Jumlah surat dalam Al-Qur’an adalah 114 berdasarkan Ijmak (konsensus) para ulama. Ada yang mengatakan bahwa jumlah surat-suratnya adalah 113 surat, yaitu dengan menjadikan surat al-Anfal dan surat Bara’ah menjadi satu surat. Abu asy-Syekh mengeluarkan sebuah riwayat dari
Abi Rauq, ia berkata, “Al-Anfal dan Bara’ah merupakan satu surat.” Abu asy-Syekh juga mengeluarkan sebuah riwayat dari Abu Raja’, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Hasan tentang surat al-Anfal dan Bara’ah, apakah
itu dua surat atau satu surat? Ia berkata, ‘Itu dua surat.’”
Telah dinukil seperti perkataan Abu Rauq, dari Mujahid, dan Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkannya dari Sufyan. Ibnu Asytah mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Luhai’ah, ia berkata, “Mereka berkata bahwa sesungguhnya (surat) Bara’ah itu termasuk surat Yas aluunaka (alAnfal), dan sesungguhnya tidak ditulis di awal surat Bara’ah ‘Bismillaahirahmanirrahim’, karena surat Bara’ah termasuk surat Yas aluunaka (al-Anfal).”
Yang menjadi masalah adalah syubhat (kekaburan) mereka terhadap persamaan dan kemiripan dari dua surat tersebut dan tidak adanya pemisahan dengan basmallah. Tetapi ini dapat ditolak dengan bacaan bismillah Nabi saw. terhadap masing-masing dari kedua surat itu. Pemilik kitab al-Iqna’ telah menukil sebuah pendapat, yaitu bahwa basmallah ada di awal surat Bara’ah di dalam Mushaf Ibnu Masud. Pemilik kitab al-Iqna’ itu mengatakan, “Pendapat ini tidak dapat diambil (sebagai hujah).”
Imam al-Qusyairi berkata, “Sesungguhnya tasmiyah (bismillah) itu tidak ada di dalam surat Bara’ah, karena Jibril as. tidak turun dengan membawa
basmallah untuk surat itu.”
Diriwayatkan di dalam kitab al-Mustadrak, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, ‘Mengapa tidak ditulis bismillahirrahmanirahim di dalam surat Bara’ah?’ Ali menjawab, ‘Karena
basmallah itu (memberikan rasa) aman, sedangkan Bara’ah itu turun dengan pedang.’”
Diriwayatkan dari Imam Malik, “Sesungguhnya ketika awal surat Bara’ah itu gugur (hilang) maka gugur (hilang) pula basmallah-nya. Telah ditetapkan bahwa surat Bara’ah ini dulu sama dengan surat al-Baqarah, karena panjangnya.”
Di dalam Mushaf Ibnu Mas’ud terdapat 112 surat, karena tidak ditulis di dalamnya al-Mu’awwidzatain (surat al-Falaq dan an-Nas), dan di dalam Mushaf Ubay terdapat 116 surat, karena ia menulis di akhir mushaf itu dua surat lagi, yaitu surat “al-Hafdu” dan surat “al-Khulu’”.
Abu Ubaid mengeluarkan sebuah riwayat dari Ibnu Sirin, ia berkata, “Ubay bin Ka’ab menulis di dalam Mushafnya: Fatihatul Kitab, alMu’awwidzatain, Allahumma nasta’iinuka, dan Allaahumma iyyaaka na’budu. Dan Ibnu Mas’ud meninggalkan itu semua, sedangkan Utsman menulis dari
itu semua Faatihatul Kitab dan al-Mu’awwidzatain.”
Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat di dalam kitabnya, ad-Du’a, dari periwayatan Ubbad bin Ya’qub al-Asadi, dari Yahya bin Ya’laa al-Aslami, dari Ibnu Luhai’ah, dari Ibnu Hubairah, dari Abdullah bin Zubair al-Ghafiqi, ia berkata: Malik bin Marwan telah berkata kepadaku, “Aku telah mengetahui bahwasanya tidak ada yang mendorongmu untuk mencintai Abu Turab kecuali karena kamu adalah orang Badui yang keras.”
Kemudian aku berkata, “Demi Allah, aku telah menghimpun Al-Qur’an sebelum dihimpun oleh kedua bapak-ibumu. Sesungguhnya Ali bin Abi
Thalib telah mengajarkan kepadaku dua surat yang Rasulullah saw. juga
telah mengajarkan kedua surat itu kepadanya, sesuatu yang tidak Anda
ketahui, dan tidak pula diketahui oleh ayahmu, yaitu: ‘Allahumma inna nasta’iinuka wa nastaghfiruka, wa nutsnii ‘alaika wa laa nakfuruk, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruk’ dan ‘Bismillahirrahmanirahiim. Allaahumma iyyaaka na’bud, wa laka nushallii wa nasjud, wa ilaika nas’aa wa nahfid, narjuu rahmatak wa nakhsyaa ‘azaabak, inna ‘azaabaka bil kuffaari mulhiq’.”
Imam Baihaqi mengeluarkan sebuah riwayat dari jalan periwayatan Sufyan ats-Tsauri, dari Ibnu Juraij, dari Atha’, dari Ubaid bin Umair (ia berkata) : sesungguhnya Umar bin Khathab (membaca) doa qunut setelah rukuk, ia berdoa: “Bismillahirrahmanirahim. Allahumma inna nasta’iinuka wa nastaghfiruk, wa nutsnii ‘alaika wa laa nakfuruk, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruk, Bismillaahirrahmanirahiim. Allaahumma iyyaaka na’bud, wa laka nushallii wa nasjud, wa ilaika nas’aa wa nahfid, narjuu rahmatak, wa nakhsyaa niqmatak, inna ‘azaabaka bil kuffaari mulhiq”.
Ibnu Juraij berkata, “Hikatul Basmallah, sesungguhnya keduanya merupakan dua surat yang ada di mushaf sebagian shahabat.”
Muhammad bin Nashr al-Maruzi mengeluarkan sebuah riwayat di dalam Kitabus Shalaah, dari Ubay bin Ka’ab, bahwa dia dulu qunut dengan dua surat, kemudian dia menyebutkan keduanya, dan pernah menulis kedua
surat itu di dalam mushafnya.
Ibnu adh-Dhurais berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Jamil al-Maruzi, dari Abdullah bin Mubarak (ia berkata): telah menceritakan kepada kami al-Ajlah, dari Abdullah bin Abdur Rahman, dari ayahnya, ia berkata, “Di dalam mushaf Ibnu Abbas ada qira’ah Ubay dan Abu Musa:
‘Bismillahirrahmanirrahiim, Allahumma innaa nasta’inuka wa nastaghfiruka, wa nutsnii ‘alaikal khaira wa laa nakfuruk, wa nakhla’u wa natruku man yafjuruk’. Di dalamnya terdapat ‘Allaahumma iyyaaka na’bud, wa laka nushalli wa nasjud, wa ilaika nas’aa wa nahfid, nakhsyaa ‘azaabak, wa narjuu rahmatak, inna ‘azaabaka bil kuffari mulhiq’.”
Imam ath-Thabrani mengeluarkan sebuah riwayat, dengan sanad yang shahih, dari Abu Ishaq, ia berkata: kita pernah makmum kepada Umayyah bin Abdillah bin Khalid bin Usaid di Khurasan, kemudian ia membaca dua
surat ini: “Inna nasta’inuka wa nastaghfiruk”.
Imam Baihaqi mengeluarkan sebuah riwayat, demikian juga Abu Dawud di dalam kitabnya, al-Maraasil, dari Khalid bin Abi Imran :
sesungguhnya Jibril telah turun dengan membawa ayat tersebut kepada Nabi saw. sementara Nabi sedang shalat, bersama firman Allah: “Laisa laka minal amri syai” (QS. Ali ‘Imran: 128). Ketika qunut, beliau berdoa untuk mengalahkan suku Mudhar.
Tanbih
Demikianlah, ada sejumlah jamaah menukil dari Mushaf Ubay bahwa Al-Qur’an itu berisi 116 surat, padahal yang betul adalah 115 surat, karena surat al-Fil dan surat “Li iila fi quraisy” itu satu surat. Ini dinukil dari Imam as-Sakhawi di dalam kitabnya, Jamalul Qurra’, dari Ja’far ash-Shadiq dan Abu Nahik.
Saya (Imam Suyuthi) mengatakan: riwayat tersebut ditolak oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dan Thabrani dari hadits Ummi Hani’: sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Allah SWT telah memberi kemuliaan kepada Quraisy dengan tujuh …” (al-Hadits), dan di dalamnya dikatakan: “Sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada mereka suatu surat dari Al-Qur’an yang tidak disebutkan di dalamnya selain mereka,
(itulah): Li iilaa fi quraisy.”
Di dalam kitab al-Kamil karya Al-Hudzali, dari sebagian mereka, sesungguhnya ia berkata, “Adh-Dhuha dan Alam Nasyrah adalah surat yang satu.” Ini dinukil oleh Imam Fakhrudin ar-Razi dalam tafsirnya, al Kasysyaf, dari Thawus dan Umar bin Abdul ‘Aziz dan lainnya dari mufasirin.
Faedah
Disebutkan dalam suatu pendapat bahwa hikmah dari menjadikan Al-Qur’an dalam berbagai surat adalah untuk menunjukkan adanya surat itu
sendiri sebagai mukjizat dan sebagai salah satu ayat (tanda) dari ayat-ayat (tandatanda) kekuasaan Allah, juga sebagai isyarat bahwa sesungguhnya setiap surat itu memiliki keistimewaan tersendiri. Sebagai contoh, surat Yusuf itu menerjemahkan tentang kisahnya dan surat “Bara’ah” pun menerjemahkan tentang keadaan orang-orang munafik dan rahasia mereka, demikian juga yang lainnya. Surat-surat itu ada yang panjang, ada yang sedang, dan ada yang pendek, untuk mengingatkan bahwa panjangnya surat tidak menjadi syarat i’jaz. Misalnya surat al-Kautsar itu terdiri dari tiga ayat, sesungguhnya ia mukjizat seperti kemukjizatan surat al-Baqarah. Di sanalah pula tampak hikmah dalam pengajaran anak-anak secara bertahap dari mulai surat-surat pendek hingga surat-surat di atasnya, sebagai kemudahan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya agar Kitab-Nya mudah dihafal.
Imam Zarkasyi di dalam kitabnya, al-Burhan, mengatakan, “Apabila Anda mengatakan, ‘Mengapa kitab-kitab samawi dahulu tidak seperti Al-Qur’an?’
Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Sebagai jawaban ada dua alasan. Pertama, sesungguhnya kitab-kitab terdahulu tidak ada mukjizat dari segi susunan dan urutan. Alasan yang kedua, karena kitab-kitab dahulu tidak dipermudah untuk dihafal.”
Tetapi Imam Zamakhsyari menyebutkan pendapat yang berbeda dengan jawaban tersebut. Dia mengatakan di dalam tafsirnya, al-Kasysyaf bahwa faedah dari mengapa Al-Qur’an itu mufashshal dan suratnya terbagi menjadi banyak, demikian juga Allah menurunkan Taurat, Injil, dan Zabur, dan apa-apa yang telah diwahyukan kepada para nabi-Nya adalah terdiri dari surat-surat, serta para pengarang kitab pun membuat bab-bab dalam kitab mereka yang bagian mukadimahnya diisi dengan tarajum (biografi) pengarang maka faedah dari semua itu adalah:
- Sesungguhnya apabila suatu jenis pembahasan itu di bawahnya terdiri dari berbagai macam dan berbagai jenis bab, maka akan kelihatan lebih baik dan lebih mulia daripada jika hanya terdiri satu bab saja.
- Sesungguhnya para pembaca apabila telah menyelesaikan satu surat atau bab dari kitab, kemudian mengambil surat atau bab yang lainnya, niscaya akan lebih bersemangat untuk terus belajar daripada ia meneruskan untuk memelajari kitab yang panjang. Sebagaimana seorang musafir, apabila ia menempuh jarak satu mil atau satu pos, maka akan lebih menyenangkan dan lebih bersemangat untuk meneruskan perjalanan. Karena itulah, Al-Qur’an dijadikan berjuz juz dan seperlima-seperlima.
- Sesungguhnya bila seorang hafidz telah hafal dengan baik satu surat, dia meyakini bahwa dia telah mengambil Kitabullah satu bagian tersendiri dari Kitabullah itu, sehingga dia merasa bangga terhadap apa yang dia hafalkan. Ini seperti hadits Anas: “Dahulu apabila seseorang telah membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran, maka dia merasa bangga di tengah-tengah kami.” Dari sinilah maka mereka membaca di dalam shalat itu surat yang lebih afdhal.
- Sesungguhnya tafshil itu disebabkan bertemunya bentuk dan persamaan, serta persesuaian antara sebahagiannya dengan sebahagian yang lain. Dengan demikian, makna dan keteraturan kata dapat ditangkap (diperoleh), juga faedah-faedah yang lainnya.
Apa yang telah dikemukakan oleh Imam Zarkasyi yang kitab-kitab dahulu juga terdiri dari berbagai surat, itulah pendapat yang shahih dan benar. Ibnu Abi Hatim telah mengeluarkan suatu riwayat, dari Qatadah, ia berkata, “Kita pernah membahas bahwa kitab Zabur terdiri dari 150 surat, kesemuanya berisi mawa’idz (nasihat-nasihat) dan tsana’ (pujian), tidak ada di dalamnya halal dan haram, tidak ada pula faraidh (berbagai kewajiban) dan hudud (hukuman-hukuman). Mereka juga menyebutkan bahwa di dalam kitab Injil itu ada suatu surat yang dinamakan surat al-Amtsaal.”
Pasal
Tentang Jumlah Ayat-Ayat Al-Qur’an
Sebagian ulama qurra’ menyusun kitab secara khusus tentang masalah tersebut. Imam al-Ja’bari mengatakan, “Definisi ayat adalah Qur’an yang terangkai dari berbagai jumlah (ungkapan), walaupun secara taqdiriyyan (perkiraan), dan memiliki permulaan atau penggalan yang masuk di dalam surat.” Asal dari makna al-aayat adalah al-‘alaamat yang berarti “tanda”,
seperti firman Allah SWT: “Inna aayata mulkihii” (QS. al-Baqarah: 248),
karena ia merupakan tanda untuk kemuliaan dan kejujuran, atau berarti
al-jamaa’ah, karena ayat itu adalah jamaah (kumpulan) dari kalimat (kata).
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa ayat adalah tha’ifatun
minal qur’an, munqathi’atun ‘amma qablahaa wa maa ba’dahaa (salah satu
bagian dari Al-Qur’an yang terpisah dari sebelumnya dan sesuatu
setelahnya).
Ada juga yang mengatakan bahwa ayat adalah al-waahidatu minal ma’duudaat fis suwari (satuan dari [rangkaian kata] yang dihitung dalam
surat-surat). Dikatakan demikian karena ia merupakan indikator (tanda)
atas kebenaran orang yang membawanya (Rasul saw.) dan tanda atas
kelemahan orang yang menentangnya. Sebagian pendapat mengatakan,
“Dikatakan ayat karena ia menjadi tanda atas terputusnya sesuatu yang
sebelumnya berupa kalam dan terputusnya sesuatu dari yang setelahnya.”
Imam al-Wahidi mengatakan, “Sebagian ulama kita memperbolehkan
untuk menamakan ungkapan Al-Qur’an yang kurang dari satu ayat sebagai
ayat, seandainya tidak ada tauqif (ketentuan dari Allah) seperti yang ada
sekarang.”
Abu ‘Amr ad-Daani mengatakan, “Sepengetahuan saya, tidak ada
ayat yang terdiri dari satu kata (kalimat) selain firman Allah SWT :
‘Mudhaammataan’ (QS. ar-Rahman: 64).”
Ulama lain mengatakan, “Bahkan ada juga yang lainnya, seperti
‘wannajmi’, ‘wadhdhuha’, ‘wal ‘ashr’. Demikian juga ‘fawatihus suwar’
(pembukaan-pembukaan surat) bagi orang yang menganggapnya.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa pendapat yang shahih adalah ayat
itu dapat diketahui berdasarkan tauqif (ketentuan) dari Asy-Syari’ (Allah SWT),
seperti mengetahui surat. Dengan demikian, ayat adalah “sekelompok dari hurufhuruf Al-Qur’an yang bersifat tauqif dan yang terpisah dari kalam yang terletak setelahnya di awal Al-Qur’an dan terpisah pula dari kalam yang terletak sebelumnya di akhir Al-Qur’an, serta terpisah dari sesuatu yang terletak sebelumnya dan setelahnya dari selain keduanya, yang tidak mengandung seperti hal tersebut”.
Dengan pembatasan seperti ini maka surat tidak masuk di dalamnya. Imam Zarkasyi mengatakan, “Ayat adalah isim ‘alam (suatu istilah) yang bersifat tauqifi, yang tidak ada qiyas di dalamnya. Oleh karena itu, mereka
menganggap Alif Laam Miim sebagai ayat, yang ia berada, dan Alif Laam
Miim Shaad. Dan mereka tidak menganggap Alif Laam Miim Raa’ dan Alif
Laam Raa’ sebagai ayat. Mereka juga menganggap Haa Miim sebagai ayat
di dalam suratnya, demikian juga Thaha dan Yasin. Tetapi mereka tidak
menganggap Thaa siin sebagai ayat.”
Saya (Imam Suyuthi) mengatakan, “Di antara dalil yang menunjukkan bahwa hal itu tauqifi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya melalui jalan periwayatan ‘Ashim bin Abi an Najud, dari Zir, dari Ibnu Mas’ud, ia berkata: Rasulullah saw. telah membacakan surat kepadaku dari ats-Tsalaatsiin, dari aali (Haa miim). Ibnu
Mas’ud berkata, ‘Yaitu surat al-Ahqaf.’ Dan dahulu jika ada surat yang ayatnya lebih dari tiga puluh dinamakan ats-Tsalaatsiin ….” (al-Hadits)
Ibnul ‘Arabi mengatakan, “Nabi saw. pernah menyebutkan bahwa surat al-Fatihah itu tujuh ayat dan surat al-Mulk itu tiga puluh ayat. Disebutkan pula dalam hadits shahih bahwa Nabi saw. pernah membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali ‘Imran.”
Ibnul ‘Arabi juga mengatakan, “Jumlah ayat-ayat itu termasuk Mu’dhalaatil Qur’an. Di antara ayat-ayatnya ada yang panjang dan ada yang pendek. Di antaranya ada yang sampai pada kesempurnaan kalam dan ada yang sampai di tengah-tengah.”
Ulama yang lain mengatakan bahwa sebab adanya perbedaan pendapat di kalangan salaf tentang jumlah ayat-ayat Al-Qur’an karena Nabi saw. dahulu pernah berhenti pada ujung ayat karena tauqif. Apabila diketahui tempatnya maka beliau melanjutkan untuk menyempurnakan, sehingga orang yang mendengar pada saat itu mengira bahwa itu bukanlah fashilah (pembatas ayat).
Ibnu adh-Dhurais mengeluarkan sebuah riwayat, dari jalan periwayatan Utsman bin ‘Atha’, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Seluruh ayat Al-Qur’an itu (berjumlah) 6600 ayat dan seluruh huruf Al Qur’an (berjumlah) 323.67
Imam ad-Daani mengatakan, “Mereka (para ulama) bersepakat bahwa jumlah ayat-ayat Al-Qur’an itu 6000 ayat, kemudian mereka berbeda pendapat tentang jumlah selebihnya. Sebagian ada yang tidak menambah
dan sebagian mereka ada yang mengatakan 204 ayat.”
Ada yang mengatakan 14 ayat, ada lagi yang mengatakan 19 ayat, dan ada yang mengatakan 25 ayat, ada juga yang mengatakan 36 ayat.
Aku (Imam Suyuthi) berpendapat: Imam ad-Dailami mengeluarkan sebuah riwayat di dalam Musnad al-Firdaus dari jalan periwayatan Al-Faid bin Watsiq, dari Furat bin Salman, dari Maimun bin Mihran, dari Ibnu Abbas (marfu’): “Tangga di surga itu sebanyak ayat-ayat Al-Qur’an, yang setiap ayat itu sama dengan satu tangga. Itulah 6216 ayat. Di antara setiap dua
tangga jaraknya antara langit dan bumi. Al-Faidh, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in adalah kazzab (pembohong) dan khabits (buruk).”
Disebutkan sebuah riwayat di dalam kitab Syu’abul Iman oleh Imam Baihaqi, dari hadits Aisyah ra. (marfu’): “Jumlah tangga surga itu sejumlah
ayat-ayat Al-Qur’an, maka barangsiapa masuk surga dari ahli Al-Qur’an, tidak ada lagi di atasnya tangga.” Imam Hakim mengatakan bahwa isnad hadits ini shahih, tetapi syadz. Imam al-Aajurri mengeluarkan sebuah riwayat tentang Hamalatul Qur’an (orang-orang yang hafidz Al-Qur’an) dari sanad yang lainnya, dari Aisyah (mauquf).
Abu Abdillah al-Mushili di dalam syarah qasidah-nya, Dzatur Rasyad fil ‘Adad, mengatakan, “Ulama Madinah, Makkah, Syam, Bashrah, dan Kufah telah berbeda pendapat tentang jumlah ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk Ahlul Madinah ada dua ‘adad (hitungan): hitungan pertama, yaitu hitungan Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’ dan Syaibah bin Nashah. Hitungan yang kedua adalah hitungan Ismail bin Ja’far bin Abi Katsir al-Anshari.”
Adapun hitungan Ahli Makkah, maka diriwayatkan dari Abdullah bin Katsir, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas, dari Ubay bin Ka’ab. Adapun hitungan Ahli Syam, diriwayatkan oleh Harun bin Musa al-Akhfasy dan lainnya, dari Abdullah bin Dzakwan dan Ahmad bin Yazid al-Hulwani dan lainnya, dari Hisyam bin ‘Ammar, diriwayatkan pula oleh Ibnu Dzakwan dan Hisyam, dari Ayyub bin Tamim al-Qari’, dari Yahya bin Harits adz-Dzamari.
Abdullah al-Mushili mengatakan, “Hitungan yang kami anggap ini adalah hitungan Ahli Syam dari sesuatu yang diriwayatkan oleh para masyayikh kepada kita, dari para shahabat, dan diriwayatkan pula oleh Abdullah bin ‘Amir al-Yahshubi kepada kita dan yang lainnya, dari Abi Darda’.
Adapun hitungan Ahli Bashrah adalah hitungan yang disandarkan
kepada Hamzah bin Habib az-Zayyat, Abil Hasan al-Kissa’i, dan Khalaf
bin Hisyam. Hamzah berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi
Lailaa dengan hitungan seperti ini, dari Abi Abdir Rahman as-Sulami,
dari Ali bin Abi Thalib.
Al-Mushili juga mengatakan, “Kemudian surat-surat Al-Qur’an itu
terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, bagian yang tidak diperselisihkan
tidak bersifat ijmal (global) dan tidak pula secara tafshil (terperinci). Kedua,
bagian yang diperselisihkan secara tafshil (terperinci), tidak yang ijmal.
Ketiga, bagian yang diperselisihkan secara ijmal maupun secara tafshil.”
Perinciannya sebagai berikut.
Bagian Pertama
Bagian pertama ada 40 surat, yaitu surat Yusuf (terdiri dari 111 ayat), surat al-Hijr (terdiri dari 99 ayat), surat an-Nahl (terdiri dari 128 ayat), surat al-Furqan (terdiri dari 77 ayat), surat al-Ahzab (terdiri dari 73 ayat), surat al Fath (terdiri dari 29 ayat), surat al-Hujurat dan at-Taghabun (terdiri dari 18 ayat), surat Qaf (terdiri dari 45 ayat), surat adz-Dzariyat (terdiri dari 60 ayat), surat al-Qamar (terdiri dari 55 ayat), surat al-Hasyr (terdiri dari 24 ayat), surat al-Mumtahanah (terdiri dari 13 ayat), surat ash-Shaf (terdiri dari 14 ayat), surat al-Jumu’ah, al-Munafiqun, adh-Dhuha, dan al-‘Adiyat (terdiri dari 11 ayat), surat at-Tahrim (terdiri dari 12 ayat), surat Nun (terdiri dari 52 ayat), surat al-Insan (terdiri dari 31 ayat), surat al-Mursalat (terdiri dari 50 ayat), surat at-Takwir (terdiri dari 29 ayat), surat al-Infithar dan Sabbih (terdiri dari 19 surat), surat at-Tathfif (terdiri dari 36 ayat), surat al-Buruj (terdiri dari 22 ayat), surat al-Ghasyiah (terdiri dari 26 ayat), surat al-Balad (terdiri dari 20 ayat), surat al-Lail (terdiri dari 21 ayat), surat Alam Nasyrah, at-Tin, dan al Haakum (terdiri dari 8 ayat), surat al-Humazah (terdiri dari 9 ayat), surat al Fil, al Falaq, dan Tabbat (terdiri dari 5 ayat), surat al-Kafirun (terdiri dari 6 ayat), surat al-Kautsar dan an-Nashr (terdiri dari 3 ayat).
Bagian Kedua
Bagian kedua ada empat surat, yaitu sebagai berikut:
- Surat al-Qashash (terdiri dari 88 ayat), menurut Ahlul Kufah “Thaa Siin Miim”(ayat 1), sedangkan yang lain menggantinya dengan “Ummatan minannaasi yasquun” (ayat 23).
- Surat al-Ankabut (terdiri dari 69 ayat), menurut Ahlul Kufah “Alif laam miim” (ayat 1), dan Ahlul Bashrah menggantinya dengan “Mukhlishiin lahuddiin” (ayat 65), sedangkan Ahlu Syam “Wa taqtha’uunas sabiil” (ayat 29).
- Surat al-Jin (terdiri dari 28 ayat). Al-Makky menganggap “Lan yujiirani
minallaahi ahadun” (ayat 22), sedangkan yang lain menggantinya
dengan “Wa lan tajida min duunihii multahada” (ayat 22). - Surat al-‘Ashr (terdiri dari 3 ayat). Al-Madani menganggap yang
terakhir “Wa tawaa shau bil haqqi” (ayat 3), bukan Wal ‘ashr (ayat 1),
dan yang lain berbeda
Bagian Ketiga
Untuk bagian yang ketiga ini ada 70 surat, yaitu sebagai berikut:
- Surat al-Fatihah. Jumhur ulama berpendapat bahwa ayatnya berjumlah 7. Al-Kufi dan al-Makky menganggap bahwa Basmallah termasuk ayat, bukan An’amta ‘alaihim, dan yang lain sebaliknya. Hasan al-Bashri mengatakan bahwa surat al-Fatihah itu delapan ayat. Dia menganggap keduanya (Basmallah dan An’amta ‘alaihim). Sebagian ulama mengatakan enam ayat, dan tidak menganggap keduanya. Ulama yang lain mengatakan ada sembilan ayat, dengan menganggap keduanya dan Iyyaaka na’budu. Di antara dalil yang menguatkan pendapat yang pertama (pendapat Jumhur) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Huzaimah, Hakim, dan adDaruquthni serta selain mereka, dari Ummi Salamah, “Sesungguhnya Nabi saw. pernah membaca ‘Bismillahirrahmanirahiim. Alhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin. Arrahmanirahim. Maaliki yaumiddin. Iyyaaka na’budu wa iyyaaaka nasta’in ihdinas shiraathal mustaqiim. Shiraathal ladziina an’amta
‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa ladh dhaalliin’, beliau memotong surat ini ayat per ayat, dan beliau menghitung surat ini dengan hitungan i’rab serta menghitung Bismillaahirrahmanirrahim sebagai ayat, dan tidak menghitung ’Alaihim (sebagai ayat).”
Imam ad-Daruquthni mengeluarkan sebuah riwayat, dengan sanad
yang shahih, dari Abdi Khair, ia berkata: Ali pernah ditanyai tentang
as-Sab’ul-Matsani, maka ia berkata, “Alhamdu lillaahi rabbil ‘alamin”,
kemudian dikatakan kepadanya, “Apakah dia hanya enam ayat?”
Maka ia berkata, “Bismillahirrahmanirrahim itu satu ayat.” - Surat al-Baqarah: terdiri dari 285 ayat, dikatakan 286 ayat, dan
dikatakan 287 ayat. - Surat Ali Imran: terdiri dari 200 ayat, dikatakan 199 ayat.
- Surat an-Nisa’: terdiri dari 175 ayat, dikatakan 176 ayat, dikatakan 177 ayat.
- Surat al-Ma’idah: terdiri dari 120 ayat, dikatakan 122 ayat, dikatakan 123 ayat.
- Surat al-An’am: terdiri dari 175 ayat, dikatakan 176 ayat, dikatakan
177 ayat. - Surat al-A’raf: terdiri dari 205 ayat, dikatakan 206 ayat.
- Surat al-Anfal: terdiri dari 75 ayat, dikatakan 76 ayat, dan dikatakan
77 ayat. - Surat Bara’ah: terdiri dari 130 ayat, dikatakan 129 ayat.
- Surat Yunus: terdiri dari 110 ayat, dikatakan 109 ayat.
- Surat Hud: terdiri dari 121 ayat, dikatakan 122 ayat, dan dikatakan
123 ayat. - Surat ar-Ra’du: terdiri dari 43 ayat, dikatakan 44 ayat, dan dikatakan
47 ayat. - Surat Ibrahim: terdiri dari 51 ayat, dikatakan 52 ayat, dikatakan 54
ayat, dan dikatakan 55 ayat. - Surat al-Isra’: terdiri dari 110 ayat, dikatakan 111 ayat.
- Surat al-Kahfi: 105 ayat, dikatakan 106 ayat, dikatakan 110 ayat,
dan dikatakan 111 ayat. - Surat Maryam: terdiri dari 99 ayat, dikatakan 98 ayat.
- Surat Thaha: terdiri dari 132 ayat, dikatakan 134, dikatakan 135,
dan dikatakan140 ayat. - Surat al-Anbiya’: terdiri dari 111 ayat, dan dikatakan 112 ayat.
- Surat al-Hajj: terdiri dari 74 ayat, dikatakan 75, dikatakan 76, dan
dikatakan 78 ayat. - Surat Qad Aflaha: terdiri dari 118 ayat, dan dikatakan 119 ayat.
- Surat an-Nur: terdiri dari 62 ayat, dan dikatakan 64 ayat.
- Surat asy-Syu’ara’: terdiri dari 126 ayat, dikatakan 127 ayat.
- Surat an-Naml: terdiri dari 92 ayat, dikatakan 94 ayat, dan dikatakan
95 ayat. - Surat ar-Rum: terdiri dari 60 ayat, dan dikatakan 59 ayat.
- Surat Luqman: terdiri dari 33 ayat, dan dikatakan 34 ayat.
- Surat as-Sajadah: terdiri dari 30 ayat, dan dikatakan 29 ayat.
- Surat Saba’: terdiri dari 54 ayat, dan dikatakan 55 ayat.
- Surat Fathir: terdiri dari 46 ayat, dan dikatakan 45 ayat.
- Surat Yasin: terdiri dari 83 ayat, dan dikatakan 82 ayat.
- Surat ash-Shaffat: terdiri dari 181 ayat, dan dikatakan 182 ayat.
- Surat Shad: terdiri dari 85 ayat, dikatakan 86 ayat, dan dikatakan 88
ayat. - Surat az-Zumar: terdiri dari 72 ayat, dikatakan 73 ayat, dan dikatakan
75 ayat. - Surat Ghafir: terdiri dari 82 ayat, dikatakan 84 ayat, dikatakan 85
ayat, dan dikatakan 86 ayat. - Surat Fushshilat: terdiri dari 52 ayat, dikatakan 53 ayat, dan dikatakan
54 ayat. - Surat asy-Syura: terdiri dari 50 ayat, dan dikatakan 53 ayat.
- Surat az-Zukhruf: terdiri dari 89 ayat, dan dikatakan 88 ayat.
- Surat ad-Dukhan: terdiri dari 56 ayat, dikatakan 57 ayat, dan
dikatakan 59 ayat. - Al-Jatsiyah: terdiri dari 36 ayat, dan dikatakan 37 ayat.
- Surat al-Ahqaf: terdiri dari 34 ayat, dikatakan 35 ayat.
- Surat al-Qital: terdiri dari 40 ayat, dikatakan 39 ayat, dan dikatakan
38 ayat. - Surat ath-Thur: terdiri dari 47 ayat, dikatakan 48 ayat, dan dikatakan
49 ayat. - Surat an-Najm: terdiri dari 61 ayat, dan dikatakan 62 ayat.
- Surat ar-Rahman: terdiri dari 77 ayat, dikatakan 76 ayat, dan dikatakan
78 ayat. - Surat al-Waqi’ah: terdiri dari 99 ayat, dikatakan 97 ayat, dan dikatakan
96 ayat. - Surat al-Hadid: terdiri dari 38 ayat, dan dikatakan 39 ayat.
- Surat Qad Sami’a: terdiri dari 22 ayat, dan dikatakan 21 ayat.
- Surat ath-Thalaq: terdiri dari 11 ayat, dan dikatakan 12 ayat.
- Surat Tabarak: terdiri dari 30 ayat, dan dikatakan 31 ayat, yaitu setelah: “Qalu balaa qad jaa’anaa nadziir” (ayat 9). Al-Mushili mengatakan bahwa yang shahih adalah pendapat yang pertama. Ibnu Syanbudz berkata, “Tidak boleh ada seseorang yang pendapatnya berbeda, karena adanya hadits-hadits yang menjelaskan hal tersebut sebagai berikut: Imam Ahmad dan Ashabus Sunan al Arba’ah mengeluarkan sebuah riwayat dan Tirmidzi menshahihkannya, dari Abu Hurairah: sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya ada satu surat di dalam Al-Qur’an (yang berisi) tiga puluh ayat, ia dapat mensyafaati bagi pemiliknya (pembacanya), hingga dia diampuni (dosanya). Itulah Tabaarakalladzii biyadihil mulku.’” Imam ath-Thabrani juga mengeluarkan sebuah riwayat dengan sanad yang shahih dari Anas, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Ada satu surat di dalam Al-Qur’an, tiada lain kecuali tiga puluh ayat. Ia dapat membela pemiliknya hingga memasukkannya ke dalam surga, itulah surat Tabarak.’”
- Surat al-Haqqah: terdiri dari 51 ayat, dan dikatakan 52 ayat.
- Surat al-Ma’arij: terdiri dari 44 ayat, dan dikatakan 43 ayat.
- Surat Nuh: terdiri dari 30 ayat, dikatakan 29 ayat, dan dikatakan 28
ayat. - Surat al-Muzzammil: terdiri dari 20 ayat, dikatakan 19 ayat, dan
dikatakan 18 ayat. - Surat al-Muddatstsir: terdiri dari 55 ayat, dan dikatakan 56 ayat.
- Surat al-Qiyamah: terdiri dari 40 ayat, dan dikatakan 39 ayat.
- Surat ’Amma: terdiri dari 40 ayat, dan dikatakan 41 ayat.
- Surat an-Nazi’at: terdiri dari 45 ayat, dan dikatakan 46 ayat.
- Surat ’Abasa: terdiri dari 40 ayat, dikatakan 41 ayat, dan dikatakan
42 ayat. - Surat al-Insyiqaq: terdiri dari 23 ayat, dikatakan 24 ayat, dan dikatakan
25 ayat. - Surat ath-Thariq: terdiri dari 17 ayat, dan dikatakan 16 ayat.
- Surat al-Fajr: terdiri dari 30 ayat, dikatakan 29 ayat, dan dikatakan
32 ayat. - Surat asy-Syams: terdiri dari 15 ayat, dan dikatakan 16 ayat.
- Surat Iqra’: terdiri dari 20 ayat, dan dikatakan 19 ayat.
- Surat al-Qadr: terdiri dari 5 ayat, dan dikatakan 6 ayat.
- Surat Lam Yakun: terdiri dari 8 ayat, dan dikatakan 9 ayat.
- Surat az-Zalzalah: terdiri dari 9 ayat, dan dikatakan 8 ayat.
- Surat al-Qari’ah: terdiri dari 8 ayat, dikatakan 10 ayat, dan dikatakan
11 ayat - Surat Quraisy: terdiri dari 4 ayat, dan dikatakan 5 ayat.
- Surat Ara’aita: terdiri dari 7 ayat, dan dikatakan 6 ayat.
- Surat al-Ikhlash: terdiri dari 4 ayat, dan dikatakan 5 ayat.
- Surat an-Nas: terdiri dari 7 ayat, dan dikatakan 6 ayat.
Dhawaabith
(Patokan-Patokan Penting)
“Basmallah” telah diturunkan bersama surat pada sebagian “tujuh huruf”. Barangsiapa membaca dengan satu huruf yang ia turun dengannya maka ia menghitungnya, dan barangsiapa membaca dengan selain itu maka ia tidak menghitungnya (tidak menganggapnya).
Ahlul Kufah menganggap Alif laam miim sebagai satu ayat, demikian juga Alif laam miim shaad, Thaha, Kaaf haa yaa ‘aiin shaad, Thaa siim miim, Yasin, dan Haa miim. Kemudian mereka juga menganggap Haa miim dan
Aiin siin qaaf sebagai dua ayat, dan para ulama selain mereka tidak menganggap sedikitpun dari semua itu. Ahlul ‘Adad telah sepakat bahwa sesungguhnya Alif laam raa itu tidak dianggap satu ayat, demikian juga Alif laam miim raa, Thaa siin, Shad, Qaf, dan Nuun. Kemudian di antara mereka ada yang memberikan alasan dengan atsar (hadits) dan mengikuti al-Manqul, dan sesungguhnya itu suatu perkara yang tidak boleh ada qiyas padanya. Sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa mereka tidak menganggap Shad, Nuun, dan Qaf, karena ini semua merupakan huruf tunggal, tidak pula Thaa siin miim, karena ia bertentangan dengan dua saudaranya dengan membuang huruf miim, dan ia mirip dengan mufrad, seperti Qabil. Demikian juga Yasin, meskipun dengan wazan seperti ini, tetapi awalnya yaa’, sehingga mirip dengan kata jamak, karena tidak ada bagi kita mufrad yang awalnya yaa’.
Mereka juga tidak menganggap Alif laam raa, berbeda dengan Alif laam miim, karena ia lebih mirip dengan al-Fawashil daripada Alif laam raa.
Demikian juga mereka bersepakat untuk memasukkan Yaa ayyuhal muddatstsir sebagai ayat, karena kemiripannya dengan al-Fawashil setelahnya. Mereka berbeda pendapat tentang Yaa ayyuhal muzzammil.
Al-Mushili mengatakan: dan mereka menganggap firman Allah SWT
“Tsumma nadzar” sebagai ayat, dan tidak ada di dalam Al-Qur’an yang
lebih pendek daripada ayat ini. Adapun yang menyamainya adalah: ’Amma,
Wal Fajr, dan Wadh-Dhuha
Tadznib (Ekor)
Ali bin Muhammad al-Ghali me-nadzam-kan “Arjuzah” tentang “alQaraa’in” dan “al-Akhawaat”, dia telah memasukkan di dalamnya suratsurat yang memiliki kesamaan dalam jumlah ayatnya, seperti surat al-Fatihah dan al-Ma’un; ar-Rahman dan al-Anfal; surat Yusuf, al-Kahfi, dan al-Anbiya’; ini adalah sesuatu yang ma’ruf (terkenal) dari uraian yang sudah lewat.
Faedah Pertama
Ada keterkaitan dalam mengenal ayat, hitungannya, dan batasanbatasan ayatnya dengan hukum-hukum fiqhiyyah sebagai berikut:
- Hal itu menjadi penting bagi seseorang yang tidak mengetahui alFatihah, maka wajib baginya untuk mengganti dengan tujuh ayat (yang lainnya).
- Menjadi penting dalam khutbah, karena sesungguhnya wajib di dalamnya membaca satu ayat yang sempurna, tidak cukup membaca separonya, jika ayat itu tidak panjang. Demikian juga ayat yang panjang berdasarkan pendapat jumhur. Di sinilah adanya pembahasan, yaitu sesungguhnya apa yang diperselisihkan dari sisi bahwa ia adalah ayat yang terakhir, apakah cukup membacanya di dalam khutbah? Ini tempat perdebatan, dan saya tidak melihat ada ulama yang menyebutnya.
- Hal tersebut dianggap penting pada surat yang dibaca di dalam shalat, atau yang menempati posisinya. Disebutkan di dalam hadits shahih bahwa Nabi saw. pernah membaca di dalam shalat Subuh 60 hingga 100 ayat.
- Hal itu menjadi penting dalam bacaan qiyamullail. Disebutkan dalam
berbagai hadits: “Barangsiapa membaca sepuluh ayat, ia tidak tercatat sebagai orang-orang yang lalai”; “Barangsiapa membaca lima puluh ayat, ia dicatat sebagai haafidziin (orang-orang yang menjaga ketaatan)”; “Barangsiapa membaca seratus ayat maka ia tercatat sebagai al-qanitiin (orang-orang yang taat); “Barangsiapa membaca dua ratus ayat maka ia tercatat sebagai faiziin (orang-orang beruntung); “Barangsiapa membaca tiga ratus ayat maka ia tercatat untuk memeroleh pahala yang besar”; “Barangsiapa membaca lima ratus ayat …, tujuh ratus ayat …, seribu ayat … maka ….” (HR. Ad-Darimi dalam Musnad-nya secara terpisah). - Hal itu menjadi penting dalam kaitannya dengan waqaf (berhenti) pada ayat yang dikehendaki, sebagaimana akan dijelaskan. Al-Hudzali di dalam kitabnya, al-Kamil, mengatakan, “Ketahuilah bahwa memang ada suatu kaum yang tidak mengerti jumlah ayat dan apa faedahnya, hingga berkata Az-Za’farani, ‘Mengetahui jumlah ayat itu bukanlah suatu ilmu, akan tetapi sebagian ulama menekuninya untuk promosi.’ Al-Hudzali berkata, ‘Tidaklah demikian, di dalamnya terdapat berbagai faedah, di antaranya mengetahui waqaf, dan karena Ijmak telah menyepakati bahwa shalat itu tidak sah dengan setengah ayat.’”
Faedah Kedua
Penyebutan ayat-ayat di dalam hadits-hadits Nabi saw. dan atsar itu banyak sekali dan tidak terhitung, seperti hadits-hadits tentang surat al Fatihah, empat ayat dari awal surat al-Baqarah, ayat al-Kursi, dua ayat di akhir al-Baqarah, hadits ismullah al-a’dzam di dalam dua ayat ini, yaitu:
“Wa ilaahukum ilaahun waahid laa ilaaha illaa huwarrahman ar-rahim” (QS. al-Baqarah: 163) dan “Alif laam miim, Allaahu laa ilaaha illaa huwal HayyulQayyum” (QS. Ali ‘Imran: 1-2).
Disebutkan di dalah Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Abbas: apabila Anda ingin mengetahui kebodohan bangsa Arab, bacalah ayat-ayat setelah ayat 130 dari surat al-An’am, yaitu: “Qad khasiralladziina qataluu” hingga “Muhtadiin” (ayat 140).
Disebutkan di dalam Musnad Abi Ya’la, dari Miswar bin Makhrumah, ia
berkata: aku pernah berkata kepada Abdur Rahman bin ‘Auf, “Wahai pamanku, beritahukan kepada kami tentang kisah Anda pada hari (Perang Uhud). Ia berkata, ‘Bacalah setelah ayat 120 dari surat Ali Imran, maka engkau akan menemui kisahku, yaitu: Wa in ghadauta min ahlika, tubawwi’ul mukminin maqalilqitaal (QS. Ali ‘Imran: 121).’”
Pasal
Para ulama telah menghitung jumlah kalimaatul Qur’an (kata-kata di dalam Al-Qur’an), ia sebanyak: 77.934 kata. Ada yang mengatakan bahwa ia sejumlah 77.437 kata, ada yang mengatakan 77.277 kata, ada juga yang
mengatakan selain jumlah tersebut. Disebutkan bahwa penyebab adanya ikhtilaf (perbedaan pendapat) dalam menghitung jumlah kata-kata di dalam Al-Qur’an karena kata-kata itu ada yang haqiqat dan ada yang majaz, ada yang lafadz dan yang rasm, dan menganggap masing-masing dari semua itu boleh-boleh saja, pun masing masing dari ulama mempunyai penilaian dari berbagai alternatif tersebut.
Pasal
Telah dijelaskan dari Ibnu Abbas tentang jumlah huruf di dalam AlQur’an, dan dalam masalah tersebut terdapat pendapat-pendapat yang lainnya. Tetapi perlu diperhatikan bahwa menyibukkan diri untuk penguasaan masalah tersebut termasuk sesuatu yang ada manfaatnya. Ibnu al-Jauzi telah membahasnya secara luas di dalam kitabnya, Funun al-Afnan,
dan beliau menghitung separo, sepertiga, sampai sepersepuluh, dan
memperluas pembahasan dalam hal tersebut. Beliau meninjau kembali
masalah itu, tetapi kitab kita (al-Itqan) ini merupakan kitab yang membahas
hal-hal yang penting, bukan membahas masalah-masalah seperti itu.
Imam as-Sakhawi mengatakan, “Saya tidak melihat dalam menghitung
kata-kata dan huruf (di dalam Al-Qur’an ini) ada faedahnya, karena apabila
memberikan faedah—itupun apabila pada suatu kitab yang mungkin
ditambah atau dikurangi—sedangkan Al-Qur’an ini tidak mungkin
diperlakukan seperti itu.”
Di antara hadits-hadits yang memerhatikan huruf-huruf (dalam Al Qur’an) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dari Ibnu Mas’ud (marfu’): “Man qara’a harfan min kitabillah fa lahu bihi hasanah, wal hasanatu bi ‘asyri amtsaalihaa, laa aquulu Alif Laam Miim’ harf, wa laakin alifun harf, wa laamun harf, wa miimun harf” (barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah, yakni Al-Qur’an ini maka dia berhak memeroleh satu kebaikan, dan satu kebaikan itu sama dengan sepuluh kali kebaikan. Aku tidak mengatakan: alif laam miim satu huruf, tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf).
Imam ath-Thabrani juga mengeluarkan sebuah riwayat dari Umar bin
Khathab (marfu’): “Al-Qur’an alfu alfi harfin, faman qara’ahu shaabiran muhtasiban, kaana lahuu bi kulli harfin zaujatun minal huuril ‘aini” (Al-Qur’an itu terdiri dari satu juta huruf, maka barangsiapa membacanya dengan sabar dan ingin mencari ridha Allah, untuknya pada setiap huruf ada istri dari bidadari). Rijaaluhuu tsiqaat (para perawi hadits ini orang-orang yang tepercaya), kecuali syekhnya Ath-Thabrani, yaitu Muhammad bin Ubaid bin Aadam bin Abi Iyas. Imam az-Zahabi telah berbicara tentang dia, dan hadits ini juga dipahami atas ayat yang di-nasakh (hapus) ras-nya (tulisannya) dari Al-Qur’an, karena Al-Qur’an yang sekarang ada tidak mencapai jumlah tersebut.
Faedah
Sebagian ulama Qurra’ mengatakan bahwa Al-Qur’an al-‘Adzim itu mempunyai anshaf (dua sisi) dengan beberapa pertimbangan, separonya (satu sisi) dengan huruf nuun dari kata nukran (QS. al-Kahfi: 74), di dalam surat alKahfi, dan kaaf dari separo (satu sisi) yang kedua. Separonya (satu sisi) dengan kalimaat (daal), dari firman Allah: “Wal juluudu” (QS. al-Hajj: 20), di dalam surat al-Hajj, dan firman Allah: “Wa lahum maqaami’u” (QS. al-Hajj: 21) termasuk separo (satu sisi) yang kedua. Separonya (satu sisi) dengan ayat “Ya’fikuun” dari surat asy-Syu’ara’ dan firman Allah “Fa ulqiyas saharatu” (QS. asy-Syu’ara’: 45-46) termasuk separo (satu sisi) yang kedua. Separonya berdasarkan hitungan surat-surat di akhir surat al-Hadid, sedangkan surat al-Mujadalah termasuk separo yang kedua, dan sepuluh di surat al-Ahzab. Dikatakan, “Sesungguhnya separo dengan huruf (kaaf) dari kata nukran, dan dikatakan juga bahwa faa’ dari firman Allah “Walyatalaththaf” (QS. al-Kahfi: 19)”.
dilanjutkan ke halaman ;
Mengenal Para Huffadz