Al-Jahiz berkata, “Allah telah memberi nama kitab-Nya dengan nama yang berbeda dengan orang-orang Arab memberi nama untuk kalam mereka,
baik secara global maupun terperinci. Secara global Allah memberi nama kitab-Nya dengan ‘Qur’anan’, sebagaimana mereka menamakan kalam mereka ‘Diwan’.
Sebagian Al-Qur’an dinamakan surat, itu seperti kasidah, dan sebagiannya disebut ayat seperti ‘bait’, dan yang terakhir disebut ‘fashilah’ seperti ‘qafiah’ (dalam istilah mereka).”
Abu al-Ma’ali ‘Uzaizi bin Abdul Malik yang terkenal dengan “Syaidzalah” di dalam kitabnya, al-Burhan, mengatakan, “Ketahuilah bahwa Allah SWT telah memberi nama kitab-Nya, ‘Al-Qur’an’, dengan 55 nama sebagai berikut: Allah telah memberi nama: ‘Kitaban’ dan ‘Mubiinan’, seperti di dalam firman-Nya: “Haa miiim, wal kitabilmubiin” (QS. ad-Dukhan: 1-2).
• Qur’aanan dan Kariimann : “Innahuu laqur’aanun kariimun”. (QS. al-Waqi’ah:77)
• Kalaaman: “Hatta yasma’a kalaamallah”. (QS. at-Taubah: 6)
* Nuuran: “Wa anzalnaa ilaikum nuuran-mubiinan”. (QS. an-Nisa’: 174)
• Hudan dan Rahmah: “Wa hudan wa rahmatun lilmukminiin”. (QS.
Yunus: 57)
• Furqaanan: “Nazzalal furqaana ‘alaa abdihi …”. (QS. al-Furqan: 1)
• Syifa’: “Wa nunazzilu minal Qur’aani maa huwa syifaa’un”. (QS. al-Isra’:82)
• Mau’idzah: “Qad jaa’atkum mau’idzatun min rabbikum wa syifaa’un limaafis shuduur”. (QS.Yunus: 57)
• Dzikran dan Mubaarakan: “Wa haadzaa dzikrun mubaarakun anzalnaahu”. (QS. al-Anbiya’: 50)
• ’Aliyyan: “Wa innahuu fii ummil kitaabi ladainaa la ‘aliyyun”. (QS. az-
Zukhruf: 4)
• Hikmah: “Hikmatun baalighah”. (QS. al-Qamar: 5)
• Hakiiman: “Tilka aayaatul kitaabil hakiim”. (QS.Yunus: 1)
• Muhaiminan: “Mushaddiqan limaa baina yadaihi minal kitaabi wa muhaiminan alaiih”. (QS. al-Ma’idah: 48)
• Hablan: “Wa’tashimuu bi hablillaahi jamii’an”. (QS. Ali ‘Imran: 103)
• Shiraathan Mustaqiiman : “Wa anna haadzaa shirathan mustaqiiman”.
(QS. al-An’am: 153)
• Qayyiman: “Qayyiman liyundzira ba’san syadiidan”. (QS. al-Kahfi: 2)
• Qaulan dan Fashlan: “Innahuu laqaulun fashl”. (QS. ath-Thariq: 13)
• Naba’an ‘Adziiman: “’Amma yatasaa’aluun ‘anin naba’il ‘adziim”. (QS. an-Naba’: 1-2)
• Ahsanul Hadits dan Mutasyaabihan serta Matsaaniyan: “Allahu nazzalal ahsanal hadiitsi kitaaban mutasyaabihan matsaaniya”. (QS. az-Zumar: 23)
• Tanziilan: “Wa innahuu latanziilu robbil ‘aalamin”. (QS. asy-Syu’araa:192)
• Ruuhan : “Wa auhainaa ilaika ruuhan min amrinaa”. (QS. asy-Syu’araa:52)
• Wahyan : “Innamaa undzirukum bil wahyi”. (QS. al-Anbiya’: 45)
• Arabiyyan : “Inna anzalnaahu Qur’aanan ‘Arabiyyan”. (QS.Yusuf: 2)
• Bashaairu: “Haadzaa Bashaairu”. (QS. al-A’raaf: 203)
• Bayaanan: “Haadza bayaanun linnaasi”. (QS. Ali ‘Imran: 138)
• ’Ilman: “Min ba’di maa jaa’aka minal ‘ilmi”. (QS. al-Baqarah: 145)
* Haqqan: “Inna haadzaa lahuwal qoshosul haq”. (QS. Ali ‘Imran: 62)
• Hadyan: “Inna haadzal Qur’aana yahdii”. (QS. al-Isra’: 9)
• ’Ajaban: “Qur’aanan ‘ajaban”. (QS. al-Jin: 1)
• Tadzkiratan: “Wa innahuu latadzkiratun”. (QS. al-Haqqah: 48)
• Al-‘Urwah al-Wutsqa: “Istamsaka bil ‘urwatil wutsqa”. (QS. al-Baqarah:256)
• Shidqan: “Walladzii jaa’a bis sidqi”. (QS. az-Zumar: 33)
• ’Adlan: “Wa tammat kalimatu rabbika sidqan wa ‘adlan”. (QS. al-An’am:115)
• Amran: “Dzaalika amrullahi anzalahuu ilaikum”. (QS. ath-Thalaq: 5)
• Munaadiyan: “Sami’naa munaadiyan yunaadi lil iimaani”. (QS. Ali ‘Imran:193)
• Busyraa: “Hudan wa busyraan”. (QS. an-Naml: 2)
• Majiidan: “Bal huwa qur’aanun majiid”. (QS. al-Buruj: 21)
• Zabuuran: “Wa laqad katabnaa fiz zabuuri”. (QS. al-Anbiya’: 105)
• Basyiiran dan Nadziiran : “Kitaabun fushshilat aayaatuhuu qur’aanan
‘arabiyyan liqaumin ya’lamuun, basyiiran wa nadziiran”. (QS.Fushshilat: 3-4)
• ’Aziizan: “Wa innahuu lakitaabun ‘aziiz”. (QS. Fushshilat: 41)
• Balaaghan: “Haadzaa balaaghun linnaasi”. (QS. Ibrahim: 52)
• Qashashan: “Ahsanal Qashashi”. (QS. Yusuf: 3)
Allah SWT juga menamakan Al-Qur’an dengan empat nama dalam satu ayat sebagai berikut: “Fii shuhufin mukar ramah, marfuu’atin muthahharah” (QS. ’Abasa: 13-14). Sampai di sini kata-kata Abu al-Ma’aali. Beberapa Alasan dari Nama-Nama Al-Qur’an Al-Qur’an dinamakan “Kitab” karena merangkum (menghimpun) berbagai macam ilmu, kisah, dan akhbar dengan cara yang paling sempurna. Kata al-kitab secara bahasa berarti “al-jam’u” (menghimpun). Al-Qur’an dinamakan “Al-Mubin” karena ia memperjelas yang haq dari yang batil.
Adapun nama “Al-Qur’an”, maka kalimat ini diperselisihkan di antara para ulama. Ada segolongan ulama yang mengatakan bahwa kalimat alqur’an adalah isim ‘alam, tidak musytaq, khusus untuk kalam Allah, dan kalimat ini tidak mahmuz. Berdasarkan inilah Ibnu Katsir membaca, dan ini juga diriwayatkan dari Imam Syafi’i. Imam Baihaqi dan Khatib al-Baghdadi serta lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Imam Syafi’i: bahwasanya ia membaca mahmuz kalimat qara’tu dan tidak membaca mahmuz kalimat al-qur’an. Dan ia berkata bahwa kalimat al-qur’an itu isim, bukan mahmuz dan tidak diambil dari qara’tu, tetapi ia sebuah nama bagi kitab Allah, seperti Taurat dan Injil.
Berkata suatu kaum (ulama), di antaranya al-Asy’ari bahwa kata al-qur’an itu musytaq (diambil) dari kata qarantu asy-syai’a bis-syai’i, artinya: “aku sertakan atau gabungkan sesuatu pada sesuatu yang lain”. Dinamakan Al-Qur’an karena digabungkannya surat-surat, ayat-ayat, dan huruf-huruf di dalamnya.
Imam al-Farra’ berkata bahwa kata al-qur’an itu musytaq dari al-qaraain, sebab ayat-ayat itu satu sama yang lain saling membenarkan dan serupa. Berdasarkan kedua pendapat ini maka kata al-qur’an tanpa hamzah juga, dan nun-nya asli. Az-Zajjaj berkata: pendapat ini adalah lalai, dan yang shahih bahwa tidak adanya hamzah itu termasuk bab takhfif dan termasuk memindahkan harakat hamzah pada huruf yang di-sukun sebelumnya.
Para ulama yang mengatakan bahwa itu mahmuz berbeda pendapat.
Maka sebagian ulama, diantaranya al-Lahyani berpendapat: ia adalah mashdar dari qara’tu, seperti kalimat ar-rujhan dan al-ghufran. Dengan demikian, maka “al-kitab al-maqru’ (yang dibaca) itu dinamakan Al-Qur’an” termasuk bab tasmiyatul maf ’ul bil mashdar (menamakan isim maf ’ul dengan masdar).
Ada beberapa ulama lain, di antaranya az-Zajjaj mengatakan: ia adalah sifat, mengikuti wazan fu’lan, musytaq (diambil) dari al-qar’u, yang artinya al-jam‘u (mengumpulkan). Dikatakan: Qara’tu al-maa’a fi al-haudhi, artinya: aku mengumpulkannya.
Abu Ubaidah berkata, “Dikatakan seperti itu (Al-Qur’an) karena kitab ini menghimpun surat-surat satu dengan lainnya.”
Ar-Raghib (al-Ashfahani) mengatakan, “Tidak selalu dikatakan bahwa setiap menggabungkan itu disebut qur’an, dan tidak setiap menghimpun setiap kalam juga disebut qur’an. Akan tetapi dinamakan qur’an, karena ia
menghimpun isi atau kandungan kitab-kitab terdahulu yang telah diturunkan. Ada yang mengatakan karena ia menghimpun macam-macam ilmu secara keseluruhan.” Quthrub mengemukakan suatu pendapat, “Sesungguhnya ia dinamakan qur’an, karena orang yang membacanya itu membaca dengan jelas dari mulutnya. Ini diambil dari kata-kata orang Arab: Maa qaraatin naaqatu sallan qath, artinya: tidak mengeluarkan anak atau tidak menjatuhkan anak atau tidak hamil sama sekali. Dan Al-Qur’an itu dilafadzkan oleh orang yang membacanya dari mulutnya, kemudian ia
sampaikan, maka kemudian dinamakan qur’an.” Saya (Imam Suyuthi) berpendapat: pendapat yang terpilih menurutku dalam masalah tersebut adalah apa yang telah dikemukakan oleh Imam Syafi’i. Adapun kata al-kalam, maka itu musytaq (diambil) dari al-kalmu, artinya memengaruhi, karena ia memengaruhi akal orang yang mendengarkan. Adapun Al-Qur’an disebut “an-Nuur”, karena dengan Al-Qur’an maka dapat diketahui hal-hal yang rumit dari yang halal dan yang haram. Al-Qur’an dinamakan ”al-Hudaa”, karena di dalamnya terdapat petunjuk ke jalan yang benar. Ini termasuk: bab ithlaq al-mashdar ‘alal faa’il mubaala ghatan (diucapkannya mashdar dengan isim fa’il, untuk mubalaghah).
Al-Qur’an dinamakan “al-Furqaan”, karena ia dapat membedakan antara haq dan batil. Ini diarahkan oleh Mujahid, sebagaimana dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim. Al-Qur’an dinamakan “asy-Syifa’”, karena Al-Qur’an dapat mengobati berbagai penyakit hati, seperti kekufuran, kebodohan, dan dengki, juga penyakit fisik.
Al-Qur’an dinamakan “adz-Dzikr”, karena di dalamnya terdapat berbagai mau’idzah (nasihat) dan berita-berita umat masa lalu. “adz-Dzikr” juga berarti asy-syaraf (kemuliaan). Allah SWT berfirman: “Wa innahuu la dzikrun laka wa liqaumika” (QS. az-Zukhruf: 44) ‘dan sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kemuliaan bagimu dan bagi kaummu’, karena ia dengan
bahasa mereka. Dinamakan “al-Hikmah”, karena Al-Qur’an diturunkan atas dasar qanun al-mu’tabar (hukum mengambil ibrah) yaitu meletakkan sesuatu pada tempatnya, atau karena Al-Qur’an itu mengandung hikmah.
Adapun Al-Qur’an dinamakan “al-Hakim”, karena ayat-ayatnya telah diperkokoh dengan keajaiban susunan dan keindahan maknanya, dan karena ia telah diperkuat dari upaya-upaya penggantian, penyimpangan, perselisihan, dan perbedaan. Adapun disebut “al-Muhaimin”, karena ia menjadi saksi terhadap seluruh kitab dan umat masa lalu.
Al-Qur’an dinamakan “al-Habl”, karena barangsiapa berpegang teguh padanya maka dia akan sampai ke surga atau memeroleh petunjuk, dan al-hablu (tali) itu menjadi penyebab. Adapun Al-Qur’an dinamakan “ash-Shirath al-Mustaqim”, karena ia merupakan jalan menuju surga yang lurus dan tidak bengkok. Ia dinamakan “al-Matsani”, karena di dalamnya terdapat uraian tentang kisah-kisah umat masa lalu, maka ia mengulang apa-apa yang telah berlalu. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ia dinamakan “al-Matsani” karena berulang-ulangnya kisah-kisah dan berbagai mauidzah
(nasihat) di dalamnya. Ada juga yang mengatakan bahwa ia dinamakan “al-Matsani” karena kadang diturunkan secara makna, kadang diturunkan secara lafadznya dan secara makna, seperti firman Allah SWT: “Inna haadza lafish shuhufil uula” (QS. al-A’laa: 18). Pendapat ini dikemukakan oleh Imam al-Kirmani di dalam kitabnya, al-‘Ajaib. Adapun Al-Qur’an dinamakan “al-Mutasyabih”, karena sebagian (ayatnya) mirip (serupa) dengan sebagian yang lainnya dalam kebaikan (keindahan) dan kebenarannya. Dinamakan “ar-Ruh”, karena dengannya hati dan jiwa menjadi hidup kembali. Dinamakan “al-Majid”, karena kemuliaannya, dan dinamakan “al-‘Aziz”, karena ia menang terhadap orang yang ingin menentangnya. Adapun ia dinamakan “al-Balagh”, karena telah menyampaikan kepada manusia apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang pada mereka, atau karena di dalamnya terdapat balaghah dan kifayah dari yang lainnya.
As-Salafi mengatakan di dalam sebagian kitabnya: aku mendengar Abal Karam an-Nahwi mengatakan: aku mendengar Abal Qasim at-Tanukhi berkata: aku mendengar Abal Hasan ar-Rumani ditanya, “Setiap kitab ada terjemahnya, maka apa terjemahan Kitab Allah?” Ia menjawab, “Haadza balaaghun linnaasi wa liyundzaruu bihii” (QS. Ibrahim: 52). Abu Syamah dan ulama yang lainnya menyebutkan firman Allah SWT: “Wa rizqu rabbika khairun wa abqaa”, bahwa yang dimaksud adalah Al-Qur’an.
Faedah Pertama
Al-Mudzfari menceritakan di dalam kitab Tarikh-nya, ia berkata: ketika Abu Bakar menghimpun Al-Qur’an, ia berkata, “Berikan namanya!” Maka sebagian mereka berkata, “Namailah ia dengan ‘Injil’.” Tetapi mereka tidak suka. Kemudian ada sebagian mereka berkata, “Namakanlah dia dengan ‘Sifran’.” Tetapi mereka tidak suka, terutama dari Yahudi. Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Saya melihat di Habasyah (Ethiopia) ada suatu kitab yang mereka beri nama ‘al-Mushaf ’, maka namailah dengan nama itu.” Saya (Imam Suyuthi) berpendapat: Ibnu Asytah mengeluarkan sebuah riwayat dalam kitabnya, al-Mashahif, melalui jalan periwayatan Musa bin Uqbah, dari Ibnu Syihab, ia berkata: ketika mereka mengumpulkan Al-Qur’an, maka mereka menulis kitab itu di dalam kertas. Maka Abu Bakar berkata, “Carilah nama untuknya.” Maka sebagian mereka berkata, “As-Safru.” Sebagian yang lain berkata, “Al-Mushaf,” karena orang-orang Habasyah (Ethiopia) menamakannya “Al-Mushaf ”, dan Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menghimpun (menulis) Kitab Allah dan menamakannya “Al-Mushaf ”. Kemudian Ibnu Asytah mengemukakan hadits ini dari jalan periwayatan yang lain, dari Ibnu Buraidah, dan pembahasan ini akan dikemukakan pada bahagian setelah ini.
Faedah Kedua
Ibnu Abi adh-Dharis dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Ka’ab, ia berkata: di dalam kitab Taurat dikatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku telah menurunkan kepadamu kitab Taurat yang baru yang dapat membuka mata yang buta, telinga yang pekak, dan hati yang tertutup.”
Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat, dari Qatadah, ia berkata: ketika Musa mengambil alwah, ia berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah mendapatkan di dalam alwah ada umat, Injil-Injil mereka berada di hati mereka, maka jadikanlah mereka sebagai umatku.” Allah berfirman, “Itu adalah umat Muhammad.”
Di dalam dua atsar tersebut terdapat penamaan Al-Qur’an dengan “Taurat” dan “Injil”. Namun demikian sekarang tidak boleh menamakan Al-Qur’an dengan kedua nama itu, dan ini seperti kitab Taurat yang dinamakan “Furqaan” sebagaimana di dalam firman Allah SWT: “Wa idz aatainaa Musal kitaaba wal furqaana” (QS. al-Baqarah: 53). Nabi saw. juga pernah menamakan kitab Zabur dengan Qur’an, sebagaimana di dalam sabdanya: “Khuffifa ‘alaa Daawuudal-Qur’an” (telah diperingan pada Dawud Al-Qur’an).
Pasal
Tentang Nama-Nama Surat
Al-Utabi berkata, “Kata as-surah kadang dengan hamzah tetapi kadang tidak dengan hamzah. Barangsiapa membacanya dengan hamzah maka dia menjadikannya berasal dari as’arat, artinya ‘dia menyisakan’. Ini berasal dari kata as-su’ru yang berarti: ‘apa yang tersisa dari minuman di gelas’, seakan-akan itu sebagian dari Al-Qur’an. Barangsiapa tidak membaca dengan hamzah maka dia menjadikannya dari makna yang akan datang dan dia mentashil hamzahnya (suurah). Sebagian ulama ada yang menyerupakan kata as-suurah dengan suuri al-binaa’ yang artinya: ‘bahagian dari bangunan’ atau ‘satu bagian dari bagian yang lainnya’. Ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari suur al-madidah yang artinya ‘pagar yang mengelilingi kota’, karena ‘surat dalam Al-Qur’an’ itu meliput dan menghimpun ayat-ayatnya, seperti dihimpunnya rumah-rumah di dalam pagar. Di antara yang mirip dengan hal tersebut adalah as-siwar yang artinya ‘gelang’, karena dia mengelilingi lengan (tangan) seseorang. Ada juga pendapat yang mengatakan: ia dinamakan suurat karena kedudukannya yang mulia, dan karena ia adalah kalam Allah. Dengan demikian maka as-suurah berarti al-manzilah ar-rafi’ah.”
Seorang penyair bernama An-Nabighah mengatakan: “Alam tara annallaha a’thaaka suuratan-taraa kulla malkin haulahaa yatadzabdzabu” (tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberimu suurah [kedudukan yang mulia], sehingga kamu mengetahui bahwa setiap malaikat di sekelilingnya mondar-mandir).
Ada juga yang berpendapat, “Ia dikatakan surat, karena terangkainya sebagian surat itu dengan sebagian yang lain, diambil dari kata at-tasawwur yang berarti at-tashaa’ud wa at-taraakub dan termasuk dalam makna ini adalah firman Allah SWT: ‘Idz tasawwaruul-mihraab’ (QS. Shaad: 2).” Imam al-Ja’bari mengatakan, “Definisi suurah adalah ‘Qur’an yang memuat beberapa ayat yang dibuka dan diakhiri, dan jumlah paling sedikit
tiga ayat’.” Ada pendapat lain mengatakan bahwa suurah adalah: “sekumpulan ayat yang tersusun secara tauqifi”, yaitu yang diberi nama dengan nama secara khusus dengan ketetapan dari Nabi saw. Telah ditetapkan bahwa nama-nama surat di dalam Al-Qur’an itu ditetapkan berdasarkan tauqifi dari hadits-hadits dan atsar. Seandainya tidak khawatir terlalu panjang untuk membahasnya niscaya akan saya jelaskan.
Di antara hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Ikrimah, ia berkata: orang-orang musyrik itu pernah berkata, “Surat al-Baqarah dan surat al-‘Ankabut?” Mereka bermaksud menghina surat-surat itu, maka turunlah firman Allah: “Inna kafainaakal mustahziuun” (QS. al-Hijr: 95).
Ada sebagian ulama yang tidak senang apabila dikatakan “ini surat ini dan ini surat itu”, sebab terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Imam Baihaqi, dari Anas, (hadits marfu’), “Janganlah kamu mengatakan ini surat al-Baqarah, ini surat Ali ‘Imran, dan ini surat an-Nisa’. Demikian juga Al-Qur’an secara keseluruhan. Tetapi katakanlah, ‘Inilah surat yang disebutkan di dalamnya al-Baqarah, dan surat yang disebutkan di dalamnya Ali Imran, demikian juga Al-Qur’an secara keseluruhan’.” Tetapi hadits ini sanadnya dha’if, bahkan Ibnu al-Jauzi menganggap hadits ini maudhu’. Imam Baihaqi mengatakan, “Hadits ini dikenal sebagai hadits mauquf pada Ibnu Umar.” Kemudian Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar dengan sanad yang shahih, yang diperbolehkan mengucapkan: “ini surat al-Baqarah dan lainnya, dari Nabi saw.”
Disebutkan di dalam hadits shahih, dari Ibnu Mas’ud, sesungguhnya ia berkata, “Inilah maqam (posisi) yang diturunkan padanya surat al-Baqarah.” Oleh karena itu, jumhur ulama tidak memakruhkan hal tersebut.
Pasal
Penamaan Satu Surat dengan Beberapa Nama
Bisa jadi setiap surat dalam Al-Qur’an itu memiliki satu nama, dan ini yang terbanyak, tetapi ada yang memiliki dua nama, bahkan lebih. Di antaranya:
Surat al-Fatihah
Saya telah meneliti surat ini dan ia memiliki 25 nama. Ini membuktikan akan kemuliaannya, karena banyaknya nama menunjukkan kemuliaan atas yang mempunyai nama. Di antara nama-nama surat al-Fatihah adalah:
- Fatihatul Kitab
Ibnu Jarir mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abi Dzi’b, dari al-Maqbari, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Hiya ummul Qur’an, wa hiya faatihatul kitab, wa hiya as-sab’u al-matsaani (dia adalah induknya Al-Qur’an, dia pembukaan Al-Kitab, dan dialah tujuh ayat yang diulang-ulang).” Ia dinamakan seperti itu karena menjadi pembuka mushaf, pembuka ketika taklim, dan pembuka ketika membaca di dalam shalat. Ada pendapat yang mengatakan: karena ia merupakan surat yang pertama kali turun. Ada juga yang mengatakan: karena ia pertama kali surat yang ditulis di Lauh Mahfudz. Pendapat ini dikemukakan oleh al-Mursi dan dia mengatakan, “Sesungguhnya itu memerlukan naql (dalil).” Ada juga yang mengatakan karena “Alhamdu” menjadi pembuka setiap kalam. Ada juga yang mengatakan karena ia menjadi pembuka setiap kitab. Ini diceritakan oleh Al-Mursi dan dia membantah bahwa yang menjadi pembuka setiap kitab adalah “Alhamdu” saja, tidak seluruh surat, dan sesungguhnya secara zahir bahwa yang dimaksud dengan Al-Kitab adalah Al-Qur’an, tidak kitab yang lainnya. Al-Mursi juga mengatakan, “Karena berdasarkan riwayat bahwa di antara nama-namanya adalah ‘Fatihatul Qur’an’, sehingga yang dimaksud Al-Kitab dan Al-Qur’an itu satu (sama).”
- Fatihatul Qur’an
Nama ini sebagaimana telah diisyaratkan oleh Al-Mursi. - Ummul Kitab
- Ummul Qur’an
Ibnu Sirin memakruhkan jika dinamakan Ummul Kitab, sebagaimana
juga Hasan al-Bashri memakruhkan jika dinamakan Ummul Qur’an,
dan Imam Baqi bin Mukhlid menyetujui keduanya, karena Ummul
Kitab adalah nama dari Lauh Mahfudz. Allah SWT berfirman:
“Wa‘indahu ummul kitaab” (QS. ar-Ra’du: 39) dan “Wa innahuu fii ummil kitaab” (QS. az-Zukhruf: 4).
Selain itu, istilah “Ummul Kitaab” juga berarti “ayat-ayat halal dan haram”. Allah SWT berfirman: “Ayaatun muhkamaatun hunna ummul
kitaab” (QS. Ali ‘Imran: 7).
Al-Mursi berkata: telah diriwayatkan hadits yang tidak shahih sebagai berikut: “Laa yaquulanna ahadukum ummul kitab, wal yaqul faatihatul kitaab” (janganlah sekali-kali kamu mengatakan “Ummul Kitab” dan katakanlah “Faatihatul Kitaab”).
Saya (Imam Suyuthi) berpendapat bahwa hadits ini “laa ashla lahu”
(tidak ada sanadnya) di dalam kitab-kitab hadits, tetapi hadits ini
dikeluarkan oleh Ibnu adh-Dhurais dengan lafadz seperti ini dari Ibnu Sirin, sehingga menjadi tidak jelas bagi al-Mursi, dan telah ditetapkan
di dalam hadits-hadits shahih penamaan al-Fatihah dengan “Ummul
Kitab”. Imam ad-Daruquthni mengeluarkan sebuah riwayat dan menshahihkannya, dari hadits Abu Hurairah (marfu’): “Idzaa qara’tum al-hamda faqra’uu bismillahirrah maanirrahiim, innahaa ummul qur’aan, wa ummul kitaab, was-sab’ul matsaani” (apabila kamu membaca alhamdu [al-
Fatihah], maka bacalah bismillaahirrahmaanirrahiim, sesungguhnya ia adalah induk Al-Qur’an, dan ia adalah tujuh [ayat] yang diulang-ulang). Telah diperselisihkan: mengapa al-Fatihah dinamakan Ummul Kitab? Maka ada yang mengatakan: karena ia menjadi pembukaan dalam penulisan mushaf, juga menjadi pembukaan dalam shalat sebelum membaca surat (yang lain). Ini dikatakan oleh Abu Ubaidah dalam Majaz-nya, dan ditetapkan oleh Imam Bukhari di dalam Shahih-nya. Ini dianggap musykil (sulit) bahwa demikian itu sesuai dengan penamaannya–“Fatihatul Kitab”, bukan “Ummul Kitab”—kemudian dijawab bahwa demikian itu dilihat dari sisi bahwa al-ummu’ itu sebagai permulaan bagi al-walad.
Imam al-Mawardi berkata, “Dikatakan Ummul Kitab karena ia berada
di awal Al-Qur’an, sementara yang lain terletak setelahnya untuk mengikutinya, karena dia ammathu yakni taqaddamathu (mendahului yang lainnya).” Oleh karena itu, dikatakan untuk bendera perang sebagai ummun, karena keberadaannya di depan, sementara pasukan mengikuti di belakangnya. Dikatakan pula untuk sesuatu yang telah lewat dari usia manusia dengan ummun, sebab usianya sudah mendahului (yang lain). Demikian juga untuk Makkah disebut Ummul Quraa’, karena kota itu mendahului kota-kota yang lainnya, dan ketika dikatakan ummu asy-syai’ maka artinya ashluhu (pangkal sesuatu).
Dengan demikian maka Ummul Qur’an berarti ashlul Qur’an (induknya Al-Qur’an), karena ia memuat seluruh isi dan kandungan Al-Qur’an berupa ilmu dan hikmah, sebagaimana ketetapan itu akan dibahas di bab yang ketujuh puluh tiga.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa surat al-Fatihah itu dinamakan Ummul Qur’an karena ia merupakan surat yang paling afdhal (mulia), sebagaimana dikatakan untuk raisul qaum (pemimpin kaum): ummul qaum. Ada juga yang mengatakan karena kehormatannya (kemuliaannya) seperti kemuliaan Al-Qur’an seluruhnya. Ada juga pendapat yang mengatakan karena ia merupakan tempat pegangan–ahlul iman—sebagaimana bendera perang itu disebut ummun, karena ia menjadi tempat pegangan para pasukan. Juga ada yang mengatakan bahwa ia disebut Ummul Qur’an karena ia muhkamah, dan almuhkamaat adalah ummul kitab.
- Al-Qur’an al-‘Adzim
Ini adalah nama yang kelima dari surat al-Fatihah, sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi saw. bersabda untuk surat al-Fatihah: “Hiya ummul Qur’an, wa hiya assab’ul matsaani wa hiya Al-Qur’an Al-‘Adziim.” Al-Fatihah diberi nama seperti itu karena ia memuat berbagai nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an. - As-Sab’u al-Matsaani
Penamaan surat al-Fatihah dengan nama ini telah ada di dalam hadits di atas dan di dalam hadits-hadits lainnya yang cukup banyak. Adapun dinamakan sab’an, karena ia terdiri dari tujuh ayat. Demikian itu diriwayatkan oleh Imam ad-Daruquthni dari Ali. Ada yang mengatakan karena memuat tujuh adab yang setiap ayat terdapat adab, tetapi pendapat ini jauh. Ada yang mengatakan karena surat ini sepi/sunyi dari tujuh huruf, yaitu tsa’, jiim, kha’, zay, syiin, dza’, dan faa’. Al-Mursi berkata, “Pendapat ini lebih dha’if daripada sebelumnya, karena sesuatu itu dapat dinamakan sesuatu karena ia didapatkan di dalamnya, bukan dengan sesuatu yang tidak ada di dalamnya.”
Adapun kalimat al-matsaani, mungkin saja diambil dari ats-tsana karena di dalam surat ini terdapat sanjungan untuk Allah SWT. Mungkin juga diambil dari kata ats-tsunyaa, karena Allah SWT telah mengecualikan surat ini pada umat ini. Mungkin juga surat ini berasal dari kata attatsniyah, karena ia diulang-ulang pada setiap rakaat. Ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanad hasan, dari Umar, ia berkata, “As-sab’un matsani faatihatul kitab, titsanna fi kulli raka’ah.” Ada pendapat yang mengatakan, “Karena ia diulang-ulang dengan surat yang lainnya.” Pendapat yang lain mengatakan karena ia diturunkan dua kali, dan ada yang mengatakan karena ia terdiri dari dua bagian, yaitu tsana’ (sanjungan) dan do’a (permohonan). Ada juga yang mengatakan karena setiap hamba Allah membaca setiap ayat, maka Allah menyanjungnya dengan memberitahukan tentang perbuatannya, sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Ada juga yang mengatakan karena telah bergabung di dalamnya fashahatul matsaani dan balaghatul ma’aani, tetapi ada yang mengatakan tidak demikian. - Al-Wafiah
Sufyan bin Uyainah pernah menamakan surat al-Fatihah dengan nama ini, karena telah memuat apa yang ada di dalam Al-Qur’an berupa
berbagai nilai yang ada di dalamnya. Pendapat ini dikatakan oleh Imam az-Zamakhsyari di dalam tafsirnya, al-Kasysyaf. Ats-Ts’labi mengatakan, “Dinamakan al-Wafiah karena tidak menerima tanshif (tidak boleh dibaca separo saja), sebab setiap surat di dalam Al-Qur’an seandainya dibaca separo saja dalam setiap rakaat, kemudian yang separonya pada rakaat yang lainnya, hal itu diperbolehkan. Ini berbeda dengan surat al-Fatihah.”
Al-Mursi berkata, “Dikatakan al-Wafiah karena ia menggabungkan antara apa yang memang untuk Allah dan apa yang untuk manusia.”
- Al-Kanzu
Berdasarkan hadits yang telah disebutkan tentang Ummul Qur’an.
Pendapat ini dikatakan oleh Imam az-Zamakhsyari di dalam tafsirnya, al-Kasysyaf. Penamaan surat al-Fatihah dengan nama ini terdapat di dalam hadits Anas yang telah dibahas di bab yang keempat belas. - Al-Kaafiyah
Demikian karena surat al-Fatihah mencukupi untuk shalat, sementara surat yang lain tidak bisa mencukupi. - Al-Asaas
Surat al-Fatihah merupakan dasar Al-Qur’an dan surat yang pertama kali di dalamnya. - An-Nuur
- Surat Alhamdu
- Surat asy-Syukru
- Surat Alhamdu al-Ulaa
- Surat Alhamdu al-Qashraa
- Ar-Ruqyah,
- Asy-Syifa’
- Asy-Syafiyah, (ketiganya berdasarkan hadits-hadits yang akan dijelaskan di dalam “Nau’ al-Khawash”).
- Surat ash-Shalat, karena keterikatan shalat dengannya.
- Ada pendapat yang mengatakan bahwa di antara nama-nama surat al-Fatihah adalah ash-Shalat juga, berdasarkan hadits Qudsi: “Qasamtu ash-shalaata bainii wa baina ‘abdii nishfain”, maksudnya adalah surat al-Fatihah. Al-Mursi berkata, “Karena ia termasuk lawazimus shalat (rukun shalat yang wajib dipenuhi).” Ini termasuk “min bab tasmiyati asy-syai’ bismi laazimihi” (menamakan sesuatu dengan apa yang menjadi keharusan dari sesuatu itu). Ini termasuk nama al-Fatihah yang kedua puluh.
- Surat ad-Du’a
Ini karena al-Fatihah mengandung doa, dalam firman Allah SWT,
“Ihdinaa”. - Surat as-Su’aal
Nama ini disebutkan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi. - Surat Ta’lim al-Masalah
Al-Mursi berkata, “Karena di dalamnya terdapat adab as-su’aal
(berdoa), dan karena surat ini dimulai dengan ats-tsana’ (pujian)
sebelumnya.” - Surat al-Munaajaat
Ketika membaca al-Fatihah, seorang hamba sedang bermunajat
kepada Tuhannya, yaitu dengan “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta‘iin”,
ayat ke-5 dari al-Fatihah. - Surat at-Tafwiidh (menyerahkan)
Sebab surat al-Fatihah itu mengandung penyerahan (kepada Allah),
yaitu dalam firman-Nya: “Iyyaaka na’budu wa iyyaakanasta’in”. Inilah yang aku dapatkan tentang nama-nama surat al-Fatihah dan belum
pernah dihimpun dalam sebuah kitab sebelum kitab (al-Itqan) ini.
Surat al-Baqarah
Khalid bin Ma’dan pernah menamakan surat al-Baqarah ini dengan “Fusthat-Al-Qur’an”. Ini berdasarkan hadits marfu’ yang ada di Musnad al-Firdaus. Demikian itu karena keagungannya dan karena di dalamnya terdapat ahkam (kandungan hukum-hukum) yang tidak ada pada selain surat ini. Di dalam hadits yang ada di kitab al-Mustadrak karya Imam al-Hakim terdapat penamaan surat al-Baqarah ini dengan Sanaamul Qur’an
(punuknya Al-Qur’an). Dikatakan dalam bahasa: “wa sanaamu asy-syai’”
berarti a’laahu, ‘sesuatu yang berada di tempat yang paling atas’.
Surat Ali ‘Imran Sa’id bin Manshur telah meriwayatkan di dalam kitab Sunan-nya, dari Abi ‘Athaf, ia berkata, “Nama Ali ‘Imran dalam Taurat (disebut dengan) Thayyibah, dan di dalam Shahih Muslim, surat ini dan al-Baqarah disebut dengan nama az-Zahraawain.”
Surat al-Ma’idah
Surat al-Ma’idah juga dinamakan surat “al-‘Uquud” dan surat “al-Munqidzah”. Ibnu al-Furs berkata, “Dinamakan al-Munqidzah, karena ia
menyelamatkan pembacanya dari malaikat azab (siksa).”
Surat al-Anfal
Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari Sa’id bin Jubair, ia
berkata: aku katakan kepada Ibnu Abbas, “Surat al-Anfal?” Ibnu Abbas berkata, “Itu adalah surat Badar.”
Surat Baraa’ah
Surat ini juga dinamakan surat at-Taubah, karena firman Allah SWT:
“Laqad taaballahu ‘alan nabiyyi” (QS. at-Taubah: 117). Kemudian juga
dinamakan surat “al-Faadhihah”. Imam Bukhari mengeluarkan sebuah
riwayat dari Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Aku katakan kepada Ibnu Abbas,
‘Surat at-Taubah?’ Ia berkata, ‘Ya, at-Taubah, bahkan ia juga al-Faadhihah,
ketika ia sedang turun: dan sebagian mereka (begini), di antara mereka (begitu)…, hingga kita mengira bahwa tidak seorang pun di antara kita kecuali disebutkan di dalamnya.’” Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari Ikrimah, ia mengatakan: Umar berkata, “Tidaklah selesai dari turunnya surat Baraa’ah hingga kita mengira bahwasanya tidak ada yang tertinggal seorang pun dari kita kecuali ia menjadi sasaran turunnya.”
Selain disebut surat “al-Faadhihah”, surat ini juga dinamakan surat
“al-‘Azab”. Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah riwayat di dalam
kitabnya, al-Mustadrak, dari Khudzaifah, ia berkata, “Surat yang kamu
namakan itu adalah surat at-Taubah, dan ia juga surat azab. Abu asy-
Syekh mengeluarkan sebuah riwayat, dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: Umar
bin Khathab itu apabila disebutkan padanya surat Baraa’ah, kemudian
dikatakan, “Surat at-Taubah?” Ia berkata, “Dia kepada al-azab lebih dekat.
Ketika dia turun pada manusia, maka hampir saja ia tidak menyisakan
seorang pun dari mereka.”
Surat ini juga dinamakan surat “al-Muqasyqisyah”. Abu asy-Syekh
mengeluarkan sebuah riwayat dari Zaid bin Aslam, ia berkata: ada seorang
laki-laki berkata kepada Ibnu Umar, “Surat at-Taubah?” Maka ia berkata,
“Mana yang surat at-Taubah?” Orang itu berkata, “Surat Baraa’ah?” Maka
Ibnu Umar berkata, “Tidaklah ada yang paling berat perlakuannya pada manusia kecuali surat ini!” Kita tidak menyebutnya, kecuali (surat) “al-
Muqasyqisyah”, artinya ‘yang membebaskan kita dari nifaq (kemunafikan)’.
Surat ini juga dinamakan surat “al-Munaqqirah”. Abi asy-Syekh
mengeluarkan sebuah riwayat dari Ubaid bin Umair, ia berkata, “Surat
Baraa’ah dulu juga dinamakan (surat) ‘al-Munaqqirah’. Ia mengungkap
apa yang ada di hati orang-orang musyrik.”
Nama lain dari surat Baraa’ah adalah surat “al-Bahuts”. Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah riwayat dari Miqdad, sesungguhnya pernah
dikatakan kepadanya, “Bagaimana seandainya aku duduk (berlibur) selama
satu tahun dari perang?” Miqdad berkata, “Maka Anda bagi kita dianggap
al-bakhuts, yaitu terputus (hubungan dengan kita) ….” (Al-Hadits)
Nama yang lainnya dari surat ini adalah “al-Haafirah”. Ini disebutkan
oleh Ibnu al-Furs. Disebut demikian karena surat ini melubangi hati
orang-orang munafik.
Surat ini juga dinamakan surat “al-Mutsiirah”. Ibnu Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia berkata, “Dahulu surat ini dinamakan al-Fadhihah, yaitu fadhihatul munaafiqiin, juga dikatakan ‘al-Mutsiirah’, karena ia menceritakan rahasia dan aurat mereka.”
Ibnu al-Furs menceritakan bahwa di antara nama-namanya adalah “al-Muba’tsirah”, dan saya kira ini merupakan kesalahan dari yang seharusnya, yaitu “al-Munaqqirah”. Jika ini memang benar maka telah sempurna menjadi sepuluh nama, kemudian aku juga melihat memang ada nama “al-Muba’tsirah” sesuai dengan tulisan Imam as-Sakhawi di dalam kitabnya, Jamaalul Qurra’, ia mengatakan, “Disebut ‘al-Muba’tsirah’ karena ia membongkar rahasia orang-orang munafik.” As-Sakhawi juga menyebutkan di dalam kitabnya bahwa di antara nama-namanya adalah
al-Mukhzinah, al-Munakkilah, al-Musyarridah, dan al-Mudamdimah.
Surat an-Nahl
Qatadah mengatakan, “Surat an-Nahl ini juga dinamakan surat ‘an-Ni’am’. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.” Ibnu al-Furs berkata, “Dinamakan ‘an-Ni’am’, karena Allah telah menyediakan di dalamnya dari berbagai kenikmatan untuk hamba-hamba-Nya.”
Surat al-Isra’
Surat ini juga dinamakan surat “Subhaana” dan surat “Bani Israil”.
Surat al-Kahfi
Surat ini juga dinamakan surat “Ashhabul Kahfi”. Demikian
disebutkan di dalam hadits yang dikeluarkan riwayatnya oleh Ibnu
Mardawaih. Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits marfu’ dari Ibnu Abbas,
“Bahwasanya ia di dalam Taurat dinamakan ‘al-Khaailah’, artinya ‘yang
dapat menghalangi antara pembacanya dengan api neraka’.” Dan ia berkata bahwa ini adalah hadits mungkar.
Surat Thaha
Surat ini juga disebut surat “al-Kalim”, sebagaimana disebutkan oleh As-Sakhawi di dalam kitabnya, Jamalul Qurra’.
Surat asy-Syu’ara
Di dalam tafsir Imam Malik disebutkan bahwa surat ini juga dinamakan surat “al-Jaami’ah”.
Surat an-Naml
Surat ini juga dinamakan surat “Sulaiman”.
Surat as-Sajadah
Surat ini juga dinamakan surat “al-Madhaaji”.
Surat Faathir
Surat ini juga dinamakan surat “al-Malaaikah”.
Surat Yasin
Rasulullah saw. menamakannya sebagai “Qalbul Qur’an” (hatinya Al-Qur’an). Ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari hadits Anas. Imam al-Baihaqi mengeluarkan sebuah riwayat dari hadits Abu Bakar (marfu’), “Surat Yasin ini disebut dalam at-Taurat (dengan nama) ‘al-Mi’mah’ ‘yang meliputi kebaikan dunia dan akhirat’, dan dinamakan ‘ad-Dafi’ah’ dan ‘al-Qadhiyah’ ‘yang menolak dari yang membacanya segala keburukan’ dan ‘yang mendatangkan baginya segala hajat (keperluan)’.” Baihaqi berkata, “Ini hadits mungkar.”
Surat az-Zumar
Surat ini juga dinamakan surat “al-Ghuraf ”.
Surat Ghaafir
Surat ini juga dinamakan surat “ath-Thul” dan surat “al-Mukmin”,
karena firman Allah SWT: “Wa qaala rajulun mukminun” (QS. Ghafir: 28).
Surat Fushshilat
Surat ini juga dinamakan surat “as-Sajadah” dan surat “al-Mashaabih”.
Surat al-Jatsiyah
Surat ini dinamakan juga surat “asy-Syarii’ah” dan surat “ad-Dahr”.
Ini diceritakan oleh Al-Karmani di dalam kitabnya, al-‘Ajaaib.
Surat Muhammad
Surat ini juga dinamakan surat “al-Qitaal”.
Surat Qaf
Surat ini juga dinamakan surat “al-Baasiqaat”.
Surat Iqtarabat
Surat ini juga dinamakan surat “al-Qamar”. Imam Baihaqi mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas: “bahwa ia di dalam Taurat dinamakan ‘al-Mubayyi Dhah’, yaitu yang membuat putih wajah orang yang membacanya pada hari ketika wajah-wajah menjadi hitam.” Baihaqi berkata, “Ini hadits mungkar.”
Surat ar-Rahman
Surat ini dalam sebuah hadits dinamakan “Arusul Qur’an”. Ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi, dari Ali (marfu’).
Surat al-Mujadalah
Surat ini di dalam mushaf Ubay bin Ka’ab dinamakan surat “adz-Dzihar”.
Surat al-Hasyr
Imam Bukhari mengeluarkan sebuah riwayat dari Sa’id bin Jubair, ia berkata: aku berkata kepada Ibnu Abbas, “Surat al-Hasyr?” Ibnu Abbas berkata, “Katakan, ‘(Itu juga) surat bani an-Nadhir.’” Ibnu Hajar berkata, “Seakan-akan Ibnu Abbas tidak suka menamakannya dengan ‘al-Hasyr’, agar tidak mengira bahwa yang dimaksud adalah hari kiamat, tetapi yang dimaksud di sini adalah mengeluarkan (mengusir) bani an-Nadhir.”
Surat al-Mumtahanah
Ibnu Hajar berkata, “Menurut pendapat yang masyhur dalam penamaan ini adalah al-Mumtahanah, dan bisa dibaca al-Mumtahinah.” Berdasarkan pendapat yang pertama maka dia adalah sifat seorang wanita yang surat itu turun karenanya, dan berdasarkan pendapat yang kedua maka itu adalah sifat surat tersebut, sebagaimana dikatakan untuk surat “Baraa’ah” nama “al-Faadhihah”. Di dalam kitab Jamalul Qurra’, surat al-Mumtahanah ini dinamakan juga surat “al-Imtihan” dan surat “al-Mawaddah”.
Surat ash-Shaf
Surat ini juga diberi nama surat “al-Hawariyyin”.
Surat ath-Thalaq
Surat ini dinamakan juga surat “an-Nisa’ al-Qushra”. Demikianlah Ibnu Mas’ud menamakan surat ini. Ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan lainnya.
Ad-Dawudi mengingkari hal tersebut dan ia berkata, “Saya tidak melihat bahwa kata al-qushra itu terpelihara (dalam periwayatan), dan dikatakan di dalam surat dari Al-Qur’an itu: qushra, dan tidak pula shughra.” Ibnu Hajar mengatakan, “Ini adalah penolakan terhadap hadits-hadits yang tsabitah, tanpa ada sandarannya, karena pendek dan panjang itu perkara yang relatif.” Imam Bukhari mengeluarkan sebuah riwayat dari Zaid bin Tsabit, sesungguhnya ia berkata, “Thuulaa ath-thuulayain,” dan ia bermaksud bahwa itu adalah surat al-A’raf.
Surat at-Tahrim
Surat ini juga dinamakan surat “al-Mutaharrim” dan surat “Lima Tuharrim”.
Surat Tabaarak
Surat ini juga dinamakan surat “al-Mulk”. Imam Hakim dan lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Ia di dalam Taurat disebut surat Al-Mulk. Dia adalah ‘al-Maani’ah’, ‘mencegah dari azab kubur’.” Imam Tirmidzi mengeluarkan sebuah riwayat dari hadits Ibnu Abbas (marfu’), “Sesungguhnya dia adalah ‘al-Maani’ah’ dan dia adalah ‘al-
Munjiyah’, ‘menyelamatkan dia dari azab kubur’.” Di dalam Musnad Abdu
bin Humaid dari hadits Ibnu Abbas (marfu’), “Sesungguhnya ia ‘al-Munjiyah’ dan ‘al-Mujadilah’, yang berdebat (membela) pada hari kiamat di sisi Tuhannya bagi orang yang membacanya.”
Di dalam Tarikhnya, Ibnu Asakir dari hadits Anas: sesungguhnya Rasulullah saw. telah memberikan nama surat ini dengan “al-Munjiyah”. Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia berkata, “Kita dahulu menamakannya di masa Rasulullah saw. ‘al-Maani’ah’ dan di dalam kitab Jamal al-Qurra’ surat ini dinamakan juga ‘al-Waaqiyah’ dan ‘al-Mannaa’ah’.”
Surat Sa’ala
Surat ini juga dinamakan surat “al-Ma’aarij” dan surat “al-Waaqi’”.
Surat ‘Amma
Surat ini juga disebut dengan surat “an-Naba’”, surat “at-Tasaa’ul”, dan surat “al-Mu’shiraat”.
Surat Lam Yakun
Surat ini juga dinamakan surat “Ahlul Kitab”. Nama ini juga terdapat di dalam mushaf Ubay. Surat ini juga dinamakan surat “al-Bayyinah”, surat “al-Qiyamah”, surat “al-Bariyyah”, dan surat “al-Infikak”. Ini semua disebutkan di dalam kitab Jamalul Qurra’ karya Imam as-Sakhawi.
Surat Ara’aita
Surat ini juga disebut dengan surat “ad-Diin” dan surat “al-Maa’uun”.
Surat al-Kafirun
Surat ini dinamakan “al-Muqasyqisyah”. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Zurarah bin Aufaa. Imam as-Sakhawi berkata dalam kitabnya, Jamalul Qurra’ bahwa surat ini juga dinamakan surat “al-Ibaadah”.
Surat an-Nashr
Surat ini dinamakan surat “at-Taudi”, karena di dalamnya terdapat isyarat tentang wafatnya Nabi saw.
Surat Tabbat
Surat ini juga diberi nama “al-Masad”.
Surat al-Ikhlas
Ini juga diberi nama surat al-Asas, karena ia memuat tentang tauhid kepada Allah dan ini merupakan dasar agama.
Surat al-Falaq dan an-Nash
Dikatakan untuk keduanya: al-Mu’awwidzataan, dan dinamakan juga al-Musyaqsyiqataani. Ini dari perkataan mereka: “Khatiibun musyaqsyiq.”
Tanbih (Peringatan)
Imam Zarkasyi dalam kitabnya, al-Burhan fi Ulumil Qur’an, mengatakan, “Seharusnya kita membahas tentang banyaknya nama surat di dalam Al-Qur’an, apakah memang hal itu bersifat tauqifi atau memang ada sebab yang menonjol dari berbagai munasabaat (momentum) tertentu?” Apabila memang penyebabnya adalah faktor yang kedua, kita tidak boleh kehilangan kecerdasan untuk mampu mengeluarkan (mengambil) kesimpulan dari setiap surat dari berbagai makna yang menunjukkan diambilnya nama-nama surat itu bagi suatu surat, tetapi ini jauh kemungkinannya. Imam Zarkasyi juga mengatakan, “Sebaiknya kita juga harus melihat atau memelajari tentang keistimewaan setiap surat dengan namanya, dan tidak diragukan bahwa orang-orang Arab pada umumnya dalam memberikan nama mereka memerhatikan faktor-faktor yang langka atau dianggap unik pada sesuatu, berupa perilaku atau sifat yang khusus baginya, atau memang ada sesuatu yang lebih kuat atau lebih banyak atau lebih dahulu. Demikian itu agar seseorang yang melihat dapat mengetahui terhadap apa yang diberi nama, dan mereka memberi nama terhadap
sejumlah kalam atau kasidah (kumpulan syair) yang panjang dengan nama nama yang terkenal.” Oleh karena itu, telah berlaku nama-nama surat dalam Al-Qur’an, seperti dalam menamai surat al-Baqarah dengan nama itu, karena adanya qarina (tanda), yaitu kisah sapi yang disebutkan di dalamnya dan karena keajaiban hikmah yang ada di dalamnya. Sebagaimana juga surat “an-Nisa’”, ia diberi dengan nama itu, karena di dalamnya banyak menyebut tentang hukum-hukum wanita. Demikian juga penamaan surat al-An’am, dikarenakan di dalamnya dibahas secara terperinci tentang hal ihwal binatang. Meskipun ada juga penyebutan kata al-an’am pada surat yang lainnya, tetapi tafshil (perincian) yang ada di dalam firman Allah SWT:
“Wa minal an’aami hamuulatan wa farsya” hingga firman-Nya: “am kuntum
syuhadaa’” (QS. al-An’am: 142-144) ini tidak ada pada yang lainnya,
sebagaimana penyebutan kata an-nisaa’ di dalam surat-surat yang lain.
Hanya saja apa yang berulang kali dan dijabarkan secara luas tentang
hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita itu tidak ada pada selain
surat an-Nisa’. Demikian juga surat al-Ma’idah, tidak ada penyebutan kata
al-ma’idah pada surat yang lainnya, maka surat itu diberi nama dengan
sesuatu yang khusus padanya. Imam Zarkasyi juga mengatakan, “Apabila dikatakan bahwasanya di dalam surat Hud telah disebutkan nama Nuh, Shaleh, Ibrahim, Luth, Syu’aib, dan Musa, tetapi mengapa surat itu dikhususkan dengan nama surat Hud saja, padahal kisah Nabi Nuh di dalamnya lebih luas dan lebih panjang.” Dikatakan bahwa kisah-kisah (nabi-nabi tersebut) telah berulang kali disebutkan di dalam surat al-A’raf, surat Hud, dan surat asy-Syu’ara secara lebih luas daripada yang disebutkan di surat-surat yang lainnya, sementara nama Hud tidak diulang-ulang di dalam salah satu dari tiga surat tersebut sebagaimana diulang-ulangnya nama Hud di dalam surat Hud. Di dalam surat (Hud), nama Hud diulang sebanyak empat kali dan pengulangan termasuk faktor penyebab paling kuat yang telah kita sebutkan. Imam Zarkasyi berkata, “Apabila dikatakan bahwa nama Nuh telah disebutkan di dalam surat Hud sebanyak enam kali maka sebagai jawabannya dikatakan bahwa ketika ada surat (yaitu surat Nuh) yang telah dikhususkan untuk menyebutkan nama Nabi Nuh dan kisah bersama kaumnya yang tidak terjadi di dalamnya selain itu, maka akan lebih utama jika surat itu diberi nama dengan namanya (yaitu surat Nuh), daripada surat yang memuat kisahnya (Nuh) dan kisah nabi yang lainnya (yaitu surat Hud).” Selesailah perkataan Imam Zarkasyi. Saya (Imam Suyuthi) berpendapat: Anda boleh bertanya dan berkata, “Ada surat-surat yang di dalamnya terdapat kisah-kisah para nabi, kemudian surat-surat itu diberi nama dengan nama-nama mereka, seperti surat Nuh, surat Hud, surat Ibrahim, surat Yunus, surat Ali Imran, surat Thaasiin Sulaiman, surat Yusuf, surat Muhammad, surat Maryam, surat Luqman, surat al-Mukmin. Demikian juga kisah beberapa kaum, seperti surat bani Israil, surat Ashhabul Kahfi, surat al-Hijr, surat Saba’, surat al-Malaikah, surat al-Jin, surat al-Munafiqin, dan surat al-Muthaffifin. Tetapi
bersama dengan ini semua, mengapa tidak ada bagi Nabi Musa surat yang
diberi nama dengan namanya, padahal banyak disebutkan di dalam Al-
Qur’an, sampai ada sebagian ulama mengatakan bahwa hampir saja Al-
Qur‘an seluruhnya menyebutkan nama Musa, dan surat yang paling utama
untuk diberi nama dengan Musa adalah surat Thaha atau surat al-Qashash
atau surat al-A’raf, karena uraian kisahnya yang panjang dalam tiga surat
tersebut yang tidak ada pada surat yang lainnya. Demikian juga kisah Nabi Adam telah disebutkan dalam beberapa surat, tetapi tidak ada satu pun surat yang diberi nama dengan namanya, seakan cukup dengan surat al-Insan. Demikian juga kisah adz-dzabih (Ismail yang disembelih) termasuk kisah yang menarik, tetapi surat ash-Shaffat itu tidak diberi nama dengan namanya. Demikian juga kisah Daud, ia disebutkan di dalam surat Shad, tetapi surat itu tidak diberi nama dengan namanya. Karena itu, perhatikanlah hikmah dari hal tersebut. Hanya saja saya pernah melihat di dalam kitab Jamalul Qurra’ karya Imam as-Sakhawi: bahwa surat “Thaha” itu diberi nama dengan surat “al-Kaliim”, dan Al-Hudzali memberi nama surat itu di dalam kitabnya, al-Kamil, dengan surat “Musa”, dan surat “Shad” diberi nama dengan surat “Dawud”. Saya juga melihat perkataan al-Ja’bari bahwa surat “ash-Shaffat” diberi nama dengan surat “adz-Dzabiih”, tetapi demikian itu memerlukan sandaran dari atsar (hadits).
Pasal
Sebagaimana satu surat itu diberi nama dengan berbagai nama, maka ada juga beberapa surat diberi nama dengan satu nama, seperti surat-surat yang diberi nama dengan “Alif laam miim” atau “Alif laam raa”, berdasarkan pendapat yang mengatakan bahwa fawaatih as-suwar (pembuka surat) itu menjadi nama-nama baginya.
Faedah
Tentang I’rab-Nya Nama-Nama Surat
Abu Hayyan dalam syarah kitab at-Tashil mengatakan bahwa surat surat yang diberi nama dengan jumlah maka ia di-i’rabi sebagai hikayat (diceritakan), seperti “Qul uuhiya ilayya” (QS. al-Jin: 1) dan “Ataa amrullah”
(QS. an-Nahl: 1) atau diberi nama dengan fi’il yang tidak ada dhamir di dalamnya. Dia di-i’rabi seperti i’rab-nya fi’il ghairu munsharif, kecuali fi’il yang dimulai dengan hamzah washal, maka alif-nya diputus (hamzahnya menjadi qatha’) dan ta’-nya berubah menjadi ha’ ketika waqaf, dan ditulis dengan ha’ ketika waqaf, seperti qara’tu iqtarabah (memakai ta’ marbutah), dan ketika waqaf menjadi iqtarabah (memakai bentuk ha’). Adapun i’rab-nya (meskipun dia fi’il) tetapi telah berubah menjadi isim, dan isim itu mu’rab kecuali yang wajib di-mabni-kan. Adapun membaca hamzah washal menjadi qatha’ karena ia tidak bisa pada isim kecuali lafadz lafadz
yang harus dihafal dan tidak qiyasi. Adapun mengubah ta’ menjadi ha’, karena itu merupakan hukum ta’ ta’nits yang ada pada isim. Adapun menulis ta’ dengan ha’, karena khat itu pada umumnya mengikuti pada
(kondisi) waqaf. Surat-surat yang diberi nama dengan isim, jika dia termasuk huruf hija’, sedangan dia huruf tunggal, dan surat itu disandarkan padanya, maka menurut Ibnu ‘Ushfur dia mauquf, tidak ada i’rab padanya. Menurut Asy-Syalubiyyin ada dua pendapat, yaitu: waqaf atau i’rab. Adapun yang pertama dia dita’birkan dengan hikayah, karena merupakan huruf-huruf muqattha’ah (terputus-putus) diceritakan apa adanya. Adapun yang kedua, kita menjadikannya sebagai isim bagi huruf-huruf hija’. Berdasarkan ini maka boleh mengubahnya menjadi bina’ (mabni) atas dasar huruf itu mudzakar, dan tidak boleh untuk menjadi mabni atas dasar dia muannats. Jika tidak disandarkan padanya suatu surat, baik secara lafadz atau taqdir, maka boleh bagi Anda untuk waqaf dan i’rab, baik yang mashruf maupun yang mamnu’ minas sharf. Jika lebih dari satu huruf: (maka jika hal itu merupakan isim-isim ‘ajam, dan apakah disandarkan padanya suatu surat atau tidak) Anda boleh memilih hikayat atau i’rab, dengan mamnu’an minash sharf. Demikian itu karena muwazanah Qabil dan Habil. Jika tidak sewazan, maka jika memungkinkan untuk tarkib, seperti “Thaa siiin miim” dan ada surat yang disandarkan kepadanya, maka Anda boleh memilih hikayat atau i’rab, mungkin bisa murakkab maftuhun nun, seperti Hadramaut atau mu’rab-nya an-nuun, di-mudhaf-kan pada kalimat setelahnya: mashruf atau mamnu’ minas sharf, atas dasar keyakinan mudzakkar dan mu’annats. Jika tidak disandarkan padanya surat maka waqaf berdasarkan hikayah dan bina’ (mabni) seperti “Khamsata ‘asara” dan i’rab dengan mamnu’ minash sharf. Jika tidak mungkin di-tarkib maka waqaf, apakah disandarkan padanya surat atau tidak, seperti “Kaaf haa yaa‘aiin shaad” dan “Haa miim ‘aiin siin qaaaf”, dan tidak boleh di-‘irab-kan, karena tidak ada persamaan baginya di dalam isim-isim mu’rab, tidak pula tarkib mazji, karena memang tidak murakkab. Demikian juga nama-nama (surat) yang banyak. Kata Yunus boleh di-i’rab-i sebagai mamnu’minash sharf. Adapun surat-surat yang diberi nama dengan nama selain huruf hija’, apabila di dalamnya ada lam maka menjadi jar, seperti al-Anfal, al-A’raf, dan al-An’am. Sedangkan apabila tidak ada lam maka ia mamnu’ minash sharf, jika tidak disandarkan padanya surat, seperti Hudu dan Nuhu, dan Anda membaca: Huuda dan Nuuha. Jika Anda menambah, maka dia tetap seperti sebelumnya. Jika di dalamnya ada sesuatu yang mengharuskan mencegah, ia dicegah, seperti “Qara’tu suurata Yunus” (aku membaca surat Yunus). Jika tidak ada, ia boleh diubah (i’rab-nya), seperti suuratu Nuuhin, suuratu Huudin.
Khatimah
Al-Qur’an terbagi menjadi empat bagian, dan setiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri. Pembagian ini berdasarkan sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan lainnya, dari hadits Wa’ilah bin al-Asqa’.
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Aku diberi (oleh Allah) sebagaimana kedudukan Taurat berupa ‘as-Sab’ut Thiwal’ (tujuh surat terpanjang). Aku diberi sebagaimana kedudukan Zabur, yaitu ‘al-Mi’ain’, aku diberi sebagaimana kedudukan Injil, yaitu ‘al-Matsani’, dan aku diberi keutamaan dengan ‘al-Mufashshal’.” Insya Allah uraian yang lebih luas
akan dibahas pada bagian setelah ini. Di dalam kitab Jamalul Qurra’ dikatakan, “Ada sebagian ulama salaf mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an itu terdapat mayaadin (lapangan), basaatiin (kebun), maqhaashiir (istana), ‘ara’is (pengantin), dayaabiij (pakaian sutra), dan riyaadh (taman). Adapun mayadin-nya adalah surat yang dimulai dengan alif laam miim, basaatin-nya adalah surat yang dimulai dengan alif laam raa’, maqhaashir-nya adalah al-haamidaat (surat-surat yang dimulai dengan hamdalah), ‘araa’is-nya adalah al-musabbihaat (surat-surat yang dimulai dengan tasbih), dayaabij-nya adalah Ali ‘Imran, dan riyaadhuhu adalah ‘al-Mufashshal’.” Mereka berkata, “ath-thawaasiim, ath-thawaasiin, ali haamiim, dan hawamim.” Saya (Imam Suyuthi) mengatakan: Imam al-Hakim mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa al-Hawamim adalah dibaajul Qur’an. Imam as-Sakhawi mengatakan bahwa qawari’ul Qur’an adalah ayat-ayat yang dijadikan untuk memohon perlindungan (kepada Allah). Dikatakan demikian karena ayat-ayat itu dapat mengusir setan dan menyiksanya, seperti ayat Kursi dan al-mu’awwidzatain (dua surat perlindungan: an-Nas dan al-Falaq), serta ayat-ayat atau surat-surat yang sejenis dengan itu.
Aku (Imam Suyuthi) mengatakan: dan di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal terdapat sebuah riwayat dari hadits Mu’adz bin Anas (marfu’): aayatul ‘izzi (ayat kemuliaan) adalah “Alhamdulillahi alladzii lam yattakhidz waladaa” (QS. al-Isra’: 111).
Bersambung ke : ……………….