Imam al-Wahidi mengatakan bahwa Allah telah menurunkan dalam masalah “al-Kalaalah” dua ayat, salah satunya di waktu musim dingin. Itulah yang ada di awal surat an-Nisa’, sedangkan yang lainnya di waktu musim panas (kemarau), dan itulah yang ada di akhir surat an-Nisa’.
Diriwayatkan di dalam Shahih Muslim, dari Umar:
belum pernah aku berkonsultasi tentang suatu masalah sebagaimana aku berkonsultasi tentang masalah “al-Kalaalah”, dan tidak pernah Nabi bersikap keras tentang suatu masalah sebagaimana beliau bersikap keras
terhadapku tentang masalah tersebut, sehingga beliau menusuk dadaku dengan jari telunjuk beliau, dan beliau berkata, “Wahai Umar, tidak cukupkah bagimu ayat ash-Shaif (musim panas) yang ada di akhir surat an-Nisa’?”
Diriwayatkan pula di dalam kitab al-Mustadrak, dari Abu Hurairah, sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu al-kalaalah?” Nabi bersabda, “Apakah kamu belum pernah mendengar ayat
yang turun pada musim kemarau, yaitu ‘yastaftuunaka qulillahu yuftiikum fill kalaalah’?” (QS. an-Nisa’: 176).
Telah dijelaskan bahwa ayat tersebut turun pada saat Nabi dalam perjalanan Haji Wada’ maka dianggap ash-Shifi semua ayat yang diturunkan pada waktu Haji Wada’ seperti awal surat al-Ma’idah, dan seperti firman Allah: “Al-yauma akmaltu laku diinakum” (QS. al-Ma’idah: 3) serta ayat: “wattaquu yauman turja’uuna …” (QS. al-Baqarah: 281). Demikian juga ayat “ad-dain” dan surat an-Nashr.
Di antara ayat-ayat ash-Shaif adalah ayat-ayat yang turun pada saat Perang Tabuk, karena perang itu terjadi dalam situasi yang sangat panas,
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya, ad-
Dalaail melalui Ibnu Ishaq, dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abi Bakar bin Khazm: sesungguhnya Rasulullah saw. tidaklah keluar dalam suatu peperangan kecuali menampakkan bahwa beliau menginginkan arah yang lain, kecuali dalam Perang Tabuk. Beliau berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku menginginkan Romawi.”
Beliau memberitahukan kepada mereka (para shahabatnya), dan itu terjadi pada masa sulit, sangat panas, dan kekeringan. Maka ketika Rasulullah saw. pada suatu hari mempersiapkan perang tersebut beliau berkata kepada al-Jad bin Qais, “Apakah kamu mempunyai masalah dengan wanita bani al-Ashfar?” Ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya telah diketahui oleh kaumku bahwa tidak ada sesuatu yang sangat menakjubkan bagiku kecuali wanita, dan saya takut kalau melihat wanita-wanita dari bani al-Ashfar itu membuatku tertarik, maka izinkan aku (untuk tidak ikut perang).” Maka turunlah firman Allah: “wa minhum man yaquulu i’dzan lii.” (QS. at-Taubah: 49)
Ada seseorang dari kaum munafik berkata, “Janganlah kamu sekalian pergi (berjihad) pada saat panas seperti ini.” Maka Allah menurunkan firman-Nya: “Qul naaru jahannama asyaddu harra.” (QS. at-Taubah: 81)
Di antara contoh ayat-ayat asy-Syita’i adalah firman Allah SWT:
“innalladziina jaa’u bil ifki” hingga “wa rizqun kariim” (QS. an-Nur: 11-26).
Di dalam hadits shahih diriwayatkan dari Aisyah bahwa sesungguhnya ayat ayat tersebut diturunkan pada hari musim dingin.
Demikian juga ayat-ayat mengenai Perang Khandaq (menggali parit) yang ada di dalam surat al-Ahzab, turun pada saat musim dingin. Dalam hadits Hudzaifah diterangkan: bahwa pada malam (Perang) al-Ahzab itu para shahabat berpencar dari Rasulullah saw. kecuali dua belas orang, maka Rasulullah saw. mendatangiku, kemudian beliau berkata, “Bangkitlah dan berangkatlah ke tentara al-Ahzab (koalisi).” Aku katakan, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutus engkau dengan benar, aku tidak bangkit untuk taat kepadamu kecuali merasa malu dari rasa dingin” (al-Hadits). Dalam hal ini Allah menurunkan firman-Nya: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu udz kuruu ni’matallahi ‘alaikum idz jaa’atkum junuudun” (QS. al-Ahzab: 9). Riwayat ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya, ad-Dalaail.
Bersambung ke : …………….