Pertama Kali yang Diturunkan dari Al-Qur’anul Karim

Telah diperselisihkan mengenai yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an atas beberapa pendapat sebagai berikut ini.
Pendapat pertama , dan inilah yang shahih, yaitu “iqra’ bismi rabbika”. Imam Bukhari, Muslim, dan lainnya meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata, “Pertama kali Rasulullah saw. menerima wahyu adalah mimpi yang benar
dalam tidur, maka Nabi saw. tidak melihat mimpi kecuali mimpi itu datang seperti cahaya subuh. Kemudian Nabi dibuat senang untuk menyendiri, maka beliau pergi ke Gua Hira’ untuk beribadah di dalamnya beberapa malam yang dapat dihitung dan membawa perbekalan untuk itu kemudian kembali kepada Khadijah ra. Maka Khadijah memberi beliau perbekalan seperti sebelumnya, hingga al-haq (kebenaran) itu membuatnya terkejut, sedangkan dia berada di Gua Hira’. Maka datanglah malaikat (Jibril) kepadanya di gua itu. Malaikat itu berkata, ‘Bacalah (ya Muhammad).’ Nabi saw. berkata, ‘Kemudian saya katakan, Saya tidak dapat membaca, kemudian dia memegang dan mendekapku hingga aku merasa berat, kemudian melepaskanku dan dia berkata, Bacalah (hai Muhammad),
maka aku katakan, Saya tidak dapat membaca, kemudian Jibril mendekapku yang kedua, hingga aku merasa payah, kemudian melepaskanku, kemudian ia berkata, Bacalah (hai Muhammad), maka aku katakan, Aku tidak dapat membaca, maka ia mendekapku yang ketiga hingga aku merasa payah, kemudian melepaskanku, kemudian ia berkata, Iqra’ bismi rabbika hingga maa lam ya’lam (QS. al-‘Alaq: 1-5).’ Kemudian Rasulullah saw. pulang dengan membawa ayat-ayat itu dalam keadaan gemetar…” (al-Hadits).
Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah riwayat di dalam al-Mustadrak, juga al-Baihaqi di dalam ad-Dalaail dan keduanya menshahihkannya, dari Aisyah, ia berkata: bahwa surat yang turun pertama kali dari Al-Qur’an
adalah: “iqra’ bismi rabbika”. Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir, dengan sanad berdasarkan syarat shahih, dari Abi Raja’
al-‘Utharidi, ia berkata: Abu Musa pernah membacakan (Al-Qur’an) pada
kami, kemudian kami duduk melingkar di sekelilingnya. Dia memakai
dua pakaian putih, dan ketika membaca surat: “iqra’ bismi rabbika alladzii
khalaq”, beliau berkata, “Ini adalah pertama kali surat yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw.”
Sa’id bin Manshur berkata di dalam kitab Sunan-nya: telah menceritakan
kepada kita Sufyan, dari ‘Amr bin Dinar, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata:
Jibril datang kepada Nabi saw., kemudian ia berkata kepadanya, “Bacalah
(ya Muhammad). Nabi berkata, ‘Apa yang harus saya baca? Demi Allah,
saya tidak bisa membaca.’ Maka Jibril berkata, ‘Iqra’ bismi rabbikalladzii
khalaq.’ Maka Nabi berkata, ‘Inilah yang pertama kali diturunkan.’”
Abu ‘Ubaid berkata di dalam Fadha’il-nya: telah menceritakan kepada
kita Abdurrahman, dari Sufyan, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata,
“Sesungguhnya pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah ‘iqra’
bismi rabbik’ dan ‘Nuun wal qalami’ (QS. al-Qalam: 1).”
Ibnu Asytah mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, al-Mashahif,
dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: Jibril datang kepada Nabi saw. dengan
membawa selembar (sutra tertulis), kemudian ia berkata, “Bacalah (ya
Muhammad).” Nabi saw. berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Ia berkata,
“Iqra’ bismi rabbik,” maka mereka mengetahui bahwa itulah pertama kali surat yang diturunkan dari langit.
Dikeluarkan juga dalam sebuah riwayat dari az-Zuhri, sesungguhnya
ketika Nabi berada di Gua Hira’, tiba-tiba datang seorang malaikat (Jibril)
dengan membawa selembar kain dari sutra, tertulis di atasnya: “iqra’ bismi
rabbikalladzii khalaq” hingga “maa lam ya’lam” (QS. al-‘Alaq: 1-5).
Pendapat kedua, adalah “Yaa ayyuhal muddatstsir”, berdasarkan hadits
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, dari Abi Salamah bin Abdurrahman, ia berkata: aku pernah bertanya kepada Jabir bin Abdillah,
“Mana Al-Qur’an yang diturunkan terlebih dahulu: yaa ayyuhal muddatstsir
atau iqra’ bismi rabbika?” Jabir menjawab, “Saya akan menceritakan
kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah saw. kepada kami.
Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya aku pernah berada di Gua Hira’.
Ketika sudah selesai keberadaanku di gua itu, aku turun (keluar dari gua
itu) kemudian aku berada di tengah lembah. Aku melihat ke depan dan
ke belakang, ke kanan dan ke kiri, kemudian aku melihat ke langit, tibatiba
(aku melihat) Jibril. Aku merasa takut, maka aku mendatangi Khadijah
kemudian Khadijah menyuruh mereka, dan mereka pun memberikan
selimut padaku. Lalu Allah SWT menurunkan firman-Nya: Yaa ayyuhal
muddatstsir, qum fa andzir.’”
Pendapat pertama menjawab hadits ini dengan beberapa jawaban sebagai berikut:
a. Sesungguhnya yang ditanyakan adalah tentang turunnya satu surat
secara sempurna maka menjadi jelas bahwa surat al-Muddatstsir
diturunkan secara keseluruhan sebelum turunnya surat “Iqra’” secara
sempurna karena yang turun pertama adalah ayat-ayat di awalnya.
Ini diperkuat dengan hadits yang ada di kedua kitab Shahih (Bukhari
dan Muslim) juga dari Abi Salamah dari Jabir (ia berkata): aku mendengar Rasulullah saw. sedang berbicara tentang masa kevakuman wahyu, maka beliau bersabda dalam haditsnya, “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar ada suara dari langit, kemudian aku angkat kepalaku, ternyata ada seorang malaikat yang pernah datang kepadaku di Hira’ sedang duduk di atas kursi antara langit dan bumi, maka aku pulang dan aku katakan, ‘Tolong selimuti aku, selimuti aku,’ maka mereka memberikan selimut padaku, dan Allah menurunkan: ‘yaa ayyuhal muddatstsir’.”
Ungkapan Nabi saw.: “malaikat yang pernah datang kepadaku di Gua
Hira’” menunjukkan bahwa kisah yang ada di dalam hadits ini terjadi
setelah kisah Hira’ yang turun di dalamnya: “iqra’ bismi rabbik”.
b. Sesungguhnya apa yang dimaksudkan oleh Jabir tentang yang pertama
itu adalah yang pertama secara khusus, yaitu masa setelah wahyu itu
vakum (terputus), bukan yang pertama kali turun secara mutlak.
c. Sesungguhnya yang dimaksud adalah yang pertama kali turun secara
khusus dengan adanya perintah untuk mengingatkan (berdakwah).
Sebagian ulama mengungkapkan demikian itu dengan istilah:
“pertama kali yang diturunkan untuk kenabian adalah: “iqra’ bismi rabbik”, dan pertama kali yang diturunkan untuk kerasulan adalah: “yaa ayyuhal muddatstsir”.
d. Sesungguhnya yang dimaksud adalah pertama kali yang diturunkan
dengan sebab terdahulu yaitu apa yang terjadi pada Nabi yang beliau
memakai selimut karena ketakutan. Adapun “iqra” itu turun sejak
awal tanpa ada sebab yang mendahului. Pendapat ini disebutkan oleh
Ibnu Hajar.
e. Sesungguhnya Jabir mengeluarkan riwayat tersebut atas dasar ijtihadnya, bukan dari riwayatnya. Dengan demikian maka hadits yang
diriwayatkan oleh Aisyah lebih didahulukan. Pendapat ini dikatakan
oleh al-Karmani. Jawaban paling baik dari berbagai jawaban di atas adalah yang pertama (a) dan terakhir (e).
Pendapat ketiga, bahwa yang pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an adalah surat al-Fatihah. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata di dalam tafsirnya, al-Kasyaf, bahwa Ibnu Abbas dan Mujahid berpendapat bahwa surat yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’, dan sebagian besar ahli tafsir berpendapat bahwa surat yang pertama kali turun adalah “Fatihatul kitab”.
Ibnu Hajar berkata: pendapat yang diikuti oleh kebanyakan para imam
adalah pendapat pertama. Adapun pendapat yang disandarkan pada sebagian besar dari ulama, maka tidak ada yang berkata demikian kecuali sedikit sekali dibanding dengan orang-orang yang berkata dengan pendapat pertama. Sebagai hujahnya: hadits yang dikeluarkan riwayatnya oleh Imam al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaail, dan Imam Al-Wahidi melalui Yunus bin Bukair, dari Yunus bin ‘Amr, dari ayahnya, dari Abi Maisarah ‘Amr bin Syarahbil, sesungguhnya Rasulullah saw. berkata kepada Khadijah, “Sesungguhnya bila aku sedang seorang diri maka aku mendengar seruan (panggilan). Demi Allah, aku benar-benar khawatir bila terjadi apa-apa.”
Kemudian Khadijah berkata, “Ma’adzallah (semoga Allah melindungi (engkau), Allah tidak akan berbuat jahat kepadamu. Demi Allah,
sesungguhnya engkaulah orang yang benar-benar menyampaikan amanah, menyambung silaturrahim, dan jujur dalam tutur kata.” Ketika Abu Bakar masuk maka Khadijah menyebut haditsnya pada Abu Bakar, dan Khadijah berkata, “Pergilah engkau bersama Muhammad kepada Waraqah.” Keduanya pergi menemui Waraqah, dan keduanya menceritakan kepadanya. Muhammad berkata, “Apabila aku seorang diri maka aku mendengar suara memanggil di belakangku: ‘Ya Muhammad! Ya Muhammad!,’ kemudian aku pergi keluar.” Waraqah berkata, “Jangan berbuat begitu, apabila datang kepadamu maka tetaplah (di tempatmu) hingga kamu mendengar apa yang ia katakan, kemudian datanglah kepadaku dan beritakan kepadaku.” Kemudian ketika Muhammad sendirian maka Jibril memanggilnya, “Ya Muhammad, katakanlah ‘Bismillahirrahmanirrahim,
alhamdu lillahi rabbil ‘alamin’ hingga ‘wa ladhdhaallin’…” (al-Hadits). Hadits
ini mursal, para perawinya tsiqat. Imam al-Baihaqi berkata, “Apabila ia hadits mahfudz maka kemungkinan ia adalah berita tentang turunnya surat al-Fatihah setelah turun kepada Nabi saw. surat Iqra’ dan surat al-Muddatstsir.” Pendapat yang keempat, mengatakan bahwa pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah “Bismillahirrahmaanirrahiim”.
Imam al-Wahidi mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanadnya dari
Ikrimah dan Hasan, keduanya berkata, “Pertama kali yang diturunkan dari
Al-Qur’an adalah ‘Bismillahirrahmaanirrahim’ dan awal surat ‘Iqra’ bismi rabbik’.” Ibnu Jarir ath-Thabari dan lainnya juga mengeluarkan sebuah
riwayat melalui adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Pertama
kali yang dibawa turun oleh Jibril as. kepada Nabi Muhammad saw. adalah
perkataan Jibril ‘Ya Muhammad!, mohonlah perlindungan (kepada Allah),
kemudian katakan ‘Bismillahirrahmaanirrahim’.”
Menurut saya (Imam Suyuthi): sesungguhnya pada dasarnya ini tidak
dianggap pendapat, karena sudah barang tentu konsekuensi turunnya suatu surat adalah turunnya “basmalah” bersama surat itu, maka ia merupakan ayat yang pertama kali turun secara mutlak.
Berkenaan dengan pertama kali yang diturunkan dari Al-Qur’anul
Karim, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan
Muslim dari Aisyah ra., ia berkata, “Sesungguhnya pertama kali yang
diturunkan adalah surat al-Mufashshal. Di dalamnya disebutkan surga
dan neraka, hingga ketika manusia melompat untuk masuk Islam maka
turunlah (ayat-ayat yang menjelaskan tentang) halal dan haram.”
Penjelasan tersebut agak sulit dipahami, karena pertama kali yang
diturunkan adalah “iqra”, padahal tidak ada di dalam surat “iqra” penyebutan surga dan neraka. Tetapi kesulitan ini dapat dijawab bahwa di sana ada kata “min” yang diperkirakan sehingga maknanya: di antara pertama kali yang diturunkan, dan yang dimaksud adalah surat al-Muddatstsir, karena ia merupakan pertama kali yang diturunkan setelah masa vakumnya (terputusnya) wahyu, dan di akhirnya terdapat penyebutan surga dan neraka.
Maka kemungkinan akhir surat al-Muddatstsir itu diturunkan sebelum
turunnya ayat-ayat kelengkapan dari surat “iqra”.

Far’un
(Pembahasan Tambahan)

Al-Wahidi mengeluarkan sebuah riwayat melalui Al-Husen bin Waqid,
ia berkata: aku mendengar Ali bin Husen berkata bahwa pertama kali
surat yang turun di Makkah adalah “iqra’ bismi rabbik” dan surat yang
terakhir turun di Makkah adalah Al-Mukminun dan dikatakan dalam
pendapat yang lain adalah al-‘Ankabut. Sedangkan surat yang pertama
kali turun di Madinah adalah “wailul lil muthaffifin” dan yang terakhir turun
di Madinah adalah surat Bara’ah atau at-Taubah. Kemudian surat yang
disampaikan oleh Rasulullah saw. di Makkah adalah surat an-Najm.
Di dalam Syarah al-Bukhari (Fath al-Baari), karya Ibnu Hajar disebutkan
bahwa para ulama sepakat bahwa surat al-Baqarah adalah surat yang
pertama kali turun di Madinah, tetapi pengakuan bahwa hal itu telah
menjadi kesepakatan perlu ditinjau kembali, karena adanya perkataan Ali
bin Husen tersebut. Di dalam Tafsir an-Nasafi, dari al-Waqidi, ia berkata
bahwa surat yang pertama kali turun di Madinah adalah surat al-Qadar.
Abu Bakar Muhammad bin Harits bin Abyadh berkata di dalam juz’ihi
Al-Masyhur: telah menceritakan kepada kami Abu al-‘Abbas Ubaidillah
bin Muhammad bin A’yun al-Baghdadi (ia berkata): telah menceritakan
kepada kami Hassan bin Ibrahim al-Kirmani (ia berkata): telah
menceritakan kepada kami Umayyah al-Azdi, dari Jabir bin Zaid, ia
berkata: bahwa pertama kali yang diturunkan oleh Allah SWT dari Al-
Qur’an di Makkah adalah: Iqra’ bismi rabbik, kemudian Nuun wal-qalami,
kemudian yaa ayyuhal muzzammil, kemudian yaa ayyuhal muddatstsir, kemudian al-Fatihah, kemudian tabbat yada abii lahab, kemudian idzas syamsu kuwwirat, kemudian Sabbihisma rabbik al-a’laa, kemudian wallaili idzaa yaghsyaa, kemudian al-Fajr, kemudian adh-Dhuha, kemudian Alam Nasyrah, kemudian al-‘Ashr, kemudian al-‘Adiyat, kemudian al-Kautsar, kemudian Al-haakumuttakaatsur, kemudian Ara’aitalladzii yukadzdzibu, kemudian al-Kafirun, kemudian Alam tara kaifa, kemudian Qul a’udzu birabbil falaq, kemudian Qul a’uudzu birabbinnaas, kemudian Qul huwallaahu ahad, kemudian surat an-Najm, kemudian Abasa wa tawallaa, kemudian Innaa anzalnaahu, kemudian Was syamsi wa dhuhaaha, kemudin al-Buruuj, kemudian Wat tiini, kemudian Li iila fi quraisy, kemudian al-qari’ah, kemudian al-qiyaamah, kemudian Wailul likulli humazah, kemudian Walmursalaati, kemudian Qaaf, kemudian al-Balad, kemudian ath-Thariq, kemudian Iqtarabat as-saa’ah, kemudian Shad, kemudian al-A’raf, kemudian al-Jin, kemudian Yasin, kemudian al-Furqan, kemudian al-Malaikah, kemudian “Kaaf haa yaa ‘aiin shood”, kemudian Thaha, kemudian al-Waqi’ah, kemudian asy-Syu’araa, kemudian “Thaa siiin/Sulaiman”,
kemudian “Thaa siiim miiim”/al-Qashash, kemudian bani Israil, kemudian
at-Tasi’ah/Yunus, kemudian Hud, kemudian Yusuf, kemudian al-Hijr,
kemudian al-An’am, kemudian ash-Shaffat, kemudian Luqman, kemudian
Saba’, kemudian az-Zumar, kemudian “Haa miiim”/al-Mu’min, kemudian
Haa miim as-sajadah, kemudian Haa miim/ az-Zukhruf, kemudian Haa
miim/ad-Dukhan, kemudian Haa miim/al-Jatsiyah, kemudian Haa miim/
al-Ahqaf, kemudian adz-Dzariyat, kemudian al-Ghasyiyah, kemudian al-
Kahfi, kemudian Haa miim ‘aiin siin qaaf, kemudian Tanzil as-sajadah,
kemudian al-Anbiya’, kemudian an-Nahl (40 ayat pertama, karena
selebihnya adalah Madaniyyah), kemudian Inna arsalnaa nuuhan, kemudian ath-Thur, kemudian al-Mukminun, kemudian Tabarak, kemudian al-Haqqah, kemudian Sa’ala saa’ilun, kemudian ’Amma yatasaa’aluun,
kemudian an-Naazi’aat, kemudian Idzas samaaun fatharat, kemudian Idzas
samaaaun syaqqat, kemudian ar-Rum, kemudian al-‘Ankabut, dan kemudian Wailul lil muthaffifin. Inilah surat-surat yang diturunkan di Makkah.
Surat-surat yang diturunkan di Madinah adalah: surat al-Baqarah,
kemudian Ali ‘Imran, kemudian al-Anfal, kemudian al-Ahzab, kemudian
al-Ma’idah, kemudian al-Mumtahanah, kemudian Idza jaa’a nashrullah,
kemudian an-Nur, kemudian al-Hajj, kemudian al-Munafiqun, kemudian
al-Mujadalah, kemudian al-Hujurat, kemudian at-Tahrim, kemudian al-
Jumu’ah, kemudian at-Taghabun, kemudian Sabbih al-Hawariyyin, kemudian al-Fath, kemudian at-Taubah, kemudian (ayat terakhir) penutup Al-Qur’an.
Saya (Imam Suyuthi) berpendapat bahwa susunan atau urutan seperti ini
gharib (aneh) dan perlu ditinjau kembali, dan Jabir bin Zaid termasuk ulama Al-Qur’an di kalangan tabiin. Al-Burhan (Burhanuddin) al-Ja’bari telah
menadzamkan atsar ini dalam qasidah (syair)-nya yang beliau beri nama “Taqriibul ma’mul fii tartiibun nuzuul”.

Far’un (Pembahasan Tambahan)
Tentang Awal-Awal yang Bersifat Khusus

  1. Yang pertama kali diturunkan tentang “perang”.
    Imam al-Hakim meriwayatkan di dalam kitabnya, al-Mustadrak, dari Ibnu Abbas ia berkata: ayat yang pertama kali turun tentang “perang” adalah: “udzina lilladziina yuqaataluuna bi annahum dzulimuu”. (QS. al-Hajj: 39) Ibnu Jarir ath-Thabari juga mengeluarkan sebuah riwayat dari Abil ‘Aliyah, ia berkata: ayat yang pertama kali turun tentang “perang” di Madinah adalah “wa qaatiluu fii sabiilillah alladziina yuqaatiluunakum”. (QS. al-Baqarah: 190)
  2. Di dalam kitab al-Iklil karya Imam al-Hakim dikatakan bahwa yang pertama kali diturunkan tentang “perang” adalah: “innallaha isytaraa minal mukminiina anfusahum wa amwaalahum”. (QS. at-Taubah: 111)
  1. Yang pertama kali diturunkan tentang “pembunuhan”.
    Ayat (yang ada di dalam surat) al-Isra’ ayat 33, yaitu: ”wa man qutila
    madzluuman” sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Adh-Dhahhak.
  2. Yang pertama kali diturunkan tentang “khamr”.
    Imam ath-Thayalisi meriwayatkan di dalam Musnad-nya, dari Ibnu
    Umar, ia berkata: telah turun tiga ayat tentang khamr (minuman
    keras), dan yang pertama kali adalah: “yas’aluunaka ‘anil khamri wal
    maisir” (QS. al-Baqarah: 219), kemudian dikatakan bahwa khamr telah
    diharamkan, maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, biarkanlah
    kami memanfaatkan khamr sebagaimana difirmankan oleh Allah
    SWT.” Nabi diam di hadapan mereka, maka turunlah: ‘laa
    taqrabushshalaata wa antum sukaaraa’ (QS. an-Nisa’: 43), kemudian
    dikatakan bahwa khamr telah diharamkan. Mereka berkata, “Wahai
    Rasulullah, kami tidak meminumnya ketika mendekati shalat.” Nabi
    diam di hadapan mereka, kemudian turunlah: “Yaa ayyuhalladziina
    amanuu innama alkhamru wal maisiru…” (QS. al-Ma’idah: 90), maka
    Rasulullah saw. bersabda, “Khamr telah diharamkan.”
  3. Yang pertama kali diturunkan tentang “berbagai jenis makanan” di
    Makkah adalah ayat yang ada di surat al-An’am ayat 145: “qul laa
    ajidu fii maa uuhiya ilayya muharraman”, kemudian ayat yang ada di
    dalam surat an-Nahl: 114 hingga akhirnya, yaitu: “fa kuluu mimmaa
    razaqakumullaahu halaalan thayyiban”, sedangkan yang turun di
    Madinah adalah ayat yang ada di surat al-Baqarah: 173, yaitu:
    “innamaa harrama ‘alaikum al-maitata”, kemudian ayat yang ada di
    surat al-Ma’idah: 3, yaitu: “Hurrimat ‘alaikum al-maitatu…”. Ini
    dikatakan oleh Ibnu al-Hashshar.
  4. Yang pertama kali diturunkan tentang berbagai persoalan yang
    lainnya:
    Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: pertama kali surat yang diturunkan di dalamnya adalah “sajadah”/an-Najm.
    Al-Faryabi berkata: telah menceritakan kepada kita Warqa’, dari Ibnu
    Abi Najih, dari Mujahid, tentang firman Allah: “laqad nasharapustaka kumullahu fii mawaathina katsiiratin” (QS. at-Taubah: 25), ia berkata: inilah ayat yang pertama kali diturunkan dari surat Baraa’ah. Al-Faryabi juga mengatakan: telah menceritakan kepada kita Israil, (ia berkata): telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Masruq, dari Abi ad-Duha, ia berkata: pertama kali yang diturunkan dari surat Baraa’ah (at-Taubah) adalah: “infiruu khifaa fan wa tsiqaalan” (ayat 41), kemudian turun ayat-ayat yang pertama, kemudian turun ayat-ayat yang akhir (dari surat at-Taubah). Ibnu Asytah mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, al-Mashahif, dari Abi Malik, ia berkata: yang pertama kali turun dari surat Bara’ah (at-Taubah) adalah “infiruu khifaafan wa tsiqaalan”. Setelah beberapa tahun kemudian diturunkan “baraa’atun minallahi wa rasuulihi” awal surat, kemudian dirangkai dengan empat puluh ayat (berikutnya). Ibnu Asytah juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui Dawud, dari ‘Amir tentang firman Allah: “infiruu khifaafan wa tsiqaalan”, ia berkata: ini adalah ayat yang pertama kali diturunkan di dalam surat Bara’ah dalam Perang Tabuk, dan ketika pulang dari Tabuk maka turunlah ayat Bara’ah yang lainnya, kecuali tiga puluh delapan ayat dari awalnya. Ibnu Asytah juga mengeluarkan sebuah riwayat melalui Sufyan dan lainnya, dari Hubaib bin Abi ‘Umrah, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: bahwa pertama kali ayat yang diturunkan dari surat Ali ‘Imran: 138: “haadzaa bayaanun linnaasi wa hudan wa mau’idzatun lil muttaqiin”, kemudian selebihnya diturunkan pada hari Perang Uhud.

Bersambung ke : ………………..

Mengenal yang Terakhir Diturunkan dari Al-Qur’anul Karim

Diterbitkan oleh Farid Fatsya

Ffatsya Glorious

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai