Biografi Imam Jalaluddin As Suyuthi

A. Periodisasi

Imam Suyuthi termasuk syakhshiyaat fariidah (ulama yang berkepribadian istimewa) yang telah memberi andil besar dalam berkhidmat terhadap turats islami (khasanah keislaman di bidang ilmu), terutama di bidang tafsir dan hadits. Namun demikian dia berada dalam dua keadaan yang berlawanan: sebagian orang menyanjungnya hingga sampai tingkat tertinggi di antara para ulama, dan sebagian yang lain mencelanya
hingga sampai tingkatan terendah. Ketika demikian, maka ada baiknya sebelum mengenal beliau lebih jauh dan sebelum menentukan suatu keputusan, kita menyampaikan pandangan singkat tentang kondisi zaman pada masa beliau, baik dari sisi sosial, politik, dan ilmiah, karena bi’ah (lingkungan) memiliki pengaruh terhadap pembentukan pribadi para
tokoh dalam setiap zaman. Dari sisi politik, Imam Suyuthi hidup pada masa daulah (kekuasaan) Mamalik Burjiyyah atau Jaraksah. Ia dilahirkan
pada tahun 849 H. dan wafat pada tahun 911 H. Pada masa itu dikenal dengan masa keguncangan, tidak ada ketenangan dan banyak tersebar kezaliman. Cukup kita ketahui bahwa Imam Suyuthi hidup pada masa sultan-sultan, meskipun masa kepemimpinan mereka pendek, kurang lebih 10 tahun, dan dalam satu tahun pernah berganti tiga sultan, yaitu: 1. Raja yang Mulia Abu Nashar al-Inali al-Muayyadi, 2. Abu Sa’id Tamrigha adz Dzahiri, dan 3 Raja yang Mulia Qaitabay al-Mahmudi. Mereka bertiga telah berebut singgasana kekuasaan dalam masa kurang dari satu tahun, dan masing-masing dari mereka telah mengambil alih kekuasaan dari yang lainnya. Inilah yang terjadi pada Mamalik al-Ajlaab yang mengobarkan berbagai fitnah, hingga sampai tingkat mereka melarang para umara’ untuk melayani umat1.
Kondisi politik yang guncang seperti inilah tentu mau tidak mau memberikan dampak pada penduduknya, dan di antaranya adalam Imam Suyuthi. Adapun dari segi sosial, maka pada masa itu terkenal dengan kondisi rapuh dan tidak terikat dengan kokoh, dan cukuplah kita ketahui bahwa masyarakat pada saat itu terpecah menjadi beberapa tingkatan (kelas-kelas) yang saling bertentangan dan bermusuhan, tidak ada keterikatan di antara mereka, tidak ada tujuan yang menyamakan di antara mereka. Jika keadaan mereka dari segi politik demikian yaitu kerusakan dan keguncangan, dan dari segi sosial mereka rapuh dan tidak kokoh, maka dari segi ilmiah pun tidak terbayangkan. Padahal sebelumnya secara ilmiah mereka maju, berkembang, dan bangkit. Penyebabnya adalah hal-hal sebagai berikut:

  1. Perpindahan para ulama dari wilayah timur yang mengalami kekerasan oleh tentara Mongolia dan dari barat yang terjadi kekerasan oleh tentara Spanyol, menuju Mesir, Syam, dan sebelah selatan Maroko yang di wilayah tersebut tidak terjadi serangan dari tentara Mongolia dan Spanyol.
  2. Banyaknya lembaga keilmuan dalam bentuk sekolah-sekolah yang telah didirikan sebelum masa Mamalik dan banyaknya mesjid serta perpustakaan.
  3. Banyaknya tanah wakaf yang diberikan kepada para ulama dan santri santrinya, sehingga telah terjadi kompetisi dari para sultan, umara’,
    dan ahli bait serta orang-orang kaya, ulama, para pedagang, dan para profesional untuk membangun lembaga-lembaga keilmuan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
  1. Semangat para ulama untuk membuat lembaga ensiklopedia ilmiah
    untuk menggantikan apa-apa yang telah dihancurkan tentara Tartar dari Mongolia dan kaum Salib dari Barat.
  1. Ini terjadi pada tahun 872 H. Lihat kitab An-Nujum Azzahirah fi Mulk Mishr wal Qahirah, jilid 16 h. 356-396.

Di tengah-tengah situasi dan kondisi seperti itulah maka Imam Jalaluddin as-Suyuti tumbuh dan berkembang serta telah mengambil kebaikan-kebaikan pada zamannya meskipun ia juga telah mengambil atau telah terimbas oleh berbagai keburukan meski sedikit.

B. Biografi

Nama dan Nasabnya

Ia adalah Al-Hafidz Abdurrahman bin Kamal Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiquddin Ibnul Fakhar Utsman bin Dhadhirruddin al-Hammam al-Hadhairi al-Usyuti2. Pemilik kitab Mu’jam al-Muallifin menambah dengan sebutan Ath-Thaluni al-Mishri asy-Syafi’i3. Beliau diberi gelar “laqab” dengan Jalalluddin dan kunyah-nya: Abu al-Fadhal. Nasabnya disandarkan pada ashlin ‘ajami (keturunan non-Arab). Ia pernah menceritakan tentang dirinya, kemudian berkata, “Telah bercerita kepadaku orang yang aku percaya bahwa dia mendengar dari orang tuaku (semoga Allah merahmatinya). Ia menyebutkan bahwa kakeknya yang tertinggi berasal dari ‘ajam (non-Arab) dan dari wilayah timur4.” Imam Suyuthi rahimahullah berkata, “Adapun kakekku yang tertinggi adalah Hamamuddin. Dia termasuk ahlul haqiqah dan termasuk masyayikhut thariqah. Dari dia melahirkan para tokoh dan pemimpin, di antara mereka ada yang memegang kekuasaan di negaranya, ada pula yang memegang hisbah (amanah dakwah), dan di antara mereka ada yang menjadi pedagang. Saya tidak mengetahui dari mereka yang berkhidmat di bidang keilmuan dengan sebenarnya selain ayahku5.”

  1. Lihat kitab Husnul Muhadharah Lissuyuti, jilid I h. 335, cetakan: Isa Al-Baabi Al-Halabi.
  2. Lihat kitab Mu’jam al-Mualifin karya Umar Ridha Kahalah, jilid V h. 128 Beirut.
  3. Lihat kitab Syadzarat adz-Dzahab, jilid 8 h. 51.
  4. Lihat kitab Husnul Muhadharah, jilid I, h. 335, dan Hidayatul ‘Arifin, jilid I, h. 534, cetakan: Teheran.

Tempat Kelahiran dan Pertumbuhannya

Imam Suyuthi rahimahullah dilahirkan di wilayah Suyuth, Mesir, setelah Maghrib pada malam Ahad pada awal bulan Rajab tahun 849 H. Demikian ia menyebutkan tempat tanggal lahirnya, dan demikian para ahli sejarah sepakat, tidak ada yang berbeda kecuali Ibnu Iyas dan Ismail Basya al-Baghdadi. Keduanya berpendapat bahwa kelahiran Imam Suyuthi di bulan Jumadil Akhir. Imam Suyuthi pada masa pertumbuhannya adalah seorang yatim. Ayahnya meninggal dunia pada malam Senin, 5 Shafar 855 H. yaitu pada saat ia berusia enam tahun6.

Perjalanan Mencari Ilmu Imam

Imam Suyuthi menghafal Al-Qur’an pada usia dini. Ia telah menyempurnakan hafalannya sebelum mencapai umur delapan tahun, juga menghafal kitab-kitab, seperti Al-‘Umdah, Minhaj al-Fiqh wal Ushul, dan Alfiyah Ibnu Malik. Beliau aktif dengan keilmuan pada saat berusia enam belas tahun, yaitu mulai awal tahun 864 H. Ia telah mengambil ilmu fikih dan nahwu dari sejumlah ulama, dan telah mengambil ilmu faraidh dari seorang alim pada masanya, yaitu Syekh Syihabuddin asy-Syarmasahi. Ia juga bermulazamah dengan Syekhul Islam al-Bulqini dalam bidang fikih hingga wafat, kemudian ber-mulazamah dengan putranya yaitu Ilmuddin al-Bulqini. Beliau ber-mulazamah pula dengan ustadzul wujud Muhyiddin al-Kafiyaji selama empat belas tahun, sehingga ia mengambil darinya berbagai bidang ilmu, seperti tafsir, ushul, ‘arabiyyah, dan al-makna. Muhyiddin telah menulis ijazah untuknya di bidang ilmu-ilmu tersebut.
Imam Suyuthi banyak melakukan rihlah (perjalanan) untuk mencari ilmu. Beliau pergi ke Al-Fuyum, Al-Mahallah, dan Dimyath, serta melakukan perjalanan jauh ke negeri Syam, Hijaz, Yaman, Hindia, dan Maroko.

Keluasan dan Kedalaman Ilmunya

Imam Suyuthi dikaruniai rezeki oleh Allah SWT ilmu yang luas dalam tujuh bidang keilmuan, yaitu tafsir, hadits, fikih, nahwu, al-makna, al-bayan, dan al-badi’ sebagaimana metode orang-orang Arab yang ahli di bidang sastra

6. Lihat kitab Nadzam al-‘Uqyan fi A’yan, karya As-Suyuthi, h. 95.

Beliau telah memberikan pernyataan tentang ilmu-ilmu tersebut hingga berani menantang guru-gurunya. Beliau berkata, “Sesungguhnya ilmu yang telah aku capai dari tujuh bidang ilmu selain fikih dan nuqul, adalah sesuatu yang tidak dicapai oleh seorang pun dari guru-guruku.”

Beberapa Kajian yang Diikutinya

Imam Suyuthi telah menghadiri majelis Syekh Saifuddin al-Hanafi dengan pelajaran yang cukup banyak dalam kitab Al-Kassyaf dan At-Taudhih. Orang tuanya pun telah menghadirkan dia ke majelis Al-Hafidz Ibnu Hajar, dan pernah membaca kitab Shahih Muslim pada Syekh as-Sairafi kecuali sedikit dari Shahih Muslim, dan kitab Asy-Syifa’, Alfiyah Ibnu Malik, Syarah asy-Syudzuur, Al-Mughni, dalam ushul fiqh Mazhab Hanafi dan Syarah al-‘Aqaid karya At-Taftazani. Beliau juga telah membaca kitab Al-Kafiyah dan syarahnya pada as-Syams al-Maruzbani al-Hanafi, dan memperdengarkan padanya kitab Al-Mutawassith dan Asy-Syafiyah serta
syarahnya karya Al-Jarudi dan dari kitab Alfiyah al-‘Iraqi. Imam Suyuthi juga menghadiri berbagai kajian ilmu Imam al-Bulqini. Beliau membaca padanya berbagai kitab yang tidak terhitung banyaknya, juga ber-mulazamah dengan Syekh Syaraf al-Manawi hingga wafat dan membaca padanya kitab-kitab yang tidak terhitung jumlahnya. Beliau juga berkomitmen dengan berbagai kajian Syekh Saefuddin Muhammad bin
Muhammad al-Hanafi dan berbagai kajian Al-‘Allamah asy-Syamani serta
berbagai kajian Al-Kafiyaji7. Meskipun demikian, Imam Suyuthi telah berbicara tentang dirinya bahwa dia tidak banyak mendengarkan riwayat karena kesibukannya dengan sesuatu yang lebih penting, yaitu qira’atud dirayah (membaca ilmu).

Guru-Guru dan Murid-Muridnya

Imam Suyuthi rahimahullah telah menghitung guru-gurunya, mereka berjumlah sekitar seratus lima puluh (150) guru. Di antara mereka yang terkenal adalah: Ahmad asy-Syarmasahi, Umar al-Bulqini, Shaleh bin Umar bin Ruslan al-Bulqini, Muhyiddin al-Kafiyaji, dan al-Qadhi Syarafuddin al-Manawi. Banyak para ulama yang pernah berguru kepada Imam Suyuthi. Di antara yang paling menonjol adalah: Al-‘Allamah al-Muhaddits al-Hafidz

7. Lihat kitab Syudzur az-Zahab karya Ibnu al-‘Imad al-Hanbali, jilid VIII, h. 51.

Syamsuddin Muhammad bin Ali bin Ahmad ad-Dawudi al-Mishri asy-Syafi’i.
Imam Suyuthi pernah bersahabat pada waktu belajar dan mendengar bersama sejumlah ulama, seperti Syamsuddin as-Sakhawi dan Ali al Asymuni.

Akidahnya

Tampak dari apa yang beliau tulis tentang pembelaannya pada shahabat Nabi saw., dan dari apa yang telah ia susun tetap berpegang pada As-Sunah, dan ia termasuk ulama yang bermazhab “Ahlus Sunah”. Tidak diketahui dari padanya selain itu kecuali kecenderungannya pada tasawuf, sebab mengikuti kakeknya yang tertinggi, “Hamamuddin”. Tetapi ilmunya tentang Al-Qur’an dan As-Sunah telah menjaganya dari berbagai tasharruf (perilaku) yang ada pada sebagian ahli tasawuf yang jauh dari Al-Qur’an dan As-Sunah.

Atsar (Peninggalan Karya-Karyanya)


Ketika umurnya mencapai 40 tahun, beliau uzlah dari manusia dan mengkhususkan waktunya untuk mengarang dan menulis, sehingga selama kurang lebih 22 tahun dapat mengisi perpustakaan Islam dengan berbagai mushannafaat (kitab-kitab ilmiah), bahkan sebagian ulama ada yang menghitung buku-buku karyanya hingga sampai 600 lebih dalam berbagai bidang keilmuan, seperti tafsir dan ilmu-ilmu tafsir, hadits dan ilmu-ilmu hadits, fikih dan ushul fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dengan cabang cabangnya, sirah, dan tarikh.
Pemilik kitab Hadiyyatul ‘Arifin telah menyebutkan jumlah yang besar
dari kitab-kitab karyanya mendekati jumlah tersebut, dan Imam Suyuthi sendiri juga mengaku demikian. Dengan demikian maka kehidupan Imam Suyuthi telah dipenuhi dengan al-bahtsu wat-ta’lif (meneliti dan mengarang). Ia telah menahan dirinya untuk itu di rumahnya, di Raudhatil Miqyas dan tidak berpindah dari tempat itu. Beliau terus demikian hingga wafat setelah mengalami sakit selama tujuh hari disertai pembengkakan berat di lengan kirinya. Beliau wafat pada hari Kamis, 19 Jumadil Ula 911 H. di rumahnya dan disemayamkan di Husy Qausun.

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai