Membahas Tentang Surat-Surat yang Diperselisihkan

1. Surat al-Fatihah

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa ia adalah Makkiyyah (diturunkan di Makkah), bahkan ada riwayat yang mengatakan bahwa ia
termasuk surat yang pertama kali diturunkan sebagaimana akan dijelaskan
di bahagian pembahasan yang kedelapan.
Pendapat tersebut didasarkan pada firman Allah SWT: “Wa laqad aatainaaka sab’an minal matsaani” (QS. al-Hijr: 87). Nabi saw. menafsirkan ayat ini dengan al-Fatihah sebagaimana tersebut di dalam hadits shahih,
dan surat al-Hijr adalah Makkiyyah berdasarkan kesepakatan, dan Allah telah memberikan kenikmatan di Makkah dengan surat al-Fatihah ini. Hal
itu menunjukkan turunnya di Makkah, karena jauh kemungkinannya Allah
memberikan kenikmatan padanya dengan surat yang tidak diturunkan
setelahnya, dan sesungguhnya tidak ada perbedaan bahwa kewajiban shalat juga terjadi di Makkah, dan tidak ada shalat di dalam Islam tanpa al-Fatihah.
Pendapat ini disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah dan yang lainnya.
Al-Wahidi dan ats-Tsa’labi meriwayatkan melalui ‘Ala’ bin Musaab,
dari Fadl bin ‘Amr, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Fatihatul kitab ini
diturunkan di Makkah dari sebuah tempat (penyimpanan) di bawah ‘Arasy.”
Telah dikenal sebuah riwayat dari Mujahid bahwa surat al-Fatihah ini
Madaniyyah. Al-Faryabi mengeluarkan riwayat ini di dalam tafsirnya,
demikian juga Abu Ubaid di dalam kitabnya, al-Fadhail, dengan sanad yang shahih, tetapi Husain bin Fadhl berkomentar bahwa ini suatu kesalahan dari Mujahid, karena para ulama berbeda dengan perkataannya. Demikian juga Ibnu ‘Athiyyah telah menukil suatu pendapat tentang hal tersebut dari az-Zuhri, ‘Atha’, Sawadah bin Ziyad, dan Abdullah bin Ubaid bin Umair. Terdapat sebuah riwayat dari Abi Hurairah ra. dengan sanad jayyid. Imam Thabrani berkata di dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Ausath: telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Ghannam (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Abul Akhwash, dari Manshur, dari Mujahid, dari Abi Hurairah, ia berkata, “Sesungguhnya Iblis telah merintih (kesakitan) ketika Fatihatul Kitab diturunkan, dan ia diturunkan di Madinah.” Riwayat ini kemungkinan di bagian akhirnya mudraj (kemasukan) dari perkataan Mujahid. Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Fatihah ini pernah diturunkan dua kali: sekali di Makkah dan sekali di Madinah, sebagai mubalaghah dalam memuliakannya.
Ada pendapat keempat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah ini
diturunkan setengah-setengah. Setengahnya di Makkah dan setengahnya
di Madinah. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Laits as-Samarqandi.

2. Surat an-Nisa’

Imam an-Nahhas mengira bahwa surat an-Nisa’ ini termasuk Makkiyyah
dengan berdalil pada firman Allah: “innallaha ya’murukum” (QS. an-Nisa’: 58)
yang diturunkan di Makkah sebagai kesepakatan dalam hal kunci Kakbah.
Tetapi ini adalah suatu pengambilan dalil yang sangat lemah, karena tidak
menjadi keharusan turunnya satu ayat atau beberapa ayat dari suatu surat yang panjang yang sebagian besar diturunkan di Madinah kemudian diklaim bahwa surat itu Makkiyyah. Terutama bahwa pendapat yang kuat mengatakan bahwa apa yang diturunkan setelah hijrah adalah Madani, dan siapa yang merujuk sebab-sebab turunnya ayat tersebut maka ia mengetahui jawabannya.
Di antara riwayat yang membantah anggapan tersebut adalah apa
yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari, dari Aisyah ra. ia berkata, “Tidak
diturunkan surat al-Baqarah dan an-Nisa’ (pada Nabi saw.) kecuali saya
berada di sisinya.” (Diketahui) secara ittifaq (kesepakatan) bahwa Aisyah
dikumpuli oleh Nabi setelah hijrah. Ada juga pendapat yang mengatakan
bahwa surat ini diturunkan ketika Nabi berhijrah.

3. Surat Yunus

Menurut pendapat yang masyhur bahwa surat Yunus ini Makkiyyah
(diturunkan di Makkah). Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas terdapat dua
riwayat, berdasarkan al-Aatsar as-Saabiqah (berbagai riwayat terdahulu)
bahwa surat ini adalah Makkiyyah. Ini dikeluarkan oleh Ibnu Mardawaih
melalui al-‘Aufi dari Ibnu Abbas.
Ibnu Mardawaih juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui Ibnu Juraij dari Atha’, dari Ibnu Abbas, dan melalui Khashif, dari Mujahid, dari Ibnu Zubair, dan mengeluarkan juga melalui Utsman bin Atha’ dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, bahwa surat ini Madaniyyah (diturunkan di Madinah).
Di antara riwayat yang memperkuat pendapat yang masyhur tersebut adalah suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim melalui adh Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia berkata: ketika Allah mengutus Muhammad sebagai seorang rasul maka orang-orang Arab mengingkari hal itu, atau ada sebagian dari mereka yang mengingkari hal itu, mereka berkata: Allah Maha besar (tidak mungkin) menjadikan rasulnya dari manusia, maka Allah SWT menurunkan firman-Nya: “Akaana linnaasi ‘ajaban… ” (QS.Yunus: 2).

4. Surat ar-Ra’du

Telah dijelaskan di dalam riwayat terdahulu melalui Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Ali bin Abi Thalhah, bahwa ia adalah Makkiyyah, tetapi menurut sebagian al-Aatsar yang lainnya bahwa ia adalah Madaniyyah. Ibnu Mardawaih mengeluarkan riwayat yang kedua melalui al-‘Aufi, dari Ibnu Abbas, dan melalui Ibnu Juraij dari Utsman bin Atha’, dari Ibnu Abbas, dan melalui Mujahid, dari Ibnu Zubair. Abu asy-Syaikh juga mengeluarkan riwayat yang serupa dari Qatadah, dan al-Uwal mengeluarkan riwayat dari Sa’id bin Mansur di dalam kitab Sunan-nya, ia berkata: telah bercerita kepada kita Abu ‘Uwanah, dari Abi Bisyr ia berkata: aku bertanya pada Sa’id bin Jubair tentang firman Allah SWT:
“Waman ‘indahuu ‘ilamus saa’ah” (QS. ar-Ra’du: 43) apakah yang dimaksud
adalah Abdullah bin Salam? ia berkata: bagaimana mungkin padahal surat ini Makkiyyah (diturunkan di Makkah)!
Di antara riwayat yang menguatkan bahwa surat ar-Ra’du itu Madaniyyah (diturunkan di Madinah) adalah apa yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dan lainnya dari Anas, bahwa firman Allah SWT:
“Allahu ya’lamu maa tahmilu kullu untsa” hingga firman-Nya: “wa huwa syadidul mihaal” (QS. ar-Ra’du: 8-13) turun berkenaan dengan kisah Arid bin Qais dan ‘Amir bin Thufail ketika keduanya datang ke Madinah di hadapan Rasulullah saw.
(Sebagai kesimpulan) bahwa yang dapat mengompromikan di antara
perbedaan pendapat tersebut adalah bahwa surat ar-Ra’du ini Makkiyyah kecuali beberapa ayat dari padanya.

