BAB 17. KEPERGIAN TELAH TIBA

Pujian yang Baik

Di awal kitab ini telah dipaparkan kesaksian para ulama tentang Syafi’i. Di sini kita ingin menambahkan beberapa kesaksian ulama lainnya tentang keilmuan dan keutamaan Syafi’i. Al-Fudhail ibn Dakkain berkata, “Tak pernah kami lihat dan dengar tentang orang yang lebih sempurna akalnya, lebih baik pemahamannya, dan lebih luas ilmunya daripada Syafi’i.”

Abu Tsur menuturkan, “Siapa yang mengaku bahwa ia pernah melihat orang seperti Muhammad ibn Idris dalam hal ilmu, kefasihan, dan konsistensi, berarti ia telah berdusta. Sungguh, Syafi’i tiada bandingannya pada masa hidupnya. Ketika ia telah pergi, tak ada yang mengalahkannya dan tak ada yang menyainginya.”

Sufyan ibn ‘Uyainah, guru Syafi’i, berkata, “Ketika dibacakan sebuah hadis tentang kelembutan di hadapannya, Syafi’i langsung pingsan. Ada yang menyangka

bahwa ia meninggal dunia. Jika ia meninggal, berarti orang yang paling utama pada zamannya telah pergi.”

Harun ibn Sa’id al-Aili, salah seorang syekh dan guru Imam Muslim, berkata, “Aku tidak pernah melihat orang seperti Syafi’i.”

Abu Manshur al-Azhari menuturkan, “Aku telah mengaji semua kitab yang dikarang oleh para ahli fikih negeri-negeri Islam. Kulihat kitab Syafi’i paling dalam ilmunya, paling fasih, dan paling luas wawasannya.”

Tak ada seorang pun yang melihat Syafi’i, kecuali lisannya tak henti memujinya karena keteguhan, konsistensi, dan kecerdasan akal Syafi’i. Dan tidak ada orang yang dapat me nandingi Syafi’i pada zamannya.

Imam Para Ulama

Abu ‘Ubaid al-Qasim ibn Salam berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih berakal, warak, lebih fasih, dan lebih mulia pendapatnya dari Syafi’i.”

Ia juga bertutur, “Aku tak pernah melihat seorang pun yang lebih sempurna dari Syafi’i.”

Al-Za’farani memberikan kesaksiannya, “Aku tidak pernah melihat orang seperti Syafi’i: tak ada yang lebih mulia, dermawan, bertakwa, dan lebih alim darinya.”

Basyar al-Muraisi berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih pintar daripada Syafi’i.”

Ahmad ibn Hanbal berkata, “Tak ada orang yang paling sedikit salahnya saat berbicara tentang ilmu dan lebih banyak mengambil sunnah Rasulullah saw. dari Syafi’i.”

Ia juga berkata, “Aku tidak menemukan orang yang lebih fasih dan lebih paham tentang ilmu daripada Syafi’i.”

Ishaq ibn Rahawiyah berkata, “Syafi’i adalah imam para ulama. Tak ada orang yang mengandalkan rakyu (nalar) kecuali Syafi’i lebih sedikit kesalahannya dari orang itu. Syafi’i betul-betul seorang imam.”

Para ulama berbicara tentang Syafi’i sebagai imam para ulama. Sungguh ini kesaksian yang amat agung. Jika tak layak, tak mungkin Syafi’i mendapatkan kesaksian seperti ini. Jarang sekali Syafi’i melakukan kesalahan karena keluasan dan kedalaman ilmu yang dimilikinya.

Sempurna dalam Ujian

Yahya ibn Sa’id al-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat orang yang paling berakal dan paling menguasai fikih dari Syafi’i.”

Jika disebutkan tentang Syafi’i, al-Humaidi berkata, “Pemuka para ahli fikih, Syafi’i, telah menyampaikan kepada kami …” Sesekali ia berkata, “Pemuka para ulama pada zamannya, Syafi’i, berkata ….”

Ayyub ibn Suwaid al-Ramli, salah seorang guru Syafi’i yang meninggal dunia sebelas tahun sebelum

Syafi’i, menuturkan, “Aku tidak berpikir bahwa aku bisa tetap hidup hingga bisa melihat orang seperti Syafi’i.”

Al-Junaidi berkata, “Syafi’i termasuk penuntut ilmu yang berbicara dengan lisan yang benar di bidang agama.”

Muhammad ibn al-Hasan, sahabat Abu Hanifah, berkata, “Jika ada orang yang bertentangan dengan kami dan penentangannya terbukti kuat maka orang itu adalah Syafi’i.” Ia lalu ditanya, “Bagaimana bisa?” Ia menjawab, “Karena kemampuan bayan dan konsistensinya dalam bertanya, menjawab, dan mendengarkan.”

Muammar ibn Syubaib berkata, “Aku mendengar al-Ma’mun berkata, “Aku menguji Muhammad ibn Idris al-Syafi’i dalam segala hal. Kutemukan ia sangat sempurna.”

Ini adalah kumpulan kesaksian dan pujian para terhadap Imam Syafi’i, dan pengakuan mereka akan keilmuan serta kemuliaannya. Pengakuan ini datang dari para pendukung dan penentangnya. Semoga Allah merahmati dan meridai Imam Syafi’i.

Kita tidak pernah mengenal seorang imam yang kesaksian tentangnya meluncur deras dari para pendukung dan penentang, selain Syafi’i. Hal ini karena kesempurnaan akalnya, keluasan ilmunya, kefasihan lisannya, dan kedalaman pemahamannya. Bahkan, Mu’ammar ibn Syubaib pernah berkata, “Aku telah menguji Syafi’i dalam berbagai hal, dan ketemukan ia sangat sempurna.” Semoga Allah merahmati dan meridai Syafi’i.

Doa yang Tulus

Syafi’i telah mengisi relung hati para pendukung dan penentang, guru dan murid, orang awam dan ulama, dengan cinta dan penghormatan kepadanya. Semua itu berkat karunia yang diberikan Allah untuknya berupa kemampuan dalam memahami Kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw. Selain itu, ia diberi sikap konsisten mengamalkan keduanya dalam ucapan dan tindakan. Banyak orang melihat bahwa Syafi’i memiliki jasa besar yang tak bisa dibalas oleh mereka selain dengan doa tulus untuknya.

Ahmad ibn Hanbal selalu mendoakannya dan mengakui keutamaan Syafi’i dengan berkata, “Inilah yang kalian lihat dan dapatkan secara keseluruhan dari Syafi’i. Selama 30 tahun aku selalu berdoa kepada Allah untuk Syafi’i dan memohonkan ampunan untuknya.”

Yahya ibn Sa’id al-Qaththan, imam para ahli hadis pada zamannya, berkata, “Dalam shalatku selama empat tahun ini, aku selalu berdoa kepada Allah untuk Syafi’i.”

Ia juga berkata, “Aku selalu mendoakan Syafi’i secara khusus”

Abdurrahman ibn Mahdi berkata, “Setiap melaksanakan shalat aku selalu berdoa untuk SyafiʻL”

Saat jasa seseorang semakin banyak dan orang lain tak mampu membalasnya maka yang bisa mereka lakukan hanya mendoakannya. Seperti itulah murid-murid Imam Syafi’i dan orang-orang sezamannya. Mereka tak menemukan apa yang kiranya bisa diberikan kepada Syafi’i sebagai balasan atas jasa-jasanya selain doa dalam shalat mereka.

Wasiat Syafi’i Menjelang Ajal

Al-Rabi ibn Sulaiman menuturkan, “Aku berada di samping Syafi’i saat di hadapannya dibacakan surat wasiat berikut:

Surat ini ditulis oleh Muhammad ibn Idris ibn alAbbas al-Syafi’i pada bulan Syakban tahun 203 Hijriah. Allah Tuhan Yang Maha Mengetahui isi hati menjadi saksi dan orang-orang yang mendengarnya. Syafi’i bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya; Muhammad adalah hamba dan Rasul Allah. Syafi’i tetap berpegang teguh pada kalimat ini hingga Allah mencabut nyawanya dan membangkitkannya kembali, insya Allah. Syafi’i berwasiat untuk dirinya sendiri dan orangorang yang mendengar wasiatnya:

“Hendaknya mereka menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dalam Kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, serta mengharamkan apa yang diharamkan Allah dalam Kitab-Nya dan sunnah Rasulnya. Hendaknya mereka tidak melampaui hal itu karena

dengan melampaui batas-batasnya berarti mereka meninggalkan kewajiban dari Allah. Hendaknya mereka meninggalkan apa yang bertentangan dengan Kitab dan sunnah.

Sikap melampaui batas dan melakukan hal yang bertentangan dengan Kitab dan sunnah adalah bid’ah. Hendaknya mereka menjaga kewajiban dari Allah dalam ucapan dan perbuatan, serta menjauhi apa yang diharamkan karena takut kepada-Nya. Hendaknya mereka senantiasa mengingat hari pertemuan dengan Tuhan, Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya. Ia ingin kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh (QS. Ali ‘Imran [3]: 30).

Hendaknya mereka menghinakan dunia sebagaimana Allah telah menempatkannya di tempat yang paling bawah.

Karena, Allah menjadikan dunia sebagai tempat menetap sementara. Allah menjadikan akhirat sebagai tempat menetap selamanya serta balasan atas kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan di dunia.

Hendaknya mereka berteman hanya dengan orang yang menjadi teman Allah dan yang menjadikan persahabatan hanya karena Allah.

Hendaknya mereka bergaul dengan orang yang memiliki ilmu agama dan etika di dunia. Setiap orang harus mengenal zamannya dan mengharap agar Allah menjauhkannya dari keburukan hingga tidak berlebihan dalam ucapan dan tindakan.

Hendaknya ia mengikhlaskan niatnya kepada Allah dalam ucapan dan perbuatan. Karena, hanya Allah yang menjadi Penolongnya, sementara yang lain tidak bisa mencukupinya. Ku wasiatkan ini jika kematian yang telah ditetapkan Allah atas makhluk-Nya tiba. Karena kematian itulah aku meminta penjagaan-Nya dari petaka kiamat. Aku meminta surga dan rahmat-Nya.”

Syafi’i lantas menyebutkan wasiat yang berhubungan dengan harta, anak-anak, sedekah, dan lainlain. Di akhir wasiatnya Syafi’i berkata :

“Muhammad ibn Idris menghadap Allah Yang Maha kuasa dan menghaturkan shalawat serta salam kepada Muhammad saw., hamba dan rasul-Nya. Ia juga berharap semoga Allah merahmatinya karena ia

orang yang sangat mengharapkan rahmat-Nya, dan terlindung dari neraka karena ia takut azab-Nya. Ia juga memohon kepada Allah agar memberinya peninggalan yang terbaik untuk kaum mukmin, melindungi mereka dari maksiat, dan menghapuskan kebergantungan mereka kepada makhluk Allah.

Siapa yang usianya diisi dengan menuntut ilmu dan berjuang mengikuti kebenaran maka wasiatnya pasti akan penuh dengan hikmah dan nasihat. Syafi’i berwasiat agar kita menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, mengikuti Kitab dan sunnah, melaksanakan kewajiban, manjauhi yang haram, mengingat akhirat, menemani orang-orang yang bertakwa, dan mengikhlaskan niat kepada Allah. Ia juga memohon kepada Allah untuk keluarga dan anak-anaknya, agar Allah menghapuskan musibah sepeninggalnya dan tetap menjadikan mereka baik setelah kepergiannya.

Sakit Menjelang Ajal

Sakit yang diderita Syafi’i sebelum ajalnya adalah sakit sembelit (ambeien) yang ia alami saat di Mesir. Syafi’i menduga penyakitnya ini timbul karena ia terlalu sering mengikat kepala saat menghafal. Syafi’i menuturkan, “Aku sering mengikat kepala saat menghafal hingga timbul penyakit akibat peredaran darah yang tidak lancar selama setahun.”

Akibat penyakit yang dideritanya ini, darah selalu keluar dari tubuhnya. Saat ia naik kendaraan, darah keluar dari dua tumitnya. Ia selalu mengenakan kain perban di kakinya. Tak seorang pun mengalami penyakit seperti yang diderita Syafi’i ini. Pendarahan membuatnya lemah dan tak berdaya.

Meski penyakit yang dideritanya ini cukup berat selama empat tahun, Syafi’i tidak berhenti berjuang hingga ia berhasil mencatat ribuan lembar ilmu sambil terus belajar, meneliti, berdebat, serta membaca siang dan malam. Seakan semua tekad dan semangatnya dalam menuntut ilmu ini merupakan obat satu-satunya untuk penyakitnya.

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Syafi’i tinggal di sini selama empat tahun. Ia berhasil menulis sebanyak 1.500 lembar catatan. Ia juga men-takhrij 2.000 halaman kitab al-Umm dan kitab al-Sunan, serta yang lainnya. Semuanya ia lakukan dalam 4 tahun.”

Sakit Syafi’i Bertambah Parah

Saat sakitnya bertambah parah, darah yang mengalir dari luka Syafi’i semakin deras hingga ketika ia naik kendaraan, darah itu membasahi celana, sepatu, dan kendaraannya.

Al-Rabi’ menuturkan, “Aku bertanggung jawab mengurusi semua harta Syafi’i sampai ia meninggal dunia. Ia memperkenankan aku menggunakan harta tiga kali.

Saat sakit, ia berkata, “Wahai anakku, orang-orang tak tahu etika. Ada sekelompok orang yang datang menemuiku, tapi mereka mengira bahwa aku tidak mengizinkan mereka masuk.

Mereka tidak tahu bahwa aku sedang sakit. Jika kau berkenan, duduklah di ruangan depan tangga. Jika orang-orang datang, turunlah dan katakan pada mereka bahwa aku sedang sakit. Kasur dan bantal Syafi’i pun dilubangi, sementara kain lap diletakkan di bawahnya. Jika orang-orang datang, aku turun menemui mereka.

Kukatakan pada mereka bahwa Syafi’i sakit. Mereka pun pulang dengan kecewa. Jika aku kembali naik dan menemui Syafi’i, ia bertanya, ‘Siapa yang datang hari ini?’ Kujawab, ‘Fulan dan fulan’ Ia lalu berkata, “Semoga Allah membalas kebaikanmu, wahai Rabi. Aku tidak pernah melakukan apa-apa untukmu. Demi Allah, jika aku bertahan hidup, aku akan melakukan apa saja untukmu. Semoga Allah merahmatinya.”

Yunus ibn Abdul A’la berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang mengalami penyakit seperti yang dialami Syafi’i. Suatu hari aku menemuinya, lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Musa, bacakan untukku ayat-ayat al-Ma’idah sesudah ayat 120.

Ringankan bacaannya dan jangan terlalu berat! Aku pun membacanya. Dan ketika aku ingin berdiri, ia berkata, “Jangan kautinggalkan aku. Aku sedang menderita.”

Yunus menambahkan, “Dengan bacaanku akan ayat-ayat itu, Syafi’i merasakan penderitaan seperti yang pernah dialami Rasulullah dan para sahabatnya.”

Antara Harapan dan Rasa Takut Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Al-Muzanni menjenguk Syafi’i saat sakit menjelang ajalnya. Ia lalu bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu, wahai Guruku?’ Syafi’i menjawab, ‘Sepertinya aku akan pergi dari dunia ini dan berpisah dengan saudara saudaraku. Aku akan meminum air dari gelas kematian dan menjumpai Allah dengan membawa amal burukku.”

Al-Rabi’ melanjutkan, “Kemudian Syafi’i memandang ke atas dan mendesah. Ia lalu melantunkan sepotong syair :

Kepada-Mu, Tuhan semua makhluk

kuangkat hasratku

Walau aku seorang pemaksiat, wahai Tuhan Pemilik karunia

Ketika hatiku keras dan tempatku pergi telah sempit Aku menjadikan harapanku akan ampunan sebagai tangga

Dosaku semakin bertambah besar, dan ketika kubandingkan dengan ampunan-Mu

ternyata ampunan-Mu lebih besar

Nasihat Syafi’i Menjelang Kematian

Kumpulan Nasihat

Diriwayatkan dari al-Muzanni, “Aku masuk menemui Muhammad ibn Idris al-Syafi’i menjelang wafatnya. Aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu, wahai Abu Abdullah?’ Syafi’i menjawab, “Sepertinya aku akan pergi dari dunia ini dan berpisah dengan saudara-saudaraku. Aku akan meminum air dari gelas kematian dan menjumpai Allah dengan membawa amal burukku. Aku tidak tahu, akankah aku masuk surga hingga aku bahagia, ataukah akan ke neraka hingga aku menderita?’

Kataku kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, nasihatilah aku!

la berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dan ingatlah selalu akhirat dalam hatimu Jadikan kematian selalu di matamu dan jangan kau lupa keadaanmu kelak di hadapan Allah.

Jadilah selalu bersama Allah dan jauhi larangan-Nya, tunaikan kewajiban-Nya dan berjalanlah di jalan kebenaran di mana pun kau berada.

Jangan kauanggap remeh nikmat Allah kepadamu, walaupun sedikit. Terimalah ia dengan rasa syukur. Jadikan diam mu sebagai tafakkur, bicaramu sebagai zikir, dan pandanganmu sebagai usaha mengambil pelajaran. Maafkan orang yang menzalimi mu, jalin silaturahmi dengan orang yang ingin memutuskannya, bersikap baiklah kepada orang yang bersikap buruk kepadamu, bersabarlah atas musibah, dan mintalah ampunan Allah dari neraka dengan takwa!’

Aku lalu berkata, “Tambah lagi, wahai Abu Abdullah!

Ia melanjutkan, “Jadikan kejujuran sebagai lisanmu, menjaga amanat sebagai tiangmu, rahmat sebagai buahmu, syukur sebagai pembersihmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang sebagai hiasanmu, Al-Quran sebagai kecerdasanmu, ketaatan sebagai hidupmu, keridaan sebagai amanatmu, pemahaman sebagai mata hatimu, harapan sebagai kesabaranmu, takut sebagai pakaianmu, sedekah sebagai

pelindungmu, zakat sebagai bentengmu, rasa malu sebagai pemimpinmu, kesabaran sebagai menterimu, tawakal sebagai tamengmu, dunia sebagai penjaramu, kemiskinan sebagai tempat tidurmu, kebenaran sebagai penuntunmu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, AlQuran sebagai temanmu berbicara, dan Allah sebagai Penghiburmu. Barang siapa menjadikan semua ini sebagai sifatnya maka surga akan menjadi tempatnya.”

Al-Muzanni meminta Syafi’i menasihatinya sebelum ia wa fat. Syafi’i mewasiatkan kepadanya agar ia bertakwa kepada Allah, mengingat akhirat, mengikuti kebenaran, sabar, berbuat baik, dan melaksanakan hal-hal yang mengantarkan ke surga.

Dokter pun Akan Mati!

Al-Muzanni menuturkan, “Aku menjenguk Syafi’i saat ia sakit. ‘Bagaimana keadaanmu? tanyaku kepadanya. Ia menjawab, ‘Aku seperti di antara perintah dan larangan, seperti memakan rezekiku dan menanti ajalku? Aku lalu berkata kepadanya, ‘Maukah kau kubawakan seorang dokter?’ Ia menjawab, ‘Lakukanlah! Aku pun membawa seorang dokter Nasrani. Dokter itu mulai memeriksa Syafi’i. Saat Syafi’i menyentuh tangan sang dokter, ia malah merasakan bahwa dokter itu sedang menderita satu penyakit. Syafi’i lalu berkata,

Dokter datang memeriksaku, dan aku pun memeriksanya

Ternyata dokter itu tengah mengalami satu penyakit Ia terus mengobatiku padahal ia sakit Sungguh aneh, matanya tampak sangat redup

Setelah beberapa hari, dokter itu meninggal dunia. Kepada Syafi’i dikatakan bahwa dokter itu telah meninggal. Ia lalu berkata :

Seorang dokter dengan keahlian dan obatnya Tidak bisa menghalangi apa yang telah ditetapkan oleh qadha

Mengapa seorang dokter meninggal dengan penyakit Yang terkadang ia sembuhkan

Orang yang mengobati dan orang yang diobati akan binasa

Begitu pula orang yang membawa obat, menjual, dan membelinya

Akhir Perjalanan

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Pada waktu maghrib, malam di mana Syafi’i meninggal dunia, Ibn Yaqub, sepupunya, berkata kepadanya, ‘Mari kita shalat?’ Syafiʻi menjawab, “Kalian duduk saja dahulu. Tunggulah aku keluar. Kami pun turun lalu naik kembali. Kemudian kami berkata, “Kami telah melaksanakan shalat. Semoga Allah menyembuhkanmu. Ia menjawab, ‘Ya. la lalu meminta air, padahal ketika itu musim dingin. Sepupunya berkata, ‘Campurkan air itu dengan air hangat. Tetapi Syafi’i berkata, “Tidak.

Campurkan dengan perasan tanaman quince. Setelah isya, Syafi’i menghembuskan napasnya yang terakhir. Semoga Allah merahmatinya.”

Tanggal Wafat Syafi’i

Al-Rabi’ ibn Sulaiman berkata, “Syafi’i meninggal dunia pada malam Jumat, setelah isya, di penghujung bulan Rajab. Kami menguburkannya pada hari Jumat. Setelah itu kami melihat hilal bulan Syakban tahun 204 Hijriah. Syafi’i meninggal dunia dalam usia 54 tahun. Inilah riwayat yang paling terkenal di kalangan perawi tentang usia Syafi’i.

Pengiringan dan Penguburan Jenazah Syafi’i

Ketika jenazah Syafi’i diusung ke pembaringannya yang terakhir, jasadnya dipanggul orang-orang dari kota Fushthath Mesir hingga ke pekuburan Bani Zahrah. Daerah pekuburan itu juga dikenal dengan Turbah Ibn Abdul Hakam.

Dalam kitab Mu’jam al-Adibbâ disebutkan, “Syafi’i dikuburkan di sebelah barat parit, di pekuburan Quraisy. Di sekelilingnya terdapat kuburan orangorang dari Bani Zahrah, keturunan Abdurrahman ibn Auf al-Zuhri dan lainnya.

Letak kuburan Syafi’i sudah masyhur di kalangan para sejarawan dari generasi ke generasi hingga sekarang ini. Kuburan Syafi’i terletak di sebuah pelataran di samping dua kubur lain di bawah satu atap.

Kuburan itu terletak di sebelah barat parit, tepatnya berada di antara parit dan tempat pertemuan masyarakat. Dua kuburan di samping kubur Syafi’i adalah kuburan Abdullah ibn Abdul Hakam yang meninggal pada 214 Hijriah dan kuburan putranya, Abdurrahman ibn Abdullah ibn Abdul Hakam yang meninggal pada 257 Hijriah.

Tentang kuburan Syafi’i ini, al-Nawawi berkata, “Kuburan Syafi’i di Mesir mendapatkan penghormatan yang layak berdasarkan kedudukan sang imam.”

Jenazah Syafi’i diusung di atas pundak manusia dari Fusthath Mesir ke pekuburan Bani Zahrah. Letak kubur Syafi’i di sana sudah terkenal di kalangan para sejarawan.

Dukacita yang Mendalam

Orang-orang terhentak mendengar kematian Syafi’i. Kesedihan dan dukacita melanda wajah para ulama dan murid-muridnya. Majelis Syafi’i menjadi kosong dari ulama yang biasa belajar, menuntut ilmu, menelaah, dan berdebat dengannya.

Ada seorang Arab Badui mengungkapkan rasa kehilangannya dengan berdiri di tengah kerumunan massa, sesaat setelah kematian Syafi’i. Ia berseru, “Di mana bulan dan matahari majelis ini?” Orang-orang menjawab, “Ia telah tiada!” Sontak ia menangis tersedu-sedu.

Ia berkata, “Semoga Allah merahmati dan mengampuninya. Dengan kemampuan bayannya, Syafi’i telah membuka pintu hujjah yang lama tertutup, meluruskan musuhmusuhnya dengan argumentasi yang kuat, membersihkan wajah yang hitam karena aib dan cela. Dengan pendapatnya ia memperluas pintu yang tersumbat!” Orang itu lalu beranjak pergi.

Mimpi Orang-orang tentang Syafi’i

Banyak orang saleh dan taat ibadah bermimpi tentang Syafi’i. Ini menunjukkan kebesaran pribadinya, ketinggian derajatnya, dan keagungan kedudukannya. Selain itu, hal ini menandakan bahwa banyak orang yang merasa kehilangan Syafi’i dan para ulama yang ikhlas dan senantiasa mengamalkan ilmunya. Di bawah ini kami sebutkan beberapa contoh mimpi mereka tentang Syafi’i:

Al-Rabi’ menuturkan, “Aku bermimpi bahwa Adam a.s. meninggal dunia. Orang-orang ingin membawa jenazahnya. Pada pagi hari, aku bertanya kepada seorang ulama tentang hal ini. Ia menjawab, ‘Ini menandakan kematian seseorang yang paling berilmu di muka bumi.

Sesungguhnya Allah telah mengajari Adam semua nama. Semua nama yang diajarkan hanya sedikit hingga Syafi’i meninggal dunia.”

Al-Rabi’ ibn Sulaiman al-Mashri juga berkata, “Abu al-Laits al-Khaffaf berkata kepadaku, ‘Pada malam Syafi’i meninggal dunia, aku bermimpi seakan orang-orang berseru bahwa Nabi saw. meninggal dunia hari ini. Seakan aku melihat jenazah beliau dimandikan di majelis Abdurrahman al-Zuhri, tepat di masjid jami

Kemudian dalam mimpi itu ada yang berkata kepadaku, ‘Jenazahnya akan dibawa keluar setelah asar. Pada pagi hari, ada yang memberitahukan aku bahwa Syafi’i telah meninggal dunia dan kudengar bahwa jenazahnya akan diiring setelah Jumat. Aku lalu bergumam, ‘Ini persis seperti yang kulihat dalam mimpi. Kemudian kudengar orang-orang berkata bahwa jenazah Syafi’i akan diusung setelah asar. Kulihat dalam mimpi, seakan di samping Syafi’i ada satu kasur seorang perempuan yang berantakan.

Kemudian penguasa Mesir berpesan agar jenazah itu tidak dibawa kecuali setelah asar. Akhirnya jenazah Syafi’i ditahan dahulu hingga asar tiba.”

Al-Azizi berkata, “Ketika jenazah Syafi’i dipersiapkan dan ketika aku sampai di tempat yang luas, aku melihat satu kasur seperti kasur perempuan yang berantakan bersanding dengan kasur Syafi’i.”

Malam di mana Syafi’i meninggal dunia, Abu al-Laits bermimpi seakan mendengar ucapan seseorang, “Nabi saw. meninggal dunia, dan jenazahnya akan dibawa setelah asar.” Pada pagi hari, ada orang berkata kepadanya bafiwa Syafi’i telah meninggal dunia dan jenazahnya diusung orang-orang setelah asar.

Mimpi al-Azizi

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman al-Azizi, “Pada malam Syafi’i meninggal dunia, aku bermimpi dibawakan keranda yang di atasnya terdapat tilam, di atasnya lagi ada seorang laki-laki dengan kafannya. Kemudian ia diletakkan di dalam rumah. Aku mendengar seseorang berseru, ‘Malam ini Nabi saw. telah meninggal dunia. Pada pagi hari, Syafi’i pun dibawa di atas keranda seperti keranda tersebut, di atas tilam seperti tilam itu, dan dengan kafan seperti kafan tersebut.”

Mimpi al-Anthaki

Diriwayatkan dari Utsman ibn Kharzad al-Anthaki, “Aku bermimpi seakan kiamat telah tiba. Allah sepertinya telah menetapkan keputusan-Nya. Seakan semua makhluk dikumpulkan. Dan tiba-tiba seseorang berseru dari dalam Arsy, ‘Masukkan Abu Abdullah,

masukkan Abu Abdullah, masukkan Abu Abdullah, dan masukkan Abu Abdullah ke surga …! Aku lalu berkata kepada malaikat yang ada di sebelahku, ‘Siapa mereka yang bernama Abu Abdullah itu?’ Ia menjawab, “Yang pertama adalah Malik ibn Anas. kedua adalah Sufyan al-Tsauri. Yang ketiga adalah Syafi’i dan yang keempat adalah Ahmad ibn Hanbal? Semoga Allah meridai mereka semua.

Mimpi Abdullah al-Hasyimi

Abdullah ibn Muhammad ibn Ya’qub al-Hasyimi, orang yang sangat jujur, berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Nabi saw. Beliau berkata kepadaku bahwa Syafi’i al-Muththalibi telah berada di surga.” Atau, Syafi’i telah menjadi ahli surga.

Jika mimpi ini menunjukkan satu hal maka tak lain membuktikan kebesaran derajat dan tingginya kedudukan Imam Syafi’i. Bahkan, ini sebentuk berita gembira tentangnya. Se moga Allah merahmatinya karena ia termasuk ulama yang ikhlas dan senantiasa mengamalkan ilmunya.

Penutup

Demikianlah seorang ulama kaum muslim, imam, dan pembesar mereka, telah meninggal dunia setelah mewariskan khazanah ilmu untuk kita semua di bidang fikih, ushul fikih, dan lainnya. Ia hidup dalam usia yang terbilang singkat dibandingkan panjangnya zaman. Akan tetapi umur yang singkat itu penuh dengan semangat, kesungguhan, amal, dan usaha yang tiada henti. Sejak kecil hingga wafat, Syafi’i tak pernah bosan belajar dan mengajar. Syafi’i memang telah meninggal dunia, tapi jasa-jasa dan ilmunya tidak akan hilang dan terus mengisi kehidupan hingga saat ini, bahkan mungkin hingga hari kiamat. Semoga Allah merahmati imam yang mulia ini dan mem

berikan manfaat ilmunya kepada kita semua. Amin.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai