BAB 7. SASTRAWAN DAN AHLI BAHASA

Syafi’i Adalah Bahasa

Sebelum berbicara tentang Imam Syafi’i sebagai ahli fikih, terlebih dahulu kita melongok sedikit tentang Syafi’i sebagai ahli bahasa. Syafi’i adalah seorang Arab dari suku Quraisy. Kenyataan ini cukup membuat Syafi’i fasih dan baik dalam berbicara bahasa Arab. Dahulu, para pemuka dan pemimpin orang-orang Arab, khususnya orang-orang Quraisy, berusaha menjaga orisinalitas bahasa mereka karena mereka takut bahasa tersebut menjadi rusak.

Ini terjadi pada abad kedua Hijriah, terutama setelah masa dinasti Umayyah.

Syafi’i tidak hanya ingin menjaga bahasanya saja, tetapi juga memilih mengembara di tempat kaum Hudzail, kaum yang paling fasih seperti yang telah kita paparkan. Hal ini tak lain untuk menjaga kefasihan bahasanya serta menambah pengetahuannya tentang bahasa tersebut. Walhasil, Syafi’i seakan menjadi salah seorang anggota kaum Hudzail. Kaum Hudzail mengakui keunggulan bahasa Syafi’i. Bahkan, Syafi’i terbiasa berargumen dengan menggunakan bahasa mereka.

Abu al-Walid ibn Abi al-Jarud berkata, “Banyak orang mengatakan bahwa Muhammad ibn Idris alSyafi’i adalah bahasa. Ucapannya menjadi sandaran dan dianggap bagian dari kemurnian bahasa Arab.”

Sebagai orang keturunan Arab Quraisy, Syafi’i tentu ingin menjadi orang yang fasih dalam berbahasa Arab. Apabila Syafi’l telah mengenyam pendidikan di dusun Arab maka kita takkan pernah ragu dengan kemampuan berbahasanya.

Kemampuan Bayan Syafi’i

Syafi’i memiliki kemampuan berorasi yang ulung dan retorika yang tegas. Ia mampu mengekspresikan buah pikirannya dengan kefasihan lisan, kepiawaian sastrawi, serta kekuatan pikiran. Dengan suara yang dalam dan berwibawa, Syafi’i mengalunkan ucapannya dan menjelaskan buah pikirannya.

Karena suara Syafi’i yang dalam dan berwibawa inilah, Imam Malik ingin mendengarkan bacaan Syafi’i terhadap kitab al-Muwaththa’ miliknya. Bahkan, karena kepiawaiannya di bidang orasi ini, Ibn Rahawiyah menjuluki Syafi’i dengan “Juru bicara para ulama”.

Kefasihan dan kemampuan bayan yang disertai daya pikir dan suara yang khas, membuat Syafi’i digelari juru bicara para ulama.

Saling Berbalas Syair

Mushab al-Zubairi berkata, “Bapakku dan Syafi’i saling berbalas syair. Syafi’i melantukan syair kaum Hudzail yang telah ia hafal. Ia berkata, “Jangan kau

beri tahu seorang ahli hadis pun tentang hal ini karena mereka tidak akan sanggup mendengarnya.”

Kelak Syafi’i menggunakan syair-syair ini untuk menuntaskan masalah-masalah fikih, keimanan, dan akhlak. Makna yang terkandung dalam syair-syair tersebut sangat dalam dan orisinal. Kedalaman bahasa Syafi’i mendukung dan memudahkannya dalam mendalami ilmu tafsir. Syafi’i menjadi salah seorang yang cukup andal di bidang ilmu tafsir. Karena, pada dasarnya, memahami AlQuran dan hadis Rasulullah saw. harus dilandasi dengan kemampuan berbahasa Arab yang baik.

Syafi’i adalah bahasa. Ucapannya menjadi sandaran dan dianggap bagian dari kemurnian bahasa Arab. Kemampuannya dalam berbahasa Arab memudahkannya dalam memahami dan menafsirkan al-Quran dan hadis. Ia menjadi salah seorang yang sangat andal dalam menafsirkan Kitab Allah dan sunnah Rasulullah.

Kesaksian Para Tokoh Sastra Arab

Kesaksian al-Ashmu’i

Al-Ashmu´i adalah seorang ulama sastra Arab, pengarang, dan perawi tepercaya di bidang bahasa, syair, serta hal-hal aneh dalam masalah bahasa. Biasanya, jika masalah-masalah bahasa atau nama-nama ahli bahasa dibahas dan disebutkan, maka nama sekaliber Sibaweih dan al-Ashmu’i akan disebut. Al-Ashmu’i berkata, “Aku telah membacakan Syair Syanfari di hadapan Syafi’i, di Makkah. Ia juga berkata, “Aku

membaca Syair Syanfari di hadapan seorang alim di Makkah, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i. Ia lalu melantunkan syair milik tiga puluh penyair. Penyair yang paling tinggi adalah ‘Amr.”

Al-Ashmu’i juga pernah berkata, “Aku telah mentashhih syair kaum Hudzail dengan bantuan seorang pemuda Quraisy di Makkah, Muhammad ibn Idris al-Syafi’i.

Syafi’i tidak hanya menghafal syair-syair Hudzail, tapi juga banyak menghafal syair-syair lainnya. Muhammad ibn Abdullah ibn al-Hakam berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Aku meriwayatkan syair dari tiga ratus penyair.”

Syafi’i menguasai bahasa Arab dan menghafal banyak syair. Hal ini mendorong ahli bahasa dan sastra sekaliber alAshmu’i untuk men-tashhih syair-syair Hudzail dan lainnya dengan bantuan Syafi’i.

Kesaksian Al-Jahizh

Syafi’i sangat menguasai bahasa Arab. Ia telah menggunakan bahasa yang kuat ini dalam memahami AlQuran dan sunnah. Dalam menafsirkan hadis-hadis, Syafi’i juga menggunakan media bahasa Arab dan syair-syairnya. Ia menduduki puncak tertinggi di bidang bahasa dan fikih. Akal yang agung, jiwa yang besar, hati yang baik, dan syair yang orisinal berkumpul dalam diri Imam Syafi’i. Hal ini membuat para pendukung dan penentang Syafi’i mengakui kehebatannya di bidang bahasa. Berikut ini adalah kesaksian seorang yang tak ada tandingannya di bidang bahasa, al-Jahizh: “Aku menelaah karya orang-orang hebat di bidang

ilmu. Aku tidak menemukan karya yang lebih baik daripada karya al-Muththalibi (Syafi’i), seakan ia adalah mulut yang memuntahkan mutiara demi mutiara.. Syafi’i bak untaian mutiara dalam kalung.

Akal dan hati yang besar, jiwa yang baik, dan syair yang orisinal terhimpun dalam diri Syafi’i. Hal ini membuat para pendukung dan penentang Syafi’i mengakui kehebatannya. Kemahiran Syafi’i juga mendapatkan pengakuan banyak ulama bahasa.

Kesaksian Ibn Hisyam

Mari kita dengarkan kesaksian imam besar, ahli bahasa dan sejarah, Abdul Malik ibn Hisyam, penulis Sirah Ibni Hisyam, yang juga sahabat Syafi’i saat di Mesir. Ia menuturkan tingkat kemampuan balaghah dan bayan Syafi’i dengan berkata, “Pergaulan kami bersama Muhammad ibn Idris alSyafi’i berlangsung cukup lama. Aku tidak pernah mendengar kesalahan seIbnu Hisyam dikit pun dari Syafi’i dalam ungkapan, tidak juga mendengar satu kalimat yang lebih baik dari ungkapan-ungkapan Syafi’i.”

Jika Ibn Hisyam meragukan satu hal dalam masalah bahasa, ia langsung bertanya kepada Syafi’i untuk mengetahui jawabannya.

Abu al-Abbas al-Mubarrad, pemilik sekolah bahasa di Bashrah, menuturkan, “Allah merahmati Syafi’i. Ia termasuk seorang penyair dan sastrawan yang paling andal serta paling tahu berbagai macam qira’at (bacaan).”

Segala ungkapan dan perkataan Syafi’i bak untaian mutiara. Syafi’i pandai memilih kata dan kalimat, sehingga setiap pendengar tidak mendapatkan kalimat yang lebih indah dari kalimatnya. Para ahli bahasa banyak bertanya kepada Syafi’i dalam hal-hal yang berhubungan dengan bahasa.

Kesaksian Para Tokoh

Abu Utsman al-Mazi, seorang tokoh sezaman dengan Syafi’i, berkata, “Syafi’i bagi kami adalah hujjah dan pakar di bidang ilmu nahu.” Al-Za’farani berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih fasih dan alim daripada Syafi’i. Ia adalah manusia yang paling alim dan paling fasih. Setiap syair-syair dibacakan di haAbu Utsman al-Mazi dapannya, ia langsung mengenalinya.” Al-Rabi ibn Sulaiman menuturkan, “Syafi’i memiliki jiwa dan lisan Arab.”

Tidak mudah bagi seseorang untuk mengakui kelebihan orang lain, kecuali jika orang itu memang layak untuk dipuji. Demikianlah halnya Syafi’i: ia seorang pakar nahu dan bahasa. Setiap syair yang dibacakan di hadapannya, langsung ia mengenal seluk beluknya.

Pemimpin di Bidang Bahasa

Keluasan Ilmu Syafi’i bak Samudra

Abu Manshur al-Azhari, salah seorang tokoh dan pemimpin di bidang bahasa, menuturkan, “Aku banyak menelaah karya para ulama di negeri ini. Kudapati karya Syafi’i lebih luas dan lebih banyak kandungan ilmunya. Ia adalah orang yang paling fasih berbahasa dan Abu Manshur paling luas cakrawala ilmunya.”

Al-Rabiibn Sulaiman, pelayan, sahabat sekaligus murid Syafi’i, mengingatkan kita akan keluasan ilmu bahasa Syafi’i. Ia bertutur, “Jika kulihat Syafi’i dan keindahan bayan serta kefasihannya, aku sangat terkagum-kagum. Sekiranya ia menuliskan buku-bukunya menggunakan bahasa Arab yang sering ia gunakan dalam berdebat dan berdialog, maka kemungkinan besar tak seorang pun dapat membaca dan memahami buku-buku itu karena di dalamnya terkandung bahasa yang fasih dan ungkapan-ungkapan yang asing di kalangan bangsa Arab. Akan tetapi, dalam menulis karya-karyanya, Syafi’i berusaha menggunakan bahasa yang mudah dipahami orang awam.” Tulisan Syafi’i lebih ringan dan lebih mudah dipahami ketimbang ucapan-ucapannya. Hal ini ia pilih agar buku-bukunya bisa dibaca oleh orang awam.

Sekiranya Syafi’i menulis karya-karyanya dengan bahasa Arab yang ia kuasai maka hanya sedikit orang yang dapat membaca dan memahaminya. Akan tetapi, Syafi’i berusaha memilih kata-kata yang sederhana agar mudah dipahami orang awam

Syafi’i Memiliki Beberapa Majelis

Para ahli bahasa Arab sering menghadiri majelis Syafi’i untuk mendengar dan mengambil ilmu bahasa darinya. Al-Hasan ibn Muhammad al-Za’farani berkata, “Ada satu kaum ahli bahasa yang hadir di majelis Syafi’i bersama kami. Namun, mereka duduk secara terpisah di satu sudut. Aku katakan kepada pemimpin mereka, ‘Kalian ke sini bukan untuk menuntut ilmu. Mengapa kalian duduk terpisah dari kami?’ la menjawab, “Kami ke sini hanya ingin mendengar ucapan dan bahasa Syafi’i.”

Al-Karabis menuturkan, “Aku tidak pernah melihat satu majelis yang lebih mulia dari majelis Syafi’i yang selalu dihadiri oleh ahli hadis, ahli fikih, dan ahli syair. Majelisnya sering didatangi oleh ahli bahasa dan syair. Setiap orang mengutip bahasa dan ucapan Syafi’.”

Ada satu kaum ahli bahasa Arab yang hadir ke majelis ilmu Syafi’i dengan motif yang berbeda. Mereka hanya ingin mendengar bahasa Syafi’i. Seperti laut manakah gerangan Syafi’i?

Kesaksian Ibn Hanbal

Adalagi kesaksian besar dari seorang ulama yang menjadi rujukan sejarah Islam, yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal. Ia adalah salah seorang murid Imam Syafi’i yang sangat dicintai. Imam Ahmad menggambarkan ilmu gurunya, “Syafi’i adalah seorang filsuf dalam empat hal: bahasa, sosial, ilmu makna, dan fikih.

Yang dimaksud filsuf adalah Ahmad ibn Hanbal guru yang hebat.

Ia juga berkata, “Syafi’i termasuk manusia yang paling fasih bahasanya.”

Ilmu Syafi’i tidak terbatas pada satu bidang, tapi mencakup ilmu bahasa, sosial, ilmu makna, dan fikih.

Syafi’i Bagaikan Gula

Yunus ibn Abdul A’la berkata, “Jika Syafi’i berbicara bahasa Arab, kukatakan bahwa ia paling ahli dalam hal ini. Jika ia berbicara tentang syair, kutegaskan bahwa ia paling ahli di bidang ini. Jika ia berbicara tentang fikih, kukatakan bahwa ia paling pakar dalam ilmu ini.”

Al-Walid ibn Abi al-Jarud menuturkan, “Aku tidak pernah melihat orang yang buku-bukunya lebih besar dari sosok penulisnya, kecuali Syafi’i. Dan lisan Syafi’i lebih hebat lagi dari bukunya.”

Yunus ibn Abdul A’la berkata, “Kalimat-kalimat yang dilontarkan Syafi’i bagaikan gula.”

Setiap orang yang pernah bertemu dan mendengar Syafi’i pasti mengakui keutamaan dan kehebatannya dalam bahasa, kefasihan, penulisan, bayan, dan ilmu lainnya.

Bagaimana keadaanmu Pagi Ini?

Di antara kelembutan Syafi’i, seperti dikisahkan, ia jatuh sakit lalu menemui al-Rabi ibn Sulaiman, pembantunya. Al-Rabi’ bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu pada pagi ini?” Ia menjawab, “Aku sangat lemah.”

“Semoga Allah menguatkan kelemahanmu,” jawab Al rabi.

Syafi’i pun tersenyum dan berkata, “Jika Allah menguatkan kelemahanku, berarti Allah telah membunuhku. Katakanlah, “Semoga Allah menguatkanmu untuk mengalahkan kelemahanmu!”

Syair-Syair Akhlak

Awalnya syair adalah bakat kemudian menjadi ilmu terapan. Jika keduanya ada pada seseorang, niscaya orang itu akan menjadi penyair mulia. Bakat dan ilmu terapan bertemu dalam diri Syafi’i. Meski begitu, karena tipe keilmuannya, Syafi’i ingin syair-syairnya lebih bernapaskan akhlak dan budaya. Ia lebih memfokuskan syair-syairnya hanya tentang akhlak, keimanan, dan hubungan sosial yang luhur. Walhasil, syair Syafi’i tidak seperti syair-syair lainnya. Biasanya para penyair

terlalu berlebihan dalam menulis syairnya agar menggugah jiwa. Menurut mereka, syair yang paling nikmat didengar adalah yang paling banyak dustanya.

Syair Syafi’i tidak berlebihan seperti ini. Bahkan, syairnya lebih beraliran realistis dan bersifat efektif agar nilai-nilai keimanan dan akhlak yang terkandung di dalamnya bisa diambil manfaatnya oleh masyarakat. Syafi’i menolak dikatakan sebagai seorang penyair. Ia mengorientasikan syairnya untuk kemajuan ilmu. Oleh karena itu, banyak orang menilai Syafi’i, “Jika bukan karena metode seperti ini, niscaya Syafi’i menjadi penyair yang paling andal.”

Tentang dirinya, Syafi’i menuturkan,

Sekiranya syair tidak mencela para pembesar

Niscaya hari ini aku menjadi lebih ahli syair daripada seorang penyair

Pengakuan ini dibuktikan dengan kemampuan Syafi’i yang dengan mudah menyusun syair-syair dan memasukkan unsur seni dalam ucapan-ucapannya. Tetapi Syafi’i tidak pernah mau berlebihan dalam hal ini.

Ia berkata :

Aku memiliki permata syair dan mutiaranya Pada diriku tergantung untaian kalam dan mahkotanya

Model keilmuan Syafi’i yang lebih bernuansa fikih dan ke imanan membuatnya lebih memfokuskan syairnya pada masalah-masalah akhlak dan hubungan sosial yang bermoral. Tidak seperti syair-syair penyair lainnya.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai