BAB 8. PENYAIR BERBAKAT

Mari kita telaah syair-syair di bawah ini karena di dalamnya banyak terkandung hikmah dan tidak bisa diabaikan. Syair-syair berikut ini mencerminkan pengalaman hidup Syafi’i dan hikmah-hikmah yang pernah ia petik dari kehidupan.

Syair tentang Ilmu

Yang Muda yang Belajar

Di antara hikmah yang diajarkan Syafi’i kepada murid-muridnya dan para penuntut ilmu adalah tuntutan bersabar dalam menuntut ilmu. Syafi’i melantunkan syair di bawah ini,

Bersabarlah menghadapi sikap keras seorang guru Karena kegagalan ilmu disebabkan oleh ketidaksabaran murid dalam menghadapinya

Siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya belajar satu saat saja

Niscaya ia akan menderita sepanjang hidupnya karena kebodohan

Siapa yang tidak belajar pada masa mudanya

Maka dirikanlah shalat empat takbir atas kematiannya Demi Allah, hidup seorang pemuda dengan ilmu dan ketakwaan

Jika keduanya tidak ada maka pribadinya tak bernilai

Syafi’i menyimpulkan untuk kita bahwa kesuksesan menuntut ilmu tidak bisa dicapai kecuali dengan bersabar dalam menghadapi sikap keras guru, mulai belajar pada masa muda, dan menyertai ilmunya dengan ketakwaan. Jika tidak maka pribadinya tak berguna sama sekali.

Menuntut Ilmu

Syafi’i sangat haus ilmu. Ia mengajarkan kepada kita syarat-syarat menuntut ilmu. Ia mengajarkan syaratsyarat tersebut kepada semua generasi dan menyimpulkannya dalam dua bait syair,

Saudaraku, kau tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara

Aku akan menjelaskannya kepadamu dengan rinci: Kecerdasan, ambisi, kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama

Syafi’i mengajarkan kita bahwa di antara syarat menuntut ilmu adalah harus ada bimbingan guru, mendengarkan ilmu darinya, ambisi, sabar, dan berusaha memahami semua yang diajarkannya.

Hilangnya Ilmu adalah Petaka

Syafi’i mengisyaratkan satu hal penting, yaitu bahwa ilmu harus disertai ketakwaan kepada Allah, akhlak mulia dan perilaku yang baik, Imam Syafi’i berkata :

Jika ilmu seorang pemuda tidak menambah hidayah di hatinya

Atau tidak membuat hidupnya menjadi lurus dan akhlaknya menjadi baik

Beritakan kepadanya bahwa Allah akan menimpakan petaka kepadanya

Ia akan ditimpa petaka seperti orang-orang yang menyembah berhala

Jika hidup seorang penuntut ilmu tidak seperti kasturi yang mencerminkan ilmunya maka ilmu itu akan berubah menjadi petaka baginya.

Pemilik Ilmu

Imam Syafi’i sangat mencintai ilmu dan sangat ambisius dalam mencarinya. Sepanjang hidupnya ia menuntut ilmu sambil mendorong orang lain untuk mencarinya. Ia berkata :

Kulihat seorang yang berilmu itu mulia Walaupun ia dilahirkan oleh seorang bapak yang hina Ilmu akan terus mengangkatnya dan

Semua kaum yang mulia akan membesarkan derajatnya

Mereka akan selalu mengikutinya di setiap saat Seperti penggembala kambing yang diikuti oleh gembalaannya

Tanpa ilmu, orang-orang tidak akan bahagia Yang halal dan yang haram pun tak dapat dikenali

Ilmu dapat meninggikan rumah yang tak bertiang, sementara kebodohan dapat menghancurkan rumah yang kokoh sekalipun.

Buruknya Hafalan

Syafi’i ingin mencari teman dalam perjuangan menuntut ilmu. Ia menemukan seorang bernama Waki’ ibn al-Jarrah. Syafi’i selalu meminta pertimbangan darinya dan Waki’ senantiasa menasihati Syafi’i. Hafal- Waki’ ibn al-Jarrah an Imam Syafi’i sangat kuat. Setiap kali ia mendapatkan sesuatu, ia langsung menghafalnya. Walau demikian, ia terus mengeluhkan kelemahan daya hafalnya kepada Waki. Waki’ memberinya tips dan obat untuk mengurangi penyakit ini.

Syafi’i menuturkan :

Aku mengadukan perihal lemahnya hafalanku kepada Waki’

Ia membimbingku agar aku meninggalkan maksiat la berkata, “Ketahuilah bahwa ilmu itu karunia

Dan karunia Allah tidak diberikan kepada seorang pemaksiat”

Ia juga berkata, “Ketahuilah bahwa ilmu itu cahaya Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada seorang pemaksiat”

Syafi’i sangat membenci sikap hura-hura dan kecenderungan menyia-nyiakan waktu. Suatu hari ia melewati sekelompok orang yang tengah bermain dadu. la berkata, “Aku membenci orang yang sibuk melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat bagi agama dan dunianya.”

Cela bagi kita

Syafi’i mencela orang-orang yang menyerah dan me. ngembalikan kekurangan dan aib diri kepada waktu. Ia berkata,

Kita mencela zaman padahal aib itu ada pada kita sendiri

Zaman kita tidak memiliki aib kecuali pada diri kita sendiri

Kita mencela dan menyalahkan zaman tanpa kesalahan dan dosa darinya

Sekiranya zaman dapat berbicara, niscaya ia akan mencela dan menyalahkan kita

Semuanya adalah kalimat-kalimat yang perlu dicatat dengan tinta emas. Kalimat ini mengingatkan sikap kita yang selalu menganggap zaman dan waktu sebagai penyebab kegagalan kita. Sekiranya zaman dapat berbicara, niscaya kitalah sebe narnya yang menjadi objek hinaan zaman.

Lautan Ilmu Sangat Dalam

Syafi’i menasihati kita agar memfokuskan perhatian pada satu bidang ilmu. Kita tidak dilarang memiliki wawasan luas, tapi kita dituntut menjadi pakar dan spesialis di satu bidang ilmu.

Ia berkata,

Seseorang tidak akan mendapatkan semua ilmu Walaupun ia mencoba mencarinya selama seribu tahun Lautan ilmu itu sangat dalam

Maka, ambillah yang terbaik saja dari semua hal

Menuntut ilmu hukumnya wajib. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mencarinya. Imam Syafi’i telah menyimpulkan dan menjelaskan kepada murid-muridnya dan kepada siapa saja yang ingin menuntut ilmu. Ia menegaskan bahwa lautan ilmu sangat dalam. Tak akan ada yang bisa menyelaminya kecuali penyelam yang sangat mahir.

Ilmu

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Perumpamaan orang yang menuntut ilmu tanpa nalar dan kemampuan berargumen seperti seorang pencari kayu bakar pada malam hari. Ia membawa seikat kayu bakar dan tak menyadari bahwa di dalamnya terdapat seekor ular yang siap menyengatnya.”

Di riwayatkan dari al-Muzanni, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Siapa yang tidak mencintaimu maka tak ada kebaikan padanya. Kau tidak layak berkenalan dan berteman dengannya.”

Diriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Sulaiman, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i menyatakan, ‘Hiasan para ulama adalah ketakwaan, pakaiannya adalah akhlak baik, dan ketampanannya adalah jiwa yang mulia.”

Ia juga berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Ilmu tidak akan baik dan indah kecuali dengan tiga perkara: takwa kepada Allah, menjalankan sunnah, dan takut kepada-Nya.”

Keindahan ilmu, takwa, dan rasa takut kepada Allah adalah perhiasan ulama. Barang siapa tidak mencintai ilmu maka tak ada kebaikan padanya. Kita tidak perlu berteman dan bergaul dengannya.

Ilmu yang Berguna

Abu Bakar al-Khallal berkata, “Aku mendengar Syafi’i menuturkan, ‘Ilmu itu bukan yang dihafal, melainkan yang berguna.”

Al-Rabi’ berkata, ‘Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Perdebatan dalam ilmu dapat mengeraskan hati dan menyisakan kedengkian.”

Ia juga berkata, “Kudengar Syafi’i berkata, “Jika para ahli fikih dan orang yang mengamalkan ilmunya bukan wali Allah maka Allah tidak memiliki wali.”

Diriwayatkan dari al-Muzanni, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Ilmu adalah kehormatan bagi orang yang tidak memiliki kehormatan.”

Para ahli fikih yang mengamalkan ilmunya adalah wali-wali Allah. Ilmu yang bermanfaat adalah sumber kehormatan bagi orang yang tidak memiliki kehormatan, selama ia tidak diperdebatkan.

Seni Membangun Hubungan

Mengubah Musuh Menjadi Teman

Karena berdebat dan berdiskusi adalah dua hal yang sering dilakukan Syafi’i, ia tertuntut untuk mempelajari etika berdebat. Dalam debatnya, Syafi’i selalu tenang, santun, menjaga etika, dan lapang dada sehingga ia bisa mengubah musuh menjadi teman. Syafi’i memberi kita bait-bait syair tentang etika berdiskusi dan berdebat. Ia berkata,

Jika kau memiliki kemuliaan dan ilmu

Yang berbeda dengan orang-orang dahulu atau yang sekarang

Maka berdebatlah dengan tenang bersama orang lain Sabar dan tidak memaksakan pendapat serta tidak sombong

Akan bermanfaat bagimu tanpa perlu mengharap pamrih

Jika ia mendapat manfaat dari humor-humor lembut dan hal-hal yang asing baginya

Sekali-kali jangan berkumpul dengan orang-orang

Yang menganggap dirinya menang atau orang yang menyombongkan diri

Keburukan itu akan datang setelah semua sikap ini Dan akan berakibat pada putusnya silaturahmi dan sikap saling menjauhi

Banyaknya debat dan seteru tidak membuat Syafi’i dikenal sebagai orang yang suka mengangkat suara saat berdebat. la adalah sosok yang tenang dan lapang dada. Ia mengajarkan kepada kita etika berdialog dan berdebat melalui bait bait syair cantik di atas.

Hubungan yang Benar

Syafi’i telah mencicipi asam-garam kehidupan dan menemui berbagai model manusia. Ia ingin mencari teman yang bisa menghiburnya. Sayangnya, pencarian itu membuatnya lelah. Ia menuturkan,

Teman yang tidak berguna saat petaka melanda la hampir sama dengan musuh Seorang teman tak bisa diharapkan dalam setiap masa Demikian pula saudara, kecuali untuk hiburan Aku mengenal banyak manusia karena aku terus mencari

Saudara yang terpercaya, hingga pencarianku

membuatku lelah Semua negeri menghindariku, hingga seakan para penduduknya bukan manusia

Mencari teman sejati tidak mudah. Jika kau menghabiskan hidupmu untuk mencarinya, jarang sekali kaudapatkan teman sejati.

Saat seorang temannya jatuh sakit, Syafi’i menjenguknya. Syafi’i ikut merasakan derita dan sakit temannya. Sepulang dari sana, Syafi’i menulis dua bait syair yang indah

Di antara syair Syafi’i yang sarat nilai dan mengajarkan kita cara hidup bahagia dalam pergaulan yang baik adalah sebagai berikut:

Seorang Kekasih jatuh sakit dan aku menjenguknya

Aku ikut merasakan deritanya karena perhatianku

Seorang kekasih datang menjengukku Hingga aku sembuh setelah memandang wajahnya

Saudara yang Tulus

Kemudian Syafi’i mengingatkan kita akan sahabat yang harus menjadi teman setia. Ia berkata,

Aku mencintai setiap saudara yang menutup matanya Dan mengabaikan kesalahan-kesalahanku

Yang selalu sepakat denganku dalam segala hal yang kumau

Dan menjagaku saat aku hidup atau setelah aku mati Siapakah yang mau menjadi teman seperti ini? Andai aku menemukannya

Maka akan kubagi hartaku kepadanya dan segala kebaikan

Aku akan menyalami semua saudaraku Dan dari sekian banyak saudara Sangat sedikit yang dapat dipercaya

Rahasia Pergaulan

Di antara syair Syafi’i yang sarat nilai dan mengajarkan kita cara hidup bahagia dalam pergaulan yang baik adalah sebagai berikut:

Jagalah jiwa dan bawalah ia kepada hal yang akan menghiasinya

Niscaya kau hidup selamat dan reputasimu menjadi baik

Jika hanya berbasa-basi dalam mempergauli manusia Maka masa akan menjauh atau teman akan bersikap keras kepadamu

Jika rezeki hari ini sedikit make bersabarlah hingga hari esok

Semoga petaka zaman akan hilang darimu

Tak ada kebaikan dalam mencintai seseorang yang banyak tingkah

Ke mana angin bertiup, ia akan ikut ke sana Berapa banyak saudara saat kauhitung

Akan tetapi saat kau tertimpa petaka, mereka tampak sedikit

Bergaul dengan manusia memerlukan latihan dan kesabaran yang besar. Saat kau sejahtera, kau akan melihat banyak teman dan saudara. Tetapi saat musibah menimpa, mereka menjadi sedikit.

Jika kau tidak menemukan seorang sahabat maka menyendiri lebih baik bagimu. Syafi’i melantunkan bait syair,

Lebih Baik Sendiri

Jika aku tidak menemukan seorang teman yang bertakwa

Maka kesendirianku lebih nikmat

daripada teman buruk yang kutemani Duduk sendiri bisa lebih selamat dari hal-hal bodoh Mataku akan senang karena aku bisa menghindari seorang teman yang harus kujauhi

Saudara yang paling baik adalah yang bertakwa, memberi nasihat, menemani saat derita, dan menjaga citra kita saat hidup atau mati. Jika orang seperti ini tidak ditemukan maka hidup sendiri lebih baik.

Bait Syair Syafi’i yang Paling Populer

Bagi orang yang meneliti tingkat balaghah Syafi’i dan syairnya, ia harus mengkaji bait syair yang sarat hikmah di bawah ini. Dengan bahasa yang indah, syair

tersebut layak menjadi rujukan utama dan hiasan hati manusia. Selain itu, syairnya mengingatkan kita akan qadha dan qadar Allah. Syafi’i melantunkan,

Biarkan hari-hari melakukan apa yang ia mau Dan lembutkan jiwamu jika ketetapan Allah berlaku Jangan panik menghadapi peristiwa-peristiwa malam Karena segala peristiwa dunia ini tidak abadi Jadilah laki-laki yang perkasa menghadapi petaka

Dan milikilah sifat pemaaf dan jujur Jika cela dan aibmu nampak banyak di mata makhluk Maka berbahagialah karena masih ada penutupnya Tutuplah dirimu dengan kemurahan hati Karena setiap aib dapat ditutupi dengan kemurahan

hati, seperti kata orang Jangan kau tampakkan kehinaan mu di depan musuh Karena kebahagiaan musuh saat melihatmu menderita

akan menjadi petaka bagimu Jangan kau berharap maaf dari seorang yang bakhil Karena di neraka tak ada air bagi orang yang kehausan

Rezeki mu takkan berkurang dengan sikap tenang mu Dan perjuanganmu belum tentu dapat menambah rezeki mu

Tak ada kesedihan yang abadi, tidak pula kebahagiaan Tidak petaka, tidak pula kesejahteraan Jika kau memiliki hati yang qanaah Maka kau serupa dengan raja-raja penguasa dunia Siapa yang serambinya didatangi kematian Maka takkan ada bumi dan langit yang dapat melindunginya

Tanah Allah sangat luas akan tetapi jika ketetapan-Nya turun maka semuanya

akan menjadi sempit

Biarkan hari terus berkhianat setiap saat

Karena obat takkan dapat menyembuhkan kematian

Dalam bait syair di atas Syafi’i mengingatkan kita akan qadha dan qadar Allah. Di dalamnya terkandung hikmah yang agung. Jika kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, niscaya hidup kita akan bahagia dan penuh kerelaan. Kita akan

menjadi seperti orang yang telah menggenggam dunia.

Kasidah-Kasidah Keimanan

Panah malam

Apakah kau meremehkan doa dan menghinakannya Kau tak tahu apa yang bisa dilakukan sebuah doa Panah malam tidak akan meleset akan tetapi ia hanya memiliki masa dan masa pasti akan habis

Doa adalah panah yang tak pernah meleset dari sasaran. Jika kita mencoba panah ini maka kita akan takjub karenanya.

Kelapangan Setelah kesempitan

Berapa banyak musibah yang membuat seorang

pemuda tertekan Padahal di sisi Allah ada jalan keluarnya Musibah membuat sempit dan saat rentetannya terjadi Maka ia akan semakin lapang, tadinya kukira ia tidak akan dilapangkan

Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah

Jika kau tak henti melakukan dosa

Dan tetap takut akan ancaman hari yang dijanjikan

Maka telah datang kepadamu maaf Tuhan Yang Maha Menguasai

Yang telah melimpahkan semua karunia-Nya kepadamu

Jangan putus asa dari kebaikan Tuhanmu

Sejak kau masih di perut ibumu berupa segumpal daging dan janin

Jika Allah berkehendak agar kau menetap abadi di neraka jahannam

Niscaya Allah tidak akan mengilhami hatimu dengan tauhid

Menyerah pada kehendak Allah

Jika aku memiliki makanan untuk hariku ini

Maka jauhkan kesedihan dariku, wahai Tuhan

Pemberi Kebahagiaan Jangan kautimpakan kesedihan esok di pintuku Karena jika esok tiba, Dia tetap memiliki rezeki baru

Aku hanya pasrah jika Allah menghendaki satu perkara

Aku serahkan apa yang kumau berdasarkan apa yang Dia Mau

Takwa kepada Allah dan Harapan

Orang ingin harapannya terwujudkan

Akan tetapi Allah menolaknya kecuali apa yang dikehendaki-Nya Seseorang berkata, “Ini adalah peran dan hartaku Padahal ketakwaan kepada Allah adalah sebaik-baik peran dan hartanya

Zikir kepada Allah

Hatiku bergantung kepada rahmat-Mu, wahai Tuhan Yang Memiliki kelembutan

Dalam keadaan tersembunyi, nyata, pagi, dan petang

Aku tak pernah bolak-balik saat tidur dan kantukku Kecuali zikir kepada-Mu menyela napas-napasku Kau anugerahi hatiku dengan makrifat

Bahwa Engkau adalah Allah Tuhan Yang Memiliki karunia dan kesucian

Aku telah melakukan dosa dan Kau pun mengetahuinya

Kau tidak pernah membongkarnya dengan sesuatu yang buruk

Anugerahi aku nama baik orang-orang saleh

Jangan berikan kebimbangan kepadaku dalam agamaku

Sertailah aku selama di dunia dan akhiratku

Hari kiamat saat aku dihimpun dan saat semua

berwajah masam atas petaka yang kau turunkan

Jalan Keselamatan

Wahai penasihat manusia, apa yang telah Wahai orang yang menghitung umurnya berdasarkan

bilangan napasnya Jagalah uban mu dari aib yang akan mengotorinya Karena warna putih itu jarang membawa kepada kotoran

Seperti seseorang yang membawa pakaian orang-orang

Sementara pakaiannya sendiri berlumur kotoran dan najis untuk dicucinya

Kau berharap keselamatan sementara kau tidak menempuh jalannya

Sesungguhnya perahu itu tidak berlayar di atas daratan

Keranda mayat yang kaunaiki membuatmu lupa akan Pengalamanmu menunggang keledai atau unta Pada hari kiamat tak ada harta dan anak Pelukan alam kubur dapat melupakan malam pengantinmu

Tunduk pada Allah

Di tempat hina di bawah keagungan-Mu

Di tempat rahasia yang tak kuketahui

Dengan menundukkan kepalaku, aku mengakui kehinaanku

Dengan mengangkat tanganku, aku memohon kebaikan dan rahmat-Mu

Dengan nama-Mu yang menyebut sebagiannya saja Membutuhkan paparan prosa dan syair yang panjang Dengan janji lama-Mu, bahwa kata-Mu, ‘Bukankah Aku Tuhanmu?’

Dengan orang yang tidak dikenal, lalu ia dikenal dengan Nama-Nya

Tuhan Yang jika Kau memberi minuman

kepada seorang yang mencintai-Mu, niscaya orang itu takkan pernah merasa kenyang dan haus

Tinggalkan kesedihan

Mata terjaga dan mata tertidur Karena banyak perkara yang terjadi atau tidak terjadi Hilangkan kesedihan dari jiwamu, semampumu Memendam kesedihan adalah kegilaan Sesungguhnya Tuhan telah mencukupimu kemarin Dan Dia juga akan mencukupimu esok hari

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai