BAB 13. SYAFI’I ULAMA MESIR

Berangkat ke Fusthath

Kali ini Syafi’i merasa tidak tenang tinggal di Baghdad. Ia mulai berpikir untuk pergi ke satu negeri yang setaraf dengannya dalam hal keilmuan, dan tidak ada dominasi orang-orang Parsi di dalamnya seperti di Baghdad. Akhirnya ia menemukan tujuannya, Mesir, karena kota Fusthath di sana adalah kota ilmu. Di kota itu tinggal seorang imam yang mulia, Imam al-Laits ibn Sa’ad. Mazhab Maliki menjadi mazhab yang mewarnai kehidupan sehari-hari di sana. Mazhab ini menyebar karena peran para murid Imam Malik yang mengembara ke Mesir. Selain itu, secara kebetulan, gubernurnya adalah seorang Quraisy keturunan Abbas.

Yaqut al-Himawi berkata dalam Mu’jam al-Adibbâ, “Sebab kedatangan Syafi’i ke Mesir, tak lain, karena gubernurnya adalah Abbas ibn Abdullah ibn Abbas ibn Musa ibn Abdullah ibn Abbas.” Ditinjau

dari nasabnya, Syafi’i termasuk kerabat sang gubernur karena ia termasuk ahli bait Nabi saw.

Kerinduan Syafi’i pada Mesir

Tentang kerinduannya pada Mesir, Syafi’i melantunkan syair,

Tanpa Mesir, terputuslah peninggalan

Jiwaku sangat merindukan Mesir

Akankah aku dibawa ke sana, ataukah aku dibawa ke kubur

Demi Allah, aku tak tahu, apakah untuk mendapatkan kemenangan atau kekayaan?

Akhirnya Syafi’i berangkat ke Mesir. Di sana, ia mendapatkan kemenangan, sekaligus kekayaan dan kuburnya

Syafi’i tiba di Mesir pada 199 Hijriah dan hidup selama lebih dari lima tahun. Ia mendap an kekayaan karena gubernur di Mesir telah memberinya bagian dari seperlima harta pampasan, jatah bagi kerabat Rasulullah saw. Ia mendapatkan bagian tersebut karena kemuliaan nasabnya.

Syafi’i juga mendapatkan kemenangan dengan menyebarkan pendapat-pendapatnya. Di sana pula ia menemui ajalnya. Ia dikubur di Mesir. Semoga Allah merahmatinya.

Fusthath adalah kota ilmu. Di dalamnya terdapat banyak ulama besar, seperti akaits ibn Sa’ad, murid-murid Imam Malik, dan ulama lainnya. Syafi’i sangat ingin pergi ke Mesir hingga di sana ia mendapatkan kemenangan, kekayaan, dan menemui ajalnya

Ulama Mesir Memandang Syafi’i Sebelah Mata

Di awal kedatangannya ke Mesir, para ulama negeri itu belum mengetahui kehebatan Syafi’i. Mereka belum memandangnya dan belum berkumpul di sekelilingnya untuk menuntut ilmu. Para sahabat meminta Syafi’i berbicara di hadapan orang-orang, menunjukkan syair-syair dan ilmunya, agar mereka mengenal keilmuan Syafi’i . Akan tetapi Syafi’i menolak menyampaikan ilmunya kepada orang yang tidak bisa memahaminya. Karena, ia bukan seorang penasihat atau penyampai dongeng, melainkan ahli fikih, ahli ushul fikih, dan seorang alim yang ilmunya sangat dalam.

Ia berkata,

Apakah aku akan menebarkan mutiara di tengah sekumpulan binatang

Atau menata mutiara tersebut untuk para

penggembala kambing? Jika aku terabaikan di negeri yang paling buruk Aku tidak menganggap diriku terabaikan di tengah

mereka hanya karena ucapan mereka Jika Allah yang Maha Perkasa memudahkan aku

Dengan KelembutanNya

Dan aku bertemu dengan ahli ilmu dan hikmah,

Niscaya akan kusebarkan sesuatu yang bermanfaat dan akan kuraih cinta mereka

Jika tidak maka ilmu itu akan tetap kusimpan dalam diriku

Orang yang memberikan ilmunya kepada orang-orang yang bodoh, berarti ia telah menyia-nyiakannya

Dan orang yang menahan ilmunya dari orang-orang yang layak menerimanya, berarti ia telah zalim

Begitulah Syafi’i mengajarkan hikmah kepada kita untuk meletakkan segala hal pada tempatnya, dan agar kita tidak menyebarkan ilmu kecuali kepada orang-orang yang layak menerimanya. Menyebarkan ilmu di tengah orang-orang bodoh yang tidak memahaminya sama saja dengan menyianyiakan ilmu.

Syafi’i Mulai Tenar di Mesir

Kondisi itulah yang dialami Syafi’i pertama kali di Mesir. Selanjutnya orang-orang mulai mengenal Syafi’i hanya sebagai salah satu keturunan ahli bait. Pada perkembangan selanjutnya, mereka baru mengetahui tingkat keilmuan dan kedudukan Syafi’i. Akhirnya mereka sangat mencintai Syafi’i, dan Syafi’i pun sangat mencintai mereka. Berita mulai tersiar di tengah masyrakat bahwa seorang laki-laki Quraisy yang berilmu tinggi telah datang ke Mesir.

Harun ibn Sa’id al-Ayli berkata, “Aku tidak pernah melihat orang seperti Syafi’i. Ia datang ke Mesir dan orang-orang berkata, “Telah datang seorang lakilaki Quraisy. Lalu kami mendatanginya. Saat itu ia tengah melaksanakan shalat. Kami tidak pernah melihat

shalat yang lebih baik dari yang dilakukannya, tidak pula wajah tampan setampan wajahnya. Saat ia berbicara, kami tidak pernah mendengar ucapan yang lebih baik dari ucapannya. Kami jadi sangat kagum kepadanya.”

Al-Rabi’ ibn Sulaiman menuturkan, “Demi Allah, ketenaran Syafi’i telah tersebar di tengah masyarakat

sebagaimana nama Ali ibn Abi Thalib sering disebutkan.”

Begitulah Syafi’i mulai menyebarkan ilmu ushul fikih dan fikihnya. Ia menyimpulkan hukum dan menguatkannya dengan dalil-dalil. Syafi’i akhirnya memiliki halaqah yang cukup ramai di masjid ‘Amr ibn al-‘Ash. Bermacam orang dengan berbagai disiplin ilmu datang kepadanya. Ada yang ahli Al-Quran, ahli hadis, ahli debat, dan ahli bahasa. Semuanya turut belajar pada Syafi’i.

Di Mesir, tepatnya di masjid ‘Amr ibn al-‘Ash, Syafi’i duduk menyebarkan ilmu ushul fikih dan pendapat-pendapatnya. Ketenarannya mulai menonjol dan namanya sering disebut orang hingga ia memiliki halaqah yang ramai dikunjungi orang dengan berbagai disiplin ilmu. Halaqahnya di Mesir melebihi halaqahnya di masjid sebelah barat kota Baghdad.

Ilmu yang komplet

Ibn Abdul Hakam berkata, “Kami tidak pernah melihat sosok seperti Syafi’i. Para ahli dan kritikus hadis datang kepadanya untuk menyodorkan hadis di hadapannya. Syafi’i pun meluruskan kritikan mereka dan mengajarkan apa yang tidak mereka ketahui dalam hadis. Mereka sangat terkagum-kagum dengan kemampuan ilmunya. Para ahli fikih, baik pendu

kung maupun penentang Syafi’i, mulai Mereka tidak bubar meninggalkan majelis Syafi’i kecuali dalam keadaan kagum dan tunduk padanya. Para ahli sastra juga mendatanginya dan membacakan

syair-syair mereka di hadapannya. Kemudian Syafi’i menafsirkan syair-syair tersebut. Syafi’i sendiri telah menghafal sepuluh ribu bait syair Hudzail, lengkap dengan i’råb, kata-kata asing, dan maknanya.

Syafi’i juga seorang yang paling pakar di bidang sejarah. Ada dua hal yang membuatnya demikian. Pertama, kecerdasan akalnya dan kejernihan otaknya. Kedua, keikhlasannya dalam beramal hanya untuk Allah.”

Ya, para ulama dan pemuda hendaknya melihat seorang alim yang cerdas ini yang tidak pernah meninggalkan ilmu kecuali di dalamnya ia menjadi bintang yang terang benderang. Maka, jadikanlah dia dan orang-orang sepertinya sebagai teladan kita. Semoga kita mendapatkan apa yang mereka peroleh.

Fikih Baru

Dalam perjalanan ini, saat Syafi’i berada di Mesir, ia menulis kitabnya yang paling penting dan mulai menata ulang beberapa pendapatnya dalam kitabnya yang lama. Di Mesir, ia menemukan pergaulan baru, tabiat, dan adat-istiadat yang baru sehingga membuatnya harus menarik kembali sebagian pendapatnya dan mengkaji ulang semuanya. Karena itu, jika disebut “Syafi’i dengan fikih lamanya”, maknanya fikih yang ia susun di Hijaz dan Irak. Jika dikatakan “Syafi’i dengan fikih barunya”, maksudnya fikih yang ia susun di Mesir. Syafi’i mulai menata kembali kitab lamanya, alRisalah, yang dulu pernah ia karang di Hijaz. Ia juga

mengumpulkan seluruh karyanya di bidang fikih. Kebanyakan karyanya ia kodifikasi dalam satu kitab yang sangat berharga, yaitu kitab al-Umm.

Pengukuhan Mazhab

Kunjungan Syafi’i ke Mesir menjadi penyebab perubahan beberapa pendapatnya, kemudian mazhabnya dikukuhkan dan disebarkannya. Mesir adalah negeri yang sangat dinamis. Di sana Syafi’i mengenal tabiat, adat-istiadat baru, dan pergaulan baru yang membuatnya harus mengkaji ulang kitab-kitab lamanya dan menarik beberapa pendapatnya. Ia juga tertuntut untuk menyusun ulang kitab al-Risalah dan menghimpun seluruh karyanya dalam satu kitab mahakarya, al-Umm.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai