Murid-Murid Syafi’i
Mazhab Syafi’i tidak akan tersebar jika murid muridnya tidak dipersiapkan untuk mengemban ilmu itu, meriwayatkan, dan menyebarkannya ke seantero negeri. Banyak ulama mujtahid, tapi nama dan peran mereka tidak terabadikan seperti halnya empat imam mazhab. Karena, mereka tidak memiliki murid yang menyebarkan ajaran-ajaran dan mazhabnya, seperti empat imam tersebut.
Murid-murid adalah media yang paling penting dalam mengusung ilmu dan menyebarkannya. Keempat mazhab besar bisa sampai ke tangan kita karena peran para murid mereka. Banyak sekali mazhab yang tidak sampai kepada kita kare na imamnya tak memiliki murid yang menyebarkan ajaran ajarannya.
Para Sahabat Syafi’i Berkumpul di Sekelilingnya
Syafi’i meninggalkan banyak murid yang berkualitas dan terkenal. Mereka yang kita sebut sebagai murid sebenarnya adalah para pemimpin dan pengusung ilmu serta teman setia bagi para imam. Mereka sebenarnya adalah para imam dan ulama. Syafi’i memiliki banyak sahabat dan murid di Hijaz, Irak, dan di Mesir.
Daud ibn Ali berkata, “Tak pernah orang-orang
mulia berkumpul di sekeliling seseorang seperti mereka berkumpul di sekeliling Syafi’i.” Itu tak lain karena kemuliaan nasab dan kedudukannya sebab Syafi’i termasuk kerabat dan keluarga Nabi saw. Selain itu, karena kebenaran agama dan kesucian akidahnya dari hawa nafsu dan bid’ah.
Sebab lainnya adalah karena kedermawanan dan kemuliaan jiwa Syafi’i serta pengetahuannya tentang hadis-hadis sahih dan hadis yang tidak sahih sangat mendalam. Syafi’i dikelilingi para murid karena ia memiliki pengetahuan tentang nasikh dan mansäkh, menguasai Kitab Allah dan sunnah Rasulullah, mengetahui sirah Nabi saw. serta para khalifahnya.
Juga karena kemampuan Syafi’i dalam beradu argumentasi dengan para penentangnya dan karena ia banyak mengarang kitab yang lama maupun yang baru.
Sebab terakhir adalah karena ia selalu disayangi oleh para sahabat dan murid-muridnya.
Murid-murid Syafi’i memiliki andil besar dalam menyebarkan mazhabnya ke seantero negeri. Di antara keutamaan yang dimiliki Syafi’i adalah ia memiliki banyak murid, tidak seperti imam lainnya.
1. Murid Syafi’i di Hijaz
Di antara murid Syafi’i yang paling terkenal di Hijaz ada empat orang:
a. Muhammad ibn Idris
Ia biasa dijuluki Abu Bakar. Namanya sama dengan nama gurunya. Ia selalu menemani Syafi’i ke mana pun pergi dan banyak meriwayatkan darinya. Sayangnya, ia tidak pernah menulis dan tidak mengajar karena itu namanya tidak banyak dikenang seperti yang lain.
b. Ibrahim ibn Muhammad ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ al-Muththalibi
Julukannya adalah Abu Ishaq. Ia sepupu Imam Syafi’i. Ia tumbuh dan berkembang di rumah yang penuh ilmu dan kemuliaan. Bapaknya termasuk salah seorang perawi hadis, begitu pula kakeknya dari pihak ibu, Muhammad ibn Ali ibn al-Syafi.
Abu Ishaq banyak belajar dari seorang imam yang mulia bernama Hammad ibn Zaid dan Imam Sufyan ibn ‘Uyainah.
Kemudian ia juga menuntut ilmu dari Imam Syafi’i, tapi tidak banyak meriwayatkan darinya di bidang fikih. Hubungannya terputus dengan Syafi’i saat Syafi’i hijrah ke Mesir.
Abu Ishaq adalah seorang muhaddis yang terpercaya. Banyak ahli hadis meriwayatkan darinya dan memujinya. Imam Ahmad ibn Hanbal juga pernah memujinya.
Para ahli hadis penulis enam kitab besar hadis (al-Kutub al-Sittah) juga meriwayatkan darinya. la cukup memiliki andil besar dalam periwayatan hadis. Ia hidup di Makkah dan meninggal di sana 269 237 Hijriah
Muhamad ibn Idris, namanya sama dengan nama gurunya. la selalu menyertai sang guru ke mana pun pergi dan belajar darinya. Akan tetapi, ia tidak menulis dan tidak mengajar.
c. Musa ibn Abi al-Jarud al-Makkiy (Abu al-Walid)
Ia adalah seorang mufti kota tas keagamaan, amanat, dan kewarakannya diakui semua orang. Ia juga terkenal banyak menghafal catatan dan tulisan Imam Syafi’i. Ia banyak meriwayatkan hadis dari gurunya. Darinya juga diriwayatkan kitab alAmáli. Para ulama hadis menganggap Abu al-Jarud sebagai salah seorang pembesar ahli fikih dari Makkah yang bermazhab Syafi’i. Ia sangat menguasai fikih, mencatat hadis, dan mencatat beberapa masalah fikih.
Musa ibn Abi al-Jarud adalah seorang mufti kota Makkah yang terkenal kualitas agama, amanat dan kewarakannya, serta hafalannya terhadap ucapan dan catatan Syafi’i. la termasuk salah seorang pembesar ahli fikih Makkah bermazhab Syafi’i.
d. Imam Abu Bakar al-Humaidi
Ia adalah seorang ahli fikih dan ahli hadis yang terpercaya. Dia termasuk orang alim yang memiliki keutamaan. Ia banyak belajar dari Sufyan ibn ‘Uyainah, lalu belajar dari Imam Syafi’i, bahkan menjadi pengikut setianya. la sering membela Syafi’i, mendukung mazhabnya, dan mencatat sebagian besar buku Syafi’i. Abu Bakar meninggal pada tahun 219 Hijriah di Makkah. Sebetulnya ia pernah ikut Syafi’i ke 270 sir, tapi kemudian kembali ke Makkah setelah S, meninggal dunia. Para penulis al-Kutub al-Sittah meriwayatkan darinya. Demikian halnya dengan Bukhari: ia meriwayatkan sebanyak 75 hadis darinya.
Mereka adalah orang-orang yang belajar dan mendalami ilmu fikih dari Syafi’i di Makkah. Nama mereka disebut di antara sekian murid Syafi’i lainnya. Mereka cukup lama bersahabat dengan Syafi’i, tapi mereka tidak terlalu berperan besar dalam mengabadikan ajaran-ajaran fikih Syafi’i, kendati mereka sangat dikenang dalam periwayatan hadis.
Abu Bakar al-Humaidi adalah seorang fakih, ahli hadis, terpercaya, dan penghafal yang mendukung mazhab Syafi’i . la belajar dari Syafi’i dan mencatat sebagain besar bukunya. Para penulis al-Kutub al-Sittah meriwayatkan darinya, termasuk Bukhari.
3. Murid Syafi’i di Irak
Di antara sahabat Syafi’i dan pengikutnya di Irak adalah sebagai berikut:
a. Imam Ahmad ibn Hanbal
Ia adalah pemuka ahli hadis pada zamannya yang keilmuannya tidak diragukan oleh para pengikut dan penentangnya yang memiliki pandangan objektif.
Ia termasuk murid Syafi’i yang paling menonjol dan paling banyak menemaninya.
Dialah yang memerintahkan mencatat semua kitab-kitab Syafi’i . Ia senang menghadiri majelis Imam Syafi’i, membelanya, dan menyeru masyarakat untuk datang ke tempatnya.
Imam Ahmad pernah bertutur bahwa ia tak pernah menemukan orang seperti Syafi’i. Ia banyak meriwayatkan dari Syafi’i.
Syafi’i menuturkan tentang Ahmad ibn Hanbal ini : “aku keluar dari baghdad dan tidak kutinggalkan seorang yang lebih ahli fikih, warak, zuhud, dan lebih berilmu dari Ahmad.”
Menurut Abu Zar’ah, Imam Ahmad telah menghafal sejuta hadis. Ibrahim al-Harbi menuturkan, “Aku melihat Ahmad seakan Allah menghimpun semua ilmu orang-orang terdahulu dan terakhir pada dirinya.”
Qutaibah berkata, “Jika kulihat seseorang mencintai Ahmad, ketahuilah bahwa ia adalah golongan ahli sunnah dan ahli hadis.”
Imam Ahmad dipenjara oleh al-Mu’tashim karena masalah doktrin “kemakhlukan Al-Quran” selama dua puluh delapan bulan. Ketika al-Mutawakkil menjabat Khalifah, ia sangat menghormati Ahmad. Ahmad meninggal dunia pada 241 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya. Insya Allah kita akan menulis satu kitab khusus tentang Imam Ahmad sebagai salah satu dari empat ulama imam mazhab sunni.
Murid Syafi’i yang paling menonjol dan paling banyak mendapat ilmu darinya adalah Imam Ahmad ibn Hanbal, sosok yang tentangnya disebutkan bahwa Allah menghimpun ilmu orang-orang terdahulu dan terakhir pada dirinya. la sangat mencintai Syafi’i dan selalu mendoakannya, membelanya, dan menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat orang seperti dia. Ia dipenjara dalam kasus doktrin “kemakhlukan AlQuran”, tapi dibebaskan dan dimuliakan oleh al-Mutawakkil.
b. Ibrahim ibn Khalid al-Kalbi (Abu Tsaur)
Ibn Hibban berkata, “Abu Tsaur termasuk salah seorang imam dalam ilmu fikih, kewarakan, dan kebaikan. Imam Ahmad pernah ditanya pendapatnya tentang Abu Tsaur. Ia menjawab, “Aku mengenalnya sejak lima puluh tahun. Bagiku, ilmunya setaraf dengan ilmu Sufyan al-Tsauri.
Abu Tsaur termasuk orang Imam Abu Tsaur yang paling utama dalam ilmu fikih, tentang halal dan haram. Seseorang datang bertanya kepada Imam Ahmad tentang halal dan haram, tapi sang imam tidak mau menjawabnya. Ia lalu menyuruh orang itu untuk bertanya kepada orang lain.
“Ia menginginkan jawaban darimu, wahai Abu Abdullah,” kata seseorang yang hadir di sana.
Imam Ahmad menjawab, “Tanyalah pada orang lain, tanyalah pada para ahli fikih, tanyalah pada Abu Tsaur!” Dari sini kita tahu kedudukan Abu Tsaur.
Abu Tsaur banyak meriwayatkan dari Sufyan ibn “Uyainah, Ibn Illiyah, Syafi’i, Abdurrahman ibn Mahdi, Yazid ibn Harun, dan ulama lainnya. Darinya juga, Muslim meriwayatkan hadis-hadis yang termaktub di luar kitab Shahih-nya. Demikian pula Abu Daud, Ibn Majah, dan Abu Qasim al-Baghawi.
Abu Tsaur sangat loyal kepada Imam Syafi’i, walau ia memiliki fikih tersendiri. Ia termasuk salah seorang perawi besar bagi fikih Syafi’i di Irak yang biasa disebut fiqh qadîm (fikih lama) Syafi’i. Ia meninggal dunia pada 237 Hijriah.
Abu Tsaur termasuk salah seorang imam di bidang fikih, kewarakan, dan kebaikan. Ia adalah orang yang paling hebat di bidang fikih, halal dan haram, serta sangat loyal kepada Syafi’i. Ia memiliki pendapat fikih sendiri. Walau demikian, ia salah seorang perawi fikih Syafi’i di Irak.
c. Muhammad ibn al-Hasan ibn al-Shabah al-Za’farani (Abu Ali)
Abu Ali adalah imam ketiga yang termasuk murid Syafi’i di Irak. Ia seorang imam yang sangat mulia, seorang ahli fikih dan ahli hadis, fasih, terpercaya, dan konsisten. Ia banyak menuntut ilmu dari ulama besar pada zamannya seperti Ibn ‘Uyainah, Waki, Yazid ibn Harun, dan lain-lain.
Tadinya, fikih Abu Ali beraliran fikih Irak (fikih mazhab Abu Hanifah), tapi saat Syafi’i datang ke Irak, ia sering mengunjunginya. Syafi’i membuatnya kagum dan penuh hormat.
Ia menemukan pendapat-pendapat yang selama ini ia pegang, ternyata Syafi’i-lah yang memberikan argumentasi-argumentasinya. Oleh karena itu, ia menjadi salah seorang murid Syafi’i.
Para ulama sepakat akan sifat amanahnya dan kejujuran riwayatnya. Al-Mawardi berkata, “Ia adalah perawi lama yang paling konsisten. Bukhari meriwayatkan darinya, begitu pula Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah. Ia seorang imam yang menghafal mazhab Syafi’i di Irak, atau yang biasa dikenal dengan fikih lama Syafi’i (mazhab qadim). Orang-orang berkata, “Ada empat orang yang menghafal mazhab qadim. Mereka itu adalah Ahmad ibn Hanbal, Abu Tsaur, Imam al-Karabisi, dan al-Za’farani (Abu Ali).
Ia termasuk orang yang paling fasih dan teliti dalam berbahasa. Tidak ada murid Syafi’i yang
Baghdadi meriwayatkan darinya. Al-Za’farani berkata, “Syafi’i datang ke daerah kami dan kami pun berkumpul di sekelilingnya.
Syafi’i berkata, “Carilah orang yang dapat membaca untuk kalian. Tetapi tak seorang pun yang berani membaca di hadapannya kecuali aku. Ketika itu aku paling muda.
Belum ada sehelai bulu pun di wajahku. Aku sangat bangga karena lisanku dapat berbicara dengan lancar di hadapan Syafi’i, dan aku bangga dengan keberanianku saat itu. Ketika itu aku bergumam, ‘Aku bukanlah orang Arab, aku hanya berasal dari kampung bernama al-Za’faraniyah?
Syafi’i lalu berkata, “Kau adalah pemuka desa ini.” Al-Za’farani adalah pengucap satu kalimat terkenal, “Para ahli hadis tertidur hingga datang Syafi’i.
Maka, Syafi’i-lah yang menggugah mereka hingga mereka terbangun.”
Dia pula yang berkata, “Tak seorang pun yang membawa tempat tinta kecuali Syafi’i akan memberikan imbalan untuknya.”
Ia meningal dunia pada 260 Hijriah di bulan Ramadhan. Semoga Allah Swt merahmatinya.
d. Abu Abdurrahman Ahmad ibn Muhammad ibn Yahya al-Asy’ari al-Bashri
Ia adalah murid yang paling terobsesi dengan Syafi’i dan paling terpengaruh oleh kepribadiannya. Ia juga orang yang paling membela mazhab Syafi’i, khususnya setelah sang imam pergi dari Irak dan tinggal di Mesir.
Sikapnya itu membuatnya diberi gelar “al-Syafi’i” karena selalu membela mazhab Syafi’i di Baghdad saat orang-orang menyerangnya.
Ia termasuk ulama yang paling menonjol dan ahli ilmu kalam yang paling cerdas. Ia mengetahui ijma’ dan segala macam perbedaan pendapat(al-ikhtilaf).
Kedudukannya sangat tinggi di hadapan para penguasa. Ia banyak mengetahui hadis dan atsar, berilmu luas serta memiliki kemampuan meneliti dan berdebat.
Ia adalah orang yang pertama menggantikan Syafi’i di Irak dalam membela prinsip prinsipnya, mazhabnya, dan selalu mendukung pendapat-pendapatnya hingga ia mendapatkan gelar “al-Syafii. Ia memiliki banyak karya dan ia meninggal dunia di Baghdad. Semoga Allah merahmatinya.
e. Abu Ali al-Husain ibn All ibn Yazid al-Karabisi
Dia termasuk ulama besar yang ditinggalkan Syafi’i di Baghdad dan salah satu dari empat orang yang meriwayatkan fikih Syafi’i di Irak. Ia juga seorang imam yang mulia, alim, dan piawai. Selain itu, Abu Ali juga diangkat sebagai mufti resmi oleh pemerintah di sana.
dialog tidak diragukan. Tadinya ia bermazhab fikih Irak. Akan tetapi, ketika Syafi’i datang, ia belajar darinya dan banyak membaca kitabnya dari al-Za’farani.
Dalam kitab Thabagat karya Ibn al-Sabki, diriwayatkan dari al-Karabisi bahwa ia berkata, “Ketika Syafi’i datang aku menemuinya.
Aku berkata kepadanya, “Apakah kau memperkenankan aku untuk membaca kitab-kitab di hadapanmu?’ la menolak. Ia lalu berkata, ‘Ambil kitab al-Za’farani, aku telah memberinya ijazah (rekomendasi) untuk kaubacakan.”
Al-Za’farani mulai menulis kitab-kitab besar di bidang ushul fikih dan cabang-cabangnya, ilmu hadis,serta ilmu al-jarh wa tadil, hingga orang-orang berkata, “Kitab-kitabnya mencapai 200 jilid.”
Di mata para petinggi dan rakyat jelata, alKarabisi sangat terhormat dan memiliki kedudukan tinggi. Ia sangat dekat dengan Imam Ahmad.
Ketika terjadi fitnah berkenaan dengan doktrin “kemakhlukan Al-Quran”, ia berpendapat moderat antara mazhab Ahli Sunnah yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah dan pendapat Mu’tazilah yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk.
Ia berkata, “Al-Qur’an bukan makhluk, sementara lafaznya adalah makhluk” Mendengar pendapatnya ini, Imam Ahmad marah padanya. Kemungkinan besar inilah yang menjadi sebab ia kehilangan kedudukan keilmuannya di mata para ulama, terutama Imam Ahmad dan Abu Tsaur.
Nama al-Karabisi dinisbahkan kepada al-Karabis yang artinya “pakaian tebal” karena ia memperjual belikan pakaian itu. Al-Karabisi meninggal dunia pada 284 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.
Abu Ali alkarabisi termasuk empat orang yang meriwayatkan fikih Syafi’i di irak. Ja adalah seorang Imam yang mulia, alim, dan piawai. Ia membaca kitab-kitab Syafi’i dari alZafarani, ia juga memiliki banyak karya besar yang konon mencapai 200 jilid. Di mata pembesar dan orang awam, la memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat
Murid-murid Syafi’i di Mesir
Di antara sahabat dan pengikut Syafi’i yang menjadi muridnya di Mesir adalah sebagai berikut:
a. Abu Ya’qub Yusuf ibn Yahya al-Buwaithi
Ia adalah murid pertama Syafi’i di Mesir. Namanya dinisbahkan kepada Buwaithi, desa di Mesir. AlBuwaithi merupakan sahabat Syafi’i yang paling utama dari Mesir. Ia juga seorang imam yang mulia, taat beribadah, zahid, ahli fikih, ahli debat, dan ahli agama. Ia belajar ilmu fikih dari Syafi’i dan selalu menemaninya ke mana saja ia pergi.
Syafi’i banyak mengandalkan al-Buwaithi dalam fatwa. Ia juga sering diminta Syafi’i untuk menggantikannya mengajar di majelisnya. Al-Buwaithi lebih diutamakan ketimbang Muhamamd ibn Abdullah ibn Abdul Hakam, padahal Syafi’i sangat mencintai Abdullah ibn Abdul Hakam. Ini menunjukkan keutamaan ilmu dan kedudukannya yang tinggi di mata Imam Syafi’i.
Al-Buwaithi pernah diuji dalam masalah fitnah doktrin “kemakhlukan Al-Quran”. Ia salah seorang yang dipaksa untuk meninggalkan agamanya dan disiksa. Ia pernah ditawan cukup lama dan diasingkan dari keluarganya. Al-Buwaithi dicekal karena menolak mengucapkan bahwa Al-Quran adalah makhluk. Ia tetap bersabar di jalan Allah hingga meninggal dalam penjara dengan tetap kokoh menjaga agamanya dan tidak mengikuti apa yang diinginkan penguasa.
Seorang sipir penjara menuturkan, “Saat dipenjara, al-Buwaithi selalu mandi setiap hari Jumat, memakai minyak wangi, mencuci baju, lalu keluar penjara jika ia mendengar adzan. Kemudian seorang sipir memaksanya masuk dan berkata, ‘Kembalilah, semoga Allah merahmatimu!’ Al-Buwaithi lantas menjawab, ‘Ya Allah, aku telah memenuhi seruan-Mu, tapi mereka melarangku.”
Di antara kalimat hikmah yang dicatat oleh Imam alBuwaithi dalam penjara keAbu Ya’qub al-Buwaithi kemudian dikirim kepada Imam al-Rabi’ adalah:
“Telah datang kepadaku saat-saat aku tidak lagi merasakan pedihnya besi yang menimpa tubuhku, hingga tanganku menyentuhnya. Jika kaubaca suratku ini, perbaikilah akhlakmu terhadap orang-orang yang menghadiri halaqahmu dan bersikap baiklah kepada orang-orang asing. Aku banyak mendengar Syafi’i melantunkan bait syair ini :
Kuhinakan jiwaku untuk mereka, agar kumuliakan ia dengan mereka
Jiwa takkan dimuliakan selama ia sendiri tidak menghinakan dirinya
Imam al-Buwaithi termasuk salah seorang murid Syafi’i yang paling hebat dan pengurus halaqah Syafi’i setelah Syafi’i tiada. Ia menghafal fikih Syafi’i dan mengajarkannya, tapi ia hanya menulis kitab alMukhtashar yang ia simpulkan dari ucapan-ucapan Syafi’i. Abu Ashim berkata tentang kitab ini, “Sungguh, kitab ini sangat baik!”
Imam al-Buwaithi meninggal dunia pada 231 Hijriah di penjara Baghdad. Semoga Allah merahmatinya.
b. Al-Rabi’ ibn Sulaiman Abu Muhammad
Al-Rabi’ adalah imam kedua dari Mesir yang menjadi murid Syafi’i . Ia adalah putra Abdul Jabbar ibn Kamil al-Muradi. Tugasnya sebagai muadzin di masjid agung Fusthath hingga ia meninggal dunia. Ia orang yang mulia dan penulis buku yang terpercaya dan konsisten dalam periwayatannya.
Dalam al-Intiqa’, Ibn Abdul Barr berkata, “Ia selalu menemani Syafi’i dan banyak mendapat ilmu darinya. Ia juga yang selalu melayani Syafi’i. Setelah Syafi’i meninggal dunia, para penuntut ilmu banyak yang datang kepadanya untuk belajar dan mengaji kitab-kitab Syafi’i.”
Yaqut berkata tentangnya, “Al-Rabi’ adalah sahabat setia Syafi’i. Ia meninggal dunia pada tahun 270 Hijriah
dan dia orang terakhir yang meriwayatkan dari Syafi’i . Al-Rabi’ orang yang mulia dan penulis buku. Ia meriwayatkan semua kitab Syafi’i dan banyak orang yang mengutip darinya.”
Di akhir kitab, Manaqib Syafi’i, al-Baihaqi berkata, “Al-Rabi’ ibn Sulaiman al-Muradi adalah periwayat kitab-kitab Syafi’i. Jika kata ‘al-Rabi” disebutkan dalam periwayatan kitab-kitab, berarti dialah al-Rabi’ ibn Sulaiman. Karena, dialah yang biasa meriwayatkannya.”
Sebelum kedatangan Syafi’i ke Mesir, al-Rabi’ menuntut ilmu dari para ulama besar, di antaranya Ibn Wahab, sahabat Imam Malik, al-Laits, dan lain-lain. Banyak ulama hadis meriwayatkan darinya, seperti Nasa’i, Abu Daud, Ibn Majah, dan Tirmidzi.
Al-Rabi’ dikaruniai Allah usia yang panjang. Ia dilahirkan pada tahun 174 Hijriah dan meninggal dunia pada tanggal 20 Syawal tahun 270 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.
c. Al-Rabi’ ibn Sulaiman al-Jizi
la termasuk murid Syafi’i yang berasal dari daerah Giza. Julukannya adalah Abu Muhammad. Ilmunya di bidang fikih dan usbul fikih sangat luas, begitu juga dalam cabang-cabang mazhab Maliki sebelum datang Imam Syafi’i. Ia meriwayatkan dari Abdullah ibn Wahab, sahabat Imam Malik, Abdullah ibn Abdul Hakam, Ishaq ibn Wahab, dan lain-lain.
Banyak ulama besar meriwayatkan darinya, seperti para penulis al-Kutub al-Sittah dan sebagainya. AlRabi’ al-Jizi orang yang berakal cerdas dan toleran.
Bukti sikap toleransinya adalah ketika ia melewati satu jalan, tiba-tiba seseorang melemparkan debu ke arahnya. Ia turun dari kendaraannya dan menyingkirkan semua debu dari tubuhnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian ada yang berkata kepadanya, “Apa kau tidak mau menghardiknya?”
Ia menjawab, “Barang siapa berhak mendapatkan api neraka, tapi diganti dengan ditimpa debu, maka ia beruntung.” Maknanya al-Rabi’ merasa berhak mendapat api neraka, tapi ia tertimpa debu. Karena itu ia beruntung.
Ia meninggal pada bulan Dzul Hijjah tahun 256 Hijriah. Kuburannya berada di Giza. Semoga Allah merahmatinya.
d. Sulaiman ibn Yahya ibn Ismail al-Muzanni
Ia adalah seorang imam besar dan mulia. Ia salah seorang murid Syafi’i dan bergelar Abu Ibrahim dari Mesir. Ia pendukung mazhab Syafi’i yang sangat loyal, ahli fikih, dan ahli debat. Ia memilik pengetahuan yang luas dan kemampuan berdebat dengan baik. la orang yang warak dan zuhud. Syafi’i bertutur tentangnya, “Jika setan mengajaknya berdebat, niscaya alMuzanni akan mengalahkannya.”
Syafi’i juga berkata, “Al-Muzanni adalah sahabat mazhabku.”
Al-Muzanni bagi Syafi’i seperti Muhammad ibn al-Hasan bagi Abu Hanifah atau seperti Abu al-Qasim dan Ibn Wahab bagi Imam Malik
Al-Muzanni menulis banyak buku tentang mazhab Syafi’i, di antaranya adalah al-Jami’ al-Kabir, alJami’ al-Shaghir , al-Mukhtashar, al-Mantsûr, al-Masá’il al-Mu’tabarah, al-Watså’iq, al-Targhib fi al-Ilmi, dan lain-lain. Semuanya ia nukil dari Syafi’i.
Tentangnya, Ibn Hajar berkata, “Al-Muzanni menulis kitab al-Mabsùth dan al-Mukhtashar min ‘Iim al-Syafi’i la pakar dalam berdebat, taat beribadah, rendah hati, dan kaya jiwa.
Di antara bukti ketekunan dan ketakwaannya adalah setiap kali ia menulis satu masalah agama, terlebih dahulu ia melaksankan shalat dua rakaat. Ia sampai pada tingkat kezuhudan yang jarang sekali diraih oleh para ulama.
Sebagian ulama Khurasan, Irak, dan Syam meriwayatkan hadis dari al-Muzanni. Ia meninggal dunia pada tanggal 24 Ramadhan tahun 264 Hijriah.
e. Yunus ibn Abdul A’la al-Shadafi
Ia termasuk tokoh murid Syafi’i di Mesir. Ia bagaikan ensiklopedia berjalan di bidang agama. Ia sering meriwayatkan dari Sufyan ibn ‘Uyainah dan Abdullah ibn Wahab. Muslim, Nasa’i, Ibn Majah, dan lain-lain meriwayatkan hadis darinya.
Yunus adalah pakar sejarah dan berita-berita terdahulu, serta banyak mengenal hadis. Ia mengetahui hadis yang sahih dan yang cacat. Ia ahli membaca Al-Quran, belajar qira’ah dari Warasy dan ulama lainnya.
Yunus termasuk orang yang paling pandai pada zamannya. Ia menemani Syafi’i cukup lama dan selalu menghadiri majelisnya.
Dari Syafi’i, ia banyak mengambil hadis dan fikih. Imam Syafi’i sangat mempercayai dan membanggakannya. Ali ibn ‘Amr ibn Khalid berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, ‘Syafi’i berkata kepadaku, ‘Wahai Abu alHasan, lihatlah pintu ini (pintu pertama masjid)? Aku pun melihat pintu yang dimaksud. Ia lalu berkata, “Tak seorang pun yang masuk pintu itu lebih berakal dari Yunus ibn Abdul A’la.”
Ketika al-Qadhi Bakkar masuk ke Mesir, ia bertanya kepada Muhammad ibn al-Laits, pembesar ulama di sana, “Siapa yang harus kutanya di Mesir? Siapa yang bisa aku percaya?”
Al-Laits lalu menajwab, “Kau harus datang kepada dua orang. Pertama, orang yang berakal, Yunus ibn Abdul A’la. Kedua, hamba yang taat beribadah dari daerah Zahhad.” Ia menyebutkan namanya.
Yunus meriwayatkan banyak hikmah dari Imam Syafi’i. Di antara hikmah yang diriwayatkan darinya adalah, seperti penuturannya, “Aku mendengar satu hikmah dari Imam Syafi’i yang tidak pernah terdengar kecuali dari orang seperti dia, yaitu keridaan manusia adalah tujuan yang tak bisa diraih. Karena itu, perhatikan apa yang baik bagi agama dan duniamu. Laksanakanlah hal itu!” la juga meriwayatkan dua bait syair dari Syafi’i,
Tak ada yang bisa menggaruk kulitmu seperti kukumu Maka, lakukanlah sendiri segala urusanmu Jika kau ingin menunaikan satu hajat
Maka datangilah orang yang mengakui keutamaanmu
Yunus memiliki tingkat keilmuan yang membuat Imam Ibn Jarir al-Thabari belajar darinya. Usia hidupnya cukup panjang, yaitu 96 tahun. Semoga Allah merahmatinya.
f. Harmalah ibn Yahya ibn Harmalah at-Tajibi
Ia adalah imam terakhir yang ditinggal Syafi’i di Mesir. Tentangnya dikisahkan, “Ketika Syafi’i hijrah dari Irak ke Mesir, ia menjadi tamu di tempat Harmalah.
Harmalah adalah seorang yang sangat mulia dan terhormat. Ia memiliki kedudukan dan wibawa yang tinggi. Ia meriwayatkan banyak kitab dari Syafi’i, seperti kata Ibn Abdul Barr, yang tidak diriwayatkan oleh al-Rabi’ al-Muradi. Di antaranya kitab alSyurůth yang terdiri dari tiga juz, al-Surian, sepuluh
juz, Alwân al-Ibil wa al-Ghanam wa Shifâtuha wa Asnânuha, al-Nikah, dan lainnya yang khusus ia riwayatkan sendiri dan tak diriwayatkan oleh al-Rabi’.
Ia memiliki kedudukan dan tempat yang mulia di hati Imam Syafi’i . Ia juga lebih diutamakan dibandingkan murid-muridnya yang lain. Selain kitab-kitab yang diriwayatkan, ia juga menulis kitab al-Mabsûth dan kitab ringkasan (al-Mukhtashar) yang bertajuk Mukhtashar Harmalah. Di bidang hadis, ia termasuk perawi yang tsiqah (terpercaya).
la pernah meriwayatkan dari Ibn Wahab, murid Imam Malik, dan hubungannya sangat erat dengannya. Saat Ibn Wahab tak mau menjadi seorang hakim, ia bersembunyi di rumah Harmalah. Dari Ibn Wahab, Harmalah cukup lama mendengarkan hadis dan mendapat kesempatan yang tidak didapat orang lain. Dari Harmalah juga, Muslim meriwayatkan beberapa hadis dalam Shahih-nya. Begitu pula Ibn Majah dan Nasa’i.
Ia dianugerahi usia sampai 78 tahun. Seluruh usianya penuh dengan ilmu, kebaikan, dan berkah. Ia meninggal dunia di Mesir pada tahun 266 Hijriah. Semoga Allah merahmatinya.
g. Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Hakam
Ia termasuk salah seorang murid Imam Syafi’i yang bergelar Abu Abdullah. Ia dilahirkan tahun 182 Hijriah. Bapaknya adalah Abdullah ibn Abdul Hakam, pemimpin mazhab Maliki setelah Asyhab.
Ketika Syafi’i datang ke Mesir, Muhammad ibn Abdullah masih berusia tujuh belas tahun. Ia mulai menemani Syafi’i dan hubungan keduanya menjadi sangat erat. Ia menjadi pengikut Syafi’i yang sangat setia. Syafi’i sangat mencintainya. Di antara mereka terjalin persaudaraan yang tulus, cinta, dan kasih sayang yang murni. Dan Syafi’i sangat memuliakannya.
Al-Muzanni berkata, “Kami datang ke tempat Syafi’i untuk mendengar ilmu darinya. Kami duduk di depan pintu rumahnya. Kemudian Muhammad ibn
Abdullah ibn Abdul Hakam datang. Ia naik ke tempat Syafi’i dan berada di dalam cukup lama. Ia ikut makan bersama Syafi’i, lalu turun kembali. Setelah itu Syafi’i menemui kami dan mulai membaca kitabnya.
Seusai membacakan kitabnya, ia memberikan seekor unta kepada Muhammad untuk kendaraannya. Saat Muhammad berangkat, Syafi’i terus memerhatikannya dan bergumam, ‘Aku ingin memiliki anak seperti dia. Sekarang ini aku memiliki seribu dinar dan tidak ada lagi orang yang layak kuberikan uang itu.”
Para pembesar ulama mazhab Maliki menentang kepindahan putra pemimpin mereka ke mazhab Syafi’i
Mereka berseru kepada bapaknya, Abdullah ibn Abdul Hakam, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah beralih ke orang ini dan selalu mendatanginya.
Orang-orang mengira bahwa ia telah membenci mazhabnya (mazhab Maliki).”
Muhammad menuturkan, “Bapakku pun berusaha bersikap lembut terhadap mereka. Ia berkata, “Muhammad masih kecil. Ia masih suka melihat dan mengenali berbagai pendapat manusia? Secara rahasia, bapakku berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, datangi terus orang ini. Jika kau keluar dari negeri ini dan berbicara tentang satu masalah, lalu kau katakan ‘Asyhab (murid Imam Malik); pasti orang-orang akan bertanya padamu, ‘Siapakah Asyhab?’ Tetapi, jika kau katakan ‘Syafi’i, orang-orang langsung mengenalnya karena mereka telah mengetahui kedudukan Syafi’i.”
Muhamamd ibn Abdul Hakam menuturkan, “Akhirnya aku terus datang kepada Syafi’i dan belajar darinya.”
Muhammad banyak mendengarkan kitab-kitab Syafi’i. Orang-orang berkata, “Muhammad telah mendengar kitab Ahkam al-Qur’an darinya kitab al-Radd yang isinya merupakan jawaban terhadap pendapat Muhammad ibn al-Hasan, dan kitab al-Sunan. Ia juga meriwayatkan kitab al-Washầya dari Syafi’i.” Ia meninggal pada bulan Dzulqadah tahun 258
Hijriah. Dalam riwayat lain, tahun 268 Hijriah. Abu ‘Amr al-Sharfi berkata, “Penduduk Mesir tak ada yang menandinginya dalam keilmuan.”
Setelah Syafi’i wafat, ia meninggalkan mazhabnya dan kembali ke mazhab Maliki. Peralihannya ini dilatar belakangi pertentangannya dengan al-Buwaithi tentang orang yang berhak menggantikan Syafi’i setelah wafatnya.
Mereka semua adalah murid-murid Syafi’i yang paling terkenal. Selain mereka, Syafi’i juga memiliki murid yang tak bisa dihitung jumlahnya. Kiranya kita cukup menyebutkan beberapa ulama yang memiliki dan penyebaran mazhab Syafi’i ini. Semoga Allah merahmati semuanya.