5. Surat al-Hajj

Berdasarkan riwayat terdahulu melalui Mujahid, dari Ibnu Abbas bahwa surat al-Hajj ini adalah Makkiyyah kecuali beberapa ayat yang dikecualikan, tetapi di dalam sebagian riwayat yang lainnya ia adalah Madaniyyah. Ibnu Mardawaih mengeluarkan sebuah riwayat melalui al-‘Aufi, dari Ibnu Abbas, dan melalui Ibnu Juraij dan Utsman dari Atha’, dari Ibnu Abbas, dan melalui Mujahid, dari Ibnu Zubair bahwasanya ia adalah Madaniyyah. Ibnu al-Fars berkata di dalam kitabnya, Ahkam Al-Qur’an, “Sebagian pendapat mengatakan bahwa surat ini adalah Makkiyyah kecuali firman Allah SWT: ‘Hadzani khasmaani’ (al-aayaat), dan sebagian pendapat mengatakan, ‘Kecuali sepuluh ayat,’ dan pendapat yang lain mengatakan bahwa ia Madaniyyah kecuali empat ayat, yaitu: ‘Wa maa arsalnaa min qablika min rasuulin’ hingga ‘aqiim’ (QS. al-Hajj: 52-55). Ini dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Sebagian pendapat mengatakan bahwa surat al-Hajj ini kesemuanya Madaniyyah. Ini dikatakan oleh adh-Dhahhak dan lainnya. Sebagian pendapat yang lain mengatakan bahwa surat ini bercampur, di dalamnya ada Madani dan ada yang Makki, ini pendapat jumhur ulama. Di antara faktor yang menguatkan pendapat
yang disandarkan pada jumhur adalah adanya suatu riwayat yang menyebutkan bahwa ada banyak ayat dari surat ini yang diturunkan di Madinah, sebagaimana telah kami jelaskan di dalam asbabun nuzul.”

6. Surat al-Furqan

Ibnu al-Fars berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa surat al-Furqan ini Makkiyyah.” Adh-Dhahhak berkata bahwa ia Madaniyyah.

7. Surat Yasin

Abu Sulaiman ad-Dimasyqi menceritakan pendapatnya bahwa surat Yasin ini adalah Madaniyyah. Beliau berkata, “Tetapi ini bukan pendapat yang masyhur.”

8. Surat Shad

Al-Ja’bari menceritakan suatu pendapat bahwa surat Shad ini adalah Madaniyyah, berbeda dengan apa yang diceritakan oleh jamaatul ijma’ bahwa ia adalah Makkiyyah.

9. Surat Muhammad

An-Nasafi menceritakan suatu pendapat yang gharib (aneh) bahwa surat ini adalah Makkiyyah.

10. Surat al-Hujurat

Diceritakan dalam pendapat yang syadz (aneh) bahwa ia adalah Makkiyyah.

11. Surat ar-Rahman

Berdasarkan pendapat jumhur ulama, bahwa surat ini adalah Makkiyyah,
dan ini pendapat yang benar sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh
Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, dari Jabir, ia berkata: ketika Rasulullah saw.
membaca surat ar-Rahman di hadapan para shahabatnya hingga selesai, maka Nabi bersabda, “Saya merasa heran mengapa kalian bergeming? Justru jinlah yang lebih baik daripada kalian dalam menjawab, karena tidak sekali saya membacakan kepada mereka fa biayyiaalaai rabbikumaa tukadzdzibaan kecuali mereka menjawab wa la bi syai’in min ni’amika rabbunaa nukazzibu, fa lakal hamdu (wahai Tuhanku, tidak satupun dari nikmat-nikmat-Mu kami mendustakan, maka bagi-Mu segala pujian).”
Imam al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim. Perlu diketahui bahwa kisah jin itu di Makkah.”
Ada riwayat yang lebih sarikh (jelas) secara makna adalah hadits yang
dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya, dengan sanad jayyid,

dari Asma’ binti Abi Bakar, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw. saat
sedang shalat ke arah ar-rukn (Kakbah) sebelum secara terang-terangan untuk
menyampaikan apa yang diperintahkan, dan saat itu orang-orang musyrik
mendengarkan Nabi saw. membaca fa biayyiaalaa irabbika tukadzdzibaan.
Hadits ini sebagai dalil atas turunnya surat ar-Rahman terlebih dahulu
daripada surat al-Hijr.

12. Surat al-Hadid

Ibnu al-Faras berkata, “Berdasarkan pendapat jumhur ulama, bahwa surat ini Madaniyyah. Ada suatu kaum (ulama) berkata bahwa surat ini Makkiyyah dan tidak ada perbedaan pendapat bahwa di dalamnya terdapat qur’an (ayat-ayat) Madaniyyah, tetapi ayat-ayat yang ada di awal surat ini mirip dengan qur’an Makki.”
Saya (Imam Suyuthi) berkata, “Persoalannya sebagaimana yang ia katakan, di dalam Musnad al-Bazzar dan lainnya, dari Umar, sesungguhnya Umar pernah masuk ke rumah saudara perempuannya sebelum ia masuk Islam, ternyata ada satu lembar di dalamnya awal surat al-Hadid, kemudian Umar membacanya maka itulah yang menjadi penyebab keislamannya.”
Imam Al-Hakim dan lainnya mengeluarkan riwayat dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata, “Tidak ada sesuatu (tempo) antara keislamannya (Umar) dengan turunnya ayat ini yang Allah SWT mencela mereka dengan ayat itu kecuali empat tahun: ‘wa laa yakuunuu kalladziina uutul kitaaba min qablu fa thaala ‘alaihimul amadu’ (QS. al-Hadid: 16).”

13. Surat ash-Shaf

Menurut pendapat terbaik, ia adalah Madaniyyah, dan Ibnu al-Faras menisbatkan pendapat ini kepada jumhur ulama dan dia merajihkannya. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan lainnya dari Abdullah bin Salam, ia berkata: kami duduk bersama sebagian dari shahabat Nabi saw., maka kami saling mengingat-ingat, kemudian kami katakan: seandainya kita mengetahui amal manakah yang lebih dicintai oleh Allah SWT niscaya kita akan mengamalkannya, kemudian turun firman Allah SWT: “Sabbaha lillahi maa fi as-samaawaati wa maa fil ardhi wa huwal ‘aziz al hakim, yaa ayyuhalladziina aamanuu lima taquuluuna maa laa taf ’aluun” (QS. ash-Shaf: 1-2), hingga akhir surat ini. Abdullah berkata: kemudian Rasulullah saw. membacakan surat ini kepada kami hingga akhir.

14. Surat al-Jumu’ah

Pendapat yang shahih bahwa surat ini adalah Madaniyyah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Abi Hurairah ra. ia berkata: ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw., maka Allah menurunkan kepadanya surat al-Jumu’ah: “Wa aakhariina minhum lamma yalhaquu ilaihim” (QS. al-Jumu‘ah: 3). Aku bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” “Ini suatu khitab (firman) untuk orang-orang Yahudi,” dan mereka berada di Madinah, dan akhir surat ini turun berkenaan dengan kekacauan mereka pada saat khutbah yaitu ketika ada rombongan datang, sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits shahih. Dengan demikian ditetapkan bahwa surat ini secara keseluruhan adalah Madaniyyah.

15. Surat at-Taghabun

Dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa surat ini adalah Madaniyyah dan dikatakan dalam pendapat yang lainnya bahwa ia adalah Makkiyyah, kecuali di bagian akhirnya.

16. Surat al-Mulk

Ada pendapat yang gharib (aneh) mengatakan bahwa surat ini Madaniyyah (diturunkan di Madinah).

17. Surat al-Insan

Dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa surat ini Madaniyyah dan dikatakan dalam pendapat yang lainnya bahwa ia Makkiyyah, kecuali satu ayat, yaitu “wa laa tuthi’ minhum aatsiman au kafuuraa.” (QS. al-Insan: 24)

18. Surat al-Muthaffifin

Ibnu al-Faras berkata: dikatakan bahwa ia adalah Makkiyyah, karena disebutkannya al-asaathir (dongeng-dongeng) di dalamnya, dan dikatakan pula bahwa ia adalah Madaniyyah, karena ahlul Madinah (penduduk Madinah) dahulu adalah manusia yang paling rusak dalam hal takaran/timbangan. Dikatakan pula dalam sebuah pendapat bahwa ia adalah Makkiyyah kecuali kisah kecurangan timbangan/takaran. Ada pendapat mengatakan bahwa surat ini diturunkan di antara Makkah dan Madinah. Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Imam Nasa’i dan lainnya
mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanad yang shahih, dari Ibnu Abbas,

ia berkata, ‘Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, maka mereka (orangorang
Madinah itu) orang yang paling curang dalam hal takaran/timbangan,
kemudian Allah SWT menurunkan: wailul lil muthaffifin, maka mereka
memperbaiki takaran mereka.’”

19. Surat al-A’la

Menurut pendapat jumhur ulama bahwa ia Makkiyyah. Ibnu al-Faras berkata: dikatakan dalam sebuah pendapat bahwa ia adalah Madaniyyah karena adanya penyebutan shalat Id dan zakat fitrah di dalamnya. Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Pendapat tersebut dibantah oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari al-Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, ‘Pertama kali orang yang datang kepada kami dari shahabat Nabi saw. adalah Mush’ab bin Umair dan Ibnu Umi Maktum, kemudian keduanya membacakan kepada kami Al-Qur’an, kemudian datang ‘Ammar, Bilal, dan Sa’ad, kemudian datang Umar bin Khathab pada hari kedua puluh, kemudian datang Nabi saw., maka aku tidak melihat penduduk Madinah bergembira dengan sesuatu yang dapat menghibur mereka. Maka tidaklah ia datang hingga aku membaca Sabbihisma rabbikal a’laa dan di dalam surat-surat yang mirip dengannya.’”

20. Surat al-Fajr

Berkenaan dengan surat ini ada dua pendapat yang kedua-duanya diceritakan oleh Ibnu al-Faras. Abu Hayyan berkata, “Jumhur ulama berpendapat bahwa surat ini adalah Makkiyyah.”

21. Surat al-Balad

Ibnu al-Faras juga menceritakan tentang surat ini bahwa ada dua pendapat dan firman Allah SWT, “bi haadzal balad” menolak pendapat yang mengatakan bahwa surat ini Madaniyyah.

22. Surat al-Lail

Menurut pendapat yang paling masyhur bahwa ia adalah Makkiyyah, dan dikatakan dalam pendapat yang lain bahwa ia adalah Madaniyyah, karena di dalam sebab turunnya terdapat kisah an-nakhlah (pohon kurma) sebagaimana telah kami keluarkan riwayatnya di dalam asbabun nuzul. Dikatakan dalam pendapat yang lainnya bahwa di dalamnya terdapat Makki dan Madani.

23. Surat al-Qadr

Terdapat dua pendapat mengenai surat ini, tetapi pendapat yang terbanyak mengatakan bahwa ia adalah Makkiyyah. Bagi yang mengatakan bahwa ia adalah Madaniyyah berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim dari Hasan bin Ali, sesungguhnya Nabi saw. melihat bani Umayyah dari atas mimbarnya, maka hal itu membuat Nabi tidak berkenan, sehingga turunlah ayat “Inna a’thainaakalkautsar” dan turun pula ayat “Innaa anzalnaahu fii lailatil-qadr” (al-hadits). Imam al-Mizzi berkata bahwa hadits ini mungkar.

24. Surat Lam Yakunil

Ibnu al-Faras berkata: pendapat yang paling masyhur adalah bahwa surat ini adalah Makkiyyah. Saya (Imam Suyuthi) mengatakan: sebagai bukti kebalikannya adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad, dari Abi Hayyah al-Badri, ia berkata: ketika turun “lam yakunilladziina kafaruu min ahlil kitaabi” hingga akhir surat ini, maka Jibril berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan kepadamu untuk membacakan surat ini ke Ubay…” (al-Hadits). Ibnu Katsir menegaskan bahwa surat ini adalah Madaniyyah dan beliau berdalil dengan hadits tersebut.

25. Surat az-Zalzalah

Mengenai surat ini ada dua pendapat. Bagi pendapat yang mengatakan bahwa ia Madaniyyah berdalil dengan hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Ketika turun ‘fa man ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah’ (al-aayat), maka aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku nanti benar-benar bisa melihat amalku?’ (al-Hadits). (Dalam kejadian) ini Abu Sa’id tiada lain kecuali berada di Madinah dan usianya belum mencapai akil balig kecuali setelah Perang Uhud.”

26. Surat al-‘Adiyaat

Berkenaan dengan surat ini ada dua pendapat, bagi yang mengatakan bahwa surat ini Madaniyyah, ia berdalil dengan hadits yang dikeluarkan oleh Imam al-Hakim dan lainnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah saw. telah mengirimkan (pasukan) berkuda, kemudian sudah berlalu selama satu bulan belum ada berita yang sampai kepada beliau, kemudian turun ‘wal ‘aadiyaati…’ al-hadits.”

27. Surat al-Hakum (at-Takatsur)

Menurut pendapat yang paling masyhur bahwa surat ini adalah Makkiyyah dan sebagai dalil bahwa ia Madaniyyah (ini pendapat yang dipilih) adalah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Buraidah bahwa surat ini turun berkenaan dengan dua kabilah dari kabilah Anshar yang mereka saling berbangga… (al-Hadits). Ibnu Abi Hatim juga mengeluarkan riwayat dari Qatadah, bahwa surat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi. Imam Bukhari mengeluarkan sebuah riwayat dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Kita melihat masalah ini melalui Al-Qur’an, yakni ‘Seandainya manusia itu memiliki satu lembah dari emas, maka dia akan meminta lembah emas yang lainnya’, hingga turun al-haakum at-takaatsur.”
Imam at-Tirmidzi mengeluarkan sebuah riwayat dari Ali, ia berkata,
“Pada saat kita masih meragukan tentang azab kubur, hingga turun (surat
ini), dan azab kubur itu tidak disebut-sebut kecuali di Madinah, sebagaimana dalam hadits shahih tentang kisah Yahudi.”

28. Surat Ara’aita

Terdapat dua pendapat mengenai surat tersebut sebagaimana diceritakan oleh Ibnu al-Faras.

29. Surat al-Kautsar

Berdasarkan pendapat yang benar bahwa ia adalah Madaniyyah, dan An-Nawawi merajihkan pendapat ini di dalam Syarah Muslim, berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Anas, ia berkata: ketika Rasulullah saw. berada di tengah-tengah kita, tiba-tiba beliau tertidur, kemudian mengangkat kepalanya sambil tersenyum, beliau berkata, “Telah diturunkan kepadaku tadi suatu surat, kemudian beliau membaca: ‘Bismillahirahmanirrahim innaa a’thainaakal-kautsar’ hingga akhir … (al-Hadits).”

30. Surat al-Ikhlash

Dalam kaitannya dengan surat ini terdapat dua pendapat, karena ada dua hadits mengenai sebab turunnya yang bertolak belakang, tetapi sebagian ulama mengompromikan di antara keduanya yaitu dengan terulang-ulang turunnya. Kemudian tampak bagiku setelah proses tarjih bahwa ia adalah
Madaniyyah sebagaimana telah aku jelaskan di dalam asbabun nuzul.

31. Surat al-Mu’awwidzataani (al-Falaq dan an-Nass)

Menurut pendapat yang terpilih bahwa kedua surat ini adalah Madaniyyah, karena keduanya diturunkan berkenaan dengan kisah sihir Labid bin A’sham, sebagaimana riwayat yang dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya, ad-Dalaail.

Pasal

Imam Baihaqi berkata di dalam kitabnya, ad-Dalaail, “Di dalam sebagian surat-surat yang diturunkan di Makkah terdapat ayat-ayat yang diturunkan di Madinah, sehingga ayat-ayat tersebut dimasukkan ke dalamnya.” Demikian juga Ibnu al-Hashshar berkata, “Setiap macam dari al-Makki dan al-Madani di dalamnya terdapat ayat-ayat yang dikecualikan.” Beliau berkata, “Hanya saja ada sebagian orang yang dalam pengecualian itu berpegang pada ijtihad, bukan menukil periwayatan.”
Ibnu Hajar berkata di dalam kitabnya, Fathul Bari (Syarah Bukhari), “Sebagian imam (ulama) telah memberikan perhatian (terhadap Al-Qur’an), yaitu dengan menjelaskan apa-apa yang diturunkan dari ayat-ayat di Madinah dalam surat-surat Makkiyyah.” Beliau juga berkata, “Adapun kebalikan dari hal tersebut adalah turunnya surat di Makkah tetapi turunnya terlambat di Madinah maka saya tidak melihatnya, kecuali langka.” Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Saya ingin mengemukakan apa
yang telah saya teliti berupa ayat-ayat yang dikecualikan dari dua jenis,
dengan meliputi apa yang kulihat penting berdasarkan istilah yang pertama, bukan yang kedua, dan saya sebutkan pula dalil-dalil pengecualian tersebut karena memerhatikan perkataan Ibnu al-Hashshar di atas, dan saya tidak menyebutkan dalil-dalil itu secara lafdziyyan, karena ingin meringkas dan menukil dari kitab kami, Asbabun Nuzul.”

Surat al-Fatihah

Telah dikatakan dalam keterangan di atas bahwa setengah dari surat al-Fatihah ini diturunkan di Madinah. Secara lahiriah itu adalah setengah yang kedua, dan tidak ada dalil tentang hal tersebut.

Surat al-Baqarah

Telah diperkecualikan dari padanya dua ayat, yaitu “Fa’fuu washfahuu” ayat 109 dan “laisa ‘alaika hudaahum”, ayat 272.

Surat al-An’am

Ibnu al-Hashshar berkata, “Diperkecualikan dari padanya sembilan ayat, tetapi tidak ada riwayat yang shahih, apalagi surat al-An’am ini turun secara langsung.” Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Terdapat riwayat shahih dari Ibnu Abbas yang mengecualikan ‘Qul ta’aalau…’ hingga tiga ayat (151-153)
sebagaimana telah diterangkan dan selanjutnya ‘Wa maa qadarullaha haqqa qadrihi’ (ayat 91) berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi
Hatim bahwa ayat tersebut turun kepada Malik bin ash-Shaif, dan firman
Allah: ‘wa man adzlamu mimman iftaraa ‘alallahi kadziban’, (ayat: 21-22).
Kedua ayat ini turun berkenaan dengan Musailamah, dan firman Allah SWT: ‘Alladziina aatainaahumul-kitaaba ya’rifuunahu’, (ayat 20), dan firman-
Nya: ‘walladziina aatainaahumul-kitaaba ya’lamuuna annahu munazzalun minrabbika bil-haq’, (ayat 114).” Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari al-Kalbi, ia berkata bahwa surat al-An’am ini kesemuanya turun di Makkah kecuali dua ayat yang turun di Madinah berkenaan dengan seseorang dari Yahudi. Itulah firman Allah SWT: “Maa anzalallahu ‘alaa basyarin min syaii.” Al-Faryabi berkata: telah bercerita kepada kami Sufyan, dari al-Laits, dari Bisyr, ia berkata, “Surat al-An’am ini Makkiyyah, kecuali ayat ‘qul ta’aalau atlu’ (ayat 151 dan setelahnya).”

Surat al-A’raf

Abu asy-Syekh Ibnu Hayyan mengeluarkan suatu riwayat dari Qatadah, ia berkata, “Surat al-A’raf ini Makkiyyah kecuali ayat ‘was’alhum ‘anil qaryati’ ayat 163.” Ulama lainnya berkata, “Dari ayat ini sampai ‘wa idz akhadza rabbuka min-banii aadama (ayat 172).”

Surat al-Anfal

Diperkecualikan dari padanya firman Allah, “Wa idz yamkuru bikalladziina kafaru” (ayat 30). Muqatil berkata bahwa ayat ini turun di Makkah. Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Perkataan Muqatil ini ditolak oleh hadits shahih dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ayat ini secara jelas turun di Madinah, sebagaimana telah kita keluarkan tentang asbabun nuzul. Sebagian ulama mengecualikan firman Allah SWT: ‘Yaa ayyuhan nabi hasbukallah’ (ayat 64) dan ini dishahihkan oleh Ibnu al-‘Arabi dan lainnya.”

Saya mengatakan bahwa pendapat tersebut diperkuat oleh sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bazzar, dari Ibnu Abbas: sesungguhnya
ayat tersebut turun pada saat Umar masuk Islam.

Surat Bara’ah (at-Taubah)

Ibnu al-Faras berkata bahwa surat ini Madaniyyah, kecuali dua ayat, yaitu: “laqad jaa’akum rasuulul mi anfusikum” hingga akhir (ayat 128-129). Saya mengatakan bahwa pendapat ini gharib (terasing). Bagaimana tidak, karena telah ada riwayat yang menerangkan bahwa ayat ini adalah akhir dari apa yang telah diturunkan dan sebagian yang lain mengecualikan ayat “maa kaana lin-nabiyyi” (QS. Baraa’ah: 113). Ini berdasarkan riwayat yang ada bahwa ayat ini turun berkenaan dengan perkataan Rasulullah saw. kepada Abu Thalib, “Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang.”

Surat Yunus

(Ini Madani), kecuali firman Allah SWT: “Fa in-kunta fii syakkin…” (ayat 94-95) dan “wa minhum man-yu’minu bihi…” (ayat 40). Dikatakan bahwa ini turun kepada Yahudi, dan ada yang mengatakan bahwa dari awal hingga empat puluh ayat pertama itu Makki sedangkan sisanya Madani. Ini diceritakan oleh Ibnu al-Faras dan as-Sakhawi di dalam kitab Jamaal al-Qurra’.

Surat Hud

(Ini Makki) kecuali tiga ayat, yaitu: “fa la’allaka taarikun…” (ayat 12-14), “afaman kaana ‘alaa bayyinatin min rabbihii” (ayat 17), dan “Wa aqimisshalaata tharafayin nahaari” (ayat 114). Saya (Imam Suyuthi) mengatakan bahwa dalil untuk yang ketiga adalah hadits shahih yang diriwayatkan dari beberapa jalan periwayatan, bahwa ia diturunkan di Madinah berkenaan dengan masalah Abi al-Yusr.

Surat Yusuf

(Ini Makki) kecuali tiga ayat dari awal. Ini diceritakan oleh Abu Hayyan, tetapi riwayat ini waahin (sangat lemah), laa yultafatu ilaihi (tidak bisa dijadikan sebagai rujukan).

Surat ar-Ra’du

Abu Asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia berkata, “Surat ar-Ra’du itu Madaniyyah kecuali satu ayat, yaitu firman Allah SWT, ‘Wa laa yazaalulladziina kafaruu tushiibuhum bimaa shona’uu qaari’atun’ (ayat 31).”
Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa surat ini adalah Makkiyyah, maka dikecualikan firman Allah “Allahu ya’lamu” hingga “Syadiidul mihaal” (ayat 8-13), sebagaimana telah dijelaskan di atas dan ayat yang terakhir. Ibnu Mardawaih mengeluarkan sebuah riwayat dari Jundub, ia berkata: Abdullah bin Salam datang, dan ketika menjumpaiku di pintu masjid ia berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, wahai kaumku, apakah kalian mengetahui bahwa akulah yang dimaksud di dalam turunnya firman Allah ‘wa man ‘indahuu ilmul-kitaab’? (QS. ar-Ra’du: 43).” Mereka berkata, “(Allahumma), iya.”

Surat Ibrahim

Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia berkata: surat Ibrahim ini Makkiyyah kecuali dua ayat, yaitu: “Alam tara ilalladziina baddaluu ni’matallaahi kufran” hingga “wa bi’sal qaraar” (ayat 28-29), sesungguhnya keduanya Madaniyyah.

Surat al-Hijr

Ini Makkiyyah, tetapi sebagian ulama menganggap firman Allah “wa laqad aatainaaka sab’an …” (ayat 87) (bahwa ini Madaniyyah, –edit.). Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Dan sebaiknya dikecualikan pula firman Allah SWT: ‘wa laqad ‘alimnal-mustaqdimin’ (ayat 24), berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi dan lainnya tentang sebab turunnya, dan sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan shaf-shaf shalat.”

Surat an-Nahl

(Ini Makkiyyah). Telah disebutkan di atas dari Ibnu Abbas, bahwa beliau mengecualikan akhirnya, dan akan dikemukakan dalam pembahasan as- Safari (Al-Qur’an yang turun ketika Nabi bepergian), apa-apa yang memperkuat riwayat tersebut. Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Surat an-Nahl ini semuanya turun di Makkah, kecuali ayat-ayat berikut: ‘wa in ‘aaqabtum’ (ayat 126 sampai akhir).” Abu asy-Syekh juga mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia
berkata bahwa surat an-Nahl dari mulai firman Allah: “walladziina haajaruu
fillahi min-ba’di maa dzulimuu” (ayat 41 hingga akhir) adalah Madani
sedangkan ayat-ayat sebelumnya hingga akhir surat itu adalah Makki. Akan dikemukakan mengenai pembahasan (awwalu maa nuzzila) dari Jabir bin Zaid, ia berkata bahwa surat an-Nahl ini turun di Makkah empat puluh ayat, selebihnya diturunkan di Madinah. Tetapi dibantah oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad, dari Utsman bin Abil ‘Ash tentang turunnya: “innallaha ya’muru bil-‘adli wal-ihsaan” (ayat 90), dan akan ada penjelasannya di dalam pembahasan “Tartibul-Ayaat was-Suwar”.

Surat al- Isra’

(Ini Makkiyyah), kecuali “wa yas aluunaka ‘anirruuh” (ayat 85), berdasarkan
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud bahwa ia turun di Madinah berkenaan dengan pemberian jawaban terhadap pertanyaan kaum Yahudi tentang ruh. Dikecualikan juga firman Allah: “wa in-kaadu layaftinuunaka” hingga “innal-baathila kaana zahuuqa” (ayat 73-81), firman Allah: “qul-lainijtama’atil insu wal jinnu”, dan firman Allah: “wa maa ja’alnar-ru’yaa” (ayat 60), serta firman Allah: “innalladziina uutul-ilma min-qablihii” (ayat 107) berdasarkan riwayat yang kami keluarkan di dalam Asbabun Nuzul.

Surat al-Kahfi

(Ini Makkiyyah), kecuali ayat pertama hingga kata “juruza” (ayat 1-8) dan firman Allah: “washbir nafsaka” (ayat 28), dan “innalladziina aamanu”
(ayat 107 hingga akhir surat).

Surat Maryam

(Ini Makkiyyah), kecuali satu ayat sajadah, yaitu “wa in-minkum illa waaridu haa” (QS. Maryam: 71).

Surat Thaha

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “wa ana ikhtartuka fastami’ limaayuu ha” (ayat 13). Saya (Imam Suyuthi) berkata, “Sebaiknya dikecualikan satu ayat yang lainnya.” Imam al-Bazzar dan Abu Ya’la mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Rafi’, ia berkata, “Nabi saw. menerima seorang tamu, kemudian beliau mengutusku untuk menemui seorang laki-laki dari Yahudi agar meminjamiku tepung (gandum) (dengan tempo) sampai tanggal satu Rajab, maka orang Yahudi itu berkata, ‘Tidak, kecuali dengan gadai.’ Maka aku datang kepada Nabi saw. dan aku beritakan kepada beliau, maka Nabi saw. bersabda, ‘Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang dipercaya di langit, juga dipercaya di bumi.’ Maka aku tidak keluar dari sisi Nabi saw. hingga turun ayat: “wa laa tamuddanna
‘ainaika ilaa maa matta’na bihii azwaajan-minhum” (QS. Thaha: 131).

Surat al-Anbiya’

(Ini Makkiyyah), kecuali “afalaa yarauna anna na’til ardha” (ayat 44).

Surat al-Hajj

(Ini Makkiyyah), telah diterangkan terdahulu tentang ayat-ayat yang
dikecualikan.

Surat al-Mukminun

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah SWT, “Hatta idzaa akhadzna mutrafiihim” hingga “muslimuun” (ayat 64-77).

Surat al-Furqan

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “walladziina laa yad’uuna”
hingga “rahiiman” (QS. al-Furqan: 68-70)

Surat asy-Syu’ara

(Ini Makkiyyah). Ibnu Abbas mengecualikan firman Allah: “wasysyu’ara’” (ayat 224-227) hingga akhir sebagaimana telah diterangkan. Ada ulama lain yang menambah yaitu firman Allah: “awalam yakun lahum aayatun ‘an-ya’lamahu ‘ulama’u banii israail” (QS. asy-Syu’ara: 197). (Diceritakan oleh Ibnu al-Faras).

Surat al-Qashash

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Alladziina aatainaahumul-kitaaba” hingga “al-jaahiliin” (ayat 52-55). Imam Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas, sesungguhnya ayat tersebut diturunkan bersamaan dengan akhir al-Hadid pada para shahabat Nabi yang pernah datang kepada Raja an-Najasyi dan ikut hadir dalam Perang Uhud, dan firman Allah: “Innalladzii faradha ‘alaikal Qur ‘aana” (ayat: 85), berdasarkan keterangan yang akan dijelaskan.

Surat al-Ankabut

(Ini Makkiyyah), kecuali dari awal surat ini hingga “wa laya’lamannal munaafiqiin” (ayat 11), berdasarkan riwayat yang dikeluarkan Ibnu Jarir ath- Thabari dalam sebab turunnya. Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Dan
digabungkan pula dengan ayat tersebut (dalam pengecualian) firman Allah: ‘wa kaayyin min daabbatin’ (QS. al-Ankabut: 60), berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam sebab turunnya.”

Surat Luqman

(Ini Makkiyyah). Ibnu Abbas mengecualikan firman Allah: “wala annama fil-ardhi…” (ayat 27-29) sebagaimana telah diterangkan.

Surat as-Sajadah

(Ini Makkiyyah). Ibnu Abbas mengecualikan firman Allah: “Afaman kaana mukminan” (QS. as-Sajadah: 18-20) sebagaimana yang telah dijelaskan, dan ulama lain menambahkan firman Allah: “tatajaafa junuubuhum” (ayat 16), berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bazzar dari Bilal, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di masjid, ada sekelompok dari shahabat yang shalat ba’da Maghrib hingga Isya’, maka turunlah ayat tersebut.”

Surat Saba’

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Wa yaralladziina uutul ‘ilma” (ayat 6). Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Farwah bin Nusaik al-Muradi, ia berkata, “Aku datang kepada Rasulullah saw. kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah saya tidak membunuh orang yang berpaling (murtad) dari kaumku?’” (al-Hadits). Di dalam hadits ini terdapat keterangan: “dan (Allah) menurunkan pada negeri Saba’ apa yang telah (Allah) turunkan”. Ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu negeri Saba’?” (al-Hadits). Ibnul Hashshar berkata, “Ini menunjukkan bahwa kisah ini adalah Madaniyyah, karena hijrahnya Farwah setelah Islamnya Tsaqif terjadi pada tahun sembilan.” Ibnul Hashshar juga berkata, “Dimungkinkan firman Allah: ‘wa anzala’ itu sebagai hikayah (menceritakan) tentang apa yang telah terdahulu turunnya, sebelum hijrahnya.”

Surat Yasin

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “innaa nahnu nuhyil-mautaa” (QS. Yasin: 12), berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Sa’id, ia berkata bahwa ketika bani Salamah berada di salah satu wilayah Madinah, mereka ingin pindah ke wilayah dekat masjid, maka turunlah ayat tersebut. Kemudian Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya bekas-bekas kakimu (ketika ke masjid) itu dicatat (oleh malaikat),” sehingga mereka tidak jadi pindah. Sebagian ulama mengecualikan firman Allah: “wa idzaa qiila lahum anfiqu” (QS. Yasin: 47). Dikatakan bahwa ini turun kepada orang-orang munafik.

Surat Ghafir

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “innalladziina yujaadiluuna” hingga firman-Nya “laa ya’lamuun” (ayat 56-57). Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Abul ‘Aliyah dan lainnya bahwa sesungguhnya ayat tersebut turun kepada Yahudi yaitu ketika mereka memperbincangkan tentang Dajjal, dan ini sudah saya jelaskan di dalam Asbabun Nuzul.

Surat asy-Syura

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “am yaquuluunaftaraa” hingga “bashiir” (24-27). Saya (Imam Suyuthi) berkata, “Ini berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam ath-Thabrani dan al-Hakim tentang sebab turunnya, karena ayat ini turun kepada shahabat Anshar, sedangkan ‘wa lau basatha’ (ayat 27) ini turun pada shahabat ash-Shuffah.”
Sebagian ulama mengecualikan firman Allah: “walladziina idzaa ashaaba humul-baghaa” hingga firman-Nya “min sabiil” (QS. asy-Syura: 39-41). (Diceritakan oleh Ibnu al-Faras)

Surat az-Zukhruf

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “was’al man arsalnaa” (ayat 49). Dikatakan bahwa ayat ini di Madinah, dan dikatakan bahwa ayat ini turun di langit.

Surat al-Jatsiyah

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Qul lilladziina aamanuu” (QS. al-Jatsiyah: 14). Ini diceritakan di dalam kitab Jamalul Qurra’ dari Qatadah.

Surat al-Ahqaf

(Ini Makkiyyah), kecuali “Qul ara’aitum inkaana min ‘indillah” (QS. al-Ahqaf: 10). Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanad yang shahih dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i, “Sesungguhnya ayat ini turun di Madinah berkenaan dengan kisah Islamnya Abdullah bin Salam.” Riwayat ini memiliki beberapa jalan periwayatan yang lainnya, tetapi Ibnu Abi Hatim mengeluarkan riwayat dari Masruq, ia berkata, “Ayat ini diturunkan di Makkah, padahal Islamnya Abdullah bin Salam di Madinah, tetapi berkenaan dengan perdebatan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.” Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari asy-Sya’bi, ia berkata, “Ini tidak berkaitan dengan Abdullah bin Salam, dan ayat ini Makkiyyah.”
Sebagian ulama mengecualikan firman Allah: “Wa washshainal insaana”
(QS. al-Ahqaf: 15 hingga empat ayat), dan firman Allah: “Fashbir kamaa
sha bara ulul ‘azmi” (ayat 35). Ini diceritakan di dalam kitab Jamalul Qurra’.

Surat Qaf

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “wa laqad khalaqnas-samaawaati” hingga “lughuub” (QS. Qaf: 38). Imam al-Hakim dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat, bahwa ayat ini turun kepada orang-orang Yahudi.

Surat an-Najm

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Alladziina yajtanibuuna” hingga “it taqaa” (ayat 32). Ada yang berpendapat bahwa termasuk firman Allah:
“Afara’aitalladzi tawallaa” (ayat 33) hingga sembilan ayat.

Surat al-Qamar

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Sayuhzamul jam’u” (ayat 45), tetapi pendapat ini tidak diterima berdasarkan penjelasan yang akan diterangkan di dalam pembahasan yang keduabelas, dan dikatakan juga firman Allah “innal muttaqiina” (dua ayat: 54-55).

Surat ar-Rahman

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Yas’aluhu”, ayat 29. Ini diceritakan di dalam kitab Jamalul Qurra’.

Surat al-Waqi’ah

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Tsullatum minal-awwaliin wa tsullatum minal-akhiriin” (ayat 39-40) dan firman-Nya: “Falaa uqsimu bi mawaaqi’in-nujuum” hingga “tukadzdzibun” (ayat 75-82), berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Sababun Nuzul-nya.

Surat al-Hadid

Diperkecualikan dari surat ini akhir surat al-Hadid bagi pendapat yang mengatakan bahwa ia adalah Makkiyyah.

Surat al-Mujadalah

(Ini Makkiyyah), kecuali “Maa yakuunu min najwaa tsalaatsatin” (ayat 7).
(Diceritakan oleh Ibnu al-Faras dan lainnya).

Surat at-Taghabun

Berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa ia Makkiyyah maka diperkecualikan akhirnya, berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi di dalam Sababun Nuzul-nya.

Surat at-Tahrim

Telah dijelaskan dalam uraian yang lalu dari Qatadah bahwa yang termasuk Madani dari surat ini adalah dari ayat pertama hingga ayat kesepuluh, sedangkan yang tersisa adalah Makki.

Surat Tabarak

Juwaibir telah mengeluarkan riwayat di dalam Tafsir-nya, dari adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwa surat al-Mulk ini diturunkan kepada ahli Makkah, kecuali tiga ayat.

Surat Nuun

(Ini Makkiyyah), kecuali “innaa balaunaahum” hingga “ya’lamuun” (ayat 17-33) dan dari “fashbir” hingga “ash-shaalihin” (ayat 48-50), karena ia Madani.
Ini diceritakan oleh Imam as-Sakhawi di dalam kitabnya, Jamaalul Qurra’.

Surat al-Muzzammil

(Ini Makkiyyah), kecuali “washbir ‘alaa maa yaquulun” dua ayat dari surat al-Muzzammil, yaitu ayat 10-11. Ini diceritakan oleh al-Ashbahani, dan firman-Nya: “inna rabbaka ya’lamu…”, ayat 20 hingga akhir surat. Ini diceritakan oleh Ibnu al-Faras. Riwayat ini ditolak oleh riwayat yang dikeluarkan oleh al-Hakim dari Aisyah bahwa ia diturunkan setelah satu tahun dari turunnya ayat-ayat sebelumnya. Demikian itu ketika shalat malam diwajibkan pada permulaan Islam sebelum diwajibkannya shalat lima waktu.

Surat al-Insan

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Fashbir li hukmi rabbik” (ayat 24).

Surat al-Mursalat

(Ini Makkiyyah), kecuali firman Allah: “Wa idzaa qiila lahumurka’uu laa arka’uun” (ayat 48). Diceritakan oleh Ibnu al-Faras dan lainnya.

Surat al-Muthaffifin

Dikatakan bahwa ia Makkiyyah, kecuali enam ayat dari awalnya.

Surat al-Balad

Dikatakan bahwa ia Madaniyyah, kecuali empat ayat dari awalnya.

Surat al-Lail

Dikatakan bahwa ia Makkiyyah, kecuali awalnya.

Surat Ara’aita

Tiga ayat pertamanya diturunkan di Makkah dan yang selebihnya di Madinah.

Dhawaabith
(Beberapa Kaidah Penting)

Imam al-Hakim telah mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, al-
Mustadrak, demikian juga al-Baihaqi di dalam kitabnya, ad-Dalaail, dan al Bazzar di dalam Musnad-nya melalui jalan periwayatan al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah, dari Abdullah, ia berkata, “Apa-apa (surat-surat) yang ada ‘yaa ayyuhalladziina amanu’ maka ia diturunkan di Madinah, dan apa-apa (surat-surat) yang ada ‘yaa ayyuhannas’, maka ia (diturunkan) di Makkah.” Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Ubaid dari ‘Alqamah secara mursal (terputus sanadnya). Abu ‘Ubaid juga mengeluarkan riwayat dari Maimun bin Mihran, ia berkata, “Apa-apa yang ada di dalam Al-Qur’an terdapat ‘yaa ayyuhannaas’ atau ‘yaa banii aadama’ maka ia Makki, dan apa-apa yang di dalamnya terdapat ‘yaa ayyuhalladziina aamanuu’ maka ia adalah Madani.” Ibnu ‘Athiyyah dan Ibnu al-Faras dan selain keduanya berkata, “Untuk ‘yaa ayyuhalladziina aamanu’ memang benar, tetapi untuk ‘yaa ayyuhannaas’, maka kadang-kadang ia Madani.”
Ibnul Hashshar berkata, “Para ulama yang sibuk memerhatikan masalah
nasakh berpegang pada hadits ini dan menjadikan sebagai sandarannya
meskipun dhaif, dan ulama telah sepakat bahwa surat an-Nisa’ itu Madaniyyah, padahal awalnya ada ‘yaa ayyuhannas’, dan bahwa sesungguhnya surat al-Hajj itu Makkiyyah, padahal di dalamnya terdapat ‘yaa ayyuhalladziina aamanuu irka’uu wasjuduu’ (QS. al-Hajj: 77).”
Ulama lain mengatakan, “Pendapat tersebut apabila diambil secara
mutlak maka perlu dilihat ulang, karena surat al-Baqarah itu Madaniyyah
dan di dalamnya terdapat ‘yaa ayyuhannaas ‘u’buduu rabbakum’ (QS. al-
Baqarah: 21) dan ‘yaa ayyuhan naasu kuluu mimma fil ardhi’ (QS. al-Baqarah:168), sementara surat an-Nisa’ itu Madaniyyah, padahal di awalnya
terdapat ‘yaa ayyuhannas’.”
Imam Makki berkata, “Kaidah tersebut berlaku pada umumnya, tetapi tidak secara mutlak, karena sebagian besar di dalam surat-surat Makkiyyah terdapat ‘yaa ayyuhalladziina aamanuu’.”
Ulama lain mengatakan, “Pendapat yang lebih mendekati (kebenaran)
adalah memahami masalah tersebut berdasarkan khitab-nya. Yang dimaksud atau sebagian besar yang dimaksud adalah ahlu Makkah atau Madinah.” Al-Qadhi Bulqini berkata, “Apabila yang menjadi rujukan dalam
masalah ini adalah naql (periwayatan yang shahih) maka hal itu bisa diterima, tetapi apabila yang menjadi penyebab adalah adanya orang-orang yang beriman di Madinah itu lebih banyak, bukan di Makkah maka hal itu dhaif (lemah), karena pada hakikatnya boleh berbicara dengan orang-orang beriman dengan menyebut sifat, nama, dan jenis mereka. Sedangkan orang orang yang tidak beriman itu diperintahkan untuk beribadah sebagaimana orang-orang yang beriman itu diperintahkan untuk secara kontinu beribadah dan bertambah semangatnya dalam beribadah. Pendapat ini dinukil oleh Imam Fakhruddin di dalam Tafsir-nya.”
Imam al-Baihaqi mengeluarkan riwayat di dalam kitabnya, ad-Dalaail,
melalui Yunus bin Bukair, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, ia berkata, “Segala sesuatu yang diturunkan dari Al-Qur’an yang di dalamnya menyebut umat dan kurun waktu, maka ia diturunkan di Makkah, dan
sesuatu yang berkaitan dengan berbagai kewajiban dan sunah maka hal
itu diturunkan di Madinah.”
Al-Ja’bari berkata, “Untuk mengetahui al-Makki dan al-Madani ada dua
cara, yaitu sama’i (cara periwayatan) dan qiyasi (melalui tanda-tanda dan kaidah). Adapun sama’i adalah sesuatu yang kisah turunnya telah sampai kepada kita dengan salah satu di antara keduanya (al-Makki dan al-Madani). Sedangkan qiyasi adalah setiap surat yang di dalamnya terdapat yaa ayyuhannasu saja atau terdapat kata kallaa atau di awalnya terdapat huruf tahajji selain Azzahrawain (surat al-Baqarah dan Ali Imran) dan surat ar-Ra’du atau di dalamnya terdapat kisah Adam dan iblis selain al-Baqarah, karena ia Makkiyyah. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu maka ia Makkiyyah sedangkan setiap surat yang di dalamnya terdapat suatu kewajiban atau ada had (hukuman) maka ia Madaniyyah.” Imam Makki berkata, “Setiap surat yang di dalamnya terdapat penyebutan bagi orang-orang munafik maka ia Madaniyyah.” Ulama lainnya menambah, “Selain surat al-Ankabut.” Di dalam kitab al-Kamil karya al-Hudzali dikatakan bahwa setiap surat yang di dalamnya terdapat sajadah, dia adalah Makkiyyah.
Imam ad-Darimi rahimahullah berkata, “Apa yang diturunkan (dengan
kata-kata) kalla di Yatsrib (Madinah), maka ketahuilah, dan itu tidak ada di
dalam Al-Qur’an pada setengah yang pertama.”
Hikmahnya bahwa setengah yang terakhir (dari Al-Qur’an) itu sebagian
besar diturunkan di Makkah dan sebagian besar bersifat keras, dengan
diulang-ulang kata kalla untuk menakut-nakuti mereka dan bersikap keras
serta mengingkari perbuatan mereka. Ini berbeda dengan setengah Al-Qur’an yang pertama, dan apa-apa yang diturunkan berkenaan dengan kaum Yahudi maka tidak dapat dijadikan sebagai hujah untuk disampaikan, sebab kehinaan dan kelemahan mereka. Ini dikemukakan oleh al-‘Ummani.

Faedah

Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud (ia
berkata): surat-surat al-mufashshal (pendek-pendek) diturunkan di Makkah, dan beberapa tahun kami membacanya, dan tidak turun yang lainnya.

Tanbih (Peringatan)

Telah jelas apa yang kita sebutkan dari berbagai permasalahan yang dikemukakan oleh Ibnu Hubaib berupa al-Makki dan al-Madani, apa yang
diperselisihkan, tartib turunnya, ayat-ayat Madaniyyah di dalam surat-surat
Makkiyyah, dan ayat-ayat Makkiyyah di dalam surat-surat Madaniyyah, dan
tinggal beberapa aspek yang berhubungan dengan bab ini untuk disebutkan dengan contoh-contohnya. Kami akan mengemukakan sebagai berikut:

  1. Ayat yang diturunkan di Makkah, tetapi hukumnya Madani
    Firman Allah SWT: “Yaa ayyuhannasu inna khalaqnaakum min-dzakarin wa untsaa” (QS. al-Hujurat: 13). Ayat ini turun di Makkah pada hari penaklukan kota Makkah, padahal ayat ini Madaniyyah, karena ia turun setelah hijrah. Demikian juga ayat “Al-yauma akmaltu lakum diinakum…” ( QS. al-Ma’idah: 3). Saya (Imam Suyuthi) berpendapat, “Demikian juga firman Allah: ‘innallaha ya’ murukum an-tuaddul-amaanaati ilaa ahlihaa’ (QS. an-Nisa’: 58) di dalam ayat-ayat yang lainnya.”
  1. Ayat ayat yang diturunkan di Madinah, tetapi hukumnya Makki.
    Surat al-Mumtahanah, ia diturunkan di Madinah tetapi isinya ditujukan untuk ahli Makkah. Demikian juga firman Allah: “walladziina haajaruu” (QS. an-Nahl: 41) hingga akhir diturunkan di Madinah tetapi isinya ditujukan untuk ahli Makkah. Demikian juga permulaan surat Bara’ah (at-Taubah), ia diturunkan di Madinah, tetapi isinya ditujukan untuk orang-orang musyrik Makkah.
  2. Ayat yang mirip dengan yang diturunkan di Madinah, sementara ia
    berada di dalam surat-surat Makkiyyah. Firman Allah SWT di dalam surat an-Najm: “alladziina yajtanibuuna kabaairal-itsmi wal fawaakhisya illallamam” (QS. an-Najm: 32). Sesungguhnya al fawaakhisy adalah setiap dosa yang di dalamnya terdapat had (hukuman) dan al-kabaair adalah setiap dosa yang berakibat masuk neraka, sedangkan allamam adalah dosa-dosa yang berada di antara dua batasan sebelumnya. Padahal di Makkah tidak ada had (hukuman) dan tidak ada yang sejenis itu.
  3. Ayat -ayat yang mirip dengan ayat yang diturunkan di Makkah, tetapi
    berada di dalam surat-surat Madaniyyah. Firman Allah SWT: “wal ‘aadiyaati dhab-ha” dan firman Allah di dalam surat al-Anfal: “wa idz qaalullaahumma in kaana haadza huwal haq” (QS. al-Anfal: 32).
  4. Ayat atau surat yang dibawa dari Makkah ke Madinah. Ini seperti surat Yusuf dan surat al-Ikhlash. Saya (Imam Suyuthi) berpendapat, “Demikian juga surat sabbihisma sebagaimana telah dijelaskan di dalam hadits al-Bukhari.”
  5. Ayat yang dibawa dari Madinah ke Makkah. Seperti firman Allah: “Yas aluunaka ‘anisy-syahril haraam qitaalun-fiihi” (QS. al-Baqarah: 217), dan ayat tentang riba, permulaan surat Bara’ah (at-Taubah), dan firman Allah: “innalladziina tawaffaahum al-malaaikah dzaalimii anfusihim” (QS. an-Nisa’: 97).
  6. Ayat yang dibawa ke Habasyah (Ethiopia). Firman Allah: “Qul yaa ahlal kitaabi ta’aalau ilaa kalimatin sawaa-in…” (QS. Ali ‘Imran: 64). Saya (Imam Suyuthi) berpendapat, “Benar juga membawa ayat ini ke negeri Romawi dan sebaiknya dimasukkan juga sebagai contoh bahwa surat yang dibawa ke Habasyah adalah surat Maryam, karena ada riwayat yang shahih bahwa Ja’far bin Abi Thalib pernah membacanya di hadapan Raja an-Najasyi, dan riwayat ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnad-nya.”

Adapun ayat-ayat yang turun di al-Juhfah, Thaif, Baitulmaqdis, dan Hudaibiyah, maka akan dijelaskan dalam pembahasan berikutnya setelah ini. Demikian juga ayat-ayat yang turun di Mina, ‘Arafat, ‘Asfan, Tabuk, Badar, Uhud, Hira’, dan Hamra’ al-Asad.

Bersambung ke : ………………………………….

Mengenal al-Hadhari dan as-Safari

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai