BAB 11. KEMUNCULAN SYAFI’I DI MAKKAH

Metodologi Ilmiah Baru

Syafi’i kembali ke Makkah dan mulai mengajarkan ilmu-ilmunya di Tanah Suci. Pada musim haji, para pembesar ulama banyak yang menemuinya dan ingin mendengar ilmu darinya. Pada waktu itulah Ahmad ibn Hanbal bertemu dengannya dan belajar darinya. Kepribadian Syafi’i mulai terkenal dengan fikih barunya: bukan fikih Madinah, bukan pula fikih Irak, melainkan fikih gabungan dari keduanya. Fikih kombinasi ini merupakan intisari yang dihasilkan oleh satu akal yang paling cemerlang dan paling matang di bidang ilmu sunnah, bahasa, sejarah, kisah-kisah masa lalu, qiyas, dan rakyu (nalar). Oleh karena itu, para ulama yang bertemu dengannya menganggapnya sebagai seorang alim yang berbeda dari ulama lainnya.

Syafi’i mengombinasikan antara fikih Hanafi yang didominasi rakyu (nalar) dan fikih Madinah Maliki yang bernuansa hadis. la menghasilkan fikih baru yang unik sehingga terkenal se bagai ulama dengan metode baru yang disusunnya sendiri.

Aturan Pokok Ijtihad

Kali ini Syafi’i tinggal di Makkah cukup lama, sekitar sembilan tahun. Ia memandang perlu menetapkan aturan-aturan standar yang menjadi pijakan para mujtahid dalam berpendapat dan melakukan qiyas,

serta dalam menempuh mana yang paling mendekati kebenaran. Ia memfokuskan diri mempelajari Al-Quran, mencari kandungan dalilnya, hukum-hukumnya, násikh-mansukh, dan mempelajari sunnah, mengenali kedudukannya dalam ilmu syariat, mendeteksi mana yang sahih dan mana yang dhaif, mempelajari tata cara mengambil dalil, serta mengenali kedudukan dan fungsinya terhadap Al-Quran. Syafi’i juga belajar cara menyimpulkan hukum jika tidak ada dalam kitab dan sunnah, menentukan aturan standar ijtihad, dan menetapkan batasan-batasan yang harus dijaga seorang mujtahid agar ia tidak terjerumus pada kesalahan.

Seorang mujtahid harus memiliki aturan-aturan yang harus dijaga agar terlindung dari kesalahan.

Kemunculan Syafi’i

Keilmuan Syafi’i semakin berkembang. Ia berhasil menguasai ilmu zamannya, sesuatu yang membuat

pribadinya menjadi sempurna. Ilmunya semakin bertambah sehingga nama Syafi’i semakin harum dan murid-muridnya semakin banyak. Halaqah pelajaran dan majelis Syafi’i di Masjidil Haram banyak dihadiri oleh orang-orang yang tingkat keilmuannya cukup tinggi. Mereka mendengarkan paparan Syafi’i tentang metode barunya di bidang ushul fikih dan prinsipprinsip umum (kulliyyat) fikih, hingga akal mereka tercerahkan. Walhasil, mereka mengakui keunggulan, daya paham, dan kemampuan akal Syafi’i.

Setelah berbagai pengembaraan dilakoninya, Syafi’i kembali ke Makkah. Akan tetapi, kali ini, ia kembali dengan membawa fikih baru dengan metode yang baru dalam memahami dan melakukan Istinbåth (menggali hukum). Orang-orang berkumpul di sekelilingnya dan belajar darinya. la menetap di Makkah cukup lama, sekitar 9 tahun, dan saat itu pula ia mulai menyusun ilmu ushui fikih.

Ibn Hanbal dan Syafi’i

Di antara ulama besar yang belajar kepada Syafi’i di Makkah adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, Kala itu ia datang untuk melaksanakan haji. Ia masuk Masjidil Haram untuk bertemu dengan para pembesar ulama dan ahli hadis. Yang paling mashyur di antara mereka ketika itu adalah Sufyan ibn ‘Uyainah. Di masjid, pandangan Ahmad jatuh pada Syafi’i yang tengah mengajar di majelisnya. Ahmad terus memerhatikannya. Ia melihat kadar pemahaman Syafi’i terhadap Kitab Allah dan sunnah Rasulullah cukup tinggi. Ia juga turut mendengarkan paparan Syafi’i tentang ushal

(dalil-dalil fikih) dan kaidah-kaidah umum yang tak pernah didengarnya dari seorang ulama sebelumnya. Ini menunjukkan kecerdasan akal Syafi’i dan kedalaman pemahamannya. Akhirnya, Ahmad memutuskan untuk meninggalkan majelis guru-gurunya dan memilih bergabung dengan majelis Syafi’i.

Syafi’i mengombinasikan fikih Hanafi yang bernuansa rakyu dengan fikih Madinah Maliki yang didominasi hadis. Hasilnya adalah fikih baru yang unik. Syafi’i merupakan seorang ulama yang terkenal dengan metode barunya.

Pemuda Quraisy

Muhammad ibn al-Fadhil menuturkan, “Aku mendengar ayahku berkata, “Aku pergi haji bersama Ahmad ibn Hanbal. Bersamanya aku mampir di satu tempat. Pada pagi hari, Ahmad keluar dan aku menyusulnya. Aku berkeliling di Masjidil Haram, tapi aku tidak

menemukannya di dapati ia tengah duduk bersama seorang Arab Badui. Kukatakan padanya, “Wahai Abu Abdullah, kautinggalkan Ibn Uyainah, dan kau pilih duduk di sini?!

Ia menjawab, ‘Diamlah, jika kau ketinggalan satu hadis dengan sanad yang pendek, kau masih bisa menemukannya dari ulama hadis dengan silsilah sanad yang lebih panjang.

Akan tetapi, jika kau ketinggalan pemuda ini, aku takut kau tidak akan menemukannya lagi hingga hari kiamat. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih paham Kitab Allah dari pemuda Quraisy ini?

‘Memangnya siapa dia?’ tanyaku kepadanya. Imam Ahmad menjawab, ‘Muhammad ibn Idris.”

Ahmad ibn Hanbal melihat daya pemahaman yang kuat dan mendalam pada diri Syafi’i sehingga ia tertarik mendengarkan ilmu dan belajar darinya. Ahmad menegaskan bahwa orang yang melewatkan kesempatan bertemu dengan Syafi’i , ia tidak akan menemukannya lagi selamanya.

Matamu Tak Pernah Melihat orang seperti Dia Diriwayatkan dari Ishaq ibn Rahawiyah, ia berkata, “Kami tengah berada di tempat Sufyan ibn ‘Uyainah untuk mencatat hadis-hadis ‘Amr ibn Dinar. Tiba-tiba Ahmad ibn Hanbal mendatangiku dan berkata, ‘Berdirilah, wahai Abu Ya’qub, biar kuperlihatkan kep mu seseorang yang tak pernah kaulihat sebelumnya?

Aku pun berdiri. Ia membawaku ke dekat pelataran sumur Zamzam. Di sana kulihat seorang laki laki berpakaian putih, wajahnya agak kecokelatan, penampilannya menarik, dan sosoknya tampak sangat cerdas. Ahmad pun mendudukan ku di sampingnya. Ia berkata kepada Syafi’i, ‘Wahai Abu Abdullah, ini adalah Ishaq ibn Rahawiyah al-Handhali? Syafi’i menyambutku dengan hangat. Aku pun mulai berdialog dengannya hingga kudapati ilmu yang deras memancar darinya. Aku sangat kagum akan hafalannya.

Setelah kami bercengkerama cukup lama, kukatakan pada Imam Ahmad, ‘Wahai Abu Abdullah, mari kita kembali ke tempat guru kita (ke majelis Sufyan ibn ‘Uyainah)!

Ahmad menjawab, ‘Inilah sang guru?

Aku lalu berkata, “Subhanallah, kau mengajakku pergi dari tempat seorang guru yang mengucapkan kalimat al-Zuhri meriwayatkan kepada kami, dan aku mengira engkau akan membawaku ke tempat seseorang yang sama dengan al-Zuhri atau paling tidak mendekatinya. Ternyata, kau hanya membawaku ke tempat pemuda ini?!’

Imam Ahmad lantas mengucapkan satu kesaksian yang besar tentang Syafi’i. Ia menuturkan, “Wahai Abu Ya’qub, ambillah ilmu dari orang ini karena kedua mataku tak pernah melihat orang seperti dia.” Dengan kata lain, Syafi’i lebih besar daripada para ulama yang pernah dilihat Ahmad ibn Hanbal.

Pengakuan akan Ilmu Syafi’i

Muhammad ibn al-Hasan al-Za’farani berkata, “Kami menghadiri majelis Basyar al-Muraisi (salah seorang ulama besar dari kelompok Mu’tazilah yang terkenal ahli mantiq). Kami tak sanggup untuk berdebat dengannya.

Kami pun datang kepada Ahmad ibn Hanbal, Kami katakan kepadanya, ‘Izinkan kami untuk menghafal kitab al-Jami’ al-Shaghir karya Abu Hanifah agar kami bisa menguasai isinya dan berdebat bersama mereka

Imam Ahmad , sekarang seorang Muththalibi datang kepada kalian seperti yang kalian lihat di Makkah.” Imam Syafi’i sering dipanggil dengan sebutan al-Muththalibi karena ia termasuk keturunan Abdul Muththalib.

Al-Za’farani melanjutkan, “Kemudian Syafi’i tiba. Kami bergegas menyongsongnya dan bertanya sedikit tentang kitab-kitabnya. Syafi’i lalu memberi karni kitab al-Yamin ma’a al-Syahid (Sumpah dan Saksi). Aku pun mempelajarinya selama dua malam, lalu berangkat menuju tempat Basyar al-Muraisi. Aku terus merangsek maju di antara barisan orang-orang yang hadir hingga aku berhasil mendekatinya. Ketika Basyar al-Muraisi melihatku, ia berkata, ‘Apa yang membuatmu ke sini, wahai ahli hadis?’ Ia mengolokngolok al-Za’farsni seakan ia hanya menghafal hadis dan tidak mengetahui ilmu manthiq yang dibutuhkan untuk menyimpulkan hukum-hukum.

Kukatakan padanya, ‘Cukuplah. Tidak usah kita saling mengejek. Aku hanya ingin bertanya, apa dalil yang membatalkan sumpah yang disertai saksi?’ Aku mulai mendebatnya dan mulai kuberikan argumen argumenku.

Kemudian Basyar al-Muraisi berkomentar, ‘Ini bukanlah kapasitas kalian. Ini adalah ucapan seorang laki-laki yang kulihat di Makkah yang memiliki separuh akal penghuni dunia?

Begitulah, Syafi’i dan ilmunya membuat seluruh pendukung dan penentangnya salut dan mengakui bahwa ia memiliki separuh akal penghuni dunia.

Ensiklopedia Berjalan

Para ulama menegaskan bahwa keutamaan Syafi’i bisa dirasakan seluruh manusia karena ia berhasil menguasai seluruh ilmu. Ibn Hanbal menuturkan kedudukan Syafi’i dan keagungan ilmunya, “Aku tidak pernah mengetahui naskh dan mansukh yang ada dalam hadis hingga aku bertemu dan belajar dari Syafi’i.” Al-Rabi’ ibn Sulaiman juga pernah berkata, “Syafi’i duduk di masjid seusai shalat fajar. Para ahli Al-Quran datang menghadiri halaqahnya. Saat matahari terbit,

mereka bubar. Kemudian ahli hadis datang dan bertanya pada Syafi’i tentang tafsir dan maknanya. Saat matahari mulai meninggi di awal waktu duha, mereka bubar. Selanjutnya halaqah berubah menjadi sesi ulangan dan pelajaran tentang fikih, ushul fikih, dan mantiq. Jika waktu duha telah berlalu, mereka berpisah. Setelah itu ahli bahasa, sastra, dan syair pun berdatangan. Mereka terus belajar dari Syafi’i hingga pertengahan siang.”

Pernahkah kalian melihat ensiklopedia berjalan di muka bumi? Itulah. Syafi’i benar-benar telah memetik buah dan hasil ilmunya. la mulai menyebarkan ilmu ini. Banyak para ulama dari berbagai disiplin ilmu mendatanginya dan belajar daririya sesuai dengan bidang ilmu masing-masing.

Ilmu yang Beragam

Muhammad ibn Abdul Hakam menuturkan, “Aku tidak pernah melihat orang seperti Syafi’i. Para ahli hadis mendatanginya dan bertanya padanya tentang hal-hal yang tidak jelas dalam ilmu hadis, sehingga mereka bisa mengetahui rahasia-rahasia hadis yang tak pernah mereka ketahui sebelumnya. Saat mereka bubar, mereka masih terkesan dengan paparan Syafi’i. Saat bubar, seluruh ahli hadis, baik yang mendukung maupun yang menentang Syafi’i, mengakui keilmu

an Syafi’i. Demikian pula para ahli syair, mereka juga bertanya tentang makna-makna syair kepada Syafi’i. Syafi’i menghafal sepuluh ribu bait syair Hudzail lengkap dengan i’rab dan maknanya. Ia tergolong orang

yang paling pakar dalam sejarah. Yang menjadi motor dirinya adalah keikhlasannya dalam beramal hanya untuk Allah.”

Syafi’i adalah ensiklopedia ilmu. Halaqahnya beragam dan biasa dihadiri oleh ahli Al-Quran, ahli hadis, ahli debat, dan ahli bahasa Arab. Semua mengambil ilmu daimya. Semuanya ini tetap dibarengi dengan ketakwaan, ibadah, dan keikhlasan pada diri Syafi’i.

Berfatwalah, Wahai Abu Abdullah!

Ibnu Khalkan berkata, “Seluruh ulama, dari kalangan ahli hadis, ahli fikih, ahli bahasa, dan lainnya sepakat akan sikap amanat yang dimiliki Syafi’i, keadilan, kezuhudan, dan kewarakannya. Al-Razi menuturkan, “Abu al-Hasan ibn Abdurrahman meriwayatkan kepada kami dari Abu Muhammad ibn Binti al-Syafi’i, ia berkata, “Aku mendengar al-Jarudi berkata, ‘Muslim ibn Khalid al-Zanji, salah seorang ulama besar pada zamannya, berkata kepada Muhammad ibn Idris alSyafi’i yang ketika itu baru berumur delapan belas tahun, ‘Berfatwalah, wahai Abu Abdullah. Sudah tiba saatmu untuk berfatwa!”

Syafi’i sudah layak untuk berfatwa sejak ia berumur delapan belas tahun. Akan tetapi, ia tidak berani berfatwa hingga merasa ilmunya sudah cukup.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai