BAB 9. ORANG BIJAK

Ilmu dan Adab Seorang Guru

Syafi’i tidak pernah yakin dirinya telah mengetahui dan menguasai seluruh sunnah dan hadis Rasulullah. Ia menganjurkan para sahabatnya untuk mencari hadis. Jika mereka menemukan hadis sahih yang bertentangan dengan fatwanya, Syafi’i menyuruh mereka menolak pendapatnya dan memilih hadis.

Dalam Mu’jam Yaqût diriwayatkan dengan sanad yang sampai pada al-Rabi’ ibn Sulaiman, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i ditanya oleh seseorang tentang satu masalah. Syafi’i lantas menjawab, ‘Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda begini dan begitu ….

Orang itu lalu bertanya kepada Syafi’i, ‘Wahai Abdullah, apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan? Atau, apakah kau berfatwa persis seperti yang tertera dalam hadis?

Syafi’i gemetar dan raut wajahnya berubah menjadi merah. Ia lalu berkata, ‘Bumi mana tempatku berpijak dan langit mana yang memayungiku jika ada riwayat Rasul dan aku tidak menyampaikannya? Tentu saja aku berfatwa seperti yang ada dalam hadis.”

Al-Rabi ibn Sulaiman berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Kendati orang telah melupakan sunnah Rasulullah, apa pun yang ku ucapkan atau apa pun yang menjadi dasar bagiku, bertentangan dengan sabda Rasulullah, maka yang dianggap benar adalah sabda Rasulullah. Itulah yang akan menjadi pendapatku. Syafi’i terus mengulang-ulang ucapannya ini.”

ini adalah seruan untuk bersikap moderat dan tidak fanatik terhadap pendapat tertentu. Setiap manusia bisa salah dan benar. Oleh karena itu, yang harus menjadi rujukan adalah Kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw.

Humor Halus Syafi’i

Di antara humornya yang menarik adalah Syafi’i mendengar satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu al-Aliyah al-Riyâhi (sang angin). Dalam hadis itu tertulis, “Orang yang tertawa, ia harus berwudhu.” Kemudian Syafi’i ditanya tentang hadis ini. Ia menjawab, “Hadis al-Riyâhi (sang angin) ini seperti angin (tidak ada nilainya)”

Syafi’i juga mendengar satu hadis palsu dari Haram ibn Utsman. Syafi’i lantas berkomentar, “Hadis Haram ini hukumnya seperti nama perawinya, yaitu haram.”

Etika Bergaul

Yunus ibn Abdul A’la berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Temanilah orang-orang mulia, niscaya kau hidup mulia. Jangan pergauli orang hina sehingga kau ikut menjadi hina.”

Al-Muzanni menuturkan, “Kudengar Syafi’i berkata, ‘Pelaku zalim terhadap diri sendiri adalah orang yang tunduk kepada seseorang yang tidak ia hormati, ingin dicintai oleh orang yang tidak berguna baginya, pujian dari orang yang tidak mengenalnya.”

Diriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Sulaiman, ia berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Menemani orang yang tidak takut cela akan mendatangkan cela pada hari kiamat.” Darinya juga diriwayaktan bahwa Syafi’i berkata, “Saudaramu bukanlah orang yang perlu kaupuji atau kauraih simpatinya.”

Perhatikan hikmah dan prinsip pergaulan yang diberikan Syafi’i kepada kita:

  • Jangan bergaul dengan orang yang tidak takut aib!
  • Pergaulilah orang-orang mulia!
  • Jangan menzalimi diri sendiri dengan tunduk kepada orang yang tidak memuliakanmu. Jika untuk mendapatkan saudara kau harus memuji seseorang terlebih dahulu, berarti ia bukan saudaramu.

Persaudaraan yang Tulus

Al-Rabiibn Sulaiman menuturkan, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Orang yang tulus dalam bersaudara akan menerima kekurangan saudaranya, mengabaikan kelemahannya, dan memaafkan kesalahan-kesalahannya.”

Syafi’i berkata, “Tak ada kebahagiaan yang setara dengan persaudaraan dan tak ada kesedihan yang setara dengan perpisahan dengan saudara.”

Diriwayatkan dari al-Muzanni bahwa Syafi’i berkata, “Orang yang menasihati saudaranya secara tertutup, berarti ia telah berbuat baik kepadanya dan menghargainya. Dan orang yang menasihatinya secara terbuka , berarti ia telah membongkar keburukannya dan menghinanya.”

Yunus ibn Abdul A’la bertutur, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Sikap rendah hati merupakan orang-orang mulia, dan sikap sombong adalah sifat orang yang tercela.”

Ia juga berkata, “Aku mendengar Syafi’i berpesan, Orang yang paling tinggi kedudukannya adalah orang yang tidak melihat ketinggian derajatnya. Orang yang paling mulia adalah orang yang tidak menganggap dirinya mulia.”

Saudara yang tulus adalah orang yang mau memaafkan ke salahanmu, menerima maafmu, dan menasihatimu secara tertutup. Jika kau bersahabat dengan orang seperti ini maka ia akan membuatmu bahagia. Jika kau berpisah dengannya, ia akan membuatmu bersedih.

Bersandar pada Teman

Di antara nasihat Syafi’i yang agung adalah ucapannya kepada Yunus ibn Abdul A’la, “Wahai Yunus, jika kau memiliki teman maka eratkan tanganmu dengannya (jagalah ia) karena mencari teman itu sulit dan berpisah dengannya sangat mudah.”

Syafi’i juga berkata, “Siapa yang rela mengada domba orang lain untukmu maka ia akan berani mengadudombamu. Dan siapa yang suka menyampaikan segala hal kepadamu, ia pasti akan menyampaikan apa saja tentangmu. Siapa yang kaurelakan maka ia akan mengucapkan apa yang tidak ada padamu. Barang siapa kaumarahi maka ia akan berbicara tentangmu dengan hal-hal yang tidak ada padamu.”

Seni Menyempurnakan Kepribadian

Kesempurnaan Seorang Lakl-Laki

Syafi’i berkata, “Orang yang mempelajari Al-Quran maka nilainya akan bertambah besar, dan orang yang

mendalami fikih derajatnya akan bertambah mulia. Orang yang mencatat hadis argumentasinya semakin kuat, dan orang yang mendalami ilmu bahasa tabiatnya akan melembut. Orang yang belajar ilmu hisab pendapatnya akan banyak, dan orang yang tidak menjaga diri sendiri ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.”

Al-Buwaithi berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, “Seorang laki-laki tidak akan sempurna di dunia

kecuali dengan empat perkara: agama, sifat amanah, menjaga diri, dan sikap tenang.”

Syafi’i berkata, “Amal yang paling berat ada tiga: murah hati saat miskin, bersikap warak saat sendiri, dan mengucapkan kebenaran di hadapan orang yang ditakuti.”

Imam Syafi’i adalah sosok ahli di bidang kehidupan. Ia telah merasakan pahit getir kehidupan dan mengenal beragam tabiat manusia. Ia adalah orang yang berpandangan luas dan berperasaan halus. Dari sini, ia banyak mendapatkan hikmah dan pengalaman sangat berharga yang ia ajarkan kepada kita.

Seni Membina Hubungan

Imam Syafi’i orang yang cerdas dan kreatif. Ia memiliki perasaan yang lembut dan pandangan yang luas. la pakar dalam kehidupan. Ia hidup sebagai seorang yatim sekaligus miskin, kemudian bersinar terang menjadi matahari yang menyinari bumi. Ia banyak mengembara ke negeri-negeri Islam dan mengenal bermacam ras dan jenis manusia. Walhasil, ia mendapatkan wawasan yang luas hingga ia memancarkan hikmah yang berlimpah. Salah satunya adalah riwayat al-Rabi’ bahwa Syafi’i berkata,

“Wahai Rabi jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna. Jika kau mengatakan satu kalimat maka kalimat itu akan menguasaimu dan kau takkan bisa menguasainya.”

Al-Muzanni menuturkan, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Setiap orang pasti dicintai atau dibenci. Jika

demikian, jadikanlah orang-orang yang taat kepada Allah sebagai rujukan.”

Yunus ibn Abdul A’la berkata, “Syafi’i berpesan, “Wahai Abu Musa, jika kau berusaha sekuat tenaga untuk mendaparkan keridaan manusia maka kau tidak akan pernah mendapatkannya. Maka, ikhlaslah dalam beramal dan tuluskan niatmu karena Allah.”

Hikmah-hikmah ini mengajarkan kita agar tidak berbicara satu kalimat kecuali pada tempatnya dan tidak banyak memedulikan pendapat orang lain tentang kita. Syafi’i berpesan agar kita menjadikan orangorang yang saleh sebagai contoh dan teladan.

Syafi’i berkata kepada Yunus ibn Abdul A’la, “Wahai Yunus, sikap menutup diri dari orang lain dapat menimbulkan permusuhan, dan sikap terlalu toleran dapat mendatangkan teman-teman yang buruk. Karena itu, bersikaplah sedang-sedang saja.”

Syafi’i meminta murid-muridnya untuk tidak sibuk mencari keridaan manusia. Yunus menuturkan, “Syafi’i berkata kepadaku, ‘Keridaan manusia adalah tujuan yang tak bisa dicapai. Tidak ada jalan untuk selamat dari mereka. Karena itu, kau harus melakukan apa yang bermanfaat bagimu.”

Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah memuliakan seseorang secara berlebihan. Aku juga tidak mengurangi rasa hormatku kepadanya secara berlebihan.”

Ia juga berkata, “Tidak ada loyalitas kepada seorang hamba, tidak ada ucapan terima kasih kepada orang yang hina, dan tidak ada kebaikan bagi orang yang keji.”

Menikah dengan Orang Jauh

Syafi’i berbicara tentang satu hikmah sosial yang banyak diabaikan oleh manusia, “Kaum mana saja yang perempuannya tidak menikah dengan laki-laki di luar kaumnya, atau laki-lakinya tidak menikah dengan perempuan kaum lainnya, maka anak-anak yang dilahirkan akan menjadi bodoh.”

Keridaan

Al-Rabi berkata, “Aku mendengar Syafi’i berkata, Orang yang dimintai keridaannya lalu ia tidak rida maka ia adalah setan.”

Hikmah ini banyak diabaikan orang. Satu kaum yang laki-lakinya tidak menikah dengan perempuan kaum lain, atau perempuannya tidak menikah dengan laki-laki kaum lain, maka anak-anaknya akan terlahir

dalam keadaan bodoh. Sungguh ini adalah hikmah yang sangat tinggi. Betapa Syafi’i seorang imam yang hebat!

Memahami Agama

Mencela Sikap Bergantung pada Orang

Lain Syafi’i mencela orang yang masuk dunia sufi sehingga cenderung pasif, tidak mau bekerja, dan membebankan biaya hidupnya pada kaum muslim. Orang seperti ini tidak menunaikan kewajiban sosial mereka, tidak sibuk menuntut ilmu, dan tidak mau beribadah. Syafi’i berkata, “Jika seorang laki-laki menjadi sufi di awal siang maka waktu zuhur tidak datang kepadanya kecuali kautemukan ia dalam keadaan bodoh.”

“Aku tidak pernah melihat seorang sufi pun yang berakal kecuali seorang muslim khawash,” demikian kata Syafi’i.

Dengan nada mencibir, Syafi’i juga berkata, “Seorang sufi tidak menjadi sufi sebelum empat sifat ada pada dirinya: malas, banyak makan, banyak tidur, dan usil.”

Muhammad ibn Muhammad ibn Idris as-Syafi’i berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Aku menemani kaum sufi selama sepuluh tahun, dan aku tidak mengambil manfaat apa-apa dari mereka kecuali dua kalimat; waktu adalah pedang dan termasuk kesucian jika kau tidak dihargai.”

Akhlak yang Luhur

Kehormatan yang Hampir Hilang

Al-Rabi’ ibn Sulaiman menuturkan, “Aku mendengar Syafi’i berkata, ‘Kehormatan memiliki empat rukun: akhlak yang baik, kedermawanan, sikap rendah hati, dan ibadah.”

Syafi’i mencela anaknya, Utsman. Di antara ucapannya kepada anaknya adalah:

“Wahai Anakku, jika kutahu bahwa air dingin dapat mengikis kehormatanku, aku hanya akan minum air panas.”

Dalam satu riwayat terdapat tambahan, “Sekiranya hari ini aku termasuk orang yang suka mengucapkan syair, niscaya aku telah merusak kehormatan.”

Syafi’i berkata, “Kehormatan diraih dengan melindungi diri dari hal-hal tak berguna.”

Diriwayatkan dari al-Rabi’ ibn Sulaiman bahwa Syafi’i berkata, “Para pemilik kehormatan itu selalu letih.”

Syafi’i berkata, “Memberi syafa’at (membantu) adalah zakat kehormatan.”

Kehormatan mungkin tidak lagi dipedulikan pada zaman sekarang. Akan tetapi, Syafi’i sangat menjaga kehormatannya hingga jika ia tahu bahwa air dingin dapat mengikis kehormatannya, niscaya ia lebih rela minum dengan air panas.

Jangan Marah

Selain sifat-sifat agung itu, Syafi’i juga tidak pernah marah saat berdebat. Ia tidak pernah berkata keras saat berdialog karena ia hanya mencari kebenaran dengan dialognya dan tidak ingin merasa lebih unggul. Kezuhudannya di bidang ilmu dan keikhlasannya dalam mencari kebenaran sampai pada tingkatan di mana ia berharap semua orang mengambil manfaat dari ilmunya tanpa harus mengenang jasa jasanya.

Dalam kitab Tarikh Ibni Katsir disebutkan bahwa Syafi’i berkata, “Aku ingin manusia mempelajari ilmu ini dan tidak menisbahkannya sedikit pun

kepadaku agar keburukanku tidak disebutkan. Dan kalian jangan memujiku.”

Mengapa harus marah, orang yang percaya dengan apa yang dimilikinya dan bertujuan hanya mencari kebenaran? Syafi’i tidak pernah marah saat berdebat dan tidak ingin mencari kemenangan. Ia hanya berharap manusia mengambil manfaat dari ilmunya tanpa harus mengenang jasa-jasanya.

Kehormatan Syafi’i Melarangnya

Dengan akhlak yang mulia ini Syafi’i mencapai puncak tertinggi yang bisa dicapai oleh orang yang ikhlas, yaitu kekuatan jiwa, kecerdasan, kemuliaan, dan kesucian tujuan dari hal-hal yang tidak layak dimiliki oleh seorang laki-laki yang sempurna. Hingga Yahya ibn Mu’in pernah berkata tentangnya, “Seandainya berbohong itu dibolehkan maka kehormatan Syafi’i pasti akan tetap melarangnya untuk berbohong.”

Allah merahmati Imam Syafi’i karena ia selalu melaksanakan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi panggilan hati dan fitrahnya, tidak sekadar ingin melaksanakan perintah atau menjauhi larangan semata.

Allah telah menganugerahi Syafi’i sifat dan bakat yang dapat meninggikan derajatnya dalam agama dan menempatkannya di puncak tertinggi. Syafi’i menjadi orang yang memiliki kekuatan menghafal, sikap tanggap, nalar yang kuat, kekuatan bayan, kefasihan, kesucian jiwa, dan ketulusan dalam mencari kebenaran.

Toleran dan Santun

Syafi’i adalah seorang imam agung di antara imamimam kaum muslim lainnya. Ia juga ulama. Kita tahu

kadar keilmuannya, pemahaman, dan Ilmu Syafi’i ini tidak bertentangan dengan sikap toleransi, kesantunan, dan selera humornya. Sebaliknya, seorang alim dituntut harus selalu toleran dan santun. Ia tidak boleh lancang dan kasar agar orang-orang tidak menghindarinya. Nabi saw. adalah seorang rasul yang alim dan sesekali bergurau. Tetapi, dalam gurauannya, beliau tidak berdusta. Demikian pula Syafi’i. Ia memiliki selera humor dan canda yang segar, mulia, dan santun.

Toleransi dan kelembutan seorang alim membuatnya dicintai, diterima, dan didengar. Demikian pula Syafi’i, la sangat dekat dengan masyarakat, dicintai, dan disayangi oleh para muridnya.

Kecerdasan Seekor Serigala

Di antara kisah-kisah menarik yang diriwayatkan Syafi’i adalah kisah tentang kecerdasan seekor serigala. Ia menuturkan, “Kami tengah berjalan-jalan di daerah Yaman. Di satu tempat, kami beristirahat dan menurunkan seluruh perbekalan untuk menyiapkan makan malam. Setelah makanan telah disiapkan, kami memilih melaksanakan shalat maghrib terlebih dahulu. Ketika itu, makanan kami adalah dua ekor ayam. Saat kami shalat, tiba-tiba seekor serigala datang. Ia mengambil seekor ayam santapan kami dan kabur. Seusai shalat, kami merasa kehilangan seekor ayam santapan. Kami bergumam satu sama lain. “Sekarang makanan kita telah diambil,” ujar salah seorang dari kami. Saat kami menyesali apa yang terjadi, serigala itu datang lagi. Di ayam yang diambilnya. Ia lalu meletakkannya jauh dari tempat kami dan memerhatikan kami dari kejauhan.

Kami pun menyerang serigala itu, namun ia lari menjauh. Saat kami berhasil mendekati tempat persembunyiannya, serigala itu tengah menyamarkan dirinya dari kami. Ia melipat tubuhnya membentuk seekor ayam. Saat kami tertawa melihatnya, serigala itu lari sambil membawa ayam kedua. Ia berhasil menipu kami, padahal kami adalah para ulama besar.

Berfatwa dengan Syair

Kadang Syafi’i berfatwa dengan syair. Pelayan dan muridnya, al-Rabi’, menuturkan, “Suatu hari kami tengah berada di tempat Syafi’i. Tiba-tiba seorang pemuda datang membawa selembar kertas dan menyerahkannya kepada Syafi’i. Saat melihatnya, Syafi’i tersenyum.

Ia lalu menuliskan sesuatu di atas kertas itu dan memberikannya kembali kepada pemuda tadi. Orang orang mengira bahwa pemuda itu ingin bertanya masalah fikih kepada Syafi’i . Mereka pun ingin tahu dan

mengejar pemuda tadi. Mereka terus mengejarnya untuk memintanya memberikan lembar kertas yang tadi ditulis Syafi’i. Ternyata, di dalam kertas itu terdapat pertanyaan tentang masalah cinta. Di atas kertas itu sang pemuda menulis sebait syair,

Tanyakan kepada mufti Makkah, dosakah dua orang yang saling merindu

Untuk saling mengunjungi dan berpelukan?

Dalam kertas itu pula Syafi’i menjawab,

Na’udzu billah, jika keterikatan hati kepada perempuan

Dapat menghilangkan ketakwaan pada diri seseorang

Membaca jawaban ini, mereka terkagum-kagum. Di lain kesempatan pemuda itu datang lagi untuk bertanya,

Tanyakan kepada mufti Makkah yang berasal dari keluarga Hasyim

Jika rasa cinta terhadap seseorang semakin besar, apa yang harus dilakukannya?

Syafi’i menjawab pertanyaan :

hawa nafsunya dan menutupi cintanya Serta bersabar dalam segala hal dan pasrah

Di lain waktu pemuda itu kembali datang dan bertanya,

Bagaimana caranya mengobati hawa nafsu, padahal ia adalah penyakit yang dapat membunuh pemuda? Setiap hari ia menjadi sesuatu yang menyumbat tenggorokannya hingga ia menderita karenanya

Syafi’i pun menjawab,

Jika ia tidak bersabar atas apa yang ia alami Maka tak ada yang lebih bermanfaat baginya dari kematian

Seluruh murid Syafi’i kagum melihat jawaban gurunya ini. Salah seorang dari mereka bertanya kepada Syafi’i, “Bagaimana bisa engkau berfatwa seperti ini?”

Syafi’i menjawab, “la seorang pemuda yang baru menikah. Akan tetapi keluarga istrinya menundanunda pesta pernikahannya. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan ini tak lain berkenaan dengan hubungannya bersama istrinya. Karena itulah Syafi’i menjawab, “Tidak masalah (ia boleh melakukan keinginannya)”

Ini adalah fatwa khusus yang berhubungan dengan pribadi seseorang, bukan fatwa umum untuk masyarakat. Syafi’i tahu benar kisah dan latar belakang pemuda tersebut karena itu ia menjawabnya dengan jawaban yang sesuai dengan keadaannya.

Kehormatan dan wibawa tidak akan tercipta dengan tabiat dan sikap yang keras. Sebaliknya, dengan wibawa, kehore matan, dan ilmu yang dimilikinya Syafi’i menjadi orang yang sangat santun, toleran, humoris, dan suka canda. Ini adalah akhlak Rasulullah saw. Beliau sesekali bersenda gurau dan tidak mengucapkan kecuali yang benar,

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai