Al-Firasyi dan an-Naumi

Di antara contoh ayat-ayat al-Firasyi adalah firman Allah SWT: “wallahu ya’shimuka minan naas” (QS. al-Ma’idah: 67) sebagaimana telah dibahas, dan ayat tentang tiga shahabat Nabi yang tertinggal dalam Perang Tabuk. Dalam hadits shahih dikatakan bahwa ayat ini turun sementara malam tinggal sepertiga dan pada saat itu Nabi saw. sedang berada di tempat tidur istrinya, Ummu Salamah. Tetapi dianggap bermasalah apabila
dikompromikan antara ini dan perkataan Nabi saw. dalam kaitannya dengan Aisyah, “Tidak pernah diturunkan kepadaku wahyu di tempat tidur wanita selain dia.” Imam al-Qadhi Jalaluddin berkata, “Kemungkinan ini terjadi sebelum kisah yang wahyu itu turun berkenaan dengan peristiwa itu di tempat tidur Ummi Salamah.”
Saya (Imam as-Suyuthi) berpendapat: saya merasa beruntung dengan hadits yang diambil sebagai jawaban yang lebih baik daripada jawaban di atas, yaitu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la di dalam Musnadnya, dari Aisyah, ia berkata, “Aku diberi sembilan keistimewaan…” (al-Hadits), dan di dalam hadits itu ada ungkapan sebagai berikut: “dan apabila wahyu yang akan diturunkan kepadanya sedangkan dia berada di rumah istriistrinya maka mereka pergi meninggalkannya. Adapun bila wahyu itu turun kepadanya, sedangkan aku bersamanya (maka wahyu itu
turun kepadanya) dan saya berada di dalam selimutnya”. Berdasarkan hadits ini maka tidak ada pertentangan di antara dua hadits.
Adapun ayat-ayat an-Naumi, di antara contoh-contohnya adalah surat
al-Kautsar. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
dari Anas, ia berkata: ketika Rasulullah saw. sedang berada di tengah-tengah kami, tiba-tiba beliau tidur lelap, kemudian beliau mengangkat kepalanya sambil tersenyum, maka kami bertanya, “Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulullah?” Nabi bersabda, “Tadi telah diturunkan kepadaku suatu surat,” kemudian beliau membaca: “Bismillahirrahmaanir rahiim. Inna a’thainaakal-kautsar fa shalli lirabbika wanhar inna syaani’aka huwal abtar.”
Imam ar-Rafi’i berkata di dalam kitabnya, al-Amaali: mereka memahami dari hadits tersebut bahwa surat al-Kautsar ini turun pada saat Nabi saw. tidur lelap, dan mereka berkata, “Di antara wahyu ada yang datang pada Nabi saat beliau tidur, karena mimpi para nabi adalah wahyu.” Imam Rafi’i berkata, “Itu benar, tetapi yang lebih tepat adalah jika dikatakan bahwa Al-Qur’an seluruhnya diturunkan (kepada Nabi) pada saat beliau tidak tidur sehingga seakan-akan telah terlintas bagi Nabi dalam tidurnya surat al-Kautsar yang telah diturunkan (kepada beliau) dalam keadaan sadar (tidak tidur), atau telah diperlihatkan kepadanya al-Kautsar sebagaimana tersebut di dalam surat, maka beliau membacakan dan menerangkan kepada mereka.” Kemudian Imam Rafi’i berkata, “Telah ada di dalam sebagian riwayat bahwa Nabi memang ditidurkan. Keadaan yang dialami Nabi ketika turunnya wahyu seperti ini memang dimungkinkan dan dikatakan pada surat ini: Burha’ al-Wahyu.”
Saya (Imam Suyuthi) mengatakan: pendapat yang dikatakan oleh Imam
ar-Rafi’i itu sangat teratur, dan itulah pendapat yang aku sukai sebelum aku
teliti, dan penakwilan yang terakhir lebih shahih daripada yang pertama,
karena ungkapan: “tadi telah diturunkan kepadaku” itu mendorong bahwa
hal itu diturunkan sebelumnya. Bahkan kita katakan bahwa surat ini turun
pada saat beliau seperti itu, dan bukan karena lelap dalam tidurnya. Itu
adalah kondisi yang dialami Nabi ketika menerima wahyu. Ulama telah
menyebutkan bahwa Nabi pada saat itu telah diambil dari dunia.

Bersambung ke : …………….

Al-Ardhi dan as-Samaa’i

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai