Mengenal al-Makki dan al-Madani (*Al Itqon)

Ada sejumlah ulama yang membahas masalah ini secara khusus (dalam satu kitab tersendiri), di antaranya Imam Makki dan al-‘Izzu ad-Dairini. Di antara faedah mengetahui masalah al-Makki dan al-Madani ini adalah mengetahui yang terakhir (dari turunnya ayat), sehingga dapat diketahui apakah ia berposisi sebagai nasikh (yang menghapus ayat sebelumnya) atau sebagai mukhassis (yang mengkhususkan terhadap ayat sebelumnya yang bersifat ‘aam). Ini menurut pendapat ulama yang berpandangan tentang ta’khir-nya (posisi terakhirnya) mukhassis. Abul Qasim Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisaaburi berkata di dalam kitab at-Tanbih ‘alaa Fadhli ‘Ulumul Qur’an, “Di antara yang paling mulia dari ulum Al-Qur’an adalah ilmu tentang turunnya Al-Qur’an, sasarannya, tartib (urutan) ayat yang diturunkan di Makkah dan di Madinah, apa yang diturunkan di Makkah tetapi hukumnya di Madinah, apa yang diturunkan di Madinah tetapi hukumnya di Makkah, apa yang diturunkan di Makkah tetapi untuk orang orang Madinah, apa yang diturunkan di Madinah tetapi untuk orang-orang Makkah, apa yang mirip dengan Makki sementara ia Madani, dan apa yang mirip dengan Madani sementara ia Makki, apa yang diturunkan di kota Juhfah, apa yang diturunkan di Baitulmaqdis, apa yang diturunkan di Thaif, apa yang diturunkan di Hudaibiyah, apa yang diturunkan di waktu malam, dan apa yang diturunkan di waktu siang, apa yang diturunkan dengan diiringi malaikat dan apa yang diturunkan secara sendiri, ayat-ayat Madaniyyah tetapi berada di dalam surat-surat Makkiyyah, ayat-ayat Makkiyyah tetapi berada di dalam surat-surat Madaniyyah, apa yang dibawa dari Makkah ke Madinah, apa yang dibawa dari Madinah ke Makkah, apa yang dibawa dari Madinah ke negeri Habasyah (Ethiopia), apa yang diturunkan secara mujmal (global), dan apa yang diturunkan secara mufassar (diterangkan), dan apa yang diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mereka mengatakan bahwa itu Madani dan sebagian yang lain mengatakan itu Makki.”
Inilah lima puluh macam, barangsiapa tidak mengetahuinya dan tidak
dapat membedakan di antara yang ada maka tidak halal baginya untuk
berbicara tentang Kitabullah Ta’ala (Al-Qur’an). Saya (Imam as-Suyuthi) berkata, “Saya telah berbicara secara panjang lebar tentang masalah-masalah tersebut, sebagiannya ada yang saya bahas dalam satu kitab tersendiri dan sebagiannya ada yang saya bicarakan masuk dalam sebagian pembahasan yang lainnya.”
Imam Ibnu al-‘Arabi berkata dalam kitabnya, an-Nasikh wa al-Mansukh, “Apa yang kita ketahui secara global dari Al-Qur’an bahwa sebagiannya
ada yang Makki dan ada yang Madani, ada Safari dan ada Hadhari, ada
Laili dan ada Nahaari, ada Sama’i dan ada Ardhi, ada yang diturunkan di
antara langit dan bumi, dan ada yang diturunkan di bawah tanah, di gua.”
Ibnu an-Naqib berkata di dalam mukadimah tafsirnya sebagai berikut,
“Apa yang diturunkan dari Al-Qur’an ada empat macam, yaitu: Makki,
Madani, apa yang sebagian Makki dan sebagian Madani, dan apa yang
tidak termasuk Makki dan tidak pula Madani.”
Ketahuilah bahwa para ulama dalam mendefinisikan al-Makki dan al-Madani terdapat tiga istilah (definisi), yaitu sebagai berikut:

Pertama , dan ini yang paling terkenal, yaitu al-Makki adalah sesuatu
(ayat atau surat) yang diturunkan sebelum hijrah dan al-Madani adalah
sesuatu yang diturunkan setelah hijrah, baik yang turun di Makkah atau di
Madinah, turun pada tahun futuh Makkah atau tahun (terjadinya) Haji Wada’, atau dalam salah satu bepergian (Nabi saw.). Utsman bin Sa’id ad-Darimi mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanadnya yang sampai pada Yahya bin Salam, ia berkata, “Apa yang diturunkan di Makkah dan apa yang
diturunkan di perjalanan menuju ke Madinah sebelum Nabi saw. sampai di Madinah, maka hal itu termasuk al-Makki, dan apa yang diturunkan kepada Nabi saw. dalam perjalanannya setelah sampai di Madinah maka itu
termasuk al-Madani.” Ini merupakan atsar (perkataan shahabat) yang baik,
yang diambil kesimpulan darinya bahwa “apa yang diturunkan dalam
perjalanan hijrah, secara istilah disebut Makki”.

Kedua, al-Makki adalah sesuatu yang diturunkan di Makkah, meskipun setelah hijrah, dan al-Madani adalah sesuatu yang diturunkan di Madinah. Berdasarkan definisi ini maka ada posisi ayat atau surat yang di tengah, artinya bahwa apa yang diturunkan pada saat Nabi saw. bepergian (di luar Makkah dan Madinah) maka tidak dapat disebut Makki atau Madani. Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir melalui al-Walid bin Muslim, dari ‘Ufair bin Mi’dan, dari Ibnu ‘Amir, dari Abi Umamah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Al-Qur’an diturunkan dalam tiga tempat: Makkah, Madinah, dan Syam.” Walid bin Muslim berkata, “(yang dimaksud dengan Syam) adalah Baitulmaqdis.” Syekh Imaduddin bin Katsir berkata, “Tetapi ditafsirkan dengan Tabuk itu lebih baik.” Saya (Imam Suyuthi) berkata, “Termasuk di Makkah dan sekelilingnya, seperti yang diturunkan di Mina, Arafat, dan Hudaibiyah, dan termasuk di Madinah dan sekelilingnya apa yang diturunkan di Badar, Uhud, dan (Gunung) Sala’.”

Ketiga, al-Makki adalah sesuatu (ayat atau surat) yang ditujukan untuk ahli Makkah dan al-Madani adalah sesuatu yang ditujukan untuk penduduk Madinah. al-Qadhi Abu Bakar berkata di dalam kitabnya, al-Intishar, “Sesungguhnya untuk mengetahui al-Makki dan al-Madani itu dikembalikan pada hafalan shahabat dan tabi’in, dan tidak ada suatu perkataan dari Nabi saw. tentang hal tersebut, karena itu tidak diperintahkan dan Allah SWT tidak menjadikan mengetahui hal itu termasuk kewajiban umat, meskipun wajib bagi ahlul ilmu mengetahui sejarah nasikh dan mansukh yang dapat diketahui tanpa harus ada nash
dari Rasulullah saw.”
Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata, “Demi Allah, tiada tuhan selain Dia, tidak ada satu ayat pun dari kitab Allah Ta’ala kecuali saya mengetahui kepada siapa ayat itu turun dan di mana ia turun.” Ayyub berkata, “Ada seorang bertanya kepada Ikrimah tentang satu
ayat dari Al-Qur’an, maka ia berkata, ‘Ayat itu turun di lereng gunung itu,
dan ia berisyarat ke gunung Sala’.’” Ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di
dalam kitabnya, al-Hilyah. Ada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas dan lainnya bahwa dia menghitung (surat-surat) Makki dan Madani. Saya mengemukakan apa yang terjadi padaku dari hal tersebut, kemudian saya garis bawahi dengan menyeleksi apa-apa yang diperselisihkan di dalamnya. Ibnu Sa’ad berkata di dalam kitabnya, ath-Thabaqaat: al-Waqidi
menceritakan kepada kami, Qudamah bin Musa menceritakan kepadaku
dari Abi Salamah al-Hadrami (ia berkata): aku mendengar Ibnu Abbas
berkata, “Aku bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang Al-Qur’an yang
diturunkan di Madinah, maka beliau berkata, ‘Telah turun di Madinah
dua puluh tujuh surat, dan selebihnya di Makkah.’”
Abu Ja’far an-Nahhas berkata di dalam kitabnya, an-Nasikh wa al-Mansukh: telah bercerita kepadaku Yamut bin Muzri’ (ia berkata): telah
bercerita kepada kita Abu Hatim Sahl bin Muhammad as-Sajastani (ia
berkata): telah memberitahukan kepada kita Abu Ubaidah Ma’mar bin
Mutsanna (ia berkata): telah bercerita kepada kita Yunus bin Hubaib (ia
berkata): aku pernah mendengar Aba ‘Amr bin al-‘Ala’ berkata: aku pernah
bertanya kepada Mujahid tentang talkhis (ringkasan) ayat-ayat Al-Qur’an, mana yang Madani dan mana yang Makki, maka beliau berkata: aku pernah bertanya kepada Ibnu Abbas ra. tentang hal seperti itu, maka beliau berkata, “Surat al-An’am diturunkan di Makkah secara keseluruhan, dia adalah Makkiyyah, kecuali tiga ayat dari padanya itu turun di Madinah,
yaitu: ‘Qul ta’alau atluu’ (QS. al-An’am: 151-153) hingga sempurnanya
tiga ayat tersebut dan surat-surat sebelumnya itu Madaniyyaat.”
Turun di Makkah surat al-A’raf, Yunus, Hud, Yusuf, ar-Ra’d, Ibrahim,
al-Hijr, dan surat an-Nahl, kecuali tiga ayat dari akhirnya, maka itu turun di
antara Makkah dan Madinah yaitu pada saat Nabi saw. kembali dari Perang
Uhud. Kemudian surat Bani Israil (Isra’), al-Kahfi, Maryam, Thaha, al-Anbiya’,
dan al-Hajj, kecuali tiga ayat: “Hadzaa ni khasmaani” (ayat 19-21) hingga
sempurnanya tiga ayat tersebut, maka ia diturunkan di Madinah. Kemudian
surat al-Mukminun, al-Furqan, asy-Syu’ara’, kecuali lima ayat dari yang lainnya, maka itu turun di Madinah, yaitu: “Wasy syu’araa’u yattabi’uhum al-ghawun” (ayat 224) sampai akhir surat. Kemudian surat an-Naml, al-Qashash, al-Ankabut, ar-Ruum, dan surat Luqman, kecuali tiga ayat dari padanya, maka itu turun di Madinah, yaitu: “Walau annamaa fil ardhi min syajaratin aqlaamun” (ayat 27-28) hingga sempurnanya dua ayat tersebut. Kemudian surat as-Sajadah, kecuali tiga ayat, yaitu “Afaman kaana mu’minan. Kaman kaana faasiqa” (ayat 18-20) hingga sempurnanya tiga ayat tersebut. Kemudian surat Saba’, Fathir, Yasin, ash-Shaaffaat, Shad, dan surat az-Zumar, kecuali tiga ayat dari padanya yang turun di Madinah yaitu pada Wahsyi (budak Hindun) yang membunuh Hamzah, yaitu “Qul yaa ‘ibaadiyalladziina asrafuu…” (ayat 53-55), hingga sempurnanya tiga ayat tersebut. Kemudian surat-surat Al-Hawaamim as-Sab’u (tujuh surat yang dimulai dengan haamiim), surat Qaaf, adz-Dzaariyaat, ath-Thuur, an-Najm, al-Qamar, ar-Rahman, al-Waqi’ah, ash-Shaf, at-Taghabun, kecuali beberapa ayat terakhir, itu turun di Madinah. Kemudian surat al-Mulk, Nuun, al-Haaqqah, Sa’ala Saailun, Nuh, al-Jin, dan al-Muzammil, kecuali dua ayat, yaitu: Inna rabbaka ya’lamu annaka taquumu (ayat 20), dan surat al-Muddatstsir hingga Al-Qur’an yang terakhir, kecuali “Idza zulzilatil”, “Idzaa jaa’a nasshrullah”, “Qul huwallahu ahad ”, “Qul a’uudzu bi rabbil falaq”, dan “Qul a’udzu bi rabbinnaas”, maka surat-surat ini adalah Madaniyyaat, dan telah turun di Madinah surat al-Anfal, Baraa’ah (Taubah), an-Nur, al-Ahzab, surat Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Hadid, dan setelahnya hingga surat at-Tahrim. Demikianlah Abu Ja’far an-Nahhas telah mengeluarkan riwayat tersebut secara panjang lebar, dan sanadnya adalah jayyid (baik), rijaluhu (para perawinya) adalah tsiqat (orang-orang yang dapat dipercaya). Mereka dari ulama Al-‘Arabiyyah yang terkenal.
Imam Baihaqi berkata dalam kitabnya, Dalail an-Nubuwwah: telah bercerita kepada kami Abu Abdillah al-Hafidz (ia berkata): telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad bin Ziyad al-‘Adl (ia berkata): telah menceritakan kepada kita Muhammad bin Ishaq (ia berkata): telah
menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim ad-Dauraqi (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr bin Malik al-Khuza’i (ia berkata): telah bercerita kepada kami Ali bin Husain bin Waqid, dari ayahnya (ia berkata): telah bercerita kepadaku Yazid an-Nahwi dari Ikrimah dan Hasan bin Abil Hasan, keduanya berkata, “Allah SWT telah menurunkan dari Al-Qur’an di Makkah (surat-surat sebagai berikut): Iqra’ bismi rabbik, surat Nun, al-Muzzammil, Al-Muddatstsir, tabbat yadaa abi lahab, idzasy syamsu kuwwirat, sabbihisma rabbika Al-a’laa, wallaili idzaa yaghsyaa, al-Fajr, adh-Dhuha, Alam Nasyrah, al-Ashr, al-‘Adiyat, al-Kautsar, alhaakumut takaatsur, ara’aita, qul yaa ayyuhal kaafiruun, ashabul fiil, al-Falaq, Qul a’uudzu bi rabbinnas, Qul huwallahu ahad, an-Najm, Abasa, inna anzalnaahu, wasy syamsi wa dhuhaaha, was samaai dzaatil buruuj, wattini wazzaitun, li’ila fii quraisyin, al-Qari’ah, laa uqsimi bi yaumil qiyaamah, al-Humazah, al-Mursalaat, Qaaf, laa uqsimu bi haadzal balad, was samaai wat thaariq, iqtarabatissaa’ah, Shaad, al-Jin, Yaasiin, al-Furqan, al-Malaaikah,
Thaha, al-Waqi’ah, thaa siin miim, thaasiin, thaa siin miim, Bani Israil (surat al-Isra’), at-Tasi’ah, Hud, Yusuf, Ashabul Hijr, al-An’am, ash-Shaaffat, Luqman, Saba’, az-Zumar, Haa miim, al-Mu’min, Haa miim, ad-Dukhan, haa miim assajadah, haa miim ‘aiin siin qaaf, haa miim az-zuhruf, al-Jatsiyah, al-Ahqaf, adz Dzaariyaat, al-Ghasyiyah, Ashabul Kahfi, an-Nahl, Nuh, Ibrahim, al-Anbiya, al-Mukminun, alif laam miim as-sajadah, ath-Thur, Tabaarak, al-Haqqah sa’ala saailun, ’amma yatasaa’aluun, wan naazi’at, idzas samaaun syaqqat, idzas samaaun fatharat, ar-Ruum, dan al-Ankabut.
Surat-surat yang diturunkan di Madinah adalah wailul lil muthaffifin, al-
Baqarah, Ali ‘Imran, al-Anfaal, al-Ahzab, al-Ma’idah, al-Mumtahanah, an-
Nisaa’, Idza Zulzilat, al-Hadid, Muhammad, ar-Ra’du, ar-Rahman, hal ataa
‘alal insaan, ath-Thalaq, lamyakunil, al-Hasyr, idzaa jaa’ nasrullah, an-Nur, al-Hajj, al-Munafiqun, al-Mujadalah, al-Hujuraat, yaa ayyuhan nabi lima tuharrim, ash-Shaf, al-Jum’ah, at-Taghabun, al-Fath, dan Baraa’ah (at-Taubah).
Imam Baihaqi berkata bahwa yang dimaksud surat at-Taasi’ah adalah surat
Yunus. Imam Baihaqi berkata, “Telah gugur (tidak disebut) di dalam riwayat
ini surat: al-Fatihah, al-A’raf, dan kaaf haa yaa ‘aiin shaad sebagai surat yang
diturunkan di Makkah.” Imam Baihaqi berkata: telah mengabarkan kepada
kami Ali bin Ahmad bin Abdan (ia berkata) : telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid ash-Shaffar (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Fadhl (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah bin Zurarah ar-Raqi (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdur Rahman al-Qurasyi (ia berkata): telah bercerita kepada kami Khashif, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Sesungguhnya pertama kali sesuatu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya dari Al-Qur’an adalah Iqra’ bismi rabbik, kemudian beliau menyebutkan makna hadits ini dan menyebutkan surat-surat yang tidak disebutkan di dalam riwayat yang pertama dalam menyebutkan sesuatu yang diturunkan di Makkah.” Imam Baihaqi berkata, “Hadits ini mempunyai syahid (penguat) dalam tafsirnya, Imam Muqatil, dan lainnya beserta hadits mursal yang shahih yang telah disebutkan.”
Ibnu Dhurais berkata di dalam kitabnya, Fadhail Al-Qur’an: telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Abi Ja’far ar-Razi
(ia berkata): telah menceritakan kepada kami Umar bin Harun (ia berkata):
telah menceritakan kepada kita Utsman bin Atha al-Khurasani, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Apabila diturunkan pembuka surat di Makkah maka ditulis di Makkah, kemudian Allah menambah surat itu sesuai dengan kehendak-Nya, dan adalah pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah iqra’ bismi rabbik kemudian surat Nuun, kemudian yaa ayyuhal muzzammil, kemudian yaa ayyuhal muddatstsir, kemudian tabbat yadaa abi lahab, kemudian idzas syamsu kuwwirat, kemudian sabbihisma rabbikal a’laa, kemudian wallaili idzaa yaghsyaa, kemudian al-Fajr, kemudian adh-Dhuha, kemudian Alam Nasyrah, kemudian al-‘Ashr, kemudian al-‘Adiyaat, kemudian innaa a’thainaaka, kemudian al-haakumut takaatsur, kemudian araitalladzii yukadzdzibu, kemudian qul yaa ayyuhal kaafirun, kemudian alam tara kaifa fa’ala rabbuka kemudian qul a’udzu bi rabbil falaq, kemudian qul a’udzu bi rabbin naas, kemudian qul huwallahu ahad, kemudian an-Najm, kemudian ‘Abasa, kemudian innaa anzalnaahu fii lailat al-qadr, kemudian was syamsi wa dhuhaaha, kemudian wassamaa’i dzaatil buruuj, kemudian wattiini waz zaituun, kemudian li iila fi quraisyin, kemudian al-Qari’ah, kemudian laa uqsimu bi yaumil qiyaamah, kemudian wailul likulli humazah, kemudian al-Mursalaat, kemudian Qaaf, kemudian laa uqsimu bi haadzal balad, kemudian was samaai wath thaariq,, kemudian iqtarabatis saa ‘ah, kemudian Shaad, kemudian al-A’raf, kemudian qul uukhia, kemudian Yaasin, kemudian al-Furqan, kemudian surat al-Malaaikah, kemudian kaaf haa yaa ‘aiiiin shaad, kemudian Thaha, kemudian al-Waqi’ah, kemudian thaa siin miim as-syu’a raa’, kemudian thaasiin, kemudian surat al-Qashash, kemudian Bani Israil, kemudian surat al-Malaaikah, kemudian kaaf haa yaa ‘aiiiin shaad, kemudian Thaha, kemudian al-Waqi’ah, kemudian thaa siin miim as-syu’ara, kemudian
thaa siin, kemudian Al-Qashash, kemudian Bani Israil (Al-Isra’), kemudian
Yunus, kemudian Hud, kemudian Yusuf, kemudian al-Hijr, kemudian al-
An’am, kemudian ash-Shaffat, kemudian surat Luqman, kemudian Saba’,
kemudian az-Zumar, kemudian haamiim al-mukmin, kemudian haamiim assajadah, kemudian haamim ‘aiin siin qaaf, kemudian haa miim az-zukhruf, kemudian ad-Dukhan, kemudian al-Jaatsiyah, kemudian al-Ahqaaf, kemudian adz-Dzaariyaat, kemudian al-Ghaasyiyah, kemudian al-Kahfi, kemudian an-Nahl, kemudian inna arsalnaa nuuhan, kemudian surat Ibrahim, kemudian al-Anbiya’, kemudian al-Mukminun, kemudian tanzil as-sajadah, kemudian at-Thuur, kemudian tabarakal mulk, kemudian al-Haaqqah, kemudian saala, kemudian Amma yatasaa’aluun, kemudian an-Naazi’aat, kemudian idzas samaaun fatharat, kemudian idzas samaaun fatharat , kemudian idzas samaaun syaqqat, kemudian ar-Ruum, kemudian al-‘Ankabut, dan kemudian wailul lil muthaffifin. Inilah surat-surat yang diturunkan oleh Allah di Makkah, kemudian telah diturunkan di Madinah surat al-Baqarah, kemudian al-Anfaal, kemudian Ali ‘Imran, kemudian al-Ahzab, kemudian al-Mumtahanah, kemudian an-Nisa’, kemudian idza zulzilat, kemudian al-Hadid, kemudian al-Qital, kemudian ar-Ra’du, kemudian ar-Rahman, kemudian al-Insan, kemudian at-Thalaq, kemudian lam yakunil, kemudian al-Hasyr, kemudian idza jaa nasrullahi, kemudian an-Nuur, kemudian al-Hajj, kemudian al-Munafiqun, kemudian al-Mujadalah, kemudian al-Hujuraat, kemudian at-Tahriim, kemudian al-Jumu’ah, kemudian at-Taghabun, kemudian ash-Shaf, kemudian al-Fath, kemudian al-Ma’idah, dan kemudian Baraa’ah. Abu Ubad berkata di dalam kitabnya, Fadhail Al-Qur’an: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Salih dan Mu’awiyah bin Salih, dari Ali bin Abi Thalhah, ia berkata, “Telah diturunkan di Madinah surat al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisa’, al-Maidah, al-Anfal, at-Taubah, al-Hajj, an-Nur, al-Ahzab, alladzina kafaru, al-Fath, al-Hadid, al-Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Hawariyyin (ash-Shaf), at-Taghabun, yaa ayyuhan nabi idzaa thallaqtum an-nisaa’, yaa ayyuhan nabi lima tuharrim, al-Fajr, al-Lail, inna anzalnaahu fii lailatil qadr, lam yakunil, idzaa zulzilatil, dan idzaa jaa’a nashrullah wal fath, sedangkan selain surat-surat tersebut diturunkan di Makkah. Abu Bakar Ibnul Ambari berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ishaq al-Qadhi (ia berkata): telah bercerita kepada kita Hajjaj bin Minhal (ia berkata): telah bercerita kepada kita Hisyam, dari Qatadah, ia berkata: telah diturunkan di Madinah dari Al-Qur’an: surat al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisaa’, al-Mai’dah, Baraa’ah, ar-Ra’du, an-Nahl, al-Hajj, an-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujuraat, al-Hadid, ar-Rahman, al- Mujadalah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, ash-Shaf, al-Jum’ah, al-Munaafiquun, at-Taghabun, ath-Thalaaq, yaa ayyuhan nabi lima tuharrimu, hingga 10 ayat pertama, idzaa zulzilat, dan idzaa jaa’a nashrullahu, sedangkan seluruh Al-Qur’an yang lainnya diturunkan di Makkah. Abul Hasan bin Hashshr berkata di dalam kitabnya, An-Nasikh wal- Mansukh, “Al-Madani (surat-surat yang diturunkan di Madinah) berdasarkan kesepakatan ulama ada 20 surat, sedangkan yang diperselisihkan ada 12 surat, dan selain itu maka disebut Makki berdasarkan kesepakatan.

Bersambung : ……………………………

Pasal – Membahas Tentang Surat-Surat yang Diperselisihkan

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai