halnya dengan manusia sekarang, mereka cenderung mau menang sendiri dan mengharap lawan bicaranya salah dan kalah.

Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah mendebat seseorang karena ingin agar ia salah dan kalah.

Ia juga berkata, “Aku tidak pernah mendebat seseorang kecuali untuk memberinya nasihat, dan aku tidak pernah mendebat seseorang dengan maksud ingin mengalahkannya.”

Betapa indah akhlak dan etika seperti ini. Betapa baik akhlak para imam itu untuk kita ikuti. Hendaknya tujuan kita dalam berdebat adalah mencapai kebenaran, bukan mengalahkan orang lain dan berharap ia salah.

Etika yang disertai kecerdasan dan argumentasi yang kuat merupakan sifat-sifat Syafi’i dalam debat dan dialog. Syafi’i tidak pernah mengeraskan suaranya dalam satu perdebatan pun, dan ia tidak berdebat dengan seseorang kecuali dengan maksud menyampaikan nasihat.

Tentang etika berdebat ini, Syafi’i melantunkan syairnya :

Jika kau memiliki kemuliaan dan ilmu

yang berbeda dengan orang-orang dahulu atau yang sekarang

Maka berdebatlah dengan tenang bersama orang yang kauajak berdebat

Sabar dan tidak memaksakan pendapat serta tidak sombong

Akan bermanfaat bagimu tanpa perlu mengharap pamrih apa pun

Jika ia mendapat manfaat dari humor-humor santun dan hal-hal yang asing baginya

Sekali-kali jangan berkumpul dengan orang-orang

yang menganggap dirinya menang, atau orang yang menyombongkan diri

Keburukan akan datang setelah semua sikap itu

Dan akan berakibat pada terputusnya silaturahmi dan sikap saling menjauhi

Berfatwa seperti dalam Hadis

Syafi’i tidak pernah yakin dirinya telah mengetahui dan menguasai seluruh sunnah dan hadis Rasulullah. Ia menganjurkan para sahabatnya mencari hadis. Jika mereka menemukan hadis sahih yang bertentangan dengan apa yang difatwakan Syafi’i, Syafi’i menyuruh mereka untuk menolak pendapatnya dan memilih hadis.

Dalam Mu’jam Yaqût diriwayatkan dengan sanad yang sampai pada al-Rabi ibn Sulaiman, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i ditanya oleh seorang laki-laki tentang satu masalah. Syafi’i lantas menjawab, ‘Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda begini dan begitu …

Orang itu lalu bertanya kepada Syafi’i, ‘Wahai Abdullah, apa kau yakin dengan apa yang kauucapkan?’ Atau, apakah kau berfatwa persis seperti yang tertera dalam hadis?’

Syafi’i gemetar dan raut wajahnya jadi merah. Ia lalu berkata, ‘Bumi mana tempatku berpijak dan langit apa yang memayungiku ini jika ada riwayat Rasulullah dan aku tidak menyampaikannya? Tentu saja aku berfatwa seperti yang ada dalam hadis.”

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Kendati orang telah melupakan sunnah Rasulullah, apa pun yang kuucapkan atau apa pun yang menjadi dasar pendapatku, jika hal itu bertentangan dengan sabda Rasulullah, maka yang benar adalah sabda Rasulullah. Itulah yang akan menjadi pendapatku. Syafi’i terus mengulang-ulang ucapannya ini.”

Ini adalah seruan untuk bersikap moderat dan tidak fanatik terhadap pendapat tertentu. Setiap manusia bisa salah dan benar. Oleh karena itu, yang harus menjadi rujukan adalah Kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.

Selera Humor Syafi’i

Di antara humornya yang menarik, Syafi’i mendengar satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu al-Aliyah alRiyâhi (sang angin). Dalam hadis itu tercatat, “Bagi orang yang tertawa, ia harus berwudhu.” Kemudian Syafi’i ditanya tentang hadis ini, ia menjawab, “Hadis

al-Riyâhi (sang angin) ini seperti angin (tidak ada nilainya).”

Syafi’i juga mendengar satu hadis palsu dari Haram ibn Utsman. Syafi’i lantas berkomentar, “Hadis

Haram ini hukumnya seperti nama perawinya, yaitu haram.”

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai