Berangkat ke Irak
Seperti yang telah kita paparkan bahwa Syafi’i adalah sosok yang suka mengembara untuk menuntut ilmu. Tekadnya yang tinggi tidak membuatnya merasa puas hanya pada batas tertentu karena ilmu tidak memiliki batas dan tempat. Ia menganjurkan kita untuk terus mengembara menuntut ilmu. Ia berkata,
Pergilah dari negerimu untuk mencari ketinggian Mengembaralah karena dalam pengembaraan
terkandung lima faedah Melapangkan kesedihan, mencari penghidupan, menuntut ilmu dan adab, serta menemani seorang yang mulia
Setelah menetap di Makkah untuk belajar, meneliti, dan mengajar, Syafi’i merasa perlu menyebarkan ilmu yang diraihnya dari setiap pelosok negeri Islam, khususnya metode istinbåth fikih yang pernah ia susun. Dan tempat terbaik untuk itu, yang di dalamnya terpancar cahaya ilmu, tak lain adalah pusat pemerintahan Daulah Islamiyah dan ibukotanya, yaitu Baghdad, kota yang dulu pernah ia kenal dengan baik.
Syafi’i merasa harus menyebarkan ilmunya serta metode istinbâth fikih yang ia susun agar manfaatnya bisa dirasakan semua . yang paling baik untuk itu adalah Baghdad, pusat pemerintahan Daulah Islamiyah.
Di Baghdad
Atas dasar itulah Syafi’i berangkat ke Baghdad pada tahun 195 Hijriah. Saat itu ia berumur 45 tahun. Ini adalah perjalanan yang paling bermanfaat bagi Syafi’i pribadi, juga bagi orang lain. Sebelumnya, Syafi’i pernah terkenal di sana. Namanya selalu disebut oleh para ahli hadis dan ahli fikih semisal Ahmad ibn Hanbal dan Ishaq ibn Rahawiyah yang termasuk ahli hadis, serta Basyar al-Muraisi, seorang ulama yang terkenal di sana.
Syafi’i datang ke Irak untuk membela sunnah dan mendukung para pengusungnya. Ia mulai menyebarkan kaidah-kaidah dasar dalam memahami hadis, tata cara istinbath hukum, serta menjelaskan hukumhukumnya. Al-Nawawi berkata, “Di Irak Syafi’i mengajarkan ilmu hadits, menyebarkan madzhab ahli hadis, dan membela sunnah sehingga nama dan keutamaannya dikenal orang.”
Dalam perjalanannya, Syafi’i melantunkan syair,
Aku akan menjelajahi sepanjang dan selebar negeri Untuk mewujudkan tujuanku atau mati di tanah asing Jika jiwaku binasa maka hanya untuk Allah-lah mutiaranya
Dan jika aku menyerah, berarti kepulanganku akan segera tiba
Keikhlasan dalam mencari kebenaran dapat menyinari hati dengan cahaya, mengisi jiwa dengan kejernihan, menjadikannya mudah mencapai kebenaran, dan menggerakkannya dengan kekuatan dan keberanian. Syafi’i mengikrarkan diri untuk berbeda pendapat dengan Malik berdasarkan kebenaran yang ia temukan.
Pembela Sunnah
Syafi’i kemudian menuju ke sebuah masjid di sebelah barat kota Baghdad. Di sanalah ia mulai mengadakan halaqah-balaqah ilmu dan mengambil tempat di salah satu sudutnya. Ia mulai memaparkan ushul, kaidahkaidah, dan sumber-sumber fikihnya. Pandangan para ulama pun mulai beralih ke sana. Syafi’i mulai dikelilingi murid-murid. Ulama-ulama Baghdad tidak keberatan jika murid-muridnya turut menuntut ilmu dari Syafi’i. Bahkan, mereka menganjurkan para murid untuk belajar darinya.
Syafi’i terus berkeliling dan menyebarkan ilmu. ia datang membawa pemahaman baru tentang kalam Allah dan hadis Rasulullah. Semua kepala tunduk karena keutamaannya. Para ulama pun terdorong untuk mengakui keilmuannya. Walhasil, Syafi’i menjadi terkenal di tengah penduduk Baghdad. Halaqah ilmu para penentangnya menjadi bubar, tak ada yang mendatanginya lagi.
Ibrahim al-Harbi menuturkan, “Syafi’i datang ke Baghdad. Ketika itu di masjid sebelah barat Baghdad terdapat dua puluh halaqah dan majelis ilmu ahli rakyu. Pada hari Jum’at, semua halaqah itu telah
berkurang jumlahnya hingga yang tersisa hanya tiga atau empat halaqah saja.”
Para ahli rakyu cenderung memperluas bahasan mereka tentang masalah-masalah furu’ (cabang), bahkan sampai mencakup masalah-masalah yang pernah dibawa ke pengadilan. Se- Ibrahim al-Harbi mentara itu pemahaman para ahli hadis terhadap hadis hanya terbatas pada kulit atau permukaannya saja. Saat Syafi’i datang ke Baghdad, ia membawa fikih baru yang didukung dan dikuatkan oleh Kitab dan sunnah sehingga para ahli hadis merasa puas.
Ahmad ibn Hanbal berkata, “Masalah-masalah kami yang dibawa ke hadapan hakim keputusannya berada di tangan para sahabat Abu Hanifah sampai ketika kami melihat Syafi’i. Ia adalah orang yang paling ahli fikih dan paling memahami Kitab Allah dan sunnah Rasulullah.”
Syafi’i mengambil tempat untuk halaqahnya di masjid jami’ sebelah barat kota Baghdad. Di sana ia mulai memaparkan
ushal dan dan para ulama pun mulai berdatangan untuk belajar darinya, hingga halaqah itu semakin luas dan ramai. Akibatnya, semua halaqah para penentangnya menjadi berkurang di masjid tersebut.
Syafi’i Membangunkan Ahli Hadis
Para ahli hadis melihat Syafi’i sebagai pemimpin terbaik yang membela hadis, berpegang teguh pada hadis mutawatir dan âhâd, serta membimbing mereka ke jalan yang terang. Selain itu, para pendukung Syafi’i yang moderat juga menemukan Syafi’i sebagai orang yang membimbing mereka untuk mendapatkan hujjah yang kuat dan kebenaran yang jernih.
Muhammad ibn al-Hasan alZa’farani berkata, “Para ahli hadis tadinya tertidur lelap hingga Syafi’i membangunkan mereka dari tidurnya.”
Daud ibn Ali al-Zhahiri berkata, “Syafi’i adalah pelita bagi para pengusung hadis dan periwayat. Siapa yang menggantungkan diri pada keterangan dan penjelasZhahiri an Syafi’i, ia akan menjadi ahli hujjah.”
Para ahli hadis mengalami kemandekan, bahkan tertidur lelap. Syafi’i membangunkan dan membimbing mereka mendapatkan hujjah yang kuat serta kebenaran yang jernih.
Kunci Pembuka
Al-Humaidi berkata, “Kami ingin berdebat dan mematahkan argumen para ahli ra’yu, tetapi kami tidak sanggup melakukannya hingga Syafi’i datang dan menjadi kunci yang membukakan jalan untuk kami.”
Hilal ibn al-‘Ula berkata, “Para ahli hadis adalah anak-anak Syafi’i karena dialah yang membukakan pintu bagi mereka.”
Imam Ahmad memiliki banyak kesaksian tentang peran dan pengaruh Syafi’i terhadap ahli hadis, serta apa yang telah dibukanya bagi mereka berupa ilmu fikih dan makna hadis. Di antara kesaksiannya adalah, “Jika bukan karena Syafi’i, niscaya kami tidak pernah mengetahui fikih hadis.”
Ia juga berkata, “Na’im ibn Hammad datang kepada kami. Ia menganjurkan kami mencari musnad. Ketika Syafi’i datang, dialah yang membimbing kami ke jalan yang terang.”
Para ahli hadis adalah keluarga Syafi’i. Jika bukan karena dia, niscaya mereka tidak pernah mengenal fikih hadis.
Mereka Tidak Pernah Melihat orang seperti Syafi’i
Al-Karabisi berkata, “Kami tidak memahami tata cara istinbåth hukum dari sunnah kecuali setelah Syafi’i mengajarkannya kepada kami.”
Al-Buwaithi, salah seorang ulama Mesir, berkata, “Tadinya kami tidak tahu kedudukan Syafi’i hingga kulihat penduduk Irak sering menyebut namanya dan menggambarkannya dengan sifat sifat yang baik. Orang-orang Irak yang cerdas, ahli fikih, ahli debat, ahli hadis, dan ahli bahasa Arab mengakui
mereka tidak pernah melihat orang seperti Syafi’i.”
Para ahli rakyu sangat terkenal di Irak, sementara ahli hadis tak mampu melawan dan berdebat dengan mereka hingga Syafi’i datang dan membawa mereka ke jalan yang terang. Dengan anugerah yang diberikan Allah berupa kemampuan memahami hadis dan menjelaskan maknanya, Syafi’i dikenal sebagai pembela sunnah.
Ketundukan Para Ulama kepada Syafi’i Al-Nawawi menuturkan tentang ihwal Syafi’i di Irak, “Ketika Syafi’i mulai terkenal di Irak, namanya sering disebut banyak orang. Seluruh pendukung dan penentangnya tunduk padanya, dan para ulama mengakui kelebihannya, martabat Syafi’i menjadi semakin tinggi di hadapan semua orang, hingga di kalangan pejabat. Keutamaannya semakin tampak saat ia berdebat dengan penduduk Irak.
Dengan kemampuannya, Syafi’i menjelaskan kaidah-kaidah dasar fikih dan pentingnya ushül. Ia juga banyak diuji dengan berbagai masalah dan ditanya tentang bermacam persoalan. Jawabannya terhadap masalah-masalah tersebut sangat tepat dan benar. Oleh karena itu, banyak orang berdatangan dan belajar darinya, baik dari kalangan anak-anak maupun orang-orang tua. Begitu pula halnya para imam, ahli hadis, ahli fikih, dan pakar ilmu lainnya. Banyak dari mereka yang beralih dari mazhabnya menuju mazhab Syafi’i dan ikut berpegang pada metodenya,
seperti Abu Tsaur dan beberapa imam lainnya. Ada juga yang meninggalkan gurunya hanya untuk belajar pada Syafi’i karena mereka melihat pada diri Syafi’i tersimpan hal yang tidak dimiliki orang lain.
Allah memberkahi Syafi’i dengan ilmu yang sangat cemerlang dan kebaikan yang berlimpah pada dirinya. Segala puji bagi Allah atas anugerah dan nikmat-Nya yang tak terhingga.”
Syafi’i menjadi terkenal di Irak. Namanya sering disebut orang, nilainya juga semakin besar di mata masyarakat awam dan orang-orang terpandang karena kaidah dan usha! yang disusunnya. Banyak orang belajar darinya, baik yang tua maupun yang muda.
Penyebaran Ilmu
Pada fase ini Syafi’i mengajarkan dan mendiktekan kumpulan kitabnya, al-Kutub al-Baghdadiyah (Kumpulan Kitab Baghdad). Kelak akan kita singgung tentang kitab ini pada pembahasan tentang karya-karya Syafi’i, insya Allah.
Ilmu Syafi’i menyebar ke seluruh pelosok negeri timur, tepatnya di sekitar Irak, melalui peran para
murid Syafi’i yang belajar darinya. Pada diri mereka tersimpan tekad dan keinginan untuk mengambil manfaat dari ilmu Syafi’i, selain mereka juga sangat kagum pada kepribadiannya yang sangat istimewa.
Pada fase permulaan ini, Syafi’i menetap di Baghdad selama kurang dari dua tahun. Di sana ia mengukuhkan mazhabnya, menetapkan kaidah-kaidahnya, lalu kembali ke Makkah untuk mengunjungi Baitullah al-Haram, menyambangi guru-gurunya yang tinggal di sana, seperti Sufyan ibn ‘Uyainah dan sebagainya. Kunjungannya ke Makkah tidak berlangsung lama karena ia harus kembali ke Baghdad pada tahun 198 Hijriah.
Perjalanan Syafi’i ke Baghdad kali ini banyak membuahkan hasil. Banyak murid belajar darinya, dan ia pun mulai mengajarkan dan mendiktekan kitabnya, al-Kutub al-Baghdadiyah.
Ilmu Adalah Kebanggaan
Dengan ilmunya Syafi’i menjadi kebanggaan di majelisnya. Tentang makna ini, ia menulis bait syair,
Ilmu adalah ladang kebanggaan maka berbanggalah Dan waspadalah kebanggaan ladang itu melewatkanmu
Ketahuilah bahwa ilmu tidak didapatkan
Oleh orang yang hasratnya hanya makanan dan pakaian
Pemilik ilmu yang diperhatikan karena ilmunya Seperti orang yang diperhatikan pada dua kondisinya: saat telanjang dan saat berpakaian
Maka, berikanlah untuk dirimu ilmu yang banyak Tinggalkan keterlenaan dan muka masam untuknya Siapa tahu, suatu hari, saat kau menghadiri satu majelis
Kau akan menjadi kepalanya dan menjadi kebanggaan majelis tersebut



